
Mama dan Neva sudah kembali jadi malam ini tugas Leo yang begadang. Pukul 00:35 Baby Arai masih belum tidur setelah setengah jam yang lalu ia ASI.
"Kenapa tidak tidur lagi jagoan?" Jari telunjuk Leo mengusap pipi halus Baby Arai. "Kau mau begadang?" Tanyanya. Baby Arai tidak tidur lagi setelah dia ASI padahal biasanya dia akan kembali terlelap setelah ASI.
Namun kemudian, Indra penciuman Leo mencium sesuatu. Leo tersenyum mengerti, akhirnya dia tahu kenapa Baby Arai tidak bisa tidur.
"Hmm, kau merasa risih?" Leo mengusap-usap tangangan bayinya. Kemudian dia segera menyiapkan air hangat, diaper, dan celana ganti. Pelan, tangannya membuka celana Baby Arai dan membuka diapernya. Dia sudah pandai membersihkan pup anaknya, meski awalnya dia merasa mual saat melihat pup tapi itu hanya saat pertama kali.
Setelah proses cebok selesai, Leo kembali meletakkan Baby Arai di dalam box bayi. Baby Arai mengeluarkan suaranya, dia menangis.
"Hhmm cup cup," Leo segera membuka diaper baru.
"Sayang," Yuna terbangun karena mendengar tangisan Baby Arai. Dia beranjak dan duduk di samping box bayi putranya. "Dia habis buang air besar?" Tanyanya setelah melihat Leo bersiap memakaikan diaper.
"Iya, dia tidak bisa tidur," jawab Leo. Baby Arai masih menangis. Suaranya nyaring khas tangisan bayi. Yuna berusaha untuk mendiamkannya tangannya mengusap pipi Baby Arai dengan lembut.
"Cup, cup tampannya mommy," ujar Yuna. Leo sudah menata diaper, hanya tinggal merekatkannya saja, tapi kemudian sesuatu terjadi. Air mancur hangat mengenai wajahnya yang menunduk bersiap untuk merekatkan diaper.
"Wooo???" Yuna melotot terkejut sebelum akhirnya dia tertawa terbahak-bahak hingga perutnya sakit. Baby Arai pipis dan mengenai wajah Daddy Lee. Leo memejamkan matanya dengan rapat merasakan air hangat diwajahnya. Dia ingin tertawa tapi dia menahannya. Jika dia membuka mulut dia takut air hangat itu akan mengenai bibirnya. Leo segera menarik tangannya dan segera melangkah ke kamar mandi. Dia langsung membasuh dirinya. Dia tersenyum lebar mengingat bagaimana air mancur hangat itu mengenai wajahnya.
"Pintar sekali kau nak," ucapnya dalam hati. Kemudian setelah selesai membasuh dirinya ia membuka almari kaca yang menempel didinding. Dia mencari handuk, tapi sial karena ternyata tidak ada handuk yang tersedia di kamar mandi. Biasanya Yuna paling rajin untuk meletakkan handuk baru dikamar mandi, tapi tadi dia langsung bersama Baby Arai dan lupa meletakkan handuk baru di kamar mandi. Leo akan mengomeli asisten rumahnya karena lalai mengeceknya. Dua puluh set handuk apakah tidak ada satupun yang tersimpan disini? Dia kesal pada asistennya. Yuna seharusnya membiarkan mereka mengurus semuanya, bukan malah Yuna yang mengambil alih tentang perlengkapan mandi ini. Pada akhirnya, mereka menjadi manja dan tidak mengurus kamar mandi dengan benar. Kenapa masalah handuk saja tidak di cek. Mereka mengandalkan Yuna? Ckckck ... Leo akan menegurnya nanti.
Leo menggeser pintu kamar mandi dan melongokkan kepalanya. Dia melihat Yuna yang tengah memberikan ASI untuk Baby Arai kemudian Yuna menidurkan Baby Arai di dalam box bayi dengan hati-hati.
