
"Sedang apa?" dua pesan baru, masuk di ponsel Neva. Pesan yang isinya sama dari dua orang yang berada. Dari, Vano dan Raizel.
Neva sedikit menggeser badannya menjauh dari Yuna. Pesan pertama yang dia balas adalah pesan dari Vano.
"Lagi ngobrol manja sama Mama dan Kak Yuna, Kakak..." balas Neva dengan emot senyum. Kemudian, dia membalas pesan pada Raizel.
"Lagi, mempelajari undangan-undang untuk menuntut mu artis gila," balasnya. "Gila dan mesum," tambahnya.
"Uhum," Mama berdehem melihat Neva asik sendiri. Neva segera menoleh ke arah Mama.
"Heheee...," Neva nyengir memamerkan giginya.
"Anak muda Mama... jangan di ganggu," ucap Yuna dengan senyum.
Mama menatap Yuna dan bertanya, "Apa kau tahu Artis Raizel?"
Yuna menggeleng, tapi nama itu tidak asing di telinga nya. Beberapa kali sempat mendengar nama itu dari televisi dan YouTube. Neva menatap Mamanya dengan tajam. Apa gitu maksudnya bertanya Raizel sama Kak Yuna? Mama nggak jelas. Batin Neva.
"Kenapa Ma?" tanya Yuna.
Mama menunjuk Neva dengan dagunya.
"Tuh yang lagi deket," ujar Mama. Mata Yuna melebar dan langsung menoleh ke arah Neva. Neva dekat dengan artis? Bagaimana dengan Vano?
"Serius?" tanya Yuna pada Neva.
"Bohong Kak, bohong. Mama kan mama-mama pengikut aliran gosip. Masa' anaknya sendiri di gosip-in," ujar Neva membalas pandangan Yuna dan Mama. Yuna mengangguk. Kemudian, ia memencet ponselnya.
"Oke, Embah... Artis yang bernama Raizel," ucap Yuna langsung bertanya pada si Embah. Neva menepuk keningnya.
"Artis bernama Raizel ini dia," jawab si Mbah dengan suara khasnya. "Menurut Wikipedia. Raizel atau biasa disapa Rai adalah seorang model dan juga aktor yang baru saja memborong piala citra dari berbagai kategori."
Lalu banyak sekali Vidio dan foto Raizel di internet. Yang menarik perhatian adalah vidio terbaru yang diunggah oleh akun gosip terhitz.
"Hey, bukankah ini kamu?" Yuna bersemangat. Dia menemukan video Neva dan Raizel. Mama mendekat ke arah Yuna.
"Please jangan salah paham," Neva menatap Mama dan Yuna dengan kesal. Mama dan Yuna memutar Video itu.
"Wahh, romantis banget," seru Yuna.
"Kak Yuna, hentikan," Neva ingin merebut ponsel milik Yuna tetapi Yuna menghindar.
"Diam Nona, biarkan kami melihat aksi mu," ujar Mama dengan tawa pelan.
"Mama ah," Neva cemberut dan kesal pada mereka berdua.
Mama dan Yuna saling tertawa melihat vidio-vidio itu.
"Waaahh, keren Neva," ucap Yuna lalu menyudahi Vidio yang dia tonton.
"Jadi, siapa nih calon menantu Mama?" Mama tersenyum menggoda Neva.
"Yang pengusaha atau yang artis?" Tambah Yuna. Mereka kompak menggoda Neva yang cemberut.
"Menurut Mama dan Kak Yuna, aku lebih cocok dengan siapa?" Neva duduk memangku bantal dan menatap Mama dan Yuna secara bergantian.
"Mama terserah kamu," jawab Mama.
"Hati mu lebih ke siapa?" Tanya Yuna.
"Kalau aku... lebih suka Kak Vano," jawab Neva dengan menatap Yuna. "Dia baik, super baik, lembut, dan dewasa. Aku menginginkan laki-laki yang seperti itu," lanjut Neva. Dia masih menatap Yuna. Yuna mengangguk dengan senyum. Dia membenarkan ucapan Neva bahwa Vano adalah laki-laki yang sangat baik.
"Okey," ucap Mama mengangguk. "Jadi, apa itu artinya calon menantu Mama adalah sang penguasa muda?"
"Bukan Ma...." Neva menepuk lengan Mamanya pelan. "Aku hanya menyukainya dan mungkin tidak bisa bersama," lanjut Neva.
