
"Tetaplah tinggal di sini gadis, bersama ku," ucapnya dengan penuh perasaan mengungkapkan permintaannya.
Neva menatap mata Vano dengan nanar. Dia menunduk. Vano merengkuhnya. Dejavu...
"Ku mohon, tetaplah disini," pintanya lagi. Neva diam dalam pelukannya.
Tetap tinggal? Dia bimbang, ia sudah mempersiapkan semuanya.
Vano melepaskan pelukannya dan kembali menatap gadis yang menunduk di depannya. Tangannya terangkat dan mengusap pipi Neva dengan lembut dan hangat.
"Kak," panggilan Neva pelan dengan suara yang serak. Dia masih menunduk.
Vano sedikit membungkuk, "Ya," jawabnya pelan bersama angin yang berhembus menerpa wajahnya.
"Kakak tahu aku akan pergi, Kakak tahu cinta ini rumit, Kakak tahu ini tidak mudah. Seharusnya kau menghindar, ah, bukan... seharusnya aku yang menghindar__"
"Jangan menghawatirkan apapun gadis," sahut Vano memotong ucapan Neva. "Aku menghindar atau kau yang menghindar? Tidak ada yang harus menghindar. Hubungan ku dan Leo sudah membaik," lanjutnya. Dia mencoba menyakinkan Neva. Neva tersenyum tipis mendengar itu. Dia bersyukur, tentu saja. Lalu hening. Diam dengan pikiran masing-masing.
"Apa kau lapar?" Tanya Vano mencoba mencairkan suasana yang yang menjadi hening.
"Tidak," jawab Neva. Jantungnya masih berdebar kencang, dia tidak berani menatap mata Vano.
"Hmm, apa kau mau ice cream lagi?" Tanyanya lagi.
"Hmm, tidak," jawab Neva lagi. Vano mengangguk.
"Jadi kau mau apa?" Dia bertanya lagi.
"Antar aku pulang," jawabnya. Dia masih menunduk. Kemudian tanpa persetujuan dari Vano, dia membalik badan dan melangkah untuk pergi.
Vano menarik nafasnya panjang dan kemudian melangkah untuk menyusulnya. Dia langsung memeluk Neva dari belakang. Membuat Neva mematung di tempatnya dengan dekapan hangat yang menjalar hingga jantung dan hatinya.
"Kenapa kau senang sekali menghindari ku Nona?" Vano menempelkan pipinya di rambut Neva. "Aku sudah berkali-kali bilang pada mu untuk tidak mencoba menghindari ku. Kenapa kau tetap menghindar? Apa untuk membuat ku tidak lagi mengharap mu? Atau untuk membuat ku lelah?" Ujar Vano. Neva diam, dia tidak mampu membuka mulutnya untuk mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya mampu merasakan degupan yang dahsyat pada jantungnya.
"Nona, bukankah kau suka lagu Himawari no yakusoku?" Tanya Vano. Dia semakin mendekap Neva dalam pelukannya. "Apa kau tahu apa permintaan Nobita pada ramuan ajaib yang dia temukan di tempat tidur Doraemon? Ramuan ajaib kebohongan, ramuan yang membuat segala ucapan Nobita berubah menjadi berlawanan dengan apa yang dia ucapkan. Apa kau ingat adegan itu?" Tanya Vano. Neva masih diam tetapi dia mendengarkan semuanya. Dia tahu adegan itu, adegan dimana Doraemon telah pergi untuk selamanya dari kehidupan Nobita. Adegan ketika kelopak bunga mulai berguguran, adegan ketika alunan lagu menjadi begitu menyayat.
"Apa kau tahu permintaan Nobita?" ucap Vano. Dia sedikit menunduk dan membuat bibirnya begitu dekat dengan telinga Neva. Neva memejamkan matanya sebentar ketika hembusan nafas Vano membelai pipinya dengan lembut.
Vano melanjutkan ucapannya, "Nobita bilang... 'Aku tidak suka, sama sekali tidak suka. Dari dulu, sampai sekarang dan sampai kapan pun, kita tidak akan bersama-sama, tidak akan sama-sama, tidak akan'," Vano menirukan ucapan Nobita pada Doraemon. Pelan, dia melepaskan pelukannya dan membalik badan Neva untuk menghadap dirinya. Dia mengeluarkan kotak kecil dari saku jaket dan kemudian, dia meraih tangan Neva. Tangannya mengangkat jemari kiri Neva kemudian membuka kotak kecil itu dan mengambil isi nya.
