Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 182_Do'a


Vano memperhatikan Arnis dari kaca spion, ia memperhatikan Arnis yang berdiri mematung menatap mobilnya yang perlahan menjauh.


Pelan, mobil itu akhirnya berhenti, kemudian sang pemilik membawanya kembali menghampiri seseorang yang mematung dan patah hati.


"Masuklah ayo ku antar pulang," ucap Vano begitu mobilnya berhenti di depan Arnis. Arnis menatapnya dengan kesal namun manis, pandangan kesal namun senang. Pada akhirnya ia membuka pintu mobil Vano dan duduk di sampingnya.


"Kau ngeselin Vano...," ucapnya.


"Kau wanita, mana mungkin aku membiarkan mu berdiri sendirian, bagaimana jika ada yang menggoda mu?"


"Ya ampun. Kau membuat ku meleleh penuh haru," Arnis merubah posisi duduknya menjadi lebih miring dan menghadap Vano. Ia menatap wajah tampan itu... "Tuhan... yang maha membolak-balikkan hati manusia, yang menguasai takdir manusia. Ku mohon... sisipkan nama ku dalam hatinya," do'anya sepenuh hati dengan mata yang terus menatap seseorang yang sedari dulu ia sukai. Seseorang yang ia yakini sebagai cinta pertamanya. Vano terkekeh mendengar do'a Arnis, sebuah do'a yang dia panjatkan dengan suara keras dan di samping seseorang yang ia maksud.


"Pffff," Vano menoleh untuk menatapnya sebentar lalu kembali fokus pada jalanan. Baru kali ini dia mendengar ada seseorang yang berdoa dengan suara keras dan tidak dalam hati.


"Aku belum selesai, kenapa kau tertawa?" Arnis memprotesnya dan meninju bahunya dengan keras.


"Oke, silahkan lanjutkan," ucap Vano terkekeh. Kemudian, Arnis melanjutkan do'anya.


"Tuhan... yang maha baik. Jodoh, hidup dan mati telah tertulis di sana. Ku mohon... tulislah nama ku sebagai jodohnya. Please...,"


Vano menjadi tertawa terbahak-bahak mendengar kata 'Please' dalam do'a Arnis yang dipanjatkan.


"Aku juga ada puisi untuk mu," ujar Arnis semangat.


"Oh ya?"


"Hu'um," Arnis mengangguk, "Apa kau mau dengar?"


"Okey," jawab Vano, ia mengangguk setuju untuk mendengarkan.


"Uhum," Arnis berdehem sebelum menarik suaranya untuk membaca puisi.


"Aku tak bisa luluhkan hati mu


Dan aku tak bisa menyentuh cinta mu


Seiring jejak kaki ku bergetar


Aku telah terpaku oleh cinta mu


Menelusup hari ku dengan harapan


Namun kau masih terdiam membisu.


By. Arnis manis." Arnis begitu emosional membaca puisinya, dengan segenap hatinya. Vano tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang dibacakan oleh Arnis, syair yang kata dia adalah puisi karyanya.


"Hei, itu sebuah lagu Nona," ucap Vano setelah menghentikan tawanya. Arnis nyengir dan kemudian tertawa.


"Ku pikir kau tidak mengenal lagu itu. Yeaachh aku kecewa," ucapnya.


"Kau keterlaluan Arnis manis. Plagiat itu tidak dibenarkan, itu perbuatan yang sangat tercela dan ada undang-undangnya. Seseorang tahu atau tidak tahu syair itu, harusnya kau tidak meng-klaim bahwa itu adalah karya mu, itu menjijikan kau tahu," ujar Vano mencoba menjelaskan. Arnis mengangguk.


"Syair itu begitu indah, aku menyukainya."


"Sukai tapi jangan di jiplak. Itu pencurian."


"Ya, okey. Aku khilaf," ucap Arnis. Ia kemudian membuka kaca pintu mobil dan melongokkan sedikit kepalanya keluar. "Bang Fadly dan semua personil Padi... aku minta maaf, aku sungguh minta maaf. Aku janji tidak akan mengulanginya," dia berteriak sekencang-kencangnya. Kemudian, kembali menutup kaca mobil lagi. Ia menatap Vano. "Aku insyaf Bro... aku tidak mau menjadi dan mendukung pelakor" ucapnya. Vano menoleh sebentar ke arahnya.


"Pelakor?" dia bertanya dengan heran. Apa hubungannya? Batinnya.


"Yup, pelakor. Tukang plagiat adalah pelakor karya, hahaaa," jelasnya. Vano geleng-geleng kepala mendengar itilah Arnis, "Aku tidak mungkin menjadi dan pendukung pelakor. Yang tadi itu khilaf karena terlalu baper pada mu," lanjut Arnis. Vano mengacungkan jempolnya.


"Bagus," ucapnya, "Bagus jika kau mengerti, jangan menjadi plagiat dan pendukung plagiat," lanjutnya.


