
Tak lama, mobil yang mereka tumpangi parkir dengan pelan di area restoran mewah. Dan tepat saat itu juga, sebuah mobil parkir di samping mobil milik Nyonya Nugraha. Seseorang itu segera keluar dari mobil setelah mengetahui ada mobil milik keluarga Nugraha. Ia berdiri tepat didepan pintu mobil.
Sang supir pribadi milik keluarga Nugraha memberinya salam sejenak sebelum membukakan pintu untuk Nyonya besarnya. Pelan, pintu mobil itu terbuka. Dengan anggun, Nyonya Nugraha dan Neva keluar dari mobil. Wajah Neva langsung memerah melihat Vano sudah ada didepannya. Dia tidak berpikir jika makan siang ini, akan ada Vano. Dia pikir, ini hanya akan ada dirinya dan dua Nyonya.
"Selamat siang Tante," Vano memberi salam pada Nyonya Nugraha. Ia membungkukkan badannya dengan hormat.
"Siang Vano," Nyonya Nugraha menjawab salam Vano dengan ramah. Kemudian, Vano membawa pandangannya pada Neva. Ia tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya.
"Selamat siang Nona Neva," ujarnya dengan ramah. Neva tersenyum dalam sudut bibirnya. Vano menggemaskan, kenapa dia bertingkah seolah dia dan Neva tidak memiliki hubungan apapun.
"Siang Tuan muda Mahaeswara," jawab Neva dengan senyum. Ia membungkukkan badannya untuk membalas salam Vano padanya. Mama memperhatikan kedua insan ini dengan seuntai senyum. Kemudian, beliau segera melangkah. Neva langsung mengikuti Mamanya, dia berjalan berjejeran dengan mamanya, sedangkan Vano berjalan di belakang mereka berdua.
Dengan sangat pelan, tangan Vano menyusup ke dalam jemari Neva lalu menariknya mundur untuk menjadi berdampingan dengannya. Gerakannya pelan, hingga itu terlihat alami seolah Neva yang dengan sengaja menarik langkahnya mundur.
"Tuan muda, kenapa menarik ku?" Neva bertanya pelan pada Vano. Tangan mereka masih saling bergandengan.
"Aku merindukan mu," jawab Vano yang membuat bibir Neva otomatis tersenyum malu. Ia menunduk sebentar lalu kembali mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Vano.
"Aku juga rindu," jawabnya. Kini bibir Vano yang secara otomatis melengkung, ia melepaskan genggaman tangannya dan berpindah ke pinggang Neva, ia menarik gadis itu pelan agar lebih dekat dengannya. Jantung mereka berdua berdegup dengan indah.
Mama berjalan di depan mereka dengan anggun. Mama sudah tidak kaget lagi dengan tingkah dua orang ini.
Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka dengan ramah, kemudian mengajak mereka ketempat yang sudah dipesan oleh Nyonya Mahaeswara.
"Silahkan," ujarnya dengan ramah setelah membukakan pintu khusus.
"Terima kasih," jawab Mama dengan senyum. Kemudian mereka bertiga melangkah masuk ke dalam. Nyonya Mahaeswara yang sudah berada di dalam langsung berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Hallo calon besan," sapanya dengan senyum ramah pada Nyonya Nugraha. Mereka saling cipika cipiki sejenak.
Tangan Vano masih berada di pinggang Neva sampai saat ini.
"Selamat siang Tante," sapa Neva dengan ramah. Ia membungkukkan badannya. Nyonya Mahaeswara tersenyum dan merentangkan kedua tangannya.
"Sini sayang," ujarnya meminta Neva untuk mendekat. Vano menarik tangannya dari pinggang Neva. Neva dengan pelan melangkah ke arah Nyonya Mahaeswara dan memeluknya. Mereka cipika cipiki.
"Bagaimana kabarmu nak?" Tanya Nyonya Mahaeswara setelah melepaskan pelukannya.
"Baik, Tante," Neva menjawab dengan senyum. Ia sedikit melirik ke arah mamanya. Mama mengangguk dengan senyum seolah bilang bahwa ibu mertua itu tidak menakutkan.
"Kalian bertiga bisa barengan datangnya," komentar Nyonya Mahaeswara. Setelah Vano memberinya salam. Vano menjelaskan bahwa mereka bertemu dengan tidak sengaja diluar.
Kemudian, mereka berempat duduk di bangku. Nyonya Nugraha duduk bersebelahan dengan Nyonya Mahaeswara, sementara Vano duduk bersebelahan dengan Neva. Mereka menyantap hidangan makan siang yang telah disiapkan dengan tenang.
"Aku tidak menganggu acara siang kalian bukan?" Nyonya Mahaeswara bertanya setelah mereka menyelesaikan makan siang.
"Neva, kau ingin mengadakan acara lamaran dimana?" Tanya Nyonya Mahaeswara. Beliau menatap Neva. "Apa kau ingin diadakan Jepang? Korea? Paris? Atau dimana?"
"Jangan memanjakannya," Mama yang menyahut pertanyaan Nyonya Mahaeswara.
"Ini bukan memanjakan jeng," sahut Nyonya Mahaeswara. "Ini adalah impian setiap gadis. Proses ini satu kali dalam hidup, jadi jangan sampai terlewat begitu saja. Momen sekali seumur hidup harus dilewati dengan manis dan meninggalkan kesan yang tak akan pernah terlupakan. Jika bisa kita harus membuat catatan dalam sejarah," jelas Nyonya Mahaeswara bersemangat. Secara sudut pandang, dua Nyonya ini sebenarnya berbeda. Nyonya Nugraha yang rendah hati, sederhana dan tidak ingin banyak terekspos sementara Nyonya Mahaeswara yang glamor dan kekinian. Diluar perbedaan itu, mereka memiliki hati yang sama-sama baik.
Mama membawa pandangannya pada Neva, ia menatap putrinya. Neva membalas tatapan mamanya sebentar.
"Jangan sungkan untuk meminta apa yang kau inginkan Neva," ujar Nyonya Mahaeswara. Neva menjadi tidak enak dengan ini. Dia seseorang yang tidak pernah meminta apapun dari orang lain. Konsep lamaran? Dia bahkan belum memikirkannya.
"Ma," Vano akhirnya membuka suaranya. Ia menatap mamanya. Sebenarnya dia juga tidak tahu jika tujuan mamanya mengundang mereka kesini untuk menanyakan konsep lamaran. "Mungkin ini terlalu mendadak untuk bertanya padanya, bagaimana jika kita membahas ini lain kali?" Vano berkata dengan sopan pada mamanya. Pada akhirnya Mama mengangguk setuju.
"Santai saja," ujar Vano pelan pada Neva. Neva menoleh ke arah Vano, menatap matanya dan mengangguk pelan. Pandangan matanya mewakili ucapan terima kasih karena Vano lagi-lagi mau mengerti dirinya. Neva menjadi sangat tenang dan menambah rasa percayanya pada sosok laki-laki yang ia pilih. Dewasa dan mengayomi.
Dua Nyonya ngobrol asik sendiri dan Neva ngobrol singkat dengan Vano. Tentu mereka tidak saling ngobrol receh seperti saat mereka hanya berdua saja.
"Vano," Nyonya Mahaeswara memanggil putranya. "Bisa minta tolong antar Neva kembali? Kau tidak sedang sibuk bukan? Mama dan Tante mau ada acara sebentar," jelas Nyonya Mahaeswara pada Vano.
"Tentu," jawab Vano. Neva menyembunyikan senyumnya ketika mata mamanya menatapnya dengan pandangan ledekan. Ini pasti hanya akal-akalan dua Nyonya agar dua insan ini memiliki banyak waktu untuk bersama.
"Aku berharap kalian segera menikah," ujar Nyonya Nugraha menatap Vano dan Neva secara bergantian. "Kalian tidak perlu mengatur waktu untuk saling bertemu. Dengan segera menikah, kalian berdua bisa saling bersama sepanjang yang kalian mau," lanjut Mama. Vano dan Nyonya Mahaeswara mengangguk setuju dengan itu. "Tentang punya anak dan kuliah, kalian berdua bisa merencanakannya dengan matang," lanjut Mama lagi. Mama tidak ingin putrinya terlalu lama berpacaran. Toh laki-laki yang dipilih putrinya adalah laki-laki yang sudah dewasa dan mapan. Tidak masalah jika putrinya memutuskan untuk menikah, dan beliau sangat mendukung itu. Mama sudah cukup menyesal membiarkan Leo dulu begitu terobsesi pada Kiara.
"Keputusan ada pada kalian berdua," sambung Nyonya Mahaeswara. "Minggu depan, okey. Bulan depan langsung menikah, okey," lanjutnya. Pada kalimat terakhirnya beliau mengulum senyum tetapi penuh harap dalam hatinya.
"Hahaa ... bulan depan menikah?" Nyonya Nugraha tertawa dengan itu. "Ide bagus," lanjutnya.
"Ma ...." Neva menatap Mamanya untuk memprotes. Lamaran saja belum terlaksana, kenapa sekarang malah memikirkan pernikahan dalam satu bulan kedepan. Mama tidak mengindahkan protes putrinya, beliau malah asik membahasnya dengan Nyonya Mahaeswara.
Vano dengan pelan meletakkan tangannya diatas tangan Neva. Ia mengambil tangan Neva yang berada di atas meja lalu menggenggamnya. Ia tahu, Neva tidak nyaman dengan candaan dua Nyonya.
Vano sedikit menunduk dan berbisik, "Kita menikah besok saja, bagaimana?" Bisikan menggoda.
Mendengar bisikan itu, Neva langsung menoleh ke arahnya. Menatap Vano dengan tajam. Tangannya terangkat dan mencubit lengan Vano dengan kencang.
____
Catatan Penulis
Terima kasih kesayangan π₯° yang masih setia menunggu kisah ini, padamu π₯°π luv luv.
Jangan lupa like komen ya kawan. π Terima kasih π₯°π