Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 309_Tantangan Permainan


"Kau saja, aku tidak tertarik," jawab Leo. Neva kembali meninju kakaknya.


"Kau menyebalkan," kata Neva. Leo tidak menanggapinya. Dia diam. Sejujurnya, dia tidak ingin Yuna dan Vano sering bertemu. Meskipun Vano benar mencintai Neva, meskipun benar antara Vano dan Yuna adalah masa lalu tetapi rasa tidak nyaman ketika mereka saling bertemu itu masih ada. Rasa cemburu dalam hati Leo masih ada.


"Sepertinya seru sekali," Yuna yang baru saja keluar dari kamar baby Arai menyahut. Leo langsung membawa pandangannya pada Yuna, ia mengulurkan tangannya, meminta Yuna untuk duduk di pangkuannya. Yuna mendekat, menyambut uluran tangan Leo tetapi dia tidak duduk di pangkuan Leo. Yuna duduk di samping Leo. Sebelum Tuan suami membuka bibir seksinya, Yuna lebih dulu berbisik. "Ada Neva, ada Mama yang kapan saja bisa ikut bergabung, aku akan menggantinya nanti," jelasnya dengan sedikit meninggalkan kecupan di pipi Leo.


"Kak Yuna, apa ponakan ku sudah tidur?" tanya Neva.


"Hu'um, baru saja," jawab Yuna.


"Tepat," sahut Neva. "Bagaimana jika kita doubel date?" kini Neva menawari Yuna.


Yuna mengerutkan keningnya lalu menoleh dan menatap Leo. Namun, belum sempat ia menjawab. Layar kecil diruang tengah memperlihatkan akan kedatangan seseorang. Neva tersenyum lalu segera beranjak dari duduknya.


"Uhum," Neva berdehem. Dia membenarkan rambutnya dan mengatur senyumnya.


"Dasar centil," komentar Leo.


"Biarin, weeekkk," jawab Neva. Kemudian dia melangkah ke depan.


Neva membukakan pintu untuk Vano. Dengan senyum manis dia menyapa Vano.


"Selamat malam sayang," ucap Vano. Neva tersenyum manis menatapnya. Vano mengangkat tangan kanannya yang membawa tentengan untuk semuanya.


"Malam, masuk yuk. Ada Mama juga," jawab Neva. Dia menerima bingkisan yang Vano bawa. Kemudian, Neva mengajak Vano langsung ke ruang tengah. Vano memberi salam pada Leo dan Yuna dengan bersahabat. Leo mengangguk sebagai jawaban, pun dengan Yuna.


Neva meletakkan buah tangan dari Vano diatas meja, lalu melangkah ke dalam menghampiri mamanya dan Yuna yang berada di kamar Baby Arai.


"Ma," panggilannya. Dia melongokkan kepalanya. "Ada Kak Vano didepan," kata Neva memberi tahu.


Mama tersenyum antusias, "Oh ya," beliau langsung bersiap untuk berdiri. Baby Arai baru saja tidur, beliau meminta tolong pada perawat untuk menunggu Baby Arai. Kemudian, Mama keluar untuk menemui Vano.


"Selamat malam Ma," sapa Vano dengan sopan dia membungkukkan badan memberi hormat pada Mama, kemudian mencium tangan mama.


"Malam," jawab Mama halus. Kemudian, beliau duduk di samping Neva.


"Kalian ada janji?" tanya Mama yang dijawab anggukan oleh Neva.


"Dengan Kakak juga?" tanya Mama. Beliau menatap Leo.


"Tidak," jawab Leo cepat. Tangannya bergerak kebelakang tubuh Yuna dan memeluk pinggangnya.


"Tapi tidak apa-apa jika kalian pergi bersama. Biar Mama yang menjaga si ganteng. Sebentar lagi, Papa juga kesini," ujar Mama perhatian. Mama yang tidak tahu apa-apa tentang mereka berempat menyarankan agar mereka pergi bersama. Dalam hati, Mama hanya ingin Leo dan Vano lebih akrab.


"Sepertinya seru," Vano menanggapi. Dia setuju dengan ide Mama.


"Tadi aku sudah mengajaknya tapi Kak Lee menolak," sahut Neva.


"Aku ingin memiliki waktu hanya berdua, bukan berempat," jawab Leo datar. Saat ini, dia bahkan ingin semuanya segera kembali dari rumahnya. Dia sudah begitu gelisah. Setelah beberapa kali gagal, hasratnya semakin kuat. Ketika kulitnya menyentuh Yuna maka sesuatu yang menggairahkan itu mengurungnya. Titik-titik pada tubuhnya langsung bereaksi dan membuatnya merana.


