
Vano dan Neva langsung menuju hotel dimana Arnis menginap. Kemudian, mengantarnya ke bandara.
"Sekali lagi terima kasih sudah hadir Arnis," ucap Vano pada Arnis. Gadis bermata sipit itu berdiri tepat di depannya.
Arnis mengangguk, "Ya, tidak masalah kawan," jawab Arnis. "Selamat juga atas pertunangan mu," kata Arnis. Tangannya menepuk lengan Vano pelan. Mata mereka bertemu, Arnis dengan senyum tipis mencoba melawan rasa getir dalam hatinya.
"Terima kasih Nona tomboi," jawab Vano dengan senyum. Arnis menunduk sebentar untuk menata hatinya, kemudian, ia mengalihkan pandangannya pada Neva.
"Selamat Neva," ucapnya dengan senyum dan luka di hatinya. Pada akhirnya dia benar-benar tidak bisa masuk kedalam hati Vano. Arnis mengulurkan tangannya dan Neva menyambut uluran tangannya. Mereka berdua berjabat tangan.
"Terima kasih Kak Arnis," jawab Neva tulus. Kemudian mereka berdua berpelukan sebentar.
"Ok. Bye. Aku pamit," Arnis melepaskan pelukannya. Dia menatap Vano dan Neva. "Semoga lancar sampai kalian berdua menikah," do'anya untuk Vano dan Neva.
"Aamiin," Vano dan Neva menjawab dengan berbarengan. Kemudian, Arnis melangkah meninggalkan mereka berdua. Dia kembali ke pulau A.
Setelah mengantar Arnis. Mereka berdua mengelilingi Ibu Kota, tanpa tujuan. Hahaa gila kan? Ini hanya agar mereka berdua masih bisa bertemu dan bersama.
Neva menyalakan ponsel miliknya dan menyalakan data selulernya. Ada banyak sekali pesan yang masuk, dari teman-temannya yang mengucapkan selamat atas pertunangannya. Dia hanya membalas singkat dengan ucapan terima kasih. Kemudian, dia membuka pesan dari Raizel. Cowok itu sedang berada di luar negeri saat ini, dia menjalani syuting terbarunya.
"Apa kau tahu apa yang paling menyakitkan di dunia ini? Patah hati. Tapi ok, selamat untuk pertunangan mu Nona Neva," isi pesan dari Raizel.
Kemudian Neva membalasnya. "Teman, kau akan mendapatkan wanita yang lebih segala-galanya dari pada aku. Banyak gadis yang menyukai mu. Semangat. Terima kasih atas ucapannya."
Tak lama setelah Neva mengirimkan pesan balasannya, dia mendapat pesan balasan dari Raizel. Balasan yang membuat Neva tersenyum lebar. Pasalnya, balasan Raizel adalah sebuah lirik lagu dari salah satu Band.
"Harusnya aku yang disana dampingimu dan bukan dia. Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia." isi pesan Raizel.
"Ada sesuatu?" tanya Vano. Neva menoleh ke arahnya dan memperlihatkan pesan Raizel. Membaca pesan itu membuat Vano ikut tersenyum lebar.
"Soundtrack nya gokil," komentar Vano. "Hmmm maafkan aku Raizel," lanjutnya. Neva kemudian membalas pesan Raizel dengan kata maaf. Dia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas miliknya. Kemudian, pandangannya tertuju pada jari manisnya, melingkar sebuah cincin disana. Bibirnya melengkung dengan otomatis. Cincin ikatan cinta dari laki-laki yang sangat dia cintai. Dia yang dulu hanya berani memperhatikan dari kejauhan, sekarang laki-laki itu begitu dekat dengannya. Tidak ada yang tahu tentang takdir yang telah tertulis di atas langit yang jauh disana.
Dengan lembut, tangan Vano mengulur dan menggenggam tangan Neva. Jemari mereka bertemu. Neva menoleh ke arah Vano dan memperhatikannya dari samping.
"Bisakah kau jelaskan padaku?" tanya Neva tiba-tiba. Kening Vano berkerut. Dia menoleh ke arah Neva sebentar lalu kembali pada jalan.
"Jelaskan apa?"
"Bisakah kau jelaskan bagaimana cinta ini bisa terjadi. Aku terus saja merindukan mu, bahkan ketika kau ada di dekatku," Neva mengutarakan apa yang ia rasakan. Vano diam, dia tidak tahu kalimat apa yang bisa menjelaskannya. Apakah sebuah jawaban dengan kata biasa akan mampu menjawab pertanyaan ini. Dia mengambil nafasnya, memarkirkan mobilnya di sebuah taman kota.
Mereka berdua turun dan dengan saling bergandengan tangan mereka menyusuri jalan setapak yang panjang lalu berhenti di sebuah bangku di tengah taman di bawah pohon. Mereka berdua duduk berhadapan.
"Kau ingin tahu jawaban dari pertanyaan mu?" Vano bertanya dengan menggenggam tangan Neva dengan kedua tangannya. Neva menatapnya dan mengangguk.
Tangan kanan Vano melepas genggaman tangannya lalu berpindah untuk mengusap rambut Neva. Gadis lugu yang diam-diam menyukainya, lalu menuliskannya pada sebuah kertas. Gadis yang memperhatikannya dari kejauhan dan tidak berani untuk mendekat.
"Jadi apa jawabannya," tanya Neva. Matanya menatap Vano.
Vano menarik ujung bibirnya dan tersenyum, "Kita menikah," dia memberikan dua kata sebagai jawaban atas pertanyaan gadisnya.
Neva diam, dia masih menatap Vano. Menatap kedalam matanya dengan lekat. Menikah?
"Kita baru tunangan. Baru saja. Kenapa kau sudah membahas pernikahan," Neva memukul dada Vano pelan. "Kau bilang, kau akan selalu sabar. Kau bilang, kau akan selalu menunggu. Kau bohong," ucap Neva. Dia mengerutkan bibirnya.
Vano terkekeh, "Siapa tadi yang bertanya tentang rindu yang dimiliki oleh hati? Hmm?"
"Aku," jawab Neva segera. "Tapi apakah jawaban adalah pernikahan?"
"Ya," jawab Vano cepat. Neva kembali memukul dada Vano. "Sini, ku bisikkan sesuatu," Vano meminta Neva mendekatkan wajahnya.
"Tidak, tidak, kau pasti modus," jawab Neva. Dia dengan sengaja menjauhkan dirinya. Dia menggeser duduknya, agar tidak berada tepat di depan Vano.
"Kau, kau ...." Neva memalingkan wajahnya. Dia mengigit bibir untuk menyembunyikan senyum dan wajahnya yang memerah.
"Sini," Vano menggodanya. Tangannya sedikit membuat tarikan halus pada tangan Neva.
"Nggak, aku sudah tahu apa yang akan kau bisikkan," tolak Neva.
Vano terkekeh, "Sungguh kau sudah tahu?"
Neva mengangguk pasti, "Ya, tentu saja. Kau sangat pandai menggombal," jawab Neva. Vano tertawa ringan mendengar jawaban itu. Dia langsung berpindah tempat duduk, dia duduk di samping Neva lalu memeluknya dari samping.
"Jangan memelukku," tolak Neva. Dia memperhatikan sekitar, takut pengunjung lain memperhatikannya. Dia melepaskan pelukan Vano lalu beranjak.
"Sudah hampir malam," ucapnya. Vano mengangguk. Dia bangkit dari duduknya dan kembali menggandeng tangan Neva. Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan Vano langsung memeluk Neva lagi.
"Hei," Neva mencoba melepaskan pelukan Vano. Kedua tangannya mendorong tubuh Vano pelan.
"Diamlah. Bukankah kau merindukan ku," bisiknya.
"Sekarang tidak lagi," elak Neva. Bibirnya menahan senyum.
"Tapi hatimu mengatakan iya," sahut Vano. Dan Neva kalah. Pada akhirnya dia diam dan membiarkan Vano memeluknya.
"Ketika nanti aku mengantar mu kembali pulang, maka kita akan terpisah sementara waktu. Kau kerumah mu dan aku kembali kerumah ku," Vano memulai ucapnya. Neva diam dan mendengarkannya. Kepalanya bersandar di bahu Vano. "Tapi ... tidak akan seperti itu jika kita menikah. Kita akan bersama-sama pulang kerumah kita. Masih saling bertemu, masih saling bersama. Kau bisa menatap wajahku dengan sesukamu. Aku bisa mengusap pipi mu dengan sesuka ku. Kita bisa berpelukan seperti ini semau kita," ujar Vano dengan teratur. Neva masih diam dan mendengarkannya. "Dan ... bahkan, aku bisa mencium mu dengan puas," lanjutnya. Pada kalimat ini Neva langsung memukul punggungnya. Vano terkekeh. Dia melepaskan pelukannya, kedua tangannya menggenggam tangan Neva. Mata mereka bertemu, saling menatap.
"Aku masih harus sekolah," jawab Neva kemudian setelah terdiam beberapa saat. Vano mengangguk mengerti. "Aku memang terus menerus merindukan mu, tapi untuk saat ini mungkin aku harus menahan segala rasa yang ada dihatiku. Tentang rindu," lanjut Neva. Vano kembali mengangguk mengerti. Dia akan membujuknya dengan pelan-pelan. Studi masih bisa dilanjutkan bahkan setelah mereka menikah. Vano tersenyum dan memberi semangat untuk dirinya sendiri.
Kemudian, Vano mengantar Neva kembali lalu dia pamit untuk pulang. Keduanya berpisah untuk sementara waktu.
______
Di Rumah Tuan muda Lee.
Mereka bertiga, Leo, Yuna dan Baby Arai sudah kembali ke rumah. Leo memangku Baby Arai yang masih terjaga, mereka berdua saling bercengkrama dengan indah. Jari telunjuk Leo dalam genggaman Baby Arai dan Leo mengikuti gerakannya. Sesekali dia mencium pipi halus anaknya.
"Kotak yang sangat cantik," ucap Yuna setelah duduk di samping Leo. Dia memperhatikan kotak yang dia dapatkan dari Mama. Kotak hadiah dari Papa dan Mama untuknya. "Begitu cantik," pujinya lagi.
"Bukalah, jangan hanya memuji kotaknya saja," kata Leo santai. Tangannya masih bermain-main dengan tangan Baby Arai.
Yuna mengangguk, dengan pelan tangannya membuka kotak itu. Satu set perhiasan ada di dalam kotak itu. Yuna memandangnya dengan kekaguman dan penuh haru.
"Sangat-sangat indah," pujinya. "Aku sangat menyukainya," kata Yuna dengan bahagia. Namun sedetik kemudian, dia harus menarik senyumnya. Dia dan Leo saling pandang setelah melihat layar kecil yang menempel di dinding. Seseorang datang.
Seseorang itu baru saja keluar dari mobil dan berdiri di depan gerbang. Leo segera beranjak, Baby Arai masih dalam gendongannya. Tangannya memencet tombol didinding dan sebuah suara langsung terdengar di seberang sana.
"Jangan biarkan dia masuk," titahnya. Suaranya bak raja ketika memberikan titah itu. "Satu lagi, aku tidak mau melihatnya ada disekitar sini. Mengerti?"
"Siap, Boss," jawab seseorang di seberang sana.
_______
Catatan Penulis π₯°
Terima kasih udah begitu sabar menunggu kelanjutan kisah ini. Padamu π₯°π.
Nantikan Up selanjutnya ya π
Jangan lupa like koment ya kawan. Terima kasih π₯°π
Lanjuuut, Kalian luar biasa π