Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 255_Ada Yang Lebih Enak


Yuna sudah membongkar belanjaannya. Meletakkan bahan-bahan cake yang akan dia buat.


"Pakai ini dulu," ujar Leo dengan memperlihatkan celemek di tangannya. Yuna menatapnya dengan senyum. Leo memakaikannya dengan pelan. Yuna membalik badan kemudian Leo mengikat ikatan celemek di pinggang Yuna.


"Ayo mulai," Yuna bersemangat. Leo bersandar di sebelah kulkas, di tangannya ada buku resep dari kelas memasak Yuna dulu. Dia membacakan satu persatu dengan jelas.


Yuna mengangguk paham, dia pernah membuat ini sebelumnya. Semoga kali ini juga enak, harap Yuna. Alat pengaduk mulai berputar dengan kecepatan yang Yuna inginkan.


Dia menoleh ke arah Leo dan menatapnya. "Resep cake ini adalah resep cake yang dulu pernah ku bawa ke kantor mu untuk yang pertama kali," ucap Yuna. Sepasang bola matanya menatap Leo penuh cinta.


Leo tersenyum, dia membalas tatapan mata Yuna padanya. Dia ingat itu, dan itu bahkan untuk yang pertama kalinya dia membuat tanda merah di leher Yuna, sebagai hukuman. Benarkah? Hukuman atau dia yang tidak sadar sudah mulai ada hasrat pada Yuna. Mata Leo perlahan turun berganti menatap leher Yuna. Leher putih milik Yuna yang selalu membuatnya tergiur. Saat ini, hanya dengan menatapnya saja sudah membuat titik-titik tertentu dalam dirinya langsung memberi sinyal. Gadis ini, selalu membuatnya gila..


"Apa kau ingat itu tuan suami?" Tanya Yuna. Dan itu langsung menyadarkan Leo yang mulai memiliki pikiran liar.


"Hmm, iya," jawabnya. Yuna mengangguk dan bersyukur karena Leo mengingat itu. Dia ingin bernostalgia dengan cake ini.


Yuna memperhatikan adonannya. Kemudian, dia melihat jam yang terpasang di dinding. Leo mendekat ke arahnya dan memperhatikan adonannya.


"Sudah sempurna, masukkan tepungnya," ujar Leo.


"Sungguh?" Tanyanya Yuna. Leo mengangguk, kemudian dia mengambil tepung yang sudah Yuna siapkan.


"Terima kasih," ujar Yuna setelah menerima tepung dari tangan Leo. Dia memasukkannya sedikit demi sedikit.


Leo meletakkan buku di tangannya di atas meja dapur. Kemudian, ia berdiri di belakang Yuna dan memeluk pinggangnya, mengusap perut Yuna dengan lembut. Ia meletakkan dagunya di pundak Yuna.


"Semoga nanti hasilnya enak," ujar Yuna yang dijawab anggukan oleh Leo. Dari pundak, lalu hidung Leo mengendus aroma Yuna tepat pada lehernya. Pelan, bibirnya membuat kecupan disana. Awalnya dia hanya ingin sekali, mengecupnya sekali hanya untuk sedikit menghapus rasa ingin pada dirinya terhadap Yuna saat ini. Namun, ternyata kecupan satu kali tidak cukup. Bibir dan lidahnya mulai menari pelan disana.


"Sayang geli," ucap Yuna dengan menghindar dari Leo. Leo menarik nafasnya dan melepaskan pelukannya. Dia mengalah. Dia tidak ingin mengacaukan sore Yuna ini. Ia menarik mundur dirinya.


Air es mungkin cukup untuk meredakan rasa yang bergejolak dalam dirinya. Yuna menoleh dan menatap Leo yang saat ini sudah duduk di bangku.


"Kau minum air dingin?" Tanya Yuna dengan heran. Leo jarang sekali minum air dingin.


"Ya," jawabnya. Lalu langsung menghabiskannya. Yuna mengerutkan keningnya.


Adonan sudah jadi, Yuna juga sudah memanggangnya. Tinggal menunggu sebentar lagi. Ia mencuci tangan lalu mendekati Leo yang duduk di bangku.


"Sayang," panggilan Yuna. Dia berdiri di depan Leo. Tangan Leo langsung memeluknya, ia menempelkan telinganya di perut Yuna, mendengarkan alunan indah degupan di dalam sana.


"Hmm," jawab Leo. Kemudian, dia melepaskan pelukannya dan menatap Yuna.


"Bagaimana jika nanti hasilnya tidak enak?" Yuna bertanya dengan khawatir. Dia sudah sangat lama tidak berurusan dengan dapur. Memang, takaran dan semua caranya sudah benar tetapi, bagaimana jika hasilnya tidak sesuai ekspektasi mereka berdua.


"Ada yang lebih enak dari cake yang kau buat," jawab Leo yang langsung membuat Yuna memanyunkan bibirnya jadi mirip seperti bebek. Leo tertawa renyah dan mencubit bibir Yuna dengan dua jarinya, "Bebek gemesin," ujarnya.


