
"Sayang, kau di mana?" Leo mengirim pesan pada Yuna setelah meninggalkan tempat dimana dia baru saja bertemu dengan Vano.
"Aku sedang berbelanja dengan Alea. Apa kau mau kesini Tuan suami?" Balas Yuna dengan emot mengedipkan mata sebelah. Tidak ada balasan, dan Yuna memasukkan ponselnya kembali.
"Yuna, apa kesukaan Tuan muda Lee?" Tanya Alea menoleh sebentar ke arah Yuna. Kemudian, dia kembali memilih buah.
"Kesukaan Leo? Emmm... tidak banyak yang dia suka. Dia suka nasi goreng, buah, dan minuman hangat, itu saja," jawab Yuna sambil mengingat-ingat apa saja makanan yang biasanya Leo makan. Suaminya itu tidak aneh-aneh hanya saja terkadang Leo tidak bisa makan makanan sembarangan.
"Apa dia tidak suka cake?" Tanya Alea lagi, kali ini dia menoleh ke arah Yuna dan menghadap ke arahnya.
"Suka, asal tidak terlalu manis," jawab Yuna.
"Hmmm," Alea mengangguk, "Menurut mu, apa cake yang tadi ku bawa akan di makan Tuan muda Lee?" Tanya Alea penasaran.
"Ummm," Yuna melirik ke atas sebentar sebelum memberi jawaban, "Pasti," jawab Yuna untuk menyenangkan hati Alea. Dia sendiri tidak yakin jika Leo akan memakannya, dia hanya tidak ingin Alea merasa kecewa. Alea berlaku baik dan perhatian pada Leo adalah karena dia merasa berhutang budi pada keluarganya, begitu pikir Yuna.
"Hhmmm syukurlah. Aku takut Tuan muda Lee akan membuangnya," ucap Alea dengan wajah yang lega. Ketika antara perasaan dan logikanya berperang, saat itu juga dia tidak mengenali dirinya. Dia ingin sekali menolak apa yang dirasakan hatinya dengan memikirkan banyak hal tetapi emosi yang dimiliki oleh jiwanya membuat dia bingung apalagi dengan bisikan-bisikan dari mulut Papanya. Dia tidak mungkin menyakiti hati keluarga Nugraha, keluarga yang membantunya ketika terpuruk tetapi sang Papa bilang bahwa, Yuna bukanlah keluarga Nugraha. Yuna hanya gadis yang beruntung yang bisa mengambil hati Leo.
"Apa kau tahu...." Yuna menggantung ucapnya dan menatap Alea. "Leo jarang sekali menguncupkan terima kasih pada seseorang, dan tadi... dia mengungkapkan itu pada mu," lanjut Yuna yang langsung membuat wajah Alea berbinar dengan senyum mengembang.
"Sungguh?" Tanyanya dengan bahagia.
"Huum," jawab Yuna dengan anggukan kepala. Alea bertepuk tangan bahagia untuk dirinya sendiri. Kemudian, tak lama dia berdiri dengan tegak dan tersenyum sangat manis lalu sedikit membungkukkan badannya.
Itu... membuat Yuna tahu jika saat ini ada Leo di belakangnya. Dia menahan senyumnya.
"Ummm, Alea... apa kau tahu laki-laki paling jelek di dunia ini?" Tanya Yuna dengan sengaja. Alea mengerutkan keningnya.
"Emmm, tidak tahu," jawab Alea.
"Apa kau mau tahu?" Tanya Yuna. Dia masih menahan senyumnya.
"Siapa?" Tanya Alea.
"Namanya Leo. Dia sangat jelek dan mengerikan," jawab Yuna dengan sedikit berbisik. Dan Leo langsung memeluknya dari belakang. Itu membuat senyum Yuna mengembang.
"Hmm siapa yang kau sebut jelek?" Tanya Leo.
"Ah, ya ampun... apa kau menguping?" Yuna memekik pelan dan kemudian tertawa ringan. Leo memutar tubuh Yuna, membuat Yuna menghadap ke arahnya.
