
"Lee .... " Panggilannya dengan suara lirih penuh kerinduan. Manik matanya bergerak untuk memindai setiap lekuk dan garis wajah Leo. Kening, alis, mata, hidung dan bibirnya. Dia rindu. Sangat rindu pada laki-laki ini.
Leo diam dan membalas tatapan matanya dengan tajam.
"Lee," panggilannya lagi. Suaranya sangat lembut dan manja khas wanita ini. "Aku merindukan mu, Lee," ucapnya. Dia melangkah maju untuk lebih dekat dengan Leo.
Leo masih menatapnya. "Kiara," ujarnya.
Ketika bibir manis itu terbuka menyebut namanya, hati Kiara semakin merekah dengan indah. Kerinduan semakin menjadi dalam hatinya. Dia tersenyum lebar.
"Lee," Kiara menyebut nama Leo lagi. Nama yang sebenarnya sering dia sebut setiap detik dalam hatinya. Leo, adalah orang yang paling indah dalam hidupnya. Leo adalah mantan terindah nya.
Mata Leo masih tajam menatapnya. Kemudian, dia membuka mulutnya dan bilang.
"Jangan lagi hadir dalam kehidupan ku dan Yuna Kiara," ucapnya penuh penekanan dalam setiap kata. "Kau akan menyesal jika berani menyentuh dia," lanjutnya. Kemudian segera melangkah untuk pergi dan meninggalkan Kiara. Namun, dengan cepat tangan Kiara menahannya. Menangkap lengan Leo dan membuat langkahnya terhenti.
"Aku masih mencintaimu Lee," ucapnya masih dengan suara yang lirih. Leo menarik lengannya dengan keras hingga terlepas dari genggaman kedua tangan Kiara. Dia tersenyum dengan sinis.
"Simpan saja, aku tidak butuh," Jawabannya dan kembali melangkah. Kiara segera mengejarnya lagi tapi Asisten Dion dengan cepat menahannya. Memegang kedua lengan Kiara dengan kuat agar perempuan ini tidak mengejar Bossnya.
Sementara Leo segera membuka jas yang dia kenakan dan langsung membuangnya. Melihat itu, Kiara tahu, dalam hati Leo sudah tidak ada dirinya, di dalam hati Leo sudah penuh untuk Yuna. Tidak, tidak bisa. Kiara menggeleng.
Kiara langsung menoleh pada asisten Dion yang menahannya. Dia menatap asisten Dion dengan murka.
"Hallo Nona," sapanya dengan nyengir kuda.
"Apa-apaan kau," kata Kiara dengan sangat kesal pada asisten Dion. Dia berusaha berontak dari cengkraman tangan asisten Dion tetapi tidak bisa. Asisten Dion memegangnya dengan kuat. Biar bagaimanapun kekuatan laki-laki lebih kuat dibandingkan dengan kekuatan wanita. "Br3n95ek ... lepasin," teriak Kiara pada Asisten Dion.
"Jangan ganggu boss ku, Nona," jawab asisten Dion dengan senyum tetapi penuh keberanian.
"Jangan ikut campur. Lepasin bre1795ek," Kiara berteriak pada Asisten Dion.
Dia tidak ingin membuang kesempatan ini. Dia ingin Leo kembali padanya.
"Lee, beri aku waktu untuk bicara dengan mu. Aku masih sangat mencintai mu Lee," Kiara berucap dengan berteriak karena jarak Leo yang sudah jauh.
Leo tidak mendengar ucapannya, jika pun dia mendengar, dia tidak akan perduli. Dia paling tidak suka pada seseorang yang mengusik hidupnya. Mabil yang ia tumpangi perlahan menjauh dari area.
Kiara menatap nya dengan sedih. Semudah itu kah dia dilupakan? Semudah itukah laki-laki itu melupakan masa-masa indah yang pernah terlewati bertahun-tahun.
Kiara membawa pandangannya pada asisten Dion, dia menatap asisten Dion dengan pandangan membunuh. Andai makhluk satu ini tidak menahannya maka dia pasti sudah bisa membuat Leo luluh. Tapi sial ...
Cuih ... Kiara meludahi wajah asisten Dion dengan kebenciannya yang memuncak.
Asisten Dion melebarkan matanya, dia tidak menyangka jika dia akan di ludahi oleh seorang wanita.
Kiara langsung menarik lengannya dengan keras setelah genggaman tangan asisten Dion mengendur.
Plak ... Kiara menampar pipi asisten Dion dengan keras. Dia bersungut-sungut.
"Aku akan membunuhmu jika kau berani ikut campur," ancamannya dengan menunjuk tepat didepan mata asisten Dion. Kemudian, dia segera membalik badan dan melangkah keluar.
Sementara itu, asisten Dion segera membalik badan dan menuju toilet. Dia membasuh wajahnya, membasuhnya berkali.
"Sial," umpatnya. Dia diludahi wanita? Dan belum reda keterkejutannya, wanita itu menambah tamparan keras di wajahnya. Dion memperhatikan wajahnya di dalam kaca, mengusap pipinya yang terasa sakit. "Wajah tampan ku ...." Ujarnya dengan mengusap pelan bekas tamparan dari Kiara. "Ini demi diri mu boss ku," dia menggumam dengan tawa kecil. Setelah itu, dia keluar dari toilet dan langsung melangkah keluar restoran. Dia menggunakan taksi untuk kembali ke kantor.