"Mungkin lain kali saja," sambung Yuna segera. Tangannya di letakkan di paha Leo dan mengusapnya pelan. "Leo harus segera istirahat, kemarin baru saja melakukan perjalanan ke luar kota," jelas Yuna sopan dalam menolak ajakan untuk jalan bersama.


Pada akhirnya, mereka berdua memang tidak ikut. Vano dan Neva pamit pada semuanya.


Mobil Vano melaju dengan pelan meninggalkan rumah Leo.


"Kau mau Mall yang mana?" tanya Vano. Dia menawari Neva.


"Bagaimana jika Mall yang di pusat kota saja? Permainannya sangat komplit," jawab Neva.


"Ok. Kau mau aku mengosongkannya?"


"Hmmm tidak perlu, kita akan rebutan permainan dengan pengunjung lain," jawab Neva. Vano mengangguk. Kemudian, dia segera melajukan mobilnya menuju Mall di pusat kota. 40 menit kemudian, mereka telah sampai.


Vano membukakan pintu untuk Neva lalu menggandeng tangannya untuk masuk kedalam. Neva membalas genggaman tangan Vano, sudut bibirnya terangkat, dia tersenyum.


"Selamat malam, selamat datang Tuan muda, Nona muda," sapa beberapa karyawan yang berbaris rapi saat mereka mengetahui bossnya datang.


"Malam," jawab Neva ramah. Pun dengan Vano, dia juga menjawab dengan ramah.


Mereka berdua langsung menuju tempat bermain. Vano mengambil kartu permainan lalu memberikannya pada Neva.


"Mau main yang mana dulu?" tanya Vano.


"Bagaimana jika main Bumper CarĀ dulu," jawab Neva yang langsung disetujui Vano. Mereka berdua dengan tawa saling menabrak. Mereka berdua dengan bahagia saling mengejar.


Setelah selesai mencoba bumper car, mereka berdua mencoba hampir semua permainan.


"Mainkan ini," kata Neva sambil menepuk-nepuk pelan alat capit boneka. Vano terkekeh.


"Aku tidak pandai mengambil boneka," jawab Vano. Dia melangkah mendekat dan berdiri tepat di depan Neva. "Aku hanya pandai mengambil hati mu," lanjutnya. Neva langsung mengalihkan pandangannya dengan rona dipipinya.


"Ya, kau juga pandai menggombal," ujar Neva dengan senyum yang ia tahan. Kemudian dia kembali menatap Vano. "Jika kau bisa mengambil ini dalam satu capitan, aku akan memberi mu hadiah."


"Apa hadiahnya?"


"Ummm, aku akan menciummu," jawab Neva dengan suara pelan. Vano tersenyum lebar dan suka dengan hadiahnya.


"Disini?" jari telunjuk tangannya menunjuk bibirnya. Vano bahkan memonyongkan bibirnya.


Neva memukul lengannya.


"Tapi aku mau disini," ujar Vano, dia masih menunjuk bibirnya.


"Hadiah bersifat mutlak, tidak bisa ditawar," jawab Neva dengan mengubah suaranya sealah dia adalah panitia sebuah lomba.


"Ok, meski kecewa ... ku terima tantangan mu gadis," Vano menyetujui. Kemudian, dia menghadap mesin capit boneka, memperhatikan boneka-boneka kecil yang bertumpuk. "Kau mau boneka yang mana sayang?" tanyanya. Dia menoleh ke arah Neva.


"Itu," Neva menunjuk salah satu boneka yang berwarna coklat. Vano mengangguk.


"Siapkan hadiahmu," ujar Vano dengan senyum kemenangan. Dia yakin bisa mendapatkannya dalam satu capitan.


"Bentar," Neva memegang tangan Vano yang bersiap untuk memainkan alat capit boneka.


"Apa ada tambahan hadiah?" tanya Vano penuh harap. Neva tersenyum licik.


"Jika kau bisa mengambil boneka dalam satu capitan, aku akan menciummu tapi ... jika kau tidak bisa. Kau harus bilang dengan lantang. AKU MALAS MANDI DAN AKU SANGAT BAU," ujar Neva dengan senyum jahil. Vano melotot ke arahnya tapi kemudian dia tersenyum.


"Ok. Tapi jika aku yang menang, kau yang harus mengucapkan itu," kata Vano. Dia mengulurkan tangannya, Neva membalas uluran tangannya.


"Ok, deal."


