
Tiara hanya bisa diam melihat ke tujuh pemuda tadi mengeroyok Gavin. Awalnya Gavin berhasil membalas pukulan dan tendangan mereka, namun lama kelamaan tenaganya mulai melemah.
Wajarlah jika ia tak sanggup menghadapi mereka yang rata-rata berpengalaman berduel.
Bruk
Gavin terhempas ke lantai berdebu. Wajah tampannya sudah tak tampak lagi hanya luka lebam yang tersisa.
Kendati begitu ia masih berusaha untuk bangkit.
Namun belum sempat ia menegakkan tubuhnya, seseorang menendang punggungnya hingga ia terjengkang. Tiara tak tahan lagi melihat kondisinya. Ia tak mungkin membiarkan mereka membunuh Gavin di depannya.
" Cukup !! hentikan ! " teriak Tiara tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka.
Matanya berkilat marah namun ada gumpalan bening yang bergerombol di sana. Kemudian berlomba menyeruak deras bergulir di pipinya.
Gadis itu menangis dalam kemarahannya, Gavin melihat itu.
Pimpinan mereka mengangkat tangannya tanda agar rekan-rekannya berhenti.
" Ngapain lo teriak-teriak hah ?" bentak sosok sangar itu.
Kini perlahan ia berjalan ke arah Tiara.
Tiara memberanikan diri untuk tetap bertahan di posisinya.
" Yang kalian mau kan aku, ngapain harus nyakitin dia ?"
" Lagian aku nggak punya salah dengan kalian, tapi kenapa kalian . . .
Belum sempat Tiara menyelesaikan kalimatnya,
" Leo, bawa gadis ini !" ujar sosok di depannya .
" Baik, bos !" jawab sosok yang dipanggil Leo tadi. Iapun segera mendekati Tiara dan mengikat kedua tangannya ke arah belakang.
" Lepasin aku ! aku nggak mau kemana-mana !" teriak Tiara meronta seraya berusaha melepaskan diri.
Namun sekuat apapun ia berusaha tak akan bisa melepas ikatan Leo yang cukup kuat.
" Ayo kita pergi!" ujar pimpinan mereka diikuti oleh enam orang lainnya.
Ia meringis menahan perutnya yang kesakitan. Dengan lemah ia memandangi kepergian mereka keluar dari pondok itu.
Gavin mengepalkan tinjunya menahan geram.
Dengan susah payah ia berusaha bangkit berdiri. Baru saja ia hendak melangkah . . .
" Mana Tiara ?" bentak seorang cowok yang wajahnya tidak asing.
" Jawab gue ! mana Tiara ?" mata Zian melotot penuh kemarahan.
Tangannya mencengkram kerah baju Gavin.
" Dia . . . baru saja dibawa pergi". jawab Gavin lemah.
" Siapa yang berani ngelakuin itu hah?" bentak Zian lagi.
" Gue juga nggak tahu siapa mereka, sebaiknya lo cepat susul mereka. Mereka pasti belum jauh ".
Zian mendengus kesal seraya melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar membuat Gavin sedikit terhuyung.
Zian segera berlari diiringi Rio dan beberapa orang yang tadi menunggu di luar pondok.
Beberapa menit kemudian, dari kejauhan terlihat rombongan yang sedang berjalan menuju ke arah jalan raya. Di sana ada 2 mobil terparkir.
Sebelum Zian dan rombongan mendekat, rombongan itu segera pergi dari tempat itu membawa Tiara entah kemana.
Dengan cepat Rio menelpon seseorang. Kemudian muncullah 2 mobil di jalan yang sama.
" Cepat ikuti mobil di depan sana!" ujar Zian tak sabar.
" Baik !" jawab sang sopir segera mengikuti perintah Zian.
Mobil yang membawa Tiara akhirnya tiba di sebuah rumah mewah di pinggiran kota. Zian dan rombongan masih menunggu saat yang tepat untuk menyerang mereka.
Tiara dibawa masuk dengan paksa ke dalam rumah itu.
" Akhirnya sampai juga di tempat yang bakal lo tempati selamanya, hahaha !" pimpinan rombongan itu tertawa puas.
\*\*\*\*\*