Sementara disana ... di dalam mobil yang di tumpangi Leo. Laki-laki itu kesal setengah mati karena Kiara menempel pada dirinya. Terlebih, dia sangat benci karena Kiara membuat cerita bohong dan membuat Yuna sempat khawatir. Leo dalam suasana hati yang sangat buruk saat ini.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Itu sedikit membuat hatinya tenang. Dia pikir, panggilan itu dari Yuna tapi ternyata tidak. Panggilan pada ponselnya adalah dari Papa.
"Ya, Pa," jawab Leo dengan malas setelah dia menerima panggilan. "Baik," ucapnya. Panggilan berakhir. Dia lalu menyuruh supir untuk menuju markas besar.
Kemudian, dia segera membuat panggilan pada Yuna.
Di sana ... Yuna sedang ngobrol dan bercerita seru dengan Alea ketika ponselnya berdering dan ada panggilan masuk dari Leo.
"Sayang," jawabnya lembut penuh kasih setelah tersambung. Mendengar suaranya, membuat hati Leo menghangat, sedikit memperbaiki mood dalam dirinya.
"Memikirkan mu," jawab Yuna dengan suaranya yang manis. Sudut-sudut bibir Leo terangkat, dia tersenyum. "Juga sangat-sangat merindukan mu Tuan suami," lanjut Yuna. Senyum Leo semakin lebar. Moodnya langsung berubah meskipun masih menyimpan rasa kesal. Dia menyandarkan punggungnya dan menyilangkan kakinya.
"Sayang," panggilannya pelan pada Yuna.
"Ya," jawab Yuna lembut. "Jangan bilang, kau akan langsung pulang setelah mendengar kata rindu ku," goda Yuna. Leo terkekeh.
"Papa menyuruh ku ke markas besar hari ini, jadi mungkin aku akan pulang sedikit terlambat," ucap Leo. Yuna mengangguk di seberang sana.
"Iya," jawabnya. Dia membuat suaranya dengan ceria. Ia tahu, Leo tidak suka dengan jadwal yang membuat nya tidak bisa segera kembali kerumah. "Bawakan aku makanan yang banyak, okey," pintanya. Tetapi sejujurnya dia tidak ingin apa-apa.
"Kau ingin apa?" Tanya Leo perhatian.
"Ummm ... apa saja. Makanan yang kau lewati sepanjang jalan," jawab Yuna.
"Hei, itu banyak sekali Nyonya," kata Leo dengan memperkirakan apa saja makanan yang ia lewati sepanjang perjalanan pulang.
"Hmm, tidak masalah," jawab Yuna.
"Okey," ucap Leo menyetujui. "Tapi kau harus menghabiskan semua yang ku beli," kata Leo.
"Siap," jawab Yuna dengan semangat. Kemudian, setelah bertukar kata cinta, Leo mengakhiri panggilannya. Dia tersenyum dan semakin ingin segera pulang. Dia memejamkan matanya sebentar. Kiara ... kenapa dia harus hadir kembali. Leo menghawatirkan Yuna, bagaimana jika Kiara menyakiti Yuna?
Beberapa menit kemudian, mobil yang ia tumpangi telah sampai di depan pintu utama markas besar dan dengan anggun, dia menurunkan kakinya untuk keluar dari mobil. Karyawan markas besar selalu suka dan merindukan moment ini, momen ketika Tuan muda Leo berkunjung ke markas besar.
Dia berjalan menuju ruangan Papa dengan dua pengawal yang membuntuti dirinya sedari awal dia keluar dari mobil.
Diskusi bersama Papa begitu serius. Dan itu akan memakan waktu hingga malam.
***@***
Malam hari di rumah besar keluarga Nugraha.
Neva memperhatikan dirinya di cermin. Dia menggunakan lipstik yang warnanya sedikit mencolok.
"Ini berlebihan nggak sih?" tanyanya pada diri sendiri. Dia memajukan bibirnya. "Ini berlebihan," jawabnya pada diri sendiri. Kemudian, dia menghapusnya.
Siang tadi. Dia mendapat pesan dari Vano. Dan dia tengah bersiap-siap sekarang.
Dia membiarkan rambutnya tergerai dan menyematkan jepit rambut yang Vano berikan padanya.
"Hallo, Neva ... please ini bukan kencan," ujarnya memberi tahu pada dirinya sendiri. "Huff," dia menenangkan hatinya. Dan pada akhirnya, dia memakai lipstik dengan warna yang alami. Tidak mencolok, dandanannya natural. Tak lama, pintu kamarnya di ketuk pelan dan Mama langsung membukanya.
"Sayang, dia sudah datang," ucap Mama. Neva mengangguk.
"Iya Ma, terima kasih," Jawabannya. Lalu dia segera berdiri dari duduknya.
"Hmmm, cantiknya putri Mama," puji Mama setelah Neva berdiri di depan Mama. Neva tersenyum dan menggandeng lengan Mamanya untuk turun kebawah.
"Temui dia sendiri," ujar Mama. Beliau melepaskan tangan Neva dari lengannya. Neva menoleh ke arah mamanya. "Ya, temui dia sendiri," ucap Mama mengulang dengan senyum.
Neva mengangguk dengan senyum. Kemudian dia segera membawa langkah nya untuk keluar menemui Vano.
____
Catatan Penulis ( Curhatan π₯° )
Terima kasih untuk semuanya yang masih setia menunggu.
Maaf jika Up nya lama dan maaf jika hanya sedikit.
Aku mungkin berbeda dari Author 2 keren yang bisa Up tiap hari 3000 kata. Maaf sekali lagi. πππ
Terima kasih untuk semuanya. ππ