Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 26. Kehilangan


Setelah Tiara terlihat sudah tenang, Ilham segera mengantarnya pulang ke rumah tantenya.


Sesampainya di rumah tantenya keheranan dengan wajahnya yang terlihat sembab.


" Assalamualaikum, maaf tan Ara terlambat pulang". tanya tantenya.


" Kamu dari mana aja Ra ? tadi papa kamu nyariin tuh ".


" Biarin aja tan, mungkin dia belum puas nampar Ara ". jawab Ara santai sambil masuk ke dalam rumah.


Tanpa bertanya lebih jauh, tantenya sudah mengerti yang dimaksud keponakannya tadi.


Tantenya merasa prihatin dengan keadaan kakak perempuannya. Namun tak mampu berbuat banyak.


\*\*\*\*\*


Keesokan harinya Tiara ke sekolah lagi. Walaupun moodnya sudah tak seburuk kemarin namun jauh di dalam hatinya, gadis itu menyimpan banyak luka. Yang entah sampai kapan bisa terobati.


" Araaaaa ! teriak Hesti dan Dhilla saat melihat kedatangannya.


" Woyyy ! masih pagi berisik !" seru Ryan melihat tingkah gadis-gadis itu.


Hesti melotot ke arahnya.


Keduanya segera mendekati Tiara.


" Hai bestie ". sapa Tiara tersenyum imut.


Ketiganya pun mulai ngobrol sambil menunggu bel masuk berbunyi. Tak lama kemudian, Ilham lewat melambaikan tangan dan tersenyum ke arah Tiara. Gadis itupun balas tersenyum kepadanya.


" Cieee cieee .. sepertinya ada yang lagi berbunga-bunga nih". celetuk Hesti menggodanya.


" Hus hati-hati ngomongnya ntar ada yang ngamuk lagi". Dhilla berbisik mengingatkan.


Dia tak mau Tiara mendapatkan masalah lagi.


Hesti kemudian mengangguk mengiyakan.


Ketiganya pun melanjutkan obrolan mereka.


Jam istirahat tiba, ketiganya bergegas menuju ke kantin seperti biasanya.


Saat itu kelasnya Tiara sedang kosong.


Tapi ada seorang murid dari kelas lain yang menyelinap masuk.


Zian yang kebetulan lewat di kelas itu sempat melihatnya. Ia merasa curiga karena tidak pernah melihat wajah itu sebelumnya.


Sayangnya Zian tak sempat melihat apa yang diperbuatnya di dalam kelas tadi. Siswa itupun buru-buru keluar dari kelas dengan gerakan yang mencurigakan. Lalu menghilang entah kemana.


Zian pun kembali melanjutkan langkahnya ke kantin sekolah. Mencari sosok gadis yang diam-diam mulai menghuni hatinya. Nampak di sana ia sedang asik dengan kedua sahabatnya.


Syukurlah, dia baik-baik saja. Ucap Zian dalam hati seraya berlalu dari tempat itu.


Waktu yang bergulir begitu cepat. Selesai jam istirahat seluruh siswa masuk kembali ke dalam kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.


Tiba-tiba terdengar suara gaduh di kelas sebelas.


" Nino, lu lihat dompet hitam gue nggak?" tanya Dewi panik sambil membongkar tasnya. Semua isi tasnya sudah berpindah ke atas meja namun ia tak menemukan dompet yang dicarinya.


" Nggak Wi'. Emang lu taruh di mana dompetnya?" Nino teman sebangkunya ikutan mencari-cari di dalam laci juga isi tasnya sengaja ia bongkar di depan Dewi.


" Tadi gue simpan di dalam tas. Gawat nih kalau sampai hilang. Di situ ada uang iuran sekolah dua bulan dan uang jajan gue untuk seminggu. Gimana dong ? Gue bisa mampus nih dilabrak bokap gue ". wajah Dewi pucat pasi membayangkan hukuman yang bakal diterima nanti.


" Sabar ya wi' gue bakal bantuin nyari kok. Jadi total uang lu di dalam dompet ada berapa?"


" Kira-kira ada lima ratus ribu lebih ".


" Oke, kita akan mencarinya sama-sama ya".


Setelah berkata begitu Nino segera maju ke depan kelas.


" Perhatian teman-teman semua ! Mohon perhatiannya sebentar. Sekarang ini teman sekelas kita Dewi sedang kehilangan dompetnya yang berwarna hitam berisikan uang lima ratus ribu lebih. Dewi bareng gue barusan udah usaha mencari tapi belum ketemu juga. Gue minta teman-teman nggak keberatan untuk membongkar isi tas masing-masing. Terimakasih ". ujar Nino mengakhiri pengumumannya.


\*\*\*\*\*