
Berita langsung meledak tentang kejadian penyamaran dan aksi kejar-kejaran yang terjadi di kampus Neva. Mengelak tidak memiliki hubungan? Bagaimana bisa? Banyak sekali Vidio yang di unggah dan cuitan mahasiswi yang bersaksi untuk kejadian itu. Mereka bahkan meng-upload jaket gendut sebagai bukti.
Mak Cuty yang bersiap mengomelinya hingga pingsan langsung menelan semua kekesalannya. Dia menjadi begitu manis dan bahkan dia yang maju meminta maaf pada sutradara yang marah karena ketidak profesionalan Raizel.
Mama langsung mengetahui berita ini dan langsung menghubungi Neva. Pada akhirnya Mama tahu... mereka hanyalah sepasang remaja yang masih begitu manis untuk menjalani masa muda dengan sangat indah dan menyenangkan dengan cara mereka.
Raizel, Mama langsung mencari profil sosok ini di sistem pencarian di internet. Raizel, selain artis peran yang tengah naik daun ternyata dia adalah putra dari pengusaha tambang.
"Jaga nama baik keluarga Nak," hanya itu pesan Mama pada putrinya.
"Baik Ma," jawab Neva. Kemudian, dia mengirim pesan pada Raizel.
"Hey bodyguard gila... kau semakin membuat hari-hari ku suram," pesannya untuk Raizel. Tidak ada balasan. Karena saat ini Raizel sudah sibuk menjalani syuting untuk film terbarunya.
_Mama dan Papa datang pukul 20:00 Mereka membawa banyak hadiah untuk Yuna. Dari bantal empuk hingga alat pijat khusus untuk ibu hamil.
Setelah berbincang beberapa saat, Papa dan Leo langsung tenggelam di ruang belajar. Orang tua dan anak itu sama-sama gila kerja.
Hanya tinggal Mama dan Yuna yang berada di ruang tengah. Mereka melakukan Video call pada Nora di sana.
"Kakak... maaf belum bisa kesana," ucap Yuna pada Nora dan Dimas.
"Tidak apa-apa. Kau tidak boleh kecapekan, okey," jawab Nora yang dijawab anggukan oleh Yuba.
"Hei, kau ngidam apa?" tanya Nora penasaran. Yuna tertawa renyah mendengar pertanyaan itu, masalahnya... dia hampir tidak menginginkan apapun. Mereka berbicara beberapa menit dan kemudian menyudahi.
Tangan penuh kasih milik Mama, memijat lengan Yuna pelan. Kasih sayangnya pada Yuna semakin melimpah dengan adanya calon cucu di rahim Yuna. Mama tak henti hentinya bersyukur melihat kehidupan putranya saat ini. Mama yang hampir frustasi karena Leo yang dulu begitu keras kepala tentang perasaannya pada Kiara.
Mama menatap Yuna dengan kelembutan di mata teduhnya.
"Apa ada sesuatu yang kau inginkan sayang? Atau apa ada yang ingin kau makan?" tanya Mama pada Yuna. Tangan Mama berpindah untuk mengusap perut Yuna lembut. Hatinya semakin bahagia.
"Tidak ada Ma," jawab Yuna.
"Apa kau mual atau pusing di pagi hari?" tanya Mama lagi.
Yuna menggeleng, "Tidak," jawabnya. Dia tidak merasakan apapun di pagi hari. "Apa kau tiba-tiba menyukai sesuatu dan tidak menyukai sesuatu?" lanjut Mama bertanya dan dijawab gelengan lagi oleh Yuna. Mama tersenyum lebar dan bersyukur bahwa menantunya tidak mengalami ngidam yang aneh dan menyakitkan.
"Jika kau menginginkan sesuatu, langsung bilang sama Lee, suruh dia mencarikannya untuk mu...," ucap Mama dengan semangat. "Aaaa, Yuna seharusnya kau menginginkan sesuatu yang sedikit sulit agar Lee berjuang mencari keinginan mu. Hahaa anak itu pasti kebingungan," Mama berkata dengan tawa pelan.
"Yuna juga inginnya seperti itu Ma," ucap Yuna dengan mimik muka sedih. "Biar bisa ngerjain dia, haha...," lanjut Yuna dan mereka berdua tertawa kemudian toss.
__Di sana. Di jalanan yang ramai. Seseorang berdiri dengan memencet sesuatu yang ada di tangannya.
"Aku sudah ada di depan," pesannya pada gadis yang dia tunggu.
''Okey," balas sang gadis. Dan tak lama sang gadis keluar dari cafe, dia baru saja mengikuti bimbingan.
"Apa aku membuat Kakak menunggu?" tanyanya dengan senyum.
"Tidak," jawabnya. Kemudian, dia membukakan pintu mobil untuk sang gadis.
