
" Kak . . . "
Zian menoleh mendapati Tiara yang berdiri tak jauh darinya.
" Pengumumannya udah ada tuh, turun yuk ?" ajak gadis itu dengan lembut.
Ia seolah tahu apa yang sedang dipikirkan sosok tampan itu.
" Nanti aja, lo tahu kan bukan itu yang ada di otak gue sekarang?"
Tiara mendekat ke arahnya.
" Aku tahu, karena apa yang kakak rasakan sama dengan ku. Tapi sebelum kakak pergi ke London, aku mau menghabiskan waktu yang tersisa ini bersama kakak. Itu lebih berarti dibandingkan dengan duduk diam di sini tanpa ngelakuin apa-apa ".
Zian terdiam mencoba mencerna kata-kata Tiara.
" Iya lo bener Ra' . . . yok kita jalan-jalan !". ujar Zian akhirnya, berjalan mendekati Tiara.
Dengan cepat ia menggenggam tangan gadis itu kemudian berjalan menuruni tangga diikuti oleh Tiara.
Diiringi tatapan mata iri para siswi yang mereka lewati.
" Duh yang lagi lengket . . . !" teriak Hesti dari ujung koridor.
Tiara melambaikan tangan ke arahnya seraya terkekeh. Melanjutkan langkahnya bersama Zian yang masih terus menggenggam tangannya erat.
Keduanya menuju ke depan papan pengumuman, mencari nama Zian.
" Nih nomor urut 15 kak ". tunjuk Tiara. Zian mendekat untuk memastikan namanya.
" Selamat ya kak udah lulus". ucap Tiara seraya tersenyum haru.
" Hem . . . "
" Yuk ke kantin ". ajak Zian masih menggenggam tangannya.
Baru saja beberapa langkah tiba-tiba . . .
" Hello dilarang pacaran di sekolah, kalian lupa ya aturannya ". tegur pak Dirman yang melintas di depan mereka. Sontak keduanya terhenti.
Buru-buru Tiara menarik tangannya namun tak berhasil karena digenggam Zian dengan kuat.
" Please pak, ini kan hari terakhir gue di sekolah. Bolehlah pak gue berduaan dengan Tiara ?" Zian memasang wajah memelas.
Pak Dirman berpikir sejenak kemudian menjawab pertanyaan Zian.
" Oke, boleh tapi nggak boleh buat yang aneh-aneh ya ?" pesan pak Dirman.
" Sip lah pak, duh pak Dirman memang yang terbaik deh pokoknya " ucap Zian seraya mengangkat jempolnya.
" Dasar berandal !" ujar pak Dirman berpura-pura marah.
" Kalau gitu gue sama Tiara ke kantin dulu ya pak ".
" Ya udah pergi sana !".
Kedua anak muda itu langsung bergegas pergi ke kantin. Ilham yang sedang berdiri di depan papan pengumuman hanya bisa memandang keduanya dari jauh dengan pasrah.
" Semoga kamu bahagia Tiara ". gumamnya lirih.
Hari ini adalah hari terakhir baginya. Sama halnya dengan Zian, ia juga berencana melanjutkan kuliah di universitas ternama di luar negeri. Demi keinginan ayahnya sebelum nantinya menjadi penerus bisnis ayahnya.
Setelah pandangannya terhalang, iapun segera pergi dari situ.
# Kantin sekolah
Kantin mendadak heboh melihat Zian dan Tiara yang hari ini terlihat berbeda, yah lebih terang-terangan menunjukkan kedekatan mereka.
Bisik-bisik mulai terdengar samar dari seluruh penjuru ruangan, namun tak mereka pedulikan.
" Lo nggak apa-apa Ra? atau gue bungkam aja mulut berisik mereka ?" tanya Zian khawatir Tiara jadi badmood karena dijadikan bahan gosip seantero kantin.
" Asalkan ada kak Zian, Ara nggak apa-apa kok". jawab gadis itu acuh, pipinya mengembung lucu karena mengunyah pentolan sebiji.
Saking gemasnya, Zian sampai mencubit pelan pipi kembungnya. Tiara mendelik marah merasa terganggu urusannya dengan pentolan.
" Sori sori habisnya lo kalo kayak gitu, lucu banget Hahaha . . . !" Zian terkekeh melihat wajah Tiara yang malah merona.
" Ya udah, lanjutin lagi makannya !" ujar zian tersenyum senang.
Tiara melanjutkan makannya tak peduli dengan pengunjung kantin lainnya.
Seolah kantin itu hanya milik berdua.
\*\*\*\*\*