
Motor Zian berhenti di depan jalan setapak. Di sebelahnya ada kios kelontong milik bude Ani tetangganya Tiara.
Setelah memarkir motornya, Zian dan Tiara memasuki jalan setapak yang agak berkelok itu.
Gavin diam-diam memperhatikan keduanya dari jauh.
Dan sekarang ia bisa bernapas lega.
" Syukurlah kamu selamat Tiara ". gumamnya kemudian berlalu dari tempat itu.
Tanpa bertanya Gavin langsung tahu apa arti kedekatan Zian dan Tiara. Hal itu membuat ia sadar untuk membatasi rasa kagum yang diam-diam sempat muncul di saat pertemuan tak terduga mereka.
Masih terbayang di saat Zian mencari Tiara di gubuk, kemarahan bercampur dengan kekhawatiran terhadap gadis itu membuat cowok tampan itu berubah bagaikan singa terluka.
Ah, gue nggak bodoh untuk mengerti apa arti Tiara bagi seorang Zian. Bukankah semua terlihat sangat jelas dari sikap Zian ?
Gavin tersenyum seraya terus melajukan motornya ke arah sebuah cafe di pusat kota.
Teman-temannya sedang menunggu kedatangannya di sana. Mereka akan merayakan ulang tahun salah satu temannya.
Sementara itu, Zian juga sudah kembali ke rumahnya. Tadi bibi Ratih menelpon memberitahukan kedatangan kedua orang tuanya. Mereka sedang menunggu kepulangannya.
" Kamu sudah pulang Zian ? dari mana saja tadi ?" tanya mamanya beruntun ketika Zian memasuki ruang tamu.
" Dari rumah teman mom ". jawabnya singkat seraya berjalan mendekat ke arah mamanya. Memeluk mamanya sekilas.
" Duduklah, ada yang mau mama dan papa sampaikan!" ujar mamanya.
Zian mengangguk menuruti kemauan mamanya.
Tak lama kemudian, papanya datang.
" Gimana kabarnya Zian ?" tanya papanya seraya merangkul putra satu-satunya itu.
" Baik pa ".
" Tak lama lagi kamu udah lulus dari SMA ya, papa mau kamu bisa melanjutkan kuliah di London nanti ". ucap papanya dengan raut wajah serius.
" Kamu sebagai anak papa satu-satunya yang akan gantiin posisi papa. Karena itu papa dan mama berharap banyak sama kamu ".
Zian terdiam mencoba mencerna kata-kata yang dilontarkan papanya.
" Berapa lama lagi ujian akhirnya?"
" Sekitar dua bulan lagi pa ".
" Baiklah, papa akan menunggu kamu menyelesaikan studi di sini. Setelah itu kita akan berangkat sama-sama ke London. Sekalian papa mau ngajarin kamu cara mengelola perusahaan milik papa yang ada di London dan beberapa negara lainnya ".
Zian menarik napas panjang. Ia belum siap meninggalkan kota ini. Terutama, meninggalkan Tiara sendirian di sini. Rasanya, belum cukup waktu yang ia habiskan bersama gadis itu.
Masih banyak rencana yang belum ia realisasikan bersama gadis itu.
" Bagaimana mungkin gue ninggalin dia secepat ini ?" gumamnya lirih sembari menarik napas dalam-dalam.
" Ada apa, nak ?" tanya mamanya ketika melihat wajah anaknya yang berubah murung.
" Nggak mom, ngantuk aja kayaknya". jawabnya sengaja berbohong agar tidak ada pertanyaan yang merepotkan lagi.
" Ya sudah, masih ada waktu beberapa bulan lagi untuk kamu berpikir. Tapi papa harap, kamu mau dengerin papa. Karena hanya kamu satu-satunya penerus keluarga ini ". jawab papanya kemudian.
" Oke pa, mom, Zian ke kamar dulu ya mau istirahat".
" Baiklah, istirahat dulu. Mama sama papa kamu juga mau istirahat sebentar ". balas mamanya tersenyum.
Tak menunggu lama lagi Zian segera bergegas ke kamarnya.
Bukannya tidur, ia malah sibuk memikirkan rencana masa depannya.
\*\*\*\*\*