"Jika, Nobita memiliki ramuan ajaib itu, maka aku punya ini," Perlahan dan dengan hati-hati dia memainkan benda kecil berbentuk lingkaran di jari manis Neva. Tidak ada penolakan, Neva hanya diam dan mematung, mematung seperti manekin. "Jika, permintaan Nobita adalah kebalikan dari apa yang dia ucapkan maka... aku tidak berbohong dengan hati dan lisan ku," ucapnya. "Aku suka, sangat suka. Dari dulu, sampai sekarang, sampai kapanpun, kita akan selalu bersama. Iya... selalu bersama, selalu," lanjutnya. Kedua tangannya memegang pipi Neva dan dengan pelan membawa pandangan Neva untuk menatapnya.
"Apa kau mendengar permintaan ku?" Tanyanya. Neva mengangguk. "Ini bukan ramuan ajaib yang bisa memaksa mu untuk tetap tinggal tapi jika kau pergi karena ku maka aku akan menahan mu seperti ramuan ajaib itu, tapi jika kau pergi karena kau ingin pergi maka aku tidak akan menahan mu. Kau boleh terbang tinggi, kau boleh berlari kemanapun yang kau inginkan... Dan kau harus ingat ini... bahwa aku akan selalu menunggu mu," ucapnya dengan teratur. Vano kembali menunduk dan mencium bibir Neva, lagi. Mata Neva terbuka lebar dan langsung mendorong tubuh Vano agar menjauh darinya. Dia membalik badan dan segera berlari dengan cepat.
Neva berlari dengan meninggalkan Vano yang masih mematung, dia berlari dengan memegangi hatinya yang begitu terasa kacau. Antara hitam, putih dan berwarna. Antara gelisah dan khawatir. Dia menekan tombol pada lift dan segera masuk sebelum Vano mampu mengejarnya.
Gila, pikirnya. Dia menyentuh bibirnya.
"Apa-apaan ini, dia mencium ku dua kali pada malam ini? Astaga... aku bisa gila karena tidak bisa mengendalikan perasaan ku. Agrhhh... dia mencium ku tiga kali bahkan ketika kita belum resmi pacaran. Bagaimana jika sudah pacaran, bagaimana jika sudah menikah?" Neva berbicara sendiri di dalam lift. Tiba-tiba adegan di ruang makan terlintas di pikirannya. Adegan ciuman Kakaknya dan Yuna.
"Agrhhhh, aku gila, gila... benar-benar gila. Kenapa aku malah berpikir tentang menikah? Oh my... tolong jernihkan pikiran ku" Dia mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kesal.
Vano sudah berada di dalam lift saat ini. Dia menggunakan lift khusus untuk tamu istimewa dan Direktur. Tidak seperti lift biasa, lift ini bisa diatur tingkat kecepatannya.
Neva merasa sangat frustasi dengan dirinya sendiri, dengan perasaannya sendiri. Dia mengangkat tangan kirinya dan memperhatikan jari manisnya. Dia memperhatikannya dengan pandangan yang rumit.
"Kenapa kau memberi ku ini?" Dia bertanya entah kepada siapa. Bibirnya mengerucut tapi kemudian melengkung dan tersenyum indah.
Neva memperhatikan angka pada hitungan di dalam lift dan ikut menghitungnya dalam hati. Lima ... empat ... tiga ... dua ... Ting, pintu lift terbuka dan betapa terkejutnya Neva karena Vano sudah berdiri di depan lift dan memasang senyumnya.
"Kenapa Kak Vano ada di situ?" Tanyanya heran. Dia menunjuk Vano dengan ragu. Ini sungguh Kak Vano? Batinnya ragu. Bagaimana bisa?
"Keluarlah," Ucap Vano dengan menahan pintu lift agar Neva tidak menutupnya kembali.
"Tidak mau keluar," jawab Neva.
"Kau mau menginap di dalam lift?" Tanya Vano dengan terkekeh.
"Menyingkirlah, jika kau ingin aku keluar," jawab Neva. Vano mengangguk dengan patuh. Kemudian, dengan pelan dan sangat hati-hati Neva melangkah untuk keluar dari lift. Dia melewati Vano dengan kecepatan kilat. Dia kembali berlari tetapi kali ini Vano berhasil menangkap tangannya dan membuat Neva berhenti.
"Aku akan mengantar mu," ucap Vano dan langsung membawa Neva ke dalam mobilnya.
