Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 36. Mari Saling Melupakan


Flashback #


Zian melangkah turun dari balkon. Tadi pagi ia tidak sempat sarapan dan akibatnya sekarang perutnya ramai dengan teriakan kelaparan. Kantin sekolah menjadi tujuan langkahnya saat ini.


Iapun berjalan dengan santainya menuruni satu demi satu anak tangga. Tangannya tetap berada di dalam kantong sisi celananya. Begitulah gaya cool khas Zian yang tak pernah gagal bikin para gadis klepek-klepek melihatnya.


Tapi setelah tiba di lantai dua, ia menghentikan langkahnya.


Di depan sana nampak Ilham yang sedang menarik tangan Tiara menuju ke ruang OSIS.


Gadis itu hanya menuruti Ilham dengan wajah penuh tanda tanya.


Zian masih berdiri di sana. Tak bergerak dari tempatnya. Ingin rasanya ia menyusul mereka untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya. Tapi ia masih berusaha menahan rasa ingin tahunya dan tetap berdiri menunggu dengan sebongkah rasa cemburu yang tiba-tiba menggumpal di hatinya.


Detik demi detik pun berlalu. Tak ada tanda-tanda ada yang keluar dari ruangan itu.


Hingga beberapa menit kemudian nampak gadis itu berjalan keluar seperti orang linglung. Ia berjalan sambil memegang bibirnya dengan wajah merona.


Zian cukup mengerti apa yang sudah terjadi. Tak mau berlama-lama di situ iapun melanjutkan langkahnya menuju ke kantin.


Wajahnya mengeras membayangkan kejadian tadi. Namun ia tetap berjalan seperti biasa dengan dinginnya. Tanpa menoleh ataupun bertegur sapa dengan siapapun yang dilewatinya.


Termasuk para gadis yang menatapnya dengan kagum. Karena di benaknya saat ini hanya ada satu sosok yang menghinggapinya.


Tiara.


Selesai menyantap makanannya, iapun segera berlalu dari tempat itu meninggalkan wajah-wajah kecewa yang masih betah memandangi wajah super tampan itu. Ia melangkah kembali menuju ke dalam kelasnya karena waktu istirahat telah berakhir.


Sekilas diliriknya Ilham yang sedang asik ngobrol dengan Hendra. Ingin rasanya ia menonjok wajah itu. Untungnya ia masih punya kesadaran untuk tidak melakukannya.


" Zian !" tegur pak Joko saat melihat Zian tidak mengikuti pelajaran dengan baik.


Tak ada sahutan yang keluar dari mulut Zian.


Pak Joko makin dongkol diabaikan oleh muridnya. Iapun mendekati Zian dan tiba-tiba . . .


Brak!


Gebrakan meja di depannya cukup membuatnya tersadar.


" Keluar kamu ! nggak usah ikut pelajaran ini !!"


Bentak pak Joko dengan emosi. Matanya melotot ke arah Zian yang seolah tak peduli dengan bentakannya.


Tanpa sepatah kata Zian keluar dari kelasnya diikuti tatapan sinis teman-teman sekelas.


Ia memilih menuju ke balkon, merebahkan diri di sana. Mencoba menenangkan hatinya yang terasa panas.


"Dasar bodoh. Bisa-bisanya gue tergila-gila dengan gadis mungil itu. Mau fokus aja susah. Gimana caranya ngelupain dia ya?" umpatnya.


Bayangan Tiara kembali menari-nari di pelupuk matanya walaupun semakin keras ia berusaha menghapusnya. Ia sendiri merasa heran, kenapa seorang gadis yang sederhana seperti itu malah mampu membuatnya gila tanpa ngelakuin apapun untuk menarik perhatiannya.


Padahal kalau ia mau, banyak gadis cantik yang rela mengantri untuk menjadi kekasihnya. Nayla sendiri yang terbilang cantik, seksi dan tajir tak pernah berhasil mendapatkannya. Karena kokohnya dinding es yang sengaja ia bangun untuk menghindari para gadis centil itu.


" Baiklah . . . mulai saat ini mari kita saling melupakan ". ucapnya pelan sambil menghembuskan napas berat karena telah membuat pilihan yang sulit.


\*\*\*\*\*