
Waktu akan terus berjalan tanpa dapat dikendalikan. Dan seisi semesta pun akan terus menjalani kehidupan seperti biasanya. Tak peduli kita menyukainya ataupun tidak. Itulah mengapa sering kali kita mendengar kalimat " Waktu akan mengubah semuanya".
Namun tidak dengan cintanya Tiara walaupun Ia membenci kesendiriannya saat ini.
Setelah hampir 2 tahun berlalu dari waktu perpisahannya dengan Zian ia masih menunggu kabar Zian walaupun kini rasa yang ada telah bercampur dengan kebencian.
Beberapa bulan saat kepergian Zian, komunikasi di antara keduanya masih rutin terjalin. Namun lama kelamaan, Zian mulai sulit dihubungi. Apalagi setahun terakhir ini.
Telpon Tiara sudah tak pernah diangkat begitupun pesan yang Tiara kirimkan yang sudah tak terhitung lagi jumlahnya, satupun tak dibalas.
Atau mungkin saja tak pernah dibaca, entahlah.
Tiara begitu lelah memikirkan tentang kejelasan hubungan mereka yang tak pasti.
Hal itu membuat Tiara frustasi. Zian menghilang tanpa ada penjelasan apapun.
Kalau saja Zian memberikan sedikit penjelasan untuknya, mungkin ia akan sedikit lega. Tapi kenyataannya? ia berubah menjadi angin yang datang menyapa sesaat kemudian bertiup ke sembarang arah.
Tiara terlihat pucat dengan wajah yang semakin tirus. Berat badannya juga menurun drastis.
Kedua sahabatnya ikut khawatir melihat keadaannya.
" Ra, sudahlah, mungkin kak Zian lagi sibuk banget di sana. Jadi nggak sempat ngasih kabar ". Dhilla mencoba mengutarakan pendapatnya.
Saat ini ketiga gadis itu berada di kantin sekolah.
Tiara masih diam membisu. Mendengar namanya saja sudah membuat hatinya sakit.
Bahkan bakso kesukaannya diabaikan begitu saja.
Kepergian Zian telah menerbangkan semua semangat hidupnya selama ini. Kalau saja Zian masih berkabar dengannya, mungkin lain lagi ceritanya.
" Mau sesibuk apapun, masak sih balas pesan doang sampe nggak sempat. Awas saja kalau bertemu. Dasar brengsek !" Hesti kesal melihat sahabatnya sampe menderita kayak gitu.
" Hes, kita kan nggak tahu kondisinya di sana seperti apa. Coba deh kamu tanyain Rio siapa tahu kak Zian pernah ngasih kabar ke dia ". ucap Dhilla sembari mengelus lembut punggung Tiara.
" Ra, makan ya. Jaga kesehatan kamu soalnya minggu depan udah Ujian Akhir ". bujuk Dhilla.
Tiara mengangguk kemudian berusaha untuk menikmati bakso yang dari tadi ia abaikan.
Aneh ya, bakso yang seharusnya terasa gurih kini berubah tanpa rasa. Tapi tetap dipaksakan memakannya.
" Kamu harus sehat Ra', jangan hancur hanya karena kak Zian. Simpan tenaga kamu, biar saatnya bertemu nanti bisa kamu gunakan untuk menghajarnya ". ucap Hesti berapi-api untuk menyemangati sahabatnya.
Itupun kalau dia kembali, tapi kalau nggak pernah kembali lagi? ya sudahlah. gumamnya lirih.
Tiara tersenyum sendu melihat kedua sahabatnya yang setiap hari susah payah menghiburnya.
" Makasih ya bestie, selalu ada untuk aku ". ucapnya pelan.
Hesti dan Dhilla merangkulnya seolah ingin mengalirkan semangat untuknya.
" Oh ya, malam minggu nanti kalian mau nggak main bareng?" tanya Hesti setelah melepas rangkulannya.
" Main apaan Hes ?" tanya Dhilla.
" Kita bakal jalan-jalan di pusat kota, shoping, nonton dan jajan pastinya. Gimana, mau nggak ?"
" Mau banget, gimana Ra ikut nggak ?" tanya Dhilla menoleh ke arah Tiara.
" Mau sih tapi harus ijin dulu ke tante ".
" Kalau masalah itu gampang, biar aku yang ngomong langsung sepulang sekolah sabtu nanti. Jadi udah fix kan ?" Hesti memastikan lagi dengan wajah berbinar senang.
" Sip lah !" jawab kedua sahabatnya serempak.
\*\*\*\*\*