Mobil melaju dengan santai. Mereka sesekali menyahut lagu dari audio yang di putar di dalam mobil. Lagu Alone dari Alan Walker.
Lost in your mind (Tersesat di benak mu)
I wanna know (Ku ingin tahu)
Am i losing my mind? (Apakah aku gila?)
Never let me go (Jangan pernah lepaskan aku)
"Kau mau kemana?" Tanyanya pada sang gadis.
"Kak Vano mau kemana?" jawabnya balik bertanya.
"Neva mau kemana?" Mereka saling melempar pertanyaan dan kemudian tertawa. "Serius, kau mau kemana?"
"Hmmm. Kita...," Neva berfikir sejenak karena memang dia tidak ada tujuan khusus. Dia ingin mengusulkan 'nonton' tapi tidak... itu terlalu romantis untuk dia yang akan meninggalkan seseorang ini. Ia membawa pandangannya pada Vano, menatapnya dari samping dan melengkungkan bibirnya. Tidak akan lama dia bisa menatap wajah ini, wajah yang dia sukai sekian lama dan berakhir dengan menyerah. Tak apa... dia cukup bahagia telah mengenalnya apalagi jatuh cinta padanya. Dia tahu, dia akan pergi, jadi sebisa mungkin dia akan terus bahagia bersama seseorang yang duduk di sampingnya.
Lagu Alone masih menemani perjalanan mereka.
If this night is not forever (Jika malam ini tak abadi)
At least we are together (Setidaknya kita bersama)
I know i'm not alone (Aku tahu aku tak sendiri)
I know i'm not alone (Aku tahu aku tak sendiri)
"Uhum," Vano terbatuk, "Sudah puas memperhatikan ku?" tanyanya tanpa menoleh.
"Eh," Neva menjadi gelagapan dan langsung berpaling. Bibirnya berkerut menahan senyum malu karena ketahuan memperhatikan Vano.
"Jadi kau mau kemana?" tanya Vano lagi.
"Hmmm," Neva masih berpikir. Dia menaikkan satu alisnya. "Bagaimana jika kita ke taman bermain?" Neva memberi usulan.
Vano mengangguk, "Okey," jawabnya. Dia melihat jam di pergelangan tangannya. Pukul 20:00 tidak masalah. Mungkin sudah tutup, tapi tidak masalah, dia bisa menyewanya malam ini.
"Bulan ini... taman bermain itu buka hingga 23 jam," ujar Neva.
"Oh ya?"
"Huum," jawab Neva dengan menganggukkan kepalanya pelan. Mobil Vano segera melaju menuju tempat yang mereka sepakati.
Mereka masuk setelah mendapatkan tiket.
"Kau mau naik apa?" tanya Vano pada Neva.
"Apa saja... aku cukup berani naik wahana ekstrim," Neva bersemangat.
"Okey, Ayo," Vano membawa Neva pada permainan Roller Coasteratau Jet Coaster. Satu kereta Roller Coasteratau membawa 12 pengunjung.
"Aaaaaaaaaaa....," teriak sekencang-kencangnya. Tangan Neva mencengkeram lengan Vano dengan begitu kuat. Sementara Vano memilih memejamkan matanya ketika Roller Coasteratau tepat pada ketinggian 360 derajat dan meluncur begitu saja ke bawah.
"Aaaaaa...," berteriak sekencang-kencangnya.
Dan selesai.
"Hahaaa... menegangkan," seru Neva dengan tawa. Dia sering ke sini bersama teman-temannya dan ini terasa berbeda, karena saat ini... dia bersama dengan orang yang dia sukai.
Aku akan membuat kenangan indah bersama mu, sebelum aku pergi. Mari nikmati malam ini dengan sangat bahagia.
Vano memberinya minum setelah membuka tutup botolnya. Mereka duduk berdampingan di bangku.
"Kau siap lagi?" tanya Vano.
"Siap dong," jawab Neva dengan semangat. Kemudian, dia mengeluarkan ponselnya dan membuat Video. Dia melambai pada Vidionya. "Hai... malam yang menegangkan," ucapnya pada awal Vidio yang dia buat. "Kenapa?" lanjutnya. "Itu karena... saat ini... aku bersama...," dia kemudian mengarahkan kamera ponselnya pada Vano. "Jeng... jeng... barengan Kakak tampan yang mempesona," ucapnya. Vano tersenyum ke arah kamera dan melambaikan tangannya.
"Hai, jelek...," ucapnya. Neva langsung melotot mendengar itu, tetapi kemudian ia tertawa.
Kemudian, mereka berdua naik wahana Kora-kora.
Wahana dengan bentuk kapal bajak laut. Kapal ini perlahan lahan akan berayun, semakin lama ayunannya akan semakin tinggi hingga kemiringan 90 derajat. Mereka berdua memilih tempat paling belakang, karena tempat paling belakang adalah tempat paling ekstrim pada permainan satu ini.