"Yoi," Arnis setuju dengan Vano, "Oh ya, apa kau dan Neva udah jadian?" tanyanya.


"Belum," jawab Vano. Arnis mengelus dadanya dengan lega.


"Ahh syukurlah...," ucapnya dengan senang. Vano tertawa kecil mendengarnya.


Kemudian, Arnis membuat suara lagi.


Semoga akan datang keajaiban hingga akhirnya kau pun mau...," Arnis bernyanyi dengan suaranya yang kurang enak didengar.


Vano mengangguk dengan masih ada tawa dibibirnya. Sampai kapan gadis ini akan terus bicara dan mencoba menggombalinya.


Beberapa menit kemudian, mobil Vano berhenti di depan sebuah hotel.


"Terima kasih sudah mengantar ku, Vano," ucap Arnis yang dijawab anggukan oleh Vano. "Oh ya, apa kau tidak terlambat untuk menemui Neva?" tanyanya, ia menatap Vano.


"Tidak, dia masih diskusi dengan teman-temannya," jawab Vano. Ia membalas tatapan mata Arnis padanya.


Arnis mengangguk lalu membuka pintu mobil dan keluar.


"Bye...," ia melambai ketika mobil Vano perlahan meninggalkannya. "Kenapa kau mengejar sesuatu yang sulit jika ada sesuatu yang sangat mudah untuk kau dapatkan. Atau... kau adalah tipe laki-laki yang menyukai tantangan? Apa aku harus berpura-pura tidak perduli pada mu? Huff...," Ia kemudian masuk kedalam hotel sambil bernyanyi lagu-lagu mellow tentang cinta yang tak terbalas.


"Hahaa Arnis si tomboi sekarang sangat aneh...," dia menertawakan dirinya.


_Mobil Vano melaju melewati jalanan Ibu Kota yang masih saja padat pada jam malam seperti ini. Ia menuju tempat dimana Neva menunggunya.


"Apa diskusi mu sudah selesai?" ia mengirim pesan pada Neva.


"Sudah, sebentar lagi aku keluar," balas Neva. "Kakak dimana?" balasan selanjutnya.


"Di depan cafe," balas Vano.


"Baaik, aku segera keluar."


Dan tak lama mata Vano melihat gadis yang dia tunggu. Ia segera keluar dari mobil dan melambai, memberi tahu keberadaannya. Neva membalas lambaian tangannya dan segera melangkah menghampirinya.


"Maaf bikin Kakak menunggu," ucap Neva dengan sedikit membungkukkan badannya.


"Tidak apa-apa, aku baru sampai," jawab Vano. Ia lalu membukakan pintu mobil untuk Neva.


Mobil itu melaju dengan sedang.


"Kau mau kemana?" tanya Vano.


"Hmm, gimana kalau kita nyari ice cream yang paling enak?" jawab Neva memberi usulan.


"Okey," Vano menyetujui. Dia tahu tempatnya. Ponsel Neva berdering dan ada panggilan masuk dari Mama.


"Iya, Ma," jawab Neva setelah sambungan teleponnya terhubung. Tak lama panggilan itu berakhir dan Neva meminta Vano untuk mengantarnya pulang.


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?"


"Kak Nora mau melahirkan. Mama meminta ku menemaninya terbang ke sana. Karena Papa masih di luar negeri dan Kak Lee tidak bisa di hubungi," jelas Neva. Vano mengangguk dan memutar arah, ia segera mengantar Neva pulang.


"Terima kasih Kak," ucap Neva sebelum keluar dan di jawab anggukan oleh Vano.


"Neva," panggil Vano pelan.


"Ya?" jawab Neva dan ia segera menoleh.


"Selamat malam."


Neva tersenyum menatap matanya, indah, "Selamat malam," jawabnya.


___ Dini hari, Leo baru mengaktifkan ponselnya kembali setelah dari kemarin tidak aktif sama sekali. Ada banyak sekali pesan dari beberapa rekan bisnis lalu panggilan dari Mama.


Dia mencoba menghubungi Mamanya kembali, tetapi tidak ada jawaban, dua kali dan masih tidak ada jawaban. Kemudian, ia membuka chatnya pada Neva ada pesan Neva di sana.


"Kak Lee, aku dan Mama mengunjungi Kak Dimas. Baby Dim lahir yeyyy...," pesan dari Neva. Bibir Leo langsung melengkung secara otomatis membaca pesan itu, dia sangat bahagia. Dia mengucap syukur dalam hati.


Nyonya masih tidur saat ini. Leo menatapnya dengan kelembutan dimata dan hatinya. Kemudian, ia meringkuk memeluk Yuna, ia menyandarkan kepalanya di perut Yuna dengan pelan dan sangat hati-hati. Ia menyisipkan do'a.


___


*Menanti Sebuah Jawaban_Padi


*Pupus_Dewa