
Yuna segera keluar kamar mandi setelah selesai mengenakan bajunya kembali. Dia menemukan Leo sedang duduk di sofa, dia hanya mengenakan celananya dan membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka.
Yuna dengan pelan duduk di sebelahnya. Leo sedang meminum segelas air hangat, lalu mengambilnya lagi dan menghabiskannya lagi. Dia duduk di sofa dengan menunduk dan tidak mengeluarkan suara apapun.
"Sayang... apa kau tidak apa-apa?" Yuna menatapnya dari samping. Leo mengangkat wajahnya dan menoleh untuk menatapnya.
"Apa aku terlihat baik-baik saja? Aku sedang menjalani hukuman dari mu," Leo menjawab dengan masam. Dia menekuk wajahnya, membuat Yuna tertawa gemas. "Apa yang kau tertawakan?"
"Tidak ada...," Yuna segera menahan tawanya. Kemudian, dia mengambil Hp miliknya dan mengambil gambar Leo yang menatapnya dengan wajah masam. "Ini wajah Tuan suami ketika sedang menjalani hukuman," dia sedikit menggeser duduknya menjadi lebih dekat dengan Leo, dan memperlihat ekspresi wajah kesal Leo yang tertangkap kameranya. Dia sedikit menempel di tubuh Leo.
"Jangan mencoba menggoda ku, aku sedang menahannya," Leo memperingatkannya dengan tegas. Yuna segera menjauh darinya dengan tawa yang tertahan di bibirnya.
Sejujurnya, tubuh Leo sangat menggiurkan, mata Yuna terus termanjakan dengan body milik suaminya. Namun, dia menahan agar tidak tergoda. Leo harus menjalani hukumannya jadi Yuna tidak menyerahkan dirinya begitu saja.
__Di kota K tidak ada restoran mewah seperti di Ibu kota. Jadi, mereka hanya makan malam di hotel.
"Sayang... setelah ini, kita pulang, okey," Yuna berbicara setelah mereka menyelesaikan makan malam. Leo mengangkat wajahnya dan menatap Yuna.
"Kita menginap di sini," jawabnya.
"Aku belum minta izin dengan Ayah."
"Kau bersama suami mu, izin apa yang kau butuhkan?"
"Bukan begitu... tadi pagi aku keluar rumah tanpa mu. Jika tengah malam aku belum kembali, aku takut mereka khawatir." jawab Yuna. Leo dengan cepat menghubungi seseorang dan kemudian dia kembali menatap Yuna.
"Beres," ucapnya. Yuna mengangguk.
Kemudian, mereka kembali ke kamar dengan menggunakan lift. Leo berdiri di belakangnya dan mencium lehernya.
"Tuan suami... ini di dalam lift, okey."
"Tidak masalah, tidak ada orang."
"Ada cctv," Yuna menunjuk kamera cctv.
"Setelah ini aku akan meminta cctv mereka," dan Leo kembali mencium lehernya.
"Sayang, itu geli," Yuna sedikit menjuhkan dirinya. Namun, Leo segera menahannya dengan cepat. Pintu lift terbuka. Leo memeluk pinggang Yuna dan berjalan masuk ke dalam kamar.
Yuna berjalan dan berdiri di jendela kaca, menyaksikan bintang dari tempatnya berdiri. Sementara Leo mengambil segelas air putih hangat dan meletakkannya di meja setelah menyesapnya sedikit.
"Hmm," Yuna menjawab dengan segera menutup korden dan membalik badannya. Leo berdiri tepat di depannya, ia menatap Yuna dengan pandangan yang sejuk dan dalam. Pandangan mata itu yang selalu mampu menghipnotisnya. Yuna merasakan degupan pada jantungnya yang tidak beraturan dan sangat cepat.
Leo mengangkat tangannya dan mengusap rambut Yuna penuh perhatian.
"Sayang, apakah hukuman ku sudah berakhir?" dia bertanya dengan nada yang menderita. Yuna tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang Leo.
Mereka saling berpandangan dengan pandangan mata yang teduh, sorot mata yang membuat jantung keduanya berdebar. Yuna, dengan malu-malu menganggukkan kepalanya pelan. Tangan hangat Leo berpindah dan menyentuh wajahnya dengan lembut. Dia tersenyum dengan sangat bahagia menatap wajah cantik istrinya. Cupp... dia mencium bibir Yuna. Tangan Yuna semakin memeluk pinggang Leo erat.