"Apa kau takut gadis?" tanya Vano sebelum permainan dimulai.
"Tidak akan," jawab Neva penuh percaya diri.
Kemudian, wahana perlahan berayun. Pelan, sedikit kencang, lebih kencang, semakin kencang, dan sangat kencang.
"Aaaaa...," Neva mulai berteriak. Namun ketakutannya sedikit berkurang ketika tangan hangat itu menggenggam jemarinya. Wahana ini semakin kencang, seperti melempar kapal laut ke atas lalu terhempas ke bawah, sehingga terlihat akan lepas dari tempatnya. Tidak perduli lagi... ini menakutkan. Neva memeluk Vano dengan erat. Dia memejamkan matanya. Angin malam terasa sejuk menyusup pada hatinya, angin? Entahlah, sesuatu yang lembut yang tak teraba seolah memenuhi hatinya. Di antara teriakannya ada rasa nyaman dalam dirinya, di antara teriakannya ada rasa bahagia dalam hatinya. Ini indah...
Permainan selesai. Wahana menelan perlahan. Dengan canggung, Neva melepaskan pelukannya pada lengan Vano. Namun, Vano masih menggenggam jemarinya. Tidak menolak, Neva membiarkannya. Hingga wahana benar-benar berhenti.
"Huff...," Neva bernafas dengan lega. Dia tidak pernah naik ini tepat dibelakang, biasanya dia dan teman-temannya berada di depan. Karena sejujurnya mereka sedikit ketakutan. Sensasi yang di timbulkan berbeda, antara berada di tengah dan berada tepat diujung.
Vano memperhatikannya dengan senyum. Kemudian, tangannya mengulur untuk menyentuh kening Neva.
"Kau berkeringat," ucapnya perhatian dan mengusap kening Neva pelan.
Mata Neva memperhatikannya dengan sendu, wajah tampan yang dia sukai. Sikap dewasa yang ia kagumi. Dalam hati... dia menginginkannya, tapi... tidak, ini sulit. Ucapnya mencoba menasehati hatinya yang seolah mencoba memberontak pada pemiliknya.
"Eh, hahaa... ternyata menakutkan," ucapnya canggung dan langsung menunduk.
Kemudian, mereka keluar dari wahana itu. Vano melepaskan genggaman tangannya. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak dengan diam. Neva berjalan di sampingnya, dia mengigit bibirnya menahan degupan jantung yang berdegup kencang.
"Kau mau naik apa lagi?" tanya Vano. Mereka masih terus berjalan.
"Tidak ada lagi. Aku mulai mual," Neva menyerah pada dua permainan. Vano terkekeh dan mengangguk. Mereka masih berjalan beriringan, sesekali tangan mereka saling bersentuhan. Dan... hujan... Vano segera meraih tangan Neva dan membawanya berlari mencari tempat untuk berteduh. Mereka berdiri di antara banyak orang yang juga berteduh. Mereka berada paling pinggir sehingga, air hujan masih bisa mengenai Vano dan Neva. Vano membalikkan badannya untuk menutupi Neva, ia membiarkan punggungnya terkena hujan. Neva dalam dekapannya saat ini.
"Di antara banyaknya orang yang berdiri disini, aku merasa hanya ada aku dan kamu. Diantara banyaknya orang yang berteduh di sini, aku merasa hanya ada mataku dan matamu yang menyatu dalam pandangan mata yang syahdu. Suara hujan tak lagi terdengar di telingaku, aku hanya mampu mendengar detak jantungku dan juga detak jantungmu. Pelukan hangatmu seolah membawaku pada dunia yang hanya ada aku dan kamu," Neva menyandarkan kepalanya di dada Vano. Telinganya mendengar irama indah yang dihasilkan oleh detakkan jantung yang menderu.
"Kau kedinginan?" tanya Vano. Ia menunduk untuk berbicara pada Neva.
Neva menggeleng pelan, "Tidak," jawabnya samar. Degupan jantungnya begitu dahsyat. "Bisakah kau merasakan ini Tuan muda?"
"Punggung Kakak basah," ucap Neva.
"Tidak apa-apa," jawab Vano. Sudut bibir Neva terangkat dan membentuk sebuah senyuman.
"Ini begitu indah, merasakan hangatnya pelukanmu pada tubuhku. Kau membuatku terus merona dengan hangat hembusan nafasmu yang terkadang membelai telingaku. Aku tahu ini tidak akan lama, aku tahu ini hanya fatamorgana, tak apa aku tetap ingin menikmatinya sebentar saja."
___ Di rumah Tuan Muda Lee
Musik indah Chopin - Spring Waltz mengalun mendayu penuh perasaan yang romantis, mengiringi dua insan yang saling memeluk dan menggerakkan kaki seirama. Yuna menyandarkan kepalanya di dada Leo.
