Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 365_Momong


Neva di dapur untuk berlatih membuat susu formula dengan takaran yang pas. Perawat mengajarinya dengan telaten. Sementara itu, Vano berada di kamar baby Arai, ia merebahkan dirinya di samping Baby Arai yang terlelap. Dia mengamati wajah imut yang terpejam itu. Kemudian, dengan hati-hati ia mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Baby Arai. Sekali. Sudut-sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman. Tak ada respon dari Baby Arai, dia masih nyenyak dalam tidurnya. Vano mendekatkan wajahnya lagi dan membuat kecupan lagi di pipi Baby Arai, kali ini tidak hanya sekali, dia mengulanginya lagi dan lagi.


"Pipi mu menggemaskan," ujarnya pelan tanpa meninggalkan pipi wangi Baby Arai. "Jika kau sudah besar nanti, kau mau jadi apa?" tanya Vano. Dia mengambil tangan mungil Baby Arai dan menciumnya.


"Mau jadi tampan seperti paman?" tanyanya mulai usil. Dia mengigit kecil tangan Baby Arai. "Hhh kau lebih tampan sayang," dia berbicara sendiri. Kemudian dia kembali mencium pipi wangi itu. Dan kembali Baby Arai menggeliat dan mengeluarkan tangisnya. Vano gugup setengah mati. Dia menjauhkan dirinya dari Baby Arai dan kebingungan tidak tahu harus berbuat apa.


"Stt, stttt," Vano mencoba menenangkan Baby Arai agar tidak menangis. "Stt ... sttt," dia mengusap-usap lengan Baby Arai dengan pelan tetapi Baby Arai masih menangis. Dia menangis tanpa membuka matanya.


"Kenapa dia menangis?" tanya Neva saat ia masuk kedalam kamar Baby Arai. Dia segera mengocok pelan botol susu di tangannya. Kemudian, memberikannya pada Baby Arai. Mulut imut itu langsung menerimanya dan perlahan tangisnya reda. Baby Arai mulai tenang dan tidur lagi.


"Ternyata dia haus," ucap Neva sambil terus memegangi botol susu yang di kecap Baby Arai.


"Aku yang membangunkannya," ucap Vano pelan. Neva langsung membawa pandangannya pada Vano.


Vano nyengir memamerkan barisan giginya, "Dia menggemaskan jadi aku tidak tahan untuk menciumnya," jujur Vano. Neva tersenyum. Kemudian Vano mendekat ke arah Neva. "Kau juga menggemaskan," ucapnya dan langsung mencium pipi Neva dengan dalam. Neva terkekeh.


"Sini biar aku yang memegangnya," ucap Vano menawarkan memegangi botol susu.


"Sebentar lagi habis," jawab Neva. Vano mengangguk dan kembali memperhatikan Baby Arai.


Tak lama, susu dalam botol itu habis dan tepat saat itu juga mata indah milik Baby Arai terbuka dengan perlahan, kelopak matanya berkedip dengan teratur. Memperhatikan Neva yang ada didepannya.


"Hallo, baaa ... kau bangun sayang?" Neva mengambil sapu tangan dan menyeka bibir Baby Arai dengan lembut dan hati-hati. "Sudah kenyang tidurnya? Atau ada yang mengganggumu?"


"Uuuu," Baby Arai mulai mengeluarkan suaranya. Matanya berfokus pada Neva. Vano menatap Baby Arai dengan kesal, dia merasa dicuekin. Kemudian, ia mengambil mainan dan membunyikannya. Seketika Baby Arai langsung menoleh ke arahnya dan mencari mainannya.


"Tarrraaaaaa ...." Vano memamerkan mainan itu. Mainan berbentuk kelinci yang bisa menggerakkan telinganya. Si kelinci bahkan bisa bernyanyi.


"Ammm ... mmm. Ooo," Baby Arai dengan bahagia ingin meminta mainan itu. Kaki dan tangannya bergerak aktif. Dia langsung tengkurap dan dengan gesit merayap kearah Vano. Vano tertawa lebar dengan perasaan yang bercampur menyaksikan itu. Baby Arai yang sekarang sudah ada dalam dekapannya.


"Hei kau sangat lincah," ujar Vano sambil menggendong Baby Arai dalam pangkuannya.


"Appaa, apaa, appp," Baby Arai menoleh ke arah Vano dan menepuk-nepuk wajah Vano dengan tangan mungilnya. Vano bahagia dengan ini. Ia dengan sengaja memberikan wajahnya untuk mendapat tepukan dari tangan mungil itu, terkadang ia menggoda mengigit tangan itu. Dan Baby Arai langsung tertawa terbahak-bahak.