"Stt," Leo memanggil Yuna dengan pelan. Tentu Yuna tidak mendengarnya karena jarak kamar mandi dan ranjang mereka sedikit jauh. "Stt," Leo mencoba memanggil lagi. Ia tidak bisa memanggil Yuna dengan suara kencang. Baby Arai baru saja tertidur setelah tadi gelisah dan menangis, Leo takut jika suaranya membangunkan anaknya.
Yuna masih mengusap-usap paha mungil putranya. Melihat malaikat kecilnya terlelap. Bibirnya tersenyum dengan gemas. "Tampannya Mom," gumamnya.
"Yuna," Leo disana masih mencoba memanggilnya. "Yuna," Dia sedikit mengeraskan suaranya berharap Yuna mendengar panggilannya. Leo tidak suka keluar kamar mandi dengan tubuh yang masih basah tapi mungkin saat ini pengecualian. Dia akan mencoba sekali lagi.
"Yuna," panggilnya. Tepat. Yuna langsung menengok ke arahnya. Yess, Leo tersenyum senang. Ia melambai.
Yuna mengerutkan keningnya tapi kemudian dia mengerti jika dikamar mandi tidak ada handuk. Ia beranjak dan mengambil jubah handuk milik Leo dan membawakannya. Tangannya mengulur untuk memberikan handuk pada Leo.
Leo mengulurkan tangannya untuk menerima handuk dari Yuna, tapi kemudian muncul ide nakal dalam otaknya. Ia tidak menerima handuk itu tetapi menangkap tangan Yuna dan menariknya kedalam.
"Ummm, sayang. Aku ... aku masih nifas," ujarnya dengan menatap mata Leo lembut. Leo mengangguk dengan senyum nakal. Dia menurunkan kepalanya dan menuju telinga Yuna. Lidahnya sedikit nakal disana.
"Ada cara lain sayang," bisiknya yang membuat Yuna langsung membeku. Namun kemudian terdengar tangisan yang nyaring. Mereka berdua saling menatap dan tertawa kecil.
"Pakai handuk dan segera ganti baju, Tuan mesum," ujar Yuna. Dia meletakkan handuk di dada Leo, kedua tangannya mendorong halus tubuh Leo yang memeluknya. Kemudian, Yuna segera keluar dari kamar mandi. Jantungnya berdegup, ia mengigit bibirnya.
"Astaga, aku mulai ikut gila," gumamnya.
Dia segera mengambil Baby Arai dengan hati-hati dan menggendongnya.
"Cup, cup, sayang," Yuna mencium pipi Baby Arai dengan lembut. "Kau tidak mau ditinggal sendirian? Anak pintar," Ia menciumi pipi anaknya dengan gemas. Baby Arai masih menangis.
"Kenapa masih menangis?" Leo dengan cemas langsung menuju Yuna setelah mengganti baju. "Mungkin dia mau ASI lagi," katanya.
Kemudian, Yuna memberinya ASI lagi tetapi Baby Arai menolaknya, ia enggan mengecap ASInya. Ia masih menangis.
"Sini," Leo mengambil alih Baby Arai. Ia menggendongnya dengan lembut. Sedikit menggoyang tangannya, dan membuat tepukan lembut dipantat anaknya. Dia bersenandung pelan tentang keagungan Tuhan, tentang dunia dan alam semesta yang begitu indah. Perlahan, tangisan itu mengecil dan dengan pelan kelopak mata imut itu terpejam.
Yuna tersenyum dengan hati yang penuh kekaguman memperhatikan dua malaikat miliknya. Dia berdiri di belakang Leo dan memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di punggung Leo.
"Suamiku yang luar biasa," ucapnya.
____
Catatan Penulis
Terima kasih Sahabat Sebenarnya Cinta πΉ yang dengan sabar menunggu kisah ini π₯° Padamu kesayangan, luv luv.
Jangan lupa like koment ya kawan tersayang π₯°π π Terima kasih.
Oh iya. Author mo promo novel milik temen ya. Novel kece dari Author Jingga Lestari.
Judulnya. Jihan by Jingga Lestari. π mampir ya. π