"Kenapa begitu?" tanya Yuna heran. Dia tahu betapa Neva menyukai Vano.
"Aku akan melanjutkan kuliah di luar negeri," jawab Neva tenang. Yuna terkejut mendengar ini.
"Serius?" Tanyanya merasa tak percaya.
"Iya," Jawab Neva.
___Pagi hari Yuna langsung membuka ponselnya. Dia membuka chat Leo.
"Sayang," satu pesan dari Leo. Kemudian, dia langsung mendapatkan panggilan Video. Jika di Negara ini pukul setengah enam pagi, itu berarti di Negara A pukul tujuh malam.
Yuna duduk di sofa di kamarnya. Dia tersenyum ke arah kamera.
"Kau sudah makan?" tanya Yuna langsung.
"Sudah," jawab Leo. "Nyonya sudah minum susu?" tanyanya. Yuna hampir tidak pernah membuat susu. Pagi hari, Leo sudah menyiapkannya, malam hari, Leo juga yang menyiapkannya. Yuna menggeleng.
"Aku akan menghubungi Neva, agar dia membuat susu untuk mu," ujar Leo yang langsung di tolak oleh Yuna. Mereka melakukan obrolan sekitar hampir satu jam.
Neva berangkat ke kampus dan ketika mobilnya tepat berhenti di lampu merah, mobilnya bersebelahan dengan mobil milik Vano.
"Hei, pagi...," sapa Vano menurunkan separo kaca mobilnya.
"Pagi, Kakak," balas Neva dengan senyum. Wajahnya langsung memerah. Dia ingat pelukan itu.
"Kemarilah, ayo ku antar," Vano menawarinya. Neva ingin menolak, karena kenangan indah sudah tercipta malam itu dan harusnya jangan semakin mendekat, dia takut semakin terjerat, tapi dia berpikir ulang. Jika dia menolak maka wartawan itu akan mengerubunginya, jika dia menolak itu artinya dia akan memanjat lagi seperti kemarin. Tidak... dia tidak mau bertemu dengan Raizel si mesum. '****** ***** mu warna merah,' astaga... ucapan itu seperti menghantuinya. Neva tidak punya keberanian lagi untuk bertemu dengan Raizel. Dia malu setengah mati.
"Okey," Neva menyetujui. Kemudian, dia berpindah ke mobil Vano dan menyuruh pak supir kembali.
"Kau sudah mulai sidang?"
"Emm, belum. Baru mau pengajuan skripsi," jawab Neva.
Tak lama, ponsel Neva berdering. Dia sudah tahu siapa penelfon ini. Neva melihat layar ponselnya.
Raizel artis gila dan mesum nama yang tertera pada layar ponselnya. Dia segera memencet tombol merah. Tak lama, ponselnya kembali berdering. Raizel artis gila dan mesum yang terlihat pada layar ponselnya. Akhirnya Neva memencet tombol hijau.
"Apa?" jawabnya ketus.
"Beib, apa kau sudah berangkat?" tanya Raizel. Mobilnya sudah bertengger tak jauh dari kampus Neva.
"Sudah," jawab Neva, "Uhum... tidak perlu menunggu ku," lanjutnya tegas.
"Serius? Kau tidak takut wartawan mengerubungi mu?"
"Kau mengancam ku? Kau memanfaatkan wartawan itu untuk kelakuan mesum mu bukan?" Neva memelankan suaranya pada kalimat terakhirnya. Klik... dia memutus panggilan.
Sial... Raizel mengumpat di sana.
"Kenapa?" tanya Asisten.
"Kita ke depan kampus. Bro... bawa mobil ke depan kampus," pintanya pada Bro supir. Kemudian, Bro supir melajukan mobilnya dan mencari tempat yang aman untuk menghentikan mobilnya.
Tak lama... mobil milik Vano berhenti di depan gerbang utama kampus.
"Kak Vano," panggil Neva. Dia menatap Vano dari samping.
"Iya," jawab Vano.
"Bisa mengantar ku ke dalam?" tanya Neva yang arti sesungguhnya adalah sebuah permintaan.
"Baik," jawab Vano tanpa bertanya alasannya. Dia memperhatikan sebentar beberapa wartawan yang berada di depan gerbang kampus. Ia keluar lebih dulu kemudian membukakan pintu untuk Neva. Ia memberikan tangannya untuk membantu Neva keluar dari mobil.
Tangan Neva mengulur dan menyentuh tangan itu. Suatu aliran langsung menjalar pada jantungnya. Degupannya mulai tidak beraturan.