Kemudian, Vano mulai serius memperhatikan boneka pilihan Neva dan letak capitan. Neva dengan jahil berdoa agar Vano kalah. Dia sudah siap dengan kameranya yang nanti akan merekam pengakuan malas mandi Vano dimuka umum. Kapan lagi dia bisa mengerjai boss didepan anak buahnya. Melihat Vano yang serius, Neva mengulurkan tangannya dan menggelitik pinggang Vano.


"Jangan curang," Vano mengambil tangan Neva lalu menggenggamnya. Tak. Mesin capit itu turun dan mengambil boneka berwarna coklat. Perlahan membawanya naik keatas dan membawanya pada kotak dipinggir. Capitan itu terbuka dan menjatuhkan boneka yang dibawanya. Dapat.


Mata Neva terbelalak merasa tidak percaya. Jadi ... Vano yang memenangkan tantangan ini? Jadi, itu artinya Neva yang akan dengan lantang mengucapkan kalimat memalukan itu.


Vano tersenyum lalu jongkok untuk mengambil boneka yang ia dapatkan dalam sekali capitan. Dia memamerkannya di depan wajah Neva.


"Taraaa, aku menang," ucap Vano meledeknya. Wajah Neva kesal, dia berharap Vano akan kalah. Dia menarik tangannya dari genggaman Vano lalu sedikit menjauh. Dia jongkok dan memanyunkan bibirnya. Vano tertawa terbahak-bahak melihat itu.Yess dia menang.


Vano mendekat. "Kenapa?" tanyanya. Dia ikut jongkong.


"Kenapa kau yang menang, bukankah kau tidak pandai memainkan itu?" jawab Neva kesal.


Vano terkekeh, dia kemudian meletakkan boneka dalam hoodie Neva. "Aku ciuman yang menungguku, jadi aku harus menang," ucap Vano. Neva mengalihkan pandangannya dan tersenyum.



Namun, kemudian dia ingat jika dia harus menjalani hukuman kekalahan. Neva menepuk keningnya pelan. Bibirnya kembali mengerucut.


"Hahha ...." Vano tertawa dan berbisik padanya. "Ganti hukuman tantangan dengan mencium kedua pipiku, bagaimana?"


Neva menatap wajah Vano dengan masih memanyunkan bibirnya. Dia berpikir jika itu lebih baik dari pada dia harus mengucapkan kata itu di depan umum. Dengan pasti, Neva mengangguk setuju.


"Ok."


Vano mengacak rambutnya, "Makanya jangan usil, berbalikkan?" katanya. Neva mengangguk.


"Maaf," ucap Neva.


Vano berdiri, "Sini," dia mengulurkan tangan. Meminta Neva untuk berdiri. Neva menyambut uluran tangan Vano lalu dia berdiri.


Kemudian mereka bermain basketball.



Setelah puas. Mereka berdua meninggalkan area Mall.


"Mau kemana lagi?" tanya Vano. Neva sibuk membuka cemilan ditangannya. Tadinya Vano menawarinya untuk makan tetapi dia masih kenyang, dia baru saja selesai makan malam dirumah kakaknya.


"Ke atap gedung yuk," jawab Neva.


"Siap," Vano langsung membawa mobilnya menuju gedung yang dimaksud Neva.


___________


Sesampainya di atap gedung, mereka duduk di bangku yang menghadap ke arah jalan tol berkelok.


Neva menyandarkan kepalanya di bahu Vano. Menghirup udara malam dengan dalam lalu menghembuskannya perlahan.


Tangan hangat Vano menggenggam jemarinya. Dia bisa merasakan betapa tangan itu begitu ingin terus menggenggam tangannya. Lagi dan lagi. Neva membalasnya. Dia pun sama, ingin terus bergandengan. Dia ingat ucapan Kakaknya bahwa tidak ada jeda untuk selalu jatuh cinta pada seseorang yang memenuhi hati kita.


"Sayang," panggil Vano rendah diantara hembusan angin di ketinggian gedung tempat dimana mereka duduk.


"Ya," jawab Neva tanpa mengubah posisinya.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" suara Vano serius. Dia menurunkan kepalanya dan membuat kecupan kecil di rambut Neva.


"Boleh," jawab Neva.


"Apa kau masih meragukan ku?" tanya Vano. Dia sakit dalam pertanyaannya. Perasaan yang diragukan.


Tangan Neva semakin erat menggenggam jemari Vano. Dia memejamkan mata. Bagaimana dia harus menjelaskan ini. Ketakutan dalam dirinya, kekhawatiran dalam hatinya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Kita sudah tunangan. Apa itu tidak membuktikan jika aku percaya padamu," jawab Neva. Dia tidak tahu harus menjawab apa, otaknya sedang tidak bisa berfikir, dan itu yang keluar dari mulutnya.


Vano mengangguk samar.