'Aku pernah mencoba untuk membenci mu, aku pernah mencoba untuk melupakan mu. Namun, pada kenyataannya aku tak sanggup. Aku bahkan melukai diri ku hanya untuk melawan rasa rindu yang ku punya untuk mu. Aku berusaha tertawa untuk membohongi hati ku yang menderita karena jauh dari mu. Mempertanyakan rindu? Mempertanyakan cinta? Dan... ini adalah jawabannya, bahwa aku tidak mampu jika tanpa mu. Kamu... adalah Sebenarnya Cinta ku. Aku akan melewati setiap liku dan sandungan itu bersama mu'
Dibawah temaram lampu warna kuning. Mereka melepas rindu, menjawab semua tanya yang ada pada hati masing-masing. Di balik gorden berwarna putih, dua bayangan manusia yang merindu, saling menghapus setiap rasa sepi dan kehilangan yang baru saja terlewat. Nafas mereka menjadi sedikit tergesa-gesa. Leo dengan hati-hati membawa Yuna ke ranjang, dan mengecup keningnya.
Suhu Ac yang dingin dan tubuh mereka yang hangat, membuat susana menjadi sedikit panas. Tidak ada sekat antara keduanya, bahkan benang sekalipun. Leo berkali-kali memanjakan Yuna dengan ciumannya dan tangan hangatnya membuat Yuna pasrah.
Kebahagiaan seorang wanita adalah ketika dia menyerahkan dirinya pada laki-laki yang sangat dia cintai, kepada laki-laki yang sudah berikrar pada Tuhan untuk selalu menjaga dan membuatnya bahagia.
"Sayang...," Leo berbisik dengan suaranya yang seksi. "Aku mencintai mu," dan setelah kalimat itu dia ucapkan, mereka menjadi satu. Aku adalah milik mu dan kamu adalah milik ku. Leo memiliki Yuna seutuhnya, begitu juga sebaliknya. Leo sangat bahagia hingga dia menitikkan air mata. Kemarin... dia merasa sangat menderita ketika Yuna meninggalkannya, dia bahkan tidak mampu bernafas dengan benar, dia merasakan sakit yang luar biasa dalam hatinya.
"Sayang... apa itu sakit?" dia bertanya dengan rendah. Dia takut menyakiti Yuna, ia menatap mata Yuna yang berkaca-kaca. Yuna sedikit menganggukkan kepalanya. Leo kemudian mengecup keningnya.
Senandung lagu cinta memenuhi seluruh hati mereka berdua, seluruh kerlip bintang memberi keindahan dalam hati mereka berdua, hati mereka menjadi sesejuk embun. Mereka bahagia... ini adalah cinta.
Leo kemudian menggendongnya untuk masuk ke kamar mandi. Dia sudah menyiapkan air hangat untuk Yuna, ia menurunkan Yuna di bathtup. Menyabuninya dengan rasa cinta yang tak terkira dan kembali menggendongnya ketika mereka selesai mandi.
"Tidurlah," Leo mengecup keningnya, dan mendekapnya.
"Sayang...," panggil Yuna pelan. Dia bersandar di dada Leo, ia masih malu untuk menatap wajah Leo.
"Hmm."
"Kau harus selalu mengingat janji mu. Tidak ada kesempatan kedua."
"Pasti. Sayang... terima kasih untuk cinta dan maaf yang kau berikan pada ku. Maafkan aku untuk semua dan segalanya yang pernah ku lakukan pada mu. Aku janji akan akan memperbaiki semuanya."
"Jika seseorang mengucapkan kata maaf, itu artinya, dia tidak akan mengulangi kesalahannya. Kau akan menjadi seorang yang hina jika kau melanggar kata maaf dan janji mu," Yuna membalas pelukannya. Leo mengecup keningnya dengan rasa cinta yang tidak bisa di ukur.
"Iya, Cinta," jawabnya dengan kesungguhan hati. "Sudah malam, tidurlah," Leo mendekapnya dan menaikkan selimut. Yuna mengangguk dan memeluk Leo erat, dia tertidur dalam hangat pelukan suaminya. Malam yang sangat indah.