Raizel menajamkan matanya melihat seseorang yang keluar dari mobil itu. Gadis itu Neva... sungguhkah?
"Bukankah itu Tuan muda Mahaeswara?" Raizel bertanya pada Asistennya dengan masih tetap memperhatikan Neva yang menggenggam tangan Vano.
"Sepertinya iya," jawab asistennya.
"Sial... apa mereka memiliki hubungan?"
"Sepertinya iya," jawab asistennya.
"Saingan ku berat nih."
"Sepertinya, iya," jawab asistennya.
Vano dan Neva saling membalas senyum dan menatap dengan manis.
"Waahh, Nona satu ini penuh dengan kejutan," ujar salah satu wartawan yang di iyakan oleh rekannya. Kamera langsung membidik kebersamaan mereka.
"Kau berani mendekat?" tanya salah satu wartawan pada rekannya, "Tuan Mahaeswara tidak se-ekstrim Tuan muda Leo," lanjutnya.
"Aku akan mencobanya. Sejauh yang ku tahu, Tuan muda Mahaeswara adalah orang yang ramah," jawab salah satu wartawan yang lain.
Kemudian, dia melangkah mendekat.
"Selamat pagi, Tuan muda...," ucapnya dengan ramah dan membungkukkan badannya untuk Vano. Vano mengangguk sebagai tanggapan.
"Mohon maaf, saya tidak ada wawancara hari ini. Terima kasih," ucapnya langsung menghentikan wartawan itu untuk bertanya.
"Saya sudah mengucapkannya. Jangan membuat saya mengulangi ucapan saya," jawab Vano tegas.
"Baik, terima kasih Tuan muda," ucap wartawan itu mengerti.
Neva tersenyum senang. Sangat berbeda cara melindungi seseorang gadis.
Seseorang yang dewasa ini begitu tenang dan elegan. Sedangkan seseorang yang kekanak-kanakan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. '****** ***** mu berwarna merah,' ucapan Raizel membuatnya gila. Kata-kata itu bergentayangan setiap waktu dalam otaknya.
Neva berjalan melewati gerbang dengan tangannya yang mengapit di lengan Vano. Dia berjalan dengan mengangkat wajahnya seolah bilang pada semua orang, 'Ini calon suamiku.'
Mata teman-temannya dan para pembully-nya menatap Neva dengan tatapan terbelalak.
Banyak yang lega, jika Neva bersama Tuan muda Vano, itu berarti pangeran Raizel aman. Namun ada juga yang berpikir bahwa Neva gadis murahan yang pandai merayu lelaki-lelaki tampan. Itu terserah pada pemikiran mereka.
"Mau ku antar sampai kelas?" tanya Vano setelah sampai di depan kampus.
"Emm, tidak usah Kak. Terima kasih sudah mengantar," ucap Neva. Dia mendongak untuk menatap Vano. Matanya terasa sejuk menatap wajah teduh nun rupawan ini.
Vano tersenyum dan mengusap rambutnya lembut.
"Semangat...," ucapnya penuh semangat.
"Semangat...." ucap Neva penuh semangat juga. Kemudian, Vano berbalik dan meninggalkannya. Neva mengusap rambutnya. Sentuhan tangan itu...
Tiba-tiba ponselnya berdering. Raizel artis gila dan mesum. Neva segera mengangkatnya. Dia ingin pamer bahwa tanpa bantuan Raizel pun, dia bisa melewati gerbang utama dengan aman.
"Hati ku sakit," ucap Raizel setelah Neva mengangkat telfonnya. "Sakit banget," suaranya terdengar sedih.
"Apaan sih GaJe banget," jawab Neva. Dia melangkah menaiki tangga.
"Hati ku terluka Neva...." ucap Raizel.
"Emangnya aku Mama mu, kenapa ngadu pada ku?" Neva masih terus berjalan menaiki tangga.
"Kamu yang membuat ku terluka dan sakit,"
"Hei, apa kau mau menggombal lagi? Atau kau sedang menghafal teks? Berhenti menelfon ku, berhenti mengirimi ku pesan. Kau bukan membuat hidup ku tenang tapi membuat hidup ku semakin kacau. Bodyguard kau bilang? Hahha kau lebih tepat di sebut Stalker."
"Stalker? Bukan... tapi aku pemuja mu," ucap Raizel sepenuh hati.