"Bagaimana Kak Vano bisa lebih dulu sampai di lantai bawah?" Tanya Neva. "Apa kau memiliki pintu doraemon?" Lanjutnya. Pertanyaan yang aneh, pintu doraemon? Rasanya dia mulai berhalusinasi.
Vano terkekeh, "Ada satu lift khusus," jawabnya.
"Ohh," Neva mengangguk.
Vano melajukan mobilnya menjauh dari area. Dia fokus menyetir, sementara Neva merasa tidak tenang dengan jantungnya.
Neva sedikit melirik ke arah Vano. Entah kenapa dia malah ingin melihat wajah itu, dia memperhatikan bibir Vano, dan entah kenapa seperti ada magnet pada matanya untuk menatap bagian itu. Dia merasa benar-benar gila.
"Kenapa?" Tanya Vano dengan langsung menoleh ke arah Neva. Ups, Neva segera berpaling.
"Hh? Tidak ada," jawabnya. Kemudian, matanya memperhatikan jalanan. Tangannya sedikit terangkat dan menyentuh bibirnya pelan. Bibir itu melengkung tiba-tiba.
__Di rumah besar Nugraha
Mama mendapatkan panggilan telepon dan Leo.
Dia menanyakan keberadaan Neva.
"Emm," Mama sedikit gugup mendapatkan pertanyaan ini. Mama tidak tahu masalah yang sebenarnya dan apa yang sedang terjadi. Mama hanya tahu jika putranya ini sangat tidak menyukai Vano tanpa tahu penyebabnya.
"Neva...," Mama bingung. "Nak...," Mama memanggil Leo.
"Iya," jawab Leo rendah. Mama menarik nafasnya dengan panjang dengan khawatir. Namun tidak ada pilihan lain, cepat atau lambat Mama harus membicarakan ini pada Leo. Bukan berarti Mama pilih kasih dan mendukung Neva tapi jika hati Leo bisa di lunakkan, kenapa tidak. Pikir Mama.
"Mama minta maaf," ucap Mama lembut dan hati-hati dalam panggilan teleponnya.
"Kenapa?" Tanya Leo. Dia duduk di sofa di kamarnya, menunggu Yuna yang tengah bersiap-siap untuk pergi ke kastil pinggir pantai.
"Mama memberikan izin pada adik mu untuk keluar dengan Vano," kata Mama masih dengan sangat hati-hati. "Tolong jangan marah dengan adik mu, Mama yang memberinya izin," lanjut Mama dengan segera.
"Hmm, tidak masalah," jawab Leo datar. Mama bernafas dengan sedikit lega, beliau berpikir jika Leo akan menjawab dengan kasar dan bahkan akan menentangnya.
"Mama minta maaf," ucap Mama kembali meminta maaf.
"Nak," panggil beliau lembut penuh kasih. "Terima kasih untuk pengertian mu. Adik mu pasti bahagia mendengar ini," ucap Mama.
"Jadi saat ini, Neva keluar dengan Vano?" Tanya Leo.
Mama mengangguk di seberang sana. "Iya," jawab beliau. Kemudian panggilan berakhir setelah mereka bertukar beberapa kata.
Leo menoleh ke arah Yuna yang tengah mengambil syal rajut warna putih dari dalam lemari. Dia segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Yuna.
"Sini," ucapnya. Dia meminta syal rajut itu dari tangan Yuna. Dengan patuh, Yuna memberikannya. "Kau ingin memakainya?" Tanya Leo.
"Huum," jawab Yuna dengan anggukan. Tangan Leo terangkat dan memakaikan syal rajut warna putih itu di leher Yuna. Dengan sangat hati-hati, dia membenarkan rambut Yuna.
"Selesai," ucap Leo setelah dengan rapi memakaikan syal rajut itu di leher Yuna.
Yuna tersenyum, "Terima kasih," ucapnya. Kemudian, kedua tangannya melingkar di pinggang Leo. Dia mendongak dan menatap wajah suami nya.
"Kau pernah memakaikan ini untuk ku, dulu," ucap Yuna. Leo mengangguk, iya dia ingat itu. "Apa kau tahu apa yang ku ucapkan dalam hati saat itu?" Tanya Yuna.
Leo terkekeh, "Kau selalu berbicara dalam hati mu, hahaa kau sangat lucu dengan itu," jawab Leo.
"Oh, iya... aku lupa. Kau... kau selalu saja tahu saat aku membicarakan mu dalam hati ku. Aku selalu penasaran, sebenarnya kau ini punya ilmu apa?"
Leo tertawa kecil dan mengusap rambut Yuna dengan pelan, "Sudah malam, ayo kita berangkat," ucapnya.
"Hei, kau harus menjawab ku dulu," ujar Yuna.
"Ini ilmu rahasia. Kau harus membayar ku jika ingin mengetahuinya," jawab Leo dengan senyum menyeringai nakal.
"Simpan saja ilmu itu, aku tidak tertarik," ucap Yuna dan melepaskan tangannya dari pinggang Leo. "Aku memiliki firasat buruk tentang bayaran yang kau maksud," lanjutnya dan langsung melangkah meninggalkan Leo.
__Di sana. Di jalanan malam Ibu Kota. Vano masih mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia membelokan arah mobilnya ketika di persimpangan jalan.
"Kok belok Kak?" Tanya Neva pada Vano. "Ini bukan arah ke rumah ku," ucap Neva.
"Ya, aku tahu," jawab Vano.
"Lalu?"
"Ikut saja Nona," jawab Vano yang langsung di sambut gelengan kepala oleh Neva.
"Tidak ... tidak ...," tolaknya. "Tidak mau. Antar aku pulang."
"Kenapa tidak? Kau bahkan belum tahu kemana arah mobil ini," jawab Vano.
"Aku tidak perduli arah mobil ini mau kemana, yang pasti ini semakin menjauh dari arah rumah ku," ucap Neva. Dia tidak ingin sesuatu terjadi lagi. Vano menjadi sangat agresif padanya.
Vano tidak menjawabnya, tetapi tak lama kemudian, dia memarkirkan mobilnya di tepi jalan.
"Sampai," katanya.
"Di mana ini?" Tanya Neva memperhatikan kondisi sekitar. Jalanan yang lumayan sepi. Vano tidak menjawabnya tetapi langsung membuka pintu mobil dan keluar. Kemudian, dia membukakan pintu mobil untuk Neva.
"Ayo," ajaknya.
"Nggak," tolak Neva.
"Ayo...,"
"Nggak mau," tolak Neva lagi.
"Di bawah ada danau dengan bunga teratai," ucap Vano. Neva menoleh ke arahnya.
"Oh ya?"
Vano mengangguk, "Ayo," ajaknya lagi.
"Nggak," Neva masih menolak.
"Aku tidak akan macam-macam," ujar Vano.
"Kau pembohong," jawab Neva dengan mengerutkan bibirnya.
"Kali ini sungguh-sungguh," kata Vano meyakinkan. Dia mengacungkan dua jarinya. "Serius," ucapnya. Neva menatapnya dengan tajam. "Janji," ucap Vano meyakinkannya lagi.
"Awas jika sampai Kak Vano mengingkari janji," ancam Neva.
"Iya... Ayo," Vano mengulurkan tangannya. Dengan sedikit ragu, Neva menyambut uluran tangan itu.
Vano membawa Neva menyusuri jalanan setapak. Kemudian, dia berhenti dan melepas jaketnya.
Neva menatapnya dengan waspada. Moduh nih, batinnya. Dia sedikit menarik mundur langkahnya.
"Kenapa?" Tanya Vano menyadari.
"Emm, tidak ada," jawab Neva mencoba tenang.
"Pakai ini," ucap Vano. Dia menyerahkan jaketnya pada Neva.
"Terima kasih, tapi tidak perlu Kak," tolak Neva. Dia tidak menerima jaket Vano.
"Udara malam sangat dingin, Kakak mu akan membunuh ku jika kau sampai sakit," ujar Vano memberi alasan. Namun, Neva masih enggan menerima jaketnya. "Nona, ini hanya jaket. Kau tidak perlu curiga pada ku," lanjutnya. Dan akhirnya, tangan Neva mengulur untuk menerima jaket itu. Kemudian dia memakaikannya... aroma khas tubuh Vano tercium begitu memanjakan hidungnya. Tubuhnya menjadi sangat hangat setelah memakai jaket ini. Ini seperti... Vano tengah memeluk dirinya. Dia menjadi membeku dengan jantung yang rasanya ingin melompat keluar.
___
Catatan Penulis.
Hai hai... pembaca kesayangannya Thor...
Yang suka ngerumpiin Babang tamvan dan Nona cantik... Yang suka tebar kotak cinta buat rebutan (Hhaaa) Cuss yuk gabung grup. Kita ngobrol manjah...
Jempol di goyang jangan lupa yes. Like komen vote... iyeeyy paket komplit.
Tengkyu... luv luv.
Mucah. 🥰