
" Ra' pr Bahasa Inggris kemarin yang aku kasih sudah kamu kerjakan belum ?" tanya Dhilla sampai di dalam kelas.
" Oiya nih udah, thanks ya infonya ". jawab Tiara sambil menunjukkan buku Bahasa Inggris di tangannya.
Untungnya semalam Dhilla menelponnya ngasih soal itu kalau nggak bisa berabe nih ceritanya.
" Bagi dong jawabannya yang nomor tiga ". Hesti memasang wajah memelas.
Di antara mereka bertiga Hesti paling lemot kalau berurusan dengan mata pelajaran Bahasa Inggris atau hafalan lainnya. Tapi kalau Matematika atau pelajaran lain yang berhubungan dengan hitungan Hesti jagonya.
Mungkin itu adalah efek positif setiap hari ia melayani pembeli di kios mamanya kali' ya. Kan sering hitung duit jadinya pintar deh, hehehe.
" Dih mulai lagi deh harap gampangnya ". balas Dhilla sambil terkekeh.
Hesti hanya memanyunkan bibirnya sambil menadahkan tangan ke depan Tiara.
" Minta . . . "
" Nih comot yang nomor tiga aja ya biar nggak samaan jawabannya, ntar diinterogasi sama Mr. Taha lagi ". ujar Tiara sambil menyodorkan bukunya dengan pasrah ke arah Hesti.
"Hehehehe . . oke ". jawabnya sambil mengedipkan matanya ke arah Tiara.
Setelah itu Hesti pun menulis jawaban yang dimaksud dengan cekatan karena beberapa menit lagi bel masuk berbunyi.
Benar saja dugaan mereka, baru saja masuk ke dalam kelas Mr Taha sudah menanyakan pekerjaan rumah mereka.
" Anak-anak, kumpulkan tugas kemarin !" titah Mr Taha tanpa ampun.
" Baik pak ". jawab sebagian siswa.
Bergantian seluruh siswa maju meletakkan buku mereka di atas meja di depan pak guru. Pak guru memperhatikan siswanya dengan seksama dan memprotes kalau ada yang berpenampilan tidak rapi.
Setelah semua buku terkumpul Mr Taha mulai menjelaskan pelajaran selanjutnya.
Waktu terus bergulir dengan cepat hingga akhirnya bel istirahat berbunyi. Terdengar helaan nafas lega dari para siswa saat Mr Taha keluar dari kelas menuju ke ruang guru.
" Ke kantin yuk !" ajak Hesti senang karena terbebas dari pelajaran yang tak disukainya.
" Yuk !" balas Tiara dan Dhilla kompak.
Ketiganya pun beranjak keluar dari kelas menuju ke kantin.
Saat lagi asik menikmati makanan mereka . . .
" Boleh nggak gue ikutan duduk di sini ?" tanya Wisnu sambil menunjuk bangku yang bersebelahan dengan Dhilla.
Ketiga gadis itu bersamaan menoleh ke arah suara itu. Wisnu masih berdiri dengan pedenya sambil tersenyum.
" Boleh kak, silahkan . . . " Tiara buru-buru menjawab karena Dhilla dan Hesti hanya terdiam.
Tiara tak mengerti kenapa kedua sahabatnya mendadak jadi kalem karena hadirnya seorang Wisnu.
Tiara sudah tak asing dengan sosok itu karena sering melihatnya sewaktu kegiatan MOS lalu. Walau sebenarnya tak sedekat kali ini sih. Tumben gabung bareng mereka.
"Dhilla apa kabar ?" tanya Wisnu seraya menatap Dhilla dengan lekat. Yang ditatap jadi salah tingkah dibuatnya.
Tiara ingin bertanya tentang situasi saat ini tapi diurungkannya. Ia dan Hesti tetap melanjutkan acara makan baksonya.
" Alhamdulillah kalo gitu. Trus, yang kemarin tuh gimana? udah ada jawabannya belum ? " Wisnu bertanya lagi.
Akhirnya Dhilla memberanikan diri menjawab pertanyaan Wisnu.
" Sebentar aja ya kak, pulang sekolah nanti ".
" Bener ya ?"
" Iya . . iya ".
" Okelah kalo gitu, btw gue cabut dulu ya soalnya ada janji dengan Zian". pamitnya kemudian.
" Iya kak ". jawab Dhilla dan Hesti barengan.
Tiara sendiri jadi tertegun mendengar nama yang tadi disebutkan Wisnu.
ah kak Zian. Udah lama juga nggak lihat sosok itu. Entah ada di mana ia sekarang. Tiara mulai membatin sendiri.
Tanpa ia sadari, ada rindu yang sempat menyelusup di relung hatinya saat mengingat kedekatan mereka beberapa saat lalu.
" Dhilla tadi tuh kak Wisnu kenapa ?" tanya Hesti dengan polosnya.
Mendengar suara cempreng Hesti membuat Tiara tersadar kembali dari lamunannya.
" Eh iya, nggak biasanya loh doi gabung bareng kita di sini". tambah Tiara.
" Oh itu, oke aku ceritain". jawab Dhilla.
Iapun menceritakan kejadian kemarin sewaktu Wisnu mengutarakan isi hatinya untuk Dhilla.
Kedua sahabatnya mendengarkan dengan antusias sambil tersenyum.
"cieee . . cieee yang lagi jatuh cinta . . " celetuk Hesti.
" Trus kamu mau nggak jadi pacarnya?" tanya Tiara tak sabar.
" Mau dong ".
" Wih jadian dong bentar ".
" Hehehe . . .
"Trus aku gimana?" tanya Hesti galau.
"Cari sendiri sana. Hahaha ".
Hesti jadi cemberut memikirkan dirinya yang dibiarkan jomblo sendiri.
\*\*\*\*\*