Alunan musiknya sangat indah tapi entah kenapa ini terdengar bagai alunan tangis yang menyayat di hati Yuna. Alunan musiknya sangat lembut, namun ini terdengar bagai alunan rindu yang tak bertepi. Rindu yang menyiksa...
Yuna pernah di tinggal pergi selama tiga hari, dulu. Dan itu sangat menyedihkan, setiap detik ia lewati dengan rasa rindu yang menyayat. Pada saat ini, rasa ini lebih dari itu. Entah kenapa, hati Yuna diliputi kecemasan dan kekhawatiran yang luar biasa. Sejujurnya ia tidak ingin Leo pergi.
Telapak tangan hangat Leo menggenggam jemarinya. Sedangkan tangan yang satu, semakin mendekapnya. Ia menunduk dan mengecup rambut Yuna.
"Sayang, aku tidak akan lama," Leo berbisik lembut di telinga Yuna. Dia bisa merasakan helaian nafas Yuna yang memberat. "Jika jadwal satu minggu bisa ku selesaikan dalam tiga hari maka mungkin, jadwal empat hari akan ku selesaikan dalam satu hari," ucap Leo mencoba membuat suasana hati Yuna tenang. Namun, Yuna diam dan tidak menjawab apa-apa. Dia merasakan ketakutan dalam dirinya. Tetapi dia tidak tahu dari mana rasa takut ini?
Leo ingin menyudahi dansanya tetapi Yuna enggan. Ia masih menyandar kepalanya di dada Leo dan membalas genggaman tangan Leo padanya. Dia bergerak mengikuti alunan musik indah yang diputar di kamar mereka.
"Kau menangis?" tanya Leo setelah menyadari dadanya basah. Yuna diam dan semakin memeluknya. Dia tidak memberi jawaban. Mulutnya seakan membisu dan terasa terkunci untuk mengucapkan sesuatu. Ia hanya mampu menangis. Kenapa hati ku? tanyanya pada diri sendiri.
Saat ini, musik berganti. Frederic Chopin - Mysterious Forest. Alunan musiknya semakin mendayu. Seolah menggenggam hati yang terluka.
"Jangan menangis," ucap Leo penuh kasih. Yuna semakin sesenggukan di dadanya.
Rasa apa ini? Kenapa aku teramat sedih. Seakan, dia tidak akan pernah kembali lagi. Yuna menggenggam erat jemari Leo. Jemari itu seolah berkata, jangan pergi, ku mohon jangan pergi.
"Aku tidak akan tenang jika kau begini. Sayang, ku mohon jangan menangis," ucap Leo dengan suara seraknya. Kemudian, ia mengangkat Yuna dan membawanya ke sofa. Leo memangkunya.
Dia mengusap air mata Yuna dengan penuh kasih dalam setiap sentuhannya. Rasa cintanya tidak bisa digambarkan bahkan jika seluruh warna pelangi ditumpahkan. Mereka berdua saling mengagumi dengan rasa yang tak terukur, dengan kasih yang tak bertepi.
"Aku akan segera kembali, aku janji" ucap Leo dan mengecup kening istrinya. Dia menjadi teramat sedih melihat Yuna begini. Apa ini karena Yuna tengah hamil? Batin Leo. Pukul dua belas malam Yuna baru bisa memejamkan matanya itu setelah Tuan suami membacakan banyak dongeng untuknya. Leo mendekapnya hangat dan memejamkan matanya.
__Pukul empat pagi... Yuna terbangun lagi oleh suara dari kamar mandi. Dia segera berlari dan langsung menuju Leo yang membungkuk di depan wastafel. Ini seperti kemarin pagi... Leo muntah dan keluar keringat dingin. Yuna memijit tengkuk Leo pelan. Dia diam tidak mengomel seperti kemarin. Dia menyalahkan dirinya karena Leo menjadi seperti ini karena dirinya, dia yang memasak mie instan itu untuk Leo. Andai... malam itu, dia tidak memberi izin Leo untuk mengkonsumsi mie instan maka mungkin, Leo tidak akan seperti ini.
"Sayang, kau masih muntah. Bagaimana jika aku menghubungi dokter?" Tanya Yuna. Dia memeluk Leo yang terpejam. Leo menggeleng.
"Apa kau merasa pusing seperti kemarin?" Tanya Yuna lagi yang di jawab anggukan oleh Leo. Kenapa mie instan saja membuat mu begini? Batin Yuna dengan sedih.
___
Catatan Penulis
Yang mau lihat Juliet Rose yach... udah lulus revisi. Ada di Bab Juliet Rose 2 ama Diam.
Biasa yach... Pembaca kesayangan. Kita goyang jempol, Asiikk... 😘😘 Tengkyu. Luv.