"Hahhaaa ya ampun, dasar artis gila," Neva tertawa terbahak-bahak. Saat ini dia menaiki tangga ke tiga. Ada bayangannya yang tengah berlari dengan Raizel. Klik... dia segera memutus panggilan.
Raizel menyandarkan kepalanya di bangku.
"Sabar Boss ini ujian," ucap asistennya mencoba menghibur Raizel.
"Ujian-ujian kepala mu..." Raizel memelototinya. Dan si asisten tertawa terbahak-bahak.
"Kasiaaaan," ucapnya dengan sedih tapi muka mengejek.
Neva berjalan menuju kelas bersama bayangannya yang tengah berlari kala itu. Dia tersenyum dan bahkan tertawa kecil mengingat itu. '****** ***** warna merah,' Aaaaa.... Neva langsung down dan kesal setengah mati mengingat itu. Dia merasa sangat bodoh karena menurut begitu saja pada ide gila dari si artis gila.
___Malam hari di rumah Tuan muda Lee.
Yuna sedang menonton Tv saat ini. Dia bersama Alea. Dia meminta Alea untuk menginap di rumahnya agar dia tidak merasa kesepian.
"Yuna, apa kau ingin sesuatu?" Alea menawarinya.
"Tidak ada," jawab Yuna, "Kau sudah menanyakan itu hingga sepuluh kali Alea," lanjut Yuna.
"Hahaa, itu karena aku ingin melayani mu Yuna," jawab Alea.
"Hei, hentikan itu. Kita teman, apa kau lupa?" ucap Yuna bersahabat, "Berhentilah bersikap seolah kau adalah asisten ku," lanjutnya.
"Bukan seperti itu Yuna. Aku senang melakukannya," jawab Alea. Kemudian, Alea bercerita tentang kehidupannya. Bagaimana dia begitu tertekan karena kasus papanya dan bagaimana dia merasa sangat bersyukur bahwa masih ada teman Papanya yang begitu perduli pada keluarganya.
"Keluargaku memiliki hutang budi pada keluarga Nugraha, Yuna," ucap Alea. Matanya menatap layar telefisi, "Hutang budi akan dibawa sampai mati," lanjutnya.
Yuna menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Alea. Dia menyentuh pundak Alea pelan.
Alea menoleh dan menatap Yuna.
"Sejauh yang ku tahu. Mereka membantu memang karena mereka ingin membantu, karena mereka perduli. Bukan karena ingin dianggap pahlawan atau membuat seseorang yang dibantunya merasa memiliki hutang budi. Papa, Mama, Kak Dimas, dan juga Leo, mereka memiliki jiwa yang lembut dan tanpa pamrih. Itu... Sejauh yang ku tahu," ujar Yuna. Ucapan Alea sedikit membuat hatinya gelisah. Dia mengasihani Alea. Belum sempat Alea menjawab ponsel Yuna berdering. Panggilan masuk dari Leo. Yess... Yuna sangat bahagia melihat nama Tuan suami you are my sunshine muncul pada layar ponselnya. Yuna langsung membelai ponselnya.
"Sayang...." ucapnya dengan senyum menyapa Leo.
"Kau masih di ruang tengah?" Tanya Leo setelah dia memperhatikan Yuna. Yuna mengangguk dan mendekat ke arah Alea.
"Lihat, aku bersama siapa sekarang?" Yuna duduk mepet dengan Alea. Tangan Alea melambai pada Leo dan bilang 'Hai' tanpa suara. Wajah tampan itu...
"Sayang, bisakah kau ke kamar?" pinta Leo.
"Kenapa? Kenapa harus ke kamar?" Yuna sedikit kurang setuju dengan permintaan Leo.
"Sayang...." Leo menatapnya dengan memohon. Wajahnya sangat imut ketika melakukan itu, membuat Yuna langsung meleleh. Sepasang mata yang juga ikut menyaksikannya juga ikut meleleh. Dia tidak pernah melihat ekspresi Tuan Muda Lee seperti anak kecil yang imut dan polos. Itu sangat menggemaskan.
"Okey," Yuna menyetujui. Kemudian, dia pamit pada Alea. Dia melanglah menaiki tangga.
"Hati-hati Nyonya," suara Leo memperingatkannya untuk jalan dengan hati-hati. Yuna mengangguk dan terus melangkah menuju kamarnya. Dia duduk di sisi ranjang dan kembali menatap suaminya dengan tenang dari balik layar ponsel.
"Beri aku ciuman," ucap Leo yang langsung membuat Yuna tertawa tertawa terbahak-bahak.
"Jadi kau menyuruh ku pindah ke kamar hanya untuk memberi mu ciuman? Hahaaa...." Yuna tidak tahan dengan permintaan Tuan suami ini. Leo menatapnya dengan tajam.
"Hei, ini bukan permintaan tapi rayuan!" jawab Leo.
"Rayuan?" Yuna mengerutkan keningnya.
"Iya," jawab Leo.
"Kenapa aku harus merayu?"
"Siapa yang mengizinkan mu membawa pulang seseorang?" Leo menatapnya dengan kesal.
"Dia teman kita, kenapa tidak boleh berkunjung?" Yuna membalas tatapannya.
"Kenapa kau membiarkannya menginap?"
"Dia teman kita, kenapa tidak boleh menginap!," Yuna masih menatapnya tapi kemudian tatapan berubah menjadi tatapan merayu, "Tuan suami... jangan salahkan dia. Aku yang memintanya untuk menginap di sini. Aku ingin ada teman ngobrol untuk sedikit mengobati rasa sepi ku tanpa mu," ucap Yuna dengan sedih dan itu langsung meluluhkan hati Leo. "Neva tidak bisa menginap di sini, jadi aku mengajaknya," lanjut Yuna.
"Okey, maafkan aku," ucap Leo. Pada akhirnya dia yang meminta maaf. Nyonya selalu benar. "Sayang..." panggilnya serak. Ia menatap wajah Yuna dari layar tipis itu, menatap istrinya dengan penuh rindu. Dia merindukan istrinya setiap detik bahkan setiap helaian nafasnya, dia merasa benar-benar gila karena Yuna.
"Sayang, kau harus menjaga kesehatan. Jangan begadang, okey." ucap Yuna. Sorot matanya sendu penuh rindu, ia membalas tatapan mata Leo padanya.
"Aku ingin segera pulang," jawab Leo pelan tetapi jelas. Yuna mengangguk, dia sangat tahu bagaimana rasanya merindu. Mereka berdua sama-sama tahu dan itu sangat menyiksa.
"Tetap saja, kau harus istirahat dengan cukup," ucap Yuna.
"Sayang, aku ingin melihatnya," ucap Leo dengan senyum.
Yuna tahu apa yang Leo maksud. Dia meletakkan ponselnya di atas meja. Kemudian, dengan pelan tangannya membuka sedikit bajunya ke atas, memperlihatkan perutnya yang putih.
Mata Leo dipenuhi kelembutan menyaksikan itu, dadanya berdebar dan sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman bahagia.
"Apa kau sudah minum vitamin, sayang?" Tanya Leo. Yuna mengangguk, kemudian kembali menutup perutnya.
"Hei, siapa yang mengizinkan mu untuk menutupnya kembali?" Leo langsung memprotesnya. Yuna tersenyum malu-malu dan kembali mengambil ponselnya.
"Sudah, ah," katanya dengan wajah yang memerah. Dia tidak terbiasa memperlihatkan dirinya di layar.
"Lagi doooong," suara Leo merayu dengan seksi.
"Nggak," Yuna menolaknya dengan tegas. Dia mengigit bibirnya dengan senyum malu.
"Ayo dooong, sayang...." Leo masih merayu. Dia menatap Yuna dengan wajah imutnya. Yuna menunduk sebentar dan akhirnya kembali menyetujui keinginan Tuan suami. Dia kembali meletakkan ponselnya dan kembali membuka sedikit bajunya. Leo tersenyum manis padanya.
"Sayang," panggil Leo.
"Hmm,"
"Semuanya doong," pintanya yang membuat otak Yuna membeku beberapa saat.
"APA?!" Mata Yuna melotot selebar-lebarnya.
"Buka semuanya," Leo tanpa rasa malu mengucapkan permintaannya.
"Kau gila," ucap Yuna dan langsung memutus panggilannya. Wajahnya terasa panas dan menjadi sangat merah, dia malu setengah mati. Permintaan apa-apa itu? Benar-benar gila.
___
Catatan penulis
Jempol di goyang jangan sampai lupa,ππ₯°
Teman... jika ada tulisan Thor yang salah, mohon di koreksi yach. Terima kasih... aku pada mu teman kesayangan ππ luv luv.
PLAGIAT JANGAN DEKAT-DEKAT. AKU YAKIN KAU BUKANLAH PENGHUNI NERAKA. JADI, SINGKIRKAN NIATMU BUAT NYURI KARYA ORANG LAIN.