
Akhirnya, dia membuka pintu, melangkah masuk ke dalam rumah. Bayangan Yuna ada di setiap sudut rumah ini. Di ruang telefisi, tempat makan, tangga dan kamar.
Pelan, dia melangkah dan membuka kamarnya. Tidak akan ada Yuna di kasurnya, tidak akan ada seseorang yang membuat kelucuan di rumahnya. Dia berjalan dan membuka lemari baju Yuna, baju-bajunya masih menggantung di sana. Leo mengulurkan tangan untuk menyentuhnya, bayangan Yuna terlintas nyata di benaknya, wajah cantiknya, tawa, dan cerianya, Yuna yang cerewet dan lucu. Mata Leo kemudian melihat sesuatu yang terbingkai di lemari Yuna. Sebuah lukisan wajah, wajah dirinya yang tengah tidur. Leo mengulurkan tangan dan mengambilnya. Dia kembali menitikkan air mata ketika melihat ini, dan dia semakin menangis ketika membaca tulisan yang berada di sebelah gambar dirinya.
'Aku tidak tahu berapa kali aku kecewa, berapa kali aku terluka, berapa kali aku patah hati, berapa kali aku menangis karena diri mu. Namun, tetap saja aku ingin bersama mu. Leo... entah kapan kau akan mengerti perasaan ku.'
Leo mengusap gambar dirinya dengan tulisan cinta Yuna untuknya, air matanya tak terbendung. Dia ingin menghukum dirinya sendiri atas semua kesalahannya. Kehilangan lagi, ditinggalkan lagi, patah hati lagi. Leo menertawakan dirinya, dia merasa bahwa dirinya benar-benar bodoh. Yuna pergi karena salahnya, dia tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri namun tetap saja, Yuna telah pergi dari dia.
Dia kemudian mengeluarkan Hpnya dan membuka galerynya. Dia hanya punya satu gambar Yuna, itu adalah vidio ketika Yuna masak sambil bernyanyi, vidio yang dia dapatkan secara diam-diam. Dia menonton dan terus mengulanginya, dia tertawa namun juga menangis.
***@***
Yuna telah sampai di kotanya. Langkahnya gontai menyusuri jalanan, menyaksikan lampu-lampu jalan di malam hari. Menyaksikan beberapa orang yang tengah tersenyum, tertawa, saling bicara, dan memiliki kebahagian mereka masing-masing.
Yuna tersenyum memperhatikan memperhatikan setiap orang yang dia lewati. Meskipun saat ini dia merasa sedih namun itu tidak mengambil senyum dari bibirnya, meskipun sebenarnya senyum itu dia paksakan.
Dia pernah merasakan bahagia, bahagia karena mencintai dan saat ini, dia merasa sedih, sedih karena patah hati. Keduanya itu membuat sangat bersyukur.
Jika pada akhirnya dia dan Leo berpisah, itu tidak membuatnya menyesal telah mengenalnya. Leo adalah orang yang membuatnya berani memiliki harapan, meskipun pada akhirnya dia harus kecewa dengan harapannya.
Yuna tidak pulang kerumah. Dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan pada Ayahnya. Apakah dia akan di maafkan? Dia kemudian memesan taksi.
"Adel... aku ada di depan asrama mu," ucap Yuna setelah dia keluar dari taksi dan menghubungi Adel. Tanpa menjawab, Adel segera berlari keluar asramanya. Dia meminta izin pada security untuk membukakan gerbang utama. Ini sudah larut malam.
"Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Aku kalah, dan ini adalah akhir dari batas waktu itu. Semuanya berakhir," Yuna menjawab dengan pelan. Dia tidak mampu lagi menangis, air matanya sudah mengering dan bahkan telah habis.
Adel mengajaknya masuk dan dia tidak berbica apa-apa. Dia hanya menguatkan Yuna. Mereka tidur di ranjang yang sama di kamar asrama Adel. Yuna mencoba memejamkan matanya namun tidak bisa. begitu juga Adel, ia tidak menyangka jika Yuna akan kalah, dia tidak pernah berpikir bahwa Leo akan melepasnya.
"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada Ayah, Del," Yuna berucap samar. Adel memiringkan badannya dan memeluk Yuna.
"Aku akan menemani mu. Ini bukan salah mu, dia yang salah. Jika nanti Paman menghukum mu, aku akan berdiri paling depan untuk membela mu. Aku akan bilang semuanya pada Paman, apa tujuan Leo sebenarnya terhadap mu."
"Jangan lakukan. Ini salah ku, aku yang tidak pandai mengambil cintanya, aku yang terlalu bodoh membiarkan dia masih saja memikirkan Kiara."
"Ini bukan salah mu Na. aku tahu kau sudah sangat berusaha, aku tahu kau sudah sangat berjuang untuk mendapatkan cintanya. Kita pelan-pelan menjelaskanya pada Paman. Besok, aku akan menemani mu, jangan terlalu dipikirkan. Aku bersama mu," Adel menyandarkan kepalanya di pundak Yuna, tangannya memeluk Yuna, ia mencoba memberi kekuatan untuk Yuna.
***@***
Pagi harinya...
"Kak... Papa ingin bertemu," suara Neva terdengar sedih di sebrang sana.
"Iya," jawab Leo singkat dan memutus panggilan.