"Emmmm ... kau lucu sekali," ucap Vano dengan mencium pipi imut Baby Arai dengan gemas.


Neva mendekatinya, dia duduk di depan Vano di atas ranjang. Tangannya mengulur untuk mengusap punggung Baby Arai. Dia tersenyum melihat keakraban Vano dengan Baby Arai. Baby Arai welcome pada Vano, padahal biasanya dia tidak mau di gendong orang asing.


"Sayang kita udah cocok nih," ujar Vano. Neva langsung membawa pandangannya pada Vano.


"Cocok apa?" tanya Neva pura-pura tidak tahu.


"Punya Baby," jawab Vano segera, dia membalas tatapan mata Neva.


"Hmmm," Neva mengalihkan pandangan dengan malu. "Sabar," ucapnya.


"Leo sudah siuman, pasti sebentar lagi kondisinya akan membaik. Lalu setelah ia sembuh, kita menikah."


Neva mengangguk, "Ya. Kak Lee juga sudah tahu tentang rencana itu."


"Semua sudah siap, hanya tinggal menunggu hari yang tepat," tambah Vano. Neva mengangguk. Dan kemudian, Neva mencium sesuatu


"Mencium apa?" tanya Vano.


"Apakah dia pup?" tanya Neva lagi. Dia menutup hidungnya yang merasa mencium sesuatu yang menyengat.


"Mungkin," jawab Vano. "Bagaimana caranya untuk mengetahui dia pup atau tidak?"


"Membuka sedikit popoknya dan mengintip," jawab Neva. Vano mengangguk. Dia kemudian membuka sedikit celana Baby Arai. Celananya saja, bukan popoknya. Karena Vano sudah tahu jika Baby Arai tidak pup. Bau yang Neva cium bukanlah bau pup Baby Arai tetapi bau kentut nya.


"Hmm dia tidak pup," ujar Vano setelah berpura-pura mengintip. Vano ingin tertawa dengan itu. Dia merasa ahli dalam akting ini.


"Hmmm mungkin dia hanya buang gas saja," ujar Neva dengan membuka tangannya dari hidungnya. Vano mengangguk menyetujui. Inilah yang namanya,


___________________________


Sore harinya di rumah sakit.


Saat ini hanya ada Yuna dan Leo. Papa pulang bersama Kak Dimas dan Mama untuk istirahat.


Tak lama, pintu ruangan terbuka dan dua orang masuk kedalam. Yuna langsung berdiri dan membungkukkan badannya. Dia memberi salam dengan sopan. Begitu juga dengan Leo, meskipun dia tidak bisa membungkuk tetapi lewat gerakan kepala dia memberi salam. Yuna sudah menceritakan semuanya.


"Leo," Perdana Menteri menyapa Leo setelah beliau duduk di kursi samping ranjang Leo. Seseorang di samping Perdana Menteri melambaikan tangannya menyapa Leo dengan senyum. Edellyn.


"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda Perdana Menteri," ucap Leo.


"Saya juga senang bisa bertemu dengan mu Leo. Saya selalu penasaran dengan laki-laki yang menyelamatkan putri ku," ucap Perdana Menteri. Beliau juga bersyukur karena Yuna mengambil tindakan yang tepat, yaitu segera menghubungi Edellyn. Hingga beliau turut bisa membantu mendatangkan dr. William.


"Aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu pada orang yang menyelamatkan putriku. Jika putriku selamat, maka kau juga harus selamat dan menjalani hidup mu tanpa kecacatan," ujar perdana menteri.


Mereka berbincang-bincang hampir tiga puluh menit. Kemudian, Perdana menteri pamit undur diri. Masih ada banyak jadwal yang harus beliau kerjakan.


"Terima kasih atas kunjungannya Perdana menteri, Nona Edellyn," ucap Yuna dengan senyum.


"Sama-sama, Nyonya Leo," jawab Edellyn. "Jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan pada kami," lanjutnya. Kemudian, ia pamit pada Leo. "Lekas sembuh Tuan muda Leo."


Kemudian, perdana menteri dan putrinya meninggalkan ruangan dengan pengawalan ketat.


_____________


Catatan Penulis 🥰🙏


Jangan lupa jempolnya di goyang asiiik. Like komen ya kawan tersayang. Terima kasih.


Like komen geeraaatiiiiiiissssss Kuy kuy...


Padamu.


Lanjuuut ...