"Kau selalu bodoh untuk hal-hal yang seperti ini," Yuna memprotesnya. Banyak laki-laki yang rela berpura-pura memakan masakan istri dengan ekspresi lezat padahal masakannya kurang enak, tapi kenapa Tuan suami tidak melakukan pembohongan itu. "Kau harus sedikit berbohong, tentang ini, aku sudah pernah memberi tahu mu Tuan menyebalkan," Yuna menatapnya dengan kesal. Dalam hati, ia berjanji akan menghabiskan cake buatannya sendiri jika Leo bilang cakenya tidak enak.


"Memang ada yang lebih enak dari cake yang kau buat," jawab Leo lagi.


"Ya, puji saja terus, dan ledek cake buatan ku," ucap Yuna dengan kesal. Dia membuka celemeknya lalu meletakkannya begitu saja. Kemudian, ia berbalik dan melangkah.


"Hei, kau mau kemana," tanya Leo.


"Ke atas," jawab Yuna dengan ketus. Dia sangat kesal pada Leo. Jika Leo tidak menyukai cake buatannya ya sudah, jangan malah memuji makanan lain didepannya. Batin Yuna.


"Bagaimana dengan cake mu?" Tanya Leo, dia mengencangkan suaranya karena jarak Yuna yang sudah jauh.


Leo tertawa kecil mendengar jawaban Yuna. Kemudian, dia dengan tenang menunggu cake itu matang. Tak butuh waktu lama, hanya selang beberapa menit setelah Yuna keatas, cake itu sudah matang. Leo mengambilnya lalu dengan perlahan dia mulai mengoleskan Butter Cream dan menghiasnya dengan Cherry dan coklat. Selesai. Dia memperhatikannya sesat dengan senyum dan perasaan puas. Ini sudah sangat mirip dengan cake yang Yuna bawa dulu.


Kemudian, ia melangkah ke atas ke kamarnya. Ia meletakkan cake diatas meja. Yuna sedang berada di balkon sekarang, dia duduk di sofa dan terlihat begitu serius memperhatikan laut, lalu memperhatikan langit yang mulai muram lalu di susul gerimis yang menyapa bumi. Gerimis yang dengan pelan membasahi dedaunan. Aroma pantai mulai berubah, bersatu dengan rintik yang mulai berubah menjadi hujan deras.


Pelan, Leo memakaikan selimut pada Yuna. Lalu mendekapnya dengan hangat.


"Jangan merayu ku," ujar Yuna dengan masih ketus.


"Aku tidak merayu," jawab Leo. Dia melepaskan pelukannya lalu ikut masuk ke dalam selimut Yuna.


"Hei," Yuna mendorongnya tetapi Leo langsung menangkap tangannya.


"Kenapa ngambek?" Tanya Leo.


"Siapa yang ngambek?"


"Kamu."


"Mana ada," Yuna terkekeh tetapi terpaksa. Leo mendekatkan wajahnya ke arah telinga Yuna.


"Cake gosong mu sudah jadi," ujar Leo dengan sengaja. Yuna memanyunkan bibirnya mendengar itu. Dia tidak menoleh ke arah Leo, dia masih memperhatikan hujan yang semakin deras.


"Bagus, aku akan memakannya nanti," jawab Yuna.


"Kau suka cake gosong?" Tanya Leo.


"Ya," jawab Yuna dengan yakin, "Kenapa tidak, karena cake gosong itu adalah buatan ku sendiri. Jika bukan aku yang menghargainya lalu siapa lagi. Hahaa ... aku akan menghabiskannya nanti," lanjut Yuna dengan tawa kecil.


"Apa kau tidak ingin tahu apa itu yang lebih enak cake buatan mu?" Tanya Leo dengan berbisik. Dia mulai mengendus aroma Yuna lagi. Rambut Yuna begitu harum.


"Tidak," jawab Yuna singkat. Dia bergidik karena nafas Leo sapuan lembut nafas Leo pada telinga dan pipinya.


"Kau sangat harum, pun tanpa parfum termahal hingga membuat ku ingin terus menciumi mu. Kau cantik pun tanpa polesan apapun diwajahmu, hingga membuat ku ingin terus menikmati mu," bisik suara seksi nan lembut itu. Tangannya mengusap lengan Yuna.


"Sejak kapan kau menjadi puitis?" Yuna menggeliat karena merasakan geli tetapi dia tidak berniat untuk menghindari bibir yang mulai nakal.


"Aku tidak puitis, aku tidak berbakat dengan itu," jawab Leo. "Aku hanya ingin menunjukkan pada mu, ada yang lebih enak dari cake buatanmu," lanjut Leo. Dan Yuna mulai paham apa itu enak dalam pikiran Leo.


"Hentikan," kata Yuna. "Kau mesum," lanjutnya dan langsung mendorong tubuh Leo untuk menjauh darinya, bibirnya tersenyum manis tetapi dia sembunyikan. Dia tidak akan memberinya begitu saja.


"Hmm, iya," jawab Leo membenarkan ucapan Yuna jika dia mesum.


"Kau dihukum karena mengembalikan cemilan ku," Yuna menoleh ke arahnya. Menatap Leo dengan kesal.


"Ok, aku ada gantinya," jawab Leo. Kemudian dia beranjak dan masuk kembali dalam kamarnya.


____


Catatan Penulis


Terima kasih untuk semuanya yang masih setia menunggu kisah ini 🥰🙏 Maaf Yach kalau Upnya telat.


Jangan lupa jempolnya di goyang ya kawan tersayang. Aku padamu SSC 🌹 luv luv.