
Sebelum mengunjungi tempat paling romantis di negara Prancis. Vano dan Neva lebih dulu mengunjungi museum Louvre, di Paris, Prancis. Museum yang berdiri megah dengan bangunan khas Eropa dan piramida kaca yang menawan membuat Museum itu terlihat sangat cantik. Di dalamnya terdapat lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci.
Mereka beberapa kali mengambil gambar di depan piramida kaca, setelah itu langsung menuju lokasi aula dimana lukisan Monalisa berada.
"Ternyata sangat padat," ujar Neva saat mereka telah sampai di aula dimana lukisan Monalisa di pamerkan. Lukisan itu terlihat kecil olehnya karena ia melihat dari kejauhan dan belum bisa mendekat. Banyak orang berdesak-desakan ingin maju melihat lukisan Monalisa dari jarak yang dekat. "Ayo kita kesana ...." Neva menggoyangkan lengan Vano dengan manja. Adalah suatu kebahagiaan bisa melihat lukisan paling terkenal di dunia dari dekat. Namun Vano nampak enggan. Bukan dia tidak mau menemani Neva, ia hanya tidak ingin Neva berdesak-desakan dan ia khawatir jika Neva sampai terhimpit.
"Lihat dari sini saja sudah cukup, Sayang," ujar Vano dengan lembut. Ia mencoba membujuk Neva agar mengurungkan niatnya untuk mendekat ke arah lukisan Monalisa.
"Beda ... dari sini terlihat sangat kecil, aku bahkan kesulitan untuk memotretnya," Neva cemberut menatap Vano. Ia masih menggoyangkan lengan Vano, berharap laki-laki itu bersedia menemaninya menerobos kerumunan.
Tangan Vano mengulur dan membenarkan rambut Neva, meletakkannya di atas telinga.
"Kenapa kau ingin mengambil foto Monalisa?" Kini tangan itu berpindah untuk mengusap pipi Neva. "Sedangkan ... senyummu bