Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 281_Apa Kau Merasakannya?


Vano mengantar Neva kembali, bukan kembali ke rumahnya tetapi ke tempat Leo. Itu karena memang rencana awal Neva adalah berkunjung ke rumah kakaknya. Mobil Vano melaju dengan kecepatan sedang, siang ini begitu terik.


"Bagaimana jika kita mampir ke toko kado baby dulu? Aku belum memberi hadiah pada Baby ... umm siapa namanya?" Vano menoleh ke arah Neva. Dia lupa nama putra Leo.


"Arai," jawab Neva.


Vano mengangguk, "Ya, aku belum memberi hadiah pada baby Arai," ujar Vano. Neva menyetujui untuk mampir kesebuah toko kado. Mereka memilih beberapa kado perlengkapan bayi. Namun pada akhirnya, Neva membeli semua baju-baju lucu yang ia suka. Tidak hanya untuk baby Lee tetapi dia juga membelinya untuk baby Dim.


Empat kantong besar ada di tangan Vano. Dia tertawa terbahak-bahak melihat ini.


"Kau memborong semuanya Nona," ujar Vano. Mereka berjalan menuju mobil.


"Itu karena bajunya lucu-lucu. Aku bingung memilihnya," jawab Neva. Mereka berdua berdiri di samping mobil Vano. Mobil masih terkunci sedangkan kedua tangan Vano sudah penuh dengan tentengan.


"Kuncinya ada di saku jasku," Vano sedikit menunduk memberi isyarat mata bahwa kunci mobilnya ada ditempat itu. Kemudian, matanya beralih memperhatikan empat kantong besar dikedua tangannya. Ia sengaja sedikit mengangkat tangannya. Isyarat bahwa, tangannya tidak bisa mengambil kunci, jadi ... ambillah.


Neva dengan pelan melangkah lebih dekat kearah Vano. Ia mengulurkan tangannya untuk mengambil kunci mobil yang berada di saku jas Vano. Pelan dan sedikit ragu, ia memasukkan tangannya ke dalam jas yang Vano kenakan. Merogoh sakunya.


"Augh," tiba-tiba Vano memekik.


"Kenapa?" Tanya Neva. Tangannya terdiam didalam sana.


"Kau menyentuh hatiku," jawab Vano dengan senyum menggodanya. Kedua sudut bibir Neva dengan otomatis melengkung dengan indah. Ia segera mengigit bibirnya agar senyuman itu tidak terlalu membuatnya merona.


"Kau ...." ucapnya dengan malu. Ia menunduk dan segera mengambil kunci mobil dari saku jas Vano. Namun tangan Vano segera terangkat untuk menahan tangan Neva. Ia sudah meletakkan tentengan itu dibawah. Dia licik ... tentu saja. Kenapa tidak sedari tadi dia meletakkan tantangan itu?


Kunci mobil itu kembali terjatuh di dalam saku. Tangan Neva diam disana. Telapak tangan itu menyentuh dada Vano. Jantungnya berdegup. Indah. Ia semakin menunduk.


"Apa kau merasakannya?" Vano bertanya dengan rendah. Tangannya masih menangkap tangan Neva. Memaksa tangan gadis itu untuk tetap disana. "Kau merasakannya?" Ulang Vano.


"Merasakan apa?" Neva balik bertanya dan dia pura-pura tidak mengerti apa yang Vano maksud.


"Detak jantungku yang berdegup karena mu," Vano menjawab dengan kelembutan dalam suaranya. Neva semakin tersenyum. Saat ini, dia tidak berani mengangkat wajahnya untuk membalas tatapan Vano padanya. Dia sudah cukup meleleh dengan rayuan ini.


"Umm, jangan menggombal," ucap Neva pelan.


"Siapa yang menggombal? Kau bisa merasakannya sendiri," jawab Vano. Tangannya semakin menekan tangan Neva.


"Hentikan, atau aku pingsan saat ini juga karena rayuanmu," Neva mencoba menarik tangannya.


"Pingsan saja, dan aku akan memberimu napas buatan," jawab Vano dengan senang hati.


"Kau ...." Neva langsung memukul dada Vano dengan tangan sebelahnya. Pada akhirnya, ia mengangkat wajahnya dan menatap Vano. "Lepaskan tanganku," pintanya.


"Hhmm??"


"Tidak," Vano menolaknya.


"Lepaskan tanganku, sayang," ulang Neva lagi. Sudut bibirnya Vano terangkat membentuk senyuman. Ia suka saat Neva memanggilnya sayang dan bukan dengan sebutan kakak. Ok, dia mengalah. Tangannya pelan melepaskan genggaman pada tangan Neva.


Kemudian, mereka berdua masuk ke dalam mobil. Vano langsung membawa mobilnya menuju rumah besar milik Leo.


Disana ... di rumah Leo.


Leo dan Yuna baru saja selesai makan siang. Seperti biasa, Leo menyudahi sesi makannya dengan menyeka sudut bibir dengan anggun. Dan tentu seperti biasa, dia juga melakukan itu untuk Yuna. Ratu yang sangat dia manjakan. Kemudian, mereka berdua menuju ruang tengah, dimana ada Baby Arai dan Bi Sri disana.


"Terima kasih Bi," ujar Yuna pada Bi Sri setelah ia duduk di sofa. Bi Sri mengangguk sopan lalu pamit. Baby Arai berada di dalam box bayi disamping sofa, ia masih terlelap.


Leo duduk di samping Yuna dan langsung menyalakan televisi. Dia menonton berita bisnis terbaru.


"Sayang," panggil Yuna pada Leo.


"Hmm."


"Dari semalam kau belum tidur. Istirahatlah, jangan menonton televisi," ujar Yuna dengan perhatian.


"Sebentar saja," jawab Leo. Ia menjatuhkan dirinya dipangkuan Yuna. Tangan Yuna terangkat dan mengusap rambut Leo dengan lembut. Berita saat ini tengah membahas sebuah perusahaan yang hampir pailit. Perusahaan yang dulu pernah mencoba untuk mengambil data rahasia milik keluarga Nugraha. Tidak mudah untuk menjatuhkan perusahaan tersebut. Itu butuh waktu hampir dua tahun untuk menghabisinya. Bibir Leo tersenyum dengan sinis menyaksikan berita bisnis yang tengah menjadi trending topik saat ini.


"Cukup," ujar Yuna. Ia mencoba mengambil remote dari tangan Leo. Tapi gerakan Leo lebih cepat darinya, hingga Yuna tidak berhasil merebutnya.


"Sebentar lagi sayang, sampai iklan," Leo menawar. Ia menatap Yuna dengan ikut. Rayuan pandangan mata yang melelehkan hatinya.


"Ok, sampai iklan. Tidak ada tawar menawar lagi. Kau harus istirahat," ujar Yuna.


"Siap, Nyonya," jawab Leo dengan patuh. Tangannya mengulur dan mengusap pipi Yuna. Kemudian ia membawa wajah itu untuk menunduk. Menyatukan bibir mereka berdua. Menyatukan lidah mereka berdua. Terpaut dengan lembut.


Tak lama, gerbang terbuka dengan patuh setelah Neva memasukkan sandinya. Leo melepaskan Yuna, lalu mendongak untuk memperhatikan layar kecil.


_____


Catatan Penulis πŸ₯°


Terima kasih udah selalu menunggu Up dari Nanas. 😍😍πŸ₯° padamu kesayangan.


Jangan lupa like koment vote ya luv. πŸ˜πŸ˜˜πŸ™ Terima kasih. Ilupyu... 😘 muach.


Izinkan nanas promo novel milik temen ya πŸ™πŸ™ Judul : SEVENTEEN. Pena : Ripee