
Leo menggenggam ponselnya erat. Menundukkan kepalanya, memperhatikan lantai yang ia pijak dengan nanar. Menyampaikan keadaannya pada Yuna sekarang? Air mata Yuna baru saja mengering, bagaimana dia bisa tega membiarkannya menangis lagi. Leo menghembuskan nafasnya pelan, kemudian mengangkat wajahnya, ia beranjak dari duduknya dan turun ke bawah.
Ada Yuna yang tengah menyiapkan air putih di meja makan. Leo diam dan berhenti dari langkahnya, memperhatikan Yuna sebentar dengan senyum tipis. Lalu perlahan membawa langkahnya dengan berat pada Yuna.
Kedua tangannya mengulur dan memeluk pinggang Yuna dari belakang. Meninggalkan kecupan hangat di pipi istrinya.
"Apa kita jadi belanja hari ini?" tanya Leo.
Yuna menggeleng, "Kau terlihat masih tidak enak badan. Kita di rumah saja," jawab Yuna. Tangannya telah selesai menata buah.
Leo mengangkat pinggang Yuna dan membuatnya duduk di meja. "Apanya yang tidak enak badan? Aku baik-baik saja," jawabnya. Tangannya mengusap rambut Yuna kemudian langsung berpindah ke pinggangnya.
"Itu jawaban yang pernah kau berikan ketika di kastil. Dan keesokan harinya kau demam," ucap Yuna. "Aku lebih percaya insting ku dari pada jawabanmu," lanjutnya.
Leo terkekeh, "Aahhh sedihnya," ucapnya yang kemudian memasang wajah sedih. "Istriku tidak percaya padaku lagi."
"Hei, jangan hiperbol. Aku tidak percaya pada bagian yang itu saja," jawab Yuna.
"Yang mana," jawab Leo mendekatkan wajahnya. Tangannya mulai menarik Yuna untuk menempel pada tubuhnya.
Yuna mendorongnya dan mengerucut bibirnya. "Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan," ucapnya.
"Tidak," kata Leo. Dia menunduk dan mencium pundak Yuna. "Kau mau belanja dimana?" tanya Leo.
"Tidak jadi belanja," jawab Yuna rendah. Dia menatap mata Leo.
"Padahal aku ingin belanja denganmu" Leo berucap dengan sedih.
"Kita belanja lain kali saja," jawab Yuna. "Sudah, turunkan aku," Yuna sedikit membuat gerakan mendorong tubuh Leo.
"Beri aku ciuman pagi," pinta Leo sambil memejamkan matanya.
Yuna tersenyum lebar. "Kau," katanya.
Leo menundukkan kepalanya dan Yuna langsung mencium pipinya. Membuat Leo langsung membuka mata.
"Kenapa pipi?" protes Leo. Kemudian, dia mengambil ciumannya sendiri sebelum Yuna mampu menjawab. Menciumnya dengan lembut tetapi dalam. Bibirnya bergelayut manis dengan saling melekat dan menggoda.
"Kita sarapan," ucap Yuna terengah setelah Leo melepaskan ciumannya. Kening mereka bertemu, tangan Leo masih memeluk pinggang Yuna.
"Sayang," panggil Leo pelan bahkan seperti bisikan.
"Hmm."
Leo memejamkan matanya, dia berfikir keras bagaimana caranya untuk menyampaikan keadaannya tanpa membuat Yuna menangis. Sungguhkah ini waktu yang tepat?
"Apa?" tanya Yuna, setelah dia menunggu Leo untuk bicara tetapi yang ada Leo hanya diam.
"Hmm, tidak ada. Ayo sarapan," jawab Leo yang pada akhirnya masih belum tega memberi tahu Yuna. Dia bahkan memiliki fikiran untuk pergi saja bersama papanya dengan alasan bisnis tanpa memberi tahu Yuna. Leo pelan menurunkan Yuna. Kemudian mereka berdua sarapan.
Seperti biasa, Tuan muda Leo sangat anggun dalam sesi makannya. Dia diam dan mengunyah makanannya dengan teratur. Hati dan pikirannya berkecamuk. Sampaikan atau tidak? Pergi dengan memberi tahu Yuna atau pergi tanpa memberi tahu Yuna tentang sakitnya. Entahlah. Dia hanya tidak tega melihat Yuna bersedih.
"Jalan-jalan pagi yuk. Ke taman komplek," ajak Leo setelah ia meminum segelas air putih dan menyeka ujung bibirnya sebagai penutup sesi sarapan pagi ini. Dia juga melakukan itu untuk Yuna.
"Ok. Ide yang bagus," jawab Yuna.
Setelah selesai sarapan, mereka mengambil Baby Arai dari ruang tengah. Leo menggendong dan mencium pipi anaknya dengan gemas.
"Jalan-jalan yuk sayang," ucapnya pada Baby Arai.
"Uuu," jawab Baby Arai dengan lucu. Bibirnya maju dengan lancip. Dan kemudian menggerakkan tangannya hingga mengenai pipi Leo.
"Ummm, makin pinter ya," Leo mengigit gemas pipi Baby Arai dengan bibirnya. Kemudian mendekapnya dengan hangat. Menyandarkan anaknya dalam dekapannya. Leo mengambil nafasnya panjang. Dia mengingat ucapan mamanya. Jika dia harus hidup dengan baik, ada istri dan anaknya yang membutuhkan dirinya. Ada dua orang yang ia cintai dan ia telah berjanji untuk membuatnya bahagia. Namun, bagaimana jika ia sampai lumpuh permanen atau bahkan terenggut nyawanya. Leo menggeleng dengan frustasi. Tidak, dia harus sembuh. Dia tidak akan membiarkan anaknya belajar berjalan dan berlari sendiri. Ia akan menemaninya berlari, berlari dengan tawa dan canda. Dia harus sembuh. Ya. Harus.
"Yuk," kata Yuna setelah selesai mengambil dan menyiapkan stroller. Leo mengangguk dengan senyum.
"Bagaimana jika tidak perlu membawa stroller? Aku ingin menggendongnya," kata Leo.
"Ok," Yuna menyetujui. Kemudian, mereka jalan-jalan pagi di taman komplek.
Di rumah besar keluarga Nugraha.
Mama enggan untuk sarapan. Beliau bahkan menolak untuk turun.
"Jangan begini," ucap Tuan besar Nugraha mengusap punggung isterinya. "Neva akan tahu keadaan kakaknya jika kau begini. Nanti malah membuat dia tidak fokus dengan kuliahnya," lanjut Papa. Mama masih menangis sesenggukan.
"Kenapa Lee harus mengalami itu Pa. Bukankah waktu itu operasinya berjalan dengan lancar," ucap Mama serak dan tercekat. "Bagaimana hidupnya jika dia lumpuh. Bagaimana jika dunia membawanya pergi dari kita," tangis histerisnya kembali terdengar menggema memenuhi ruangan. Mama ingin berteriak sebenarnya, memikirkan keadaan putranya. Dadanya sangat sesak.
"Jangan bicara yang bukan-bukan. Lee kita akan baik-baik saja. Dia akan sehat kembali. Papa akan menghubungi dokter spesialis terbaik di seluruh dunia untuk merawatnya," Papa dengan perhatian memeluk dan mengusap punggung isterinya. "Kita harus menguatkan dia. Jangan ikut terpuruk. Mari bersama-sama berikhtiar dan berdo'a untuk kesembuhan Lee," lanjut Papa. Beberapa saat kemudian, Mama mulai tenang. Kemudian, turun kebawah untuk sarapan.
"Pagi sayang," sapa Mama dengan senyum menyapa Neva yang menunduk. Neva menyembunyikan wajahnya yang masih sedikit sembab. Dia menangis semalaman.
Mereka makan dengan sangat diam bahkan tidak ada suara apapun. Ketiganya mengunyah makanan dengan hambar. Hati sedih yang menyayat membuat pikiran seolah kosong.
Mama memikirkan, apakah saat ini Lee sudah makan? Apakah sudah minum obat? Apakah punggungnya terasa sakit? Apakah dia demam? Rasanya Mama ingin segera kesana dan memeluk putranya. Tak terasa air mata Mama kembali menetes, beliau segera menyekanya. Tangan Tuan besar Nugraha langsung menggenggam tangan istrinya dibawah meja. Memberi isyarat untuk tenang dan tahan untuk tidak menangis di depan Neva.
"Mama ke kamar dulu. Emm Mama lupa membalas pesan teman," ucap Mama memberi alasan. Neva mengerutkan keningnya mendengar ucapan mamanya. Sejak kapan mamanya lebih mementingkan membalas pesan teman dari pada sarapan hingga semuanya selesai. Dia mengangkat wajahnya dan menatap mamanya yang menunduk dan sesenggukan.
"Ma," panggilannya pelan.
"Hmm. Mama sedang tidak badan," jawab Mama dan langsung beranjak dari tempat duduknya. Beliau melangkah cepat meninggalkan meja makan.
"Pa," Neva memandang papanya, meminta penjelasan.
"Hhhm, Mama hanya sedikit pusing," jawab Papa.
Neva mengangguk samar dan tidak mempercayai jawaban yang diberikan oleh papanya. Dia berfikir kenapa mamanya bersedih? Apa karena beliau tahu hubungannya dan Vano sedang tidak baik. Atau Vano bahkan sudah memberi tahu keluaga besar untuk menyudahi hubungan pertunangan mereka.
Neva mengambil nafasnya dalam. Mungkin saja iya, dan mamanya tidak tega untuk memberitahunya.
"Pa. Apa ada sesuatu yang tidak Papa sampaikan padaku?" tanya Neva menuntut jawaban jujur.
"Tidak ada," jawab Papa sambil menyudahi sesi sarapan.
"Apa ada hubungannya dengan keluarga Mahaeswara?" tanya Neva lagi.
"Keluarga Mahaeswara?" Papa balik bertanya dengan bingung. Neva mengangguk dan mengerti jika ini bukan masalah dengan keluarga Mahaeswara.
"Ada sesuatu yang terjadi?" Neva masih belum puas. Dia bertanya lagi.
"Tidak ada," jawab Papa.
"Pa, aku bukan anak kecil. Okey."
"Masalah orang tua tidak semuanya kau harus tahu," jawab Papa yang pada akhirnya membuat Neva berhenti untuk bertanya. Dia mengigit bibirnya.
Ada apa? Ada masalah apa, hingga membuat mamanya menangis sesenggukan. Apa yang begitu menyakiti hati mamanya. Tentang apa ini? Pada siapa dia bercerita tentang kesedihan ini? Pada siapa dia harus berbagi kepiluan yang menusuk hatinya.
"Selamat pagi Pa. Aku pamit," ucap Neva pelan. Kemudian, dia beranjak dan kembali naik ke atas. Dia masuk ke dalam kamarnya dan menyiapkan tas miliknya.
"Hufff,," Neva meniup poninya. "Semangat Neva," ucapnya menyemangati diri sendiri. Dia melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dia tidak ingin menyentuhnya. Dia masih menonaktifkan ponselnya.
Neva keluar dari kamar. Dan berjalan menuju tangga. Pada ujung tangga, dia menatap ke atas. Apa yang terjadi dengan Mama dan Papanya. Apakah Papa memiliki perempuan lain? Tiba-tiba pikiran itu terlintas begitu saja. Neva menggeleng dengan cepat. Namun dalam hati dia berjanji akan menghancurkan wanita yang berani menggoda papanya jika itu benar terjadi. Dia yang tidak tahu apa-apa semakin terluka memikirkan banyak hal.
Pelan, dia membawa langkahnya keluar dari rumah dan berangkat menuju kampus. Nanti, setelah pulang dari kampus, dia akan langsung kerumah kakaknya untuk meminta maaf pada Yuna.
"Maafkan aku Kak Yuna," gumamnya.
Dia menunduk dan memainkan jari-jarinya. Dia tidak tahu dan tidak melihat jika ada seseorang yang memperhatikan mobilnya keluar dari rumah. Dia tidak tahu jika ada hati yang merindukannya. Neva yang manja dan terkadang malu-malu kucing. Gadis yang manja dan polos. Gadis yang akan mengirimkan pesan sapaan saat ia tidak sempat mengirim pesan. Seseorang itu kembali melajukan mobilnya saat mobil yang Neva tumpangi menjauh dari rumah. Dia membuntutinya. Dan mobil mereka bahkan bersebelahan saat berhenti di lampu merah. Kemudian, mobil mereka terpisah saat lampu hijau menyala.
______
Di Rumah besar Tuan muda Leo.
Mereka berdua kembali ke rumah setelah jalan-jalan dan bermain di taman komplek. Leo membaringkan anaknya didalam box bayi. Baby Arai yang mulai mengantuk langsung menguap memejamkan matanya.
Leo gemas dibuatnya. Dia mencium pipi anaknya dan mengigit hidung mancungnya.
"Jangan jahil. Kalau kurang tidur, nanti dia rewel," ucap Yuna. Leo mengangguk dengan patuh dan mengusap paha anaknya dengan lembut. Setelah Baby Arai tertidur pulas. Leo memindahkan ke kamar.
Kemudian, dia mengambil buku dan membacanya untuk Yuna. Memangku Yuna dengan kasih.
"Puisi-puisi yang sangat bagus tapi juga sedih," ucap Yuna setelah Leo berhenti membacanya. Puisi tentang cinta dan perpisahan.
Leo mengambil nafasnya dengan dalam, kemudian dengan sangat terpaksa dia membuka mulutnya.
"Sayang. Aku sakit."
_____________
Catatan Penulis π₯°π
Maaf ya kemaren nggak Up π€π
Terima kasih udah begitu sabar menunggu kelanjutan kisah ini. Padamu π₯° Maaf kalau ada Typo ya π€π
Luv luv π₯° Jangan lupa like koment ya kawan tersayang π₯° Terima kasih.
Gambar/Ilustrasi di ambil dari internet dan Aplk Pint. Jika ada kesamaan gambar harap maklum. π€π