
# kediaman keluarga Adiguna
beberapa jam pun berlalu, kini sampai dirumah yg mewah nan megah ini, rumah ini lebih besar dari rumah Airin. semua orang pun masuk dan menempatkan diri di sofa ruang tamu.
"pelayan." teriak mama rina, serempak semua pelayan berjajar sedikit membungkuk.
"buat kan minuman yg segar kepada menantu saya dan seafood buat cemilan, dan siapkan makan malam, cepat." sambung mama rina yg diangguki oleh pelayan.
"ma kita makan malam dirumahku aja, lagian kan aku udah kenyang." ucap Reza.
"buat mantu mama bukan kamu." sahut mama mengelus rambut menantu kesayangannya.
'mentang-mentang udah punya mantu anakya dilupain' gumam Reza
"apa yg kamu bicarakan? mama ga denger." ucap mama memegang telinganya sok ga denger gitu..
"ga ada ma emm kita jadi makan malam disini." Reza dengan sesekali melirik seseorang yg sekarang menjadi istrinya itu.
makan malam pun terlaksana tidak ada suara dari orang yg makan hanya sendok yg beradu dengan piring. setelah makan semuanya memutuskan untuk kembali ke sofa karena jarang sekali ia bertemu dengan anaknya dan berkumpul.
gelak tawa pun menggema diruang tamu hanya satu orang yg tersenyum kecil mendengar ocehan mama rina.
"kalu nanti Reza bikin kamu repot beliin mainan kereta-kereta an aja Airin biar ga tambah repot." ucap mama rina yg digelak dengan tawa.
tepat jam 9 malam Reza memutuskan untuk langsung pulang karena ia merasa gerah dan merasa tak enak dengan istrinya yg terlihat lelah.
"ini mama ada hadiah buat kamu." sambil menyerahkan hadiahnya ke menantu tersayangnya itu.
"makasih ma aku suka." Airin tersenyum. ia suka dress berwarna merah itu ya karena warna kesukaannya.
"buat aku mana ma." timpal Reza sok memelas.
"nanti juga dikasih istri kamu malah kamu yg tambah suka." sahut mama rina sambil mengerjap sebelah matanya. papa pun tersenyum nakal mendengar kata istrinya itu.
seketika Airin dan Reza bertatap muka mereka lama melihat mata yg indah itu satu sama lain, dimata itu terpancar 'ga usah didenger becanda aja kok'
"aku pulang dulu ya ma, pa." ucap Reza sambil mencium tangan mama dan papanya, saat ia memeluk papanya, papanya berbisik 'kalu kamu mau buat cucu untuk papa sekarang juga gpp' bisik papa Indra. seketika pipi Reza memerah ia maksud perkataan papanya barusan.
"em yaudah ya pa kami pamit pulang dulu." reza membukakan pintu untuk istrinya.
mobil pun menyala diperjalanan mereka hanya saling diam tak bergeming bahkan tak berani bergerak, Reza pun akhirnya memecahkan keheningan.
"berapa bulan lagi kamu ujian?." tanya Reza yg masih fokus menyetir mobilnya.
"lima bulan lagi." jawab Airin yg masih datar.
kembali terdiam, sunyi, hanya suara mobil yg bersuara.
"Airin." Reza melirik Airin yg masih terdiam. yg dipanggilnya pun hanya termangu karena kaget.
"i-iya." jawab Airin berbata.
"ternyata kamu pendiam tidak seperti apa yg mami katakan padaku." ucap Reza mencairkan suasana.
"mami bilang apa aja pada Abang?." sahut Airin. 'em aku bener ga ya manggil dia Abang, masak suami hah apa ajalah kan dia yg lebih tua' bicara Airin dalam hati.
"kamu panggil aku Abang.?" Reza pun tertawa menanggapi sebutan istrinya itu. Airin pun tersenyum kecil karena menurutnya itu lucu.
"hehe gpp kamu emang pantes manggil aku kaya gitu." sambung Reza.
"mami bilang apa aja ke Abang?." tanyanya Airin lagi.
"gpp ntar aja dirumah." sahut Reza.
beberapa menit pun sampai, Reza memilih untuk membangun rumah sendiri karena ia ingin mandiri, ia tidak ingin merepotkan orangtuanya lagi.
selamat membaca 🤗