"Nyonya cantik, apakah Leo yang kau maksud itu sangat jelek?" Tanya Leo. Mata indahnya menatap Yuna penuh cinta.
"Ya, dia sangat jelek. Sangat jelek hingga tidak ada yang menyukainya dan hanya Nyonya cantik saja yang menyukainya," jawab Yuna. Dan Leo langsung mencubit pipinya.
Alea memperhatikan mereka berdua dengan senyum tetapi terasa begitu sakit pada hatinya. Suara Papanya seolah terus berbisik tentang kewajaran yang dia rasakan. Harusnya kamu, harusnya kamu, harusnya kamu, ucapan Papanya seolah terdengar begitu nyaring di telinganya. 'Jangan gila Alea, sadarlah. Meskipun Yuna bukan bagian dari keluarga Nugraha tetapi dia adalah teman mu. Kendalikan Alea....'
"Kau sudah selesai belanja?" Tanya Leo pada Yuna. Tangannya mengusap perut Yuna pelan dan sangat lembut. Kemudian, berjalan beriringan.
Asisten Dion yang memperhatikan dari jauh langsung mendekat dan menghampiri Alea.
Awalnya, Yuna ingin mengajak Alea untuk berjalan bareng berjejer dengan dia dan Leo tetapi Asisten Dion datang tepat waktu dan dia berjalan beriringan dengan Alea. Mungkin, ini akan jadi awal yang baik, pikir Yuna untuk Asisten Dion dan Alea.
"Hai, Nona," sapanya ramah setelah berdiri di samping Alea. Alea menoleh ke arahnya dengan mengerutkan keningnya. "Oh, saya Dion. Asisten Boss Leo," ucapnya memperkenalkan diri.
"Ohhh," Alea mengangguk dan kembali menoleh ke arah Yuna dan Leo.
"Kau akan gila jika lama-lama bersama mereka berdua. Mereka tidak tahu tempat untuk selalu harmonis. Itu memuakkan buat ku yang baru saja putus heheee," ucap Asisten Dion dengan bercanda. Kemudian, dia mengambil alih troli dari dorongan Alea.
"Mereka berdua sangat manis," sahut Alea, dia masih memperhatikan Yuna dan Leo yang saling memperhatikan satu sama lain. "Hubungan yang diimpikan setiap pasangan," lanjutnya.
Asisten Dion mengangguk, "Ya, Boss begitu mencintai Nyonya muda. Letak mood Boss ada pada Nyonya muda," ucap Asisten Dion.
"Oh ya?" Tanya Alea. Itu juga yang di katakan supir Albar padanya.
"Iya, serius," jawab Asisten Dion meyakinkan. "Boss bahkan hampir meledakkan kantor saat ada masalah dengan Nyonya muda," lanjut Asisten Dion. Dia mengingat laptop dan semua yang ada di ruangan Bossnya hancur lalu ponselnya yang di buang begitu saja.
Alea mengangguk pelan. 'Sepertinya Tuan muda Lee memiliki cinta yang luar biasa pada Yuna.'
Supir Albar telah siap menunggu di depan lobby dan membukakan pintu untuk Tuan dan Nyonya. Sementara Dion memakai mobil yang satunya lagi.
"Alea," Yuna menoleh ke arah Alea sebelum dia masuk mobil.
"Ya," jawab Alea dengan menatap Yuna.
"Kamu... bareng Dion tidak apa-apa bukan?" Tanya Yuna dan melirik Dion.
"Iya, tidak masalah Yuna," jawab Alea dengan senyum.
Kemudian, mereka masuk ke dalam mobil masing-masing. Leo bersama Yuna dan supir Albar, sementara Alea bersama Asisten Dion.
Tangan Leo mengulur dan menutup sekat bagian tengah. Supir Albar tersenyum dengan itu.
Tangan Leo langsung masuk ke dalam baju Yuna dan menyentuh perutnya dengan hati-hati. Tangan hangat itu mengusapnya dengan lembut. Sementara tangan yang satunya memeluk Yuna.
"Sayang," panggil Yuna pelan.
"Hmm."
"Kak Er, ingin bertemu dengan ku, dia ingin memberi ku hadiah. Dia mengirim pesan tak lama setelah kau keluar negeri tapi aku menolak untuk bertemu dengannya. Aku tahu, kau pasti tidak akan mengizinkan ku untuk bertemu dengannya tanpa mu. Sekarang, kau sudah kembali... apa aku boleh bertemu dengannya?" Tanya Yuna setelah memberi penjelasan. Tidak memikirkan lama dan tidak banyak pertimbangan, Leo langsung mengangguk. "Terima kasih, Tuan jelek," ucapnya dengan langsung mematuk pipi Leo.
Kemudian, Yuna segera menghubungi Karel. Dan sangat tepat, saat ini Karel sedang kosong dan tidak ada syuting. Yuna meminta Karel untuk datang di salah satu restoran lokal yang dulu dia dan Leo kesana pada malam hari, malam purnama sempurna.
"Sayang," panggil Yuna lagi dengan mengusap rambut Leo. Rambutnya sedikit lebih pendek, karena Tuan suami baru saja memotongnya, kemarin. "Bagaimana jika kita makan bersama?"
"Dengan Karel?" Tanya Leo. Tangannya masih mengusap perut Yuna dan hatinya akan di banjiri kebahagiaan ketika telapak tangannya mendapatkan tendangan lucu.
"Umm, bukan hanya dengan Kak Er, tapi dengan Albar, Dion dan Alea. Bagaimana?" Tanya Yuna. Leo menaikkan sebelah alisnya. "Big Boss... sekali-kali kita harus makan bersama mereka. Albar menjaga ku dengan baik saat kau diluar negeri. Alea selalu menemani ku agar aku tidak kesepian saat kau di luar negeri. Dion bekerja dengan ekstra saat kau di luar negeri. Kita harus membalas kebaikan mereka bukan?" ujar Yuna memberi alasan agar Tuan suami menyetujui untuk makan bersama.
"Baik," jawab Leo pada akhirnya. Yess... Yuna tersenyum puas. Dia menyandarkan kepalanya di dada Leo. Kemudian, merayunya untuk membooking restoran yang dia inginkan. Rayuan Nyonya tidak ada kata 'Tidak' dari Tuan suami. Tuan suami tidak akan pernah mampu untuk bilang 'Tidak' dan hanya ada kata 'Iya'.
Yuna tersenyum puas. Dia memiliki ide... Tuan suami harus keluar dari zona nyamannya selama ini. Dia harus berteman dengan siapa saja, dia harus tertawa dengan sangat bahagia, dan akan ada orang-orang yang menemaninya untuk tertawa, bukan hanya berdua saja. Yuna ingin, Leo merasa memiliki teman yang asik, teman yang konyol dan teman yang menyenangkan.
'Tuan suami, kau harus melihat warna selain warna cinta. Semua warna itu indah, aku akan menunjukannya pada mu dengan perlahan.'
___Di salon. Neva dan Lula sudah selesai memanjakan diri. Mereka berdua berencana untuk langsung kembali dan segera istirahat. Jangan sampai memiliki mata panda karena kurang tidur.
Ketika mereka berdua keluar dari salon, ponsel Neva berdering dan ada panggilan masuk dari Vano.
"Ups," dia langsung menyentuh bibirnya. Hatinya... kenapa terasa berbunga. Jantungnya terasa berdegup kencang. Ini bahkan hanya panggilan telpon saja, kenapa membutnya begitu berdebar. "Angkat gih," ujar Neva pada Lula. Dia menyodorkan ponselnya. Mata Lula membaca nama yang tertera di layar ponsel milik Neva.
"Cinta terpendam ku. Bukankah ini Tuan muda Vano?" ucap Lula bertanya pada Neva dengan heran. Kenapa Neva menyuruhnya mengangkat telpon dari Tuan muda Vano? Aneh, pikirnya. "Kenapa kau tidak mau mengangkatnya? Apa ada sesuatu yang terjadi antara kalian berdua?"
"Hh?? Tidak ada," jawab Neva segera dengan gugup. Ada apa dengan jantungnya? Hanya panggilan dari Vano saja membuatnya sesak. Panggilan berakhir. Huff... Neva menghela nafas dengan lega.
'Kenapa? Kenapa aku ini? Aku berusaha mati-matian untuk melupakan dia, kenapa rasanya malah semakin jauh cinta,' Batin Neva dengan putus asa. Dia mengacak-acak rambutnya.
"Kenapa sih," tanya Lula heran. Dia menatap Neva dengan seksama.
"Dia mencium mu? Gilaaaa...." Lula langsung berteriak mendengar itu, membuat beberapa pengunjung menoleh ke arahnya. Neva memukul keningnya pelan dan menyembunyikan wajahnya.
Lula langsung menutup mulutnya.
"Nona... kau serius?" Tanya Lula dengan suara pelan. Dia mengambil tangan Neva yang menutupi wajahnya. "Serius?" Tanyanya lagi merasa tidak percaya. Neva menatapnya dan mengangguk.
"Daebak...." Lula berteriak lagi, "Ohh... aku tidak menyangka. Kau harus merayakan ini, harus. Omg... aku tidak bisa membayangkannya. Aaauu... pasti sesuatu yang sweet. Aku pasti akan berdebar-debar jika melihatnya," Lula begitu semangat. Sementara Neva meletakkan kepalanya di atas meja. Kemudian, ponselnya kembali berdering. Dengan serempak, Neva dan Lula melihat layar pada ponsel milik Neva, melihat siapa yang melakukan panggilan telepon.
"Cinta terpendam ku," baca Lula dan dia menjadi girang bukan main. Akhirnya... perasaan Nonanya tersambut, pikirnya. "Angkat, buruan," ujar Lula menggoyangkan lengan Neva. Neva menggeleng dan hanya memperhatikan ponsel yang masih bernyanyi lagu kesukaannya. "Kelamaan," ujar Lula kemudian mengambil ponsel Neva dan memencet tombol hijau. Neva melebarkan matanya melihat itu.
"Hallo, Tuan muda Vano," sapa Lula dengan ramah setelah panggilan tersambung. "Nona Neva sedang berada di toilet," ucap Lula, "Eh, panjang umur. Orangnya udah datang," lanjut Lula segera dan langsung memberikan ponsel pada Neva.
"Kau...." ucap Neva dengan merapatkan giginya. Lula nyengir dan mengacungkan dua jarinya. Neva berdehem pelan sebelum mengambil suaranya.
"Iya Kak," ucap Neva ramah.
"Apa kau sibuk?" Tanya Vano. Suaranya... membuat jantung Neva seolah ingin melompat dari tempatnya dan menari dengan bebas.
"Hmm, tidak Kak. Kenapa?" Tanya dengan canggung dan grogi.
"Kau dimana?" Tanya Vano.
"Eh, aku...." Neva menepuk keningnya.
"Tuan muda Vano, kita ada di cafe deket museum lama," Lula menyahut begitu saja dengan kencang. Astaga... Neva langsung memelototinya.
"Aku kesana," ucap Vano setelah mendengar suara Lula yang nyaring.
"Ta- Tapi... aku sebentar lagi pulang Kak," jawab Neva memberi alasan agar tidak bertemu Vano.
"Oke, aku ke rumah mu," jawab Vano. Neva menepuk keningnya. "Jadi, kau pilih mana gadis? Ke rumah mu atau ke cafe dekat museum?" Tanya Vano tidak memberi pilihan pada Neva untuk kabur dan menghindarinya.
"Haaa, okey. Kesini saja," jawab Neva dengan memelototi Lula.
"Tunggu aku," ucap Vano dan kemudian mematikan ponselnya.
"Lula..." Neva memukul bahu Lula dengan kencang.
"Kenapa harus menghindar? Bibir aja udah bertemu, hahaaa," ucap Lula dengan tawa.
"Kau tahu, aku setelah ini aku pergi Lula," jawab Neva dan Lula langsung menghentikan tawanya.
"Kenapa kau harus pergi Nona? Kau menyukainya sedari dulu," Lula menatap wajah Neva yang sayu. "Apa kau ingat... ketika kau diam-diam memperhatikannya dari jarak yang jauh di antara banyaknya orang? Apa kau ingat, ketika kau diam-diam mengambil fotonya, apa kau ingat ketika kau berkesempatan bertemu dengan dia secara langsung dan begitu dekat meskipun dengan cara yang memalukan, kau menabraknya. Lalu... banyak yang terjadi antara kalian setelah itu bukan? Kenapa sekarang Nona mau pergi?"
Neva mengangguk dan membalas tatapan mata Lula tetapi tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak mungkin bercerita tentang masalah sebenarnya.
"Huum, terima kasih, Lula. Tapi aku sudah memikirkan semuanya," jawab Neva.
Tak lama. Seseorang datang dan tersenyum dari jauh, dia melambai.
"Astaga, hatiku," gumam Neva sambil memegangi dadanya yang berdegup. Lula menahan senyumnya. "Lula kau harus tetap bersama ku," Neva menatap Lula dengan tajam.
"Laksanakan, siap menjadi obat nyamuk," jawab Lula.
Neva dan Lula segera berdiri ketika Vano semakin mendekat. Kemudian, mereka berdua membungkuk untuk memberi salam pada Vano.
"Tidak perlu begitu sopan, santai," ucap Vano. Kemudian, mereka bertiga duduk.
"Kak Vano sengaja kesini?" Tanya Neva.
"Iya," jawab Vano. "Besok kau wisuda bukan? Kau mau hadiah apa?"
"Emmm, hahaa aku belum memikirkannya," jawab Neva. Vano mengangguk dengan senyum.
"Aku akan mengabulkan apapun yang kau inginkan," ucap Vano.
"Waah, sepertinya keren," ujar Neva.
"Tentu. Bukan hanya kantong Doraemon saja yang bisa mengabulkan semua keinginan," jawab Vano.
"Oh ya? Apa aku bisa mencobanya sekarang?" Tanya Neva dengan semangat dan di jawab anggukan oleh Vano.
"Ummm, aku ingin ice cream," ucap Neva. Dan Vano langsung mengangkat tangannya.
"Hhaa... kau curang," ujar Neva dengan tawa.
"Curang dari mana? Lihatlah ice cream akan segera datang," jawab Vano.
Lula berpura-pura menjadi patung dan tidak mendengarkan apa-apa.;
Tiba-tiba, ponsel Neva berdering. Ada panggilan masuk dari Yuna. Sebuah panggilan video.
"Kak Yuna," gumamnya dan kemudian dia menoleh ke arah Vano. Lalu, Neva segera menggeser tanda hijau.
"Hai sayang," sapa Yuna. Neva tersenyum dan melambai. "Kemarilah...."
"Kemana?"
"Kita makan bareng, okey. Aku akan membagikan lokasinya. Kau harus kesini," ujar Yuna. Neva melirik ke arah Vano dan kemudian dia mengarahkan kameranya pada Vano.
"Oh, kau bersama Vano?" seru Yuna di sebrang sana. Mendengar ucapan Yuna, Leo langsung membawa pandangannya pada layar ponsel milik Yuna. Benar... ada Vano di sana.
Yuna menatap Leo dan menyentuh tangannya.
"Jika kau tidak suka, aku tidak akan menyuruh mereka ke sini," ucap Yuna. Leo mengalihkan pandangannya pada Yuna, matanya begitu lembut ketika menatap Yuna.
"Undangan saja, tidak masalah," Jawab Leo. Yuna tersenyum.
____
Catatan Penulis ( Curhatan 🥰 )
Maafin Thor Yach teman... karena akhir - akhir ini Up-nya selalu telat. 🙏
Pada mu....
Like, Koment, Vote jangan lupa ya kawan. Luv luv 🥰🥰
Thor lagi rindu ama pembaca yang belum nongol di koment. Kemanakah kalian...🥺 Aku rindu.
"Jangan rindu, berat. Biar aku saja" ucap seseorang yang terkenal.
"Bang maaf, anda salah lapak. Silahkan kembali." Ujar Thor dengan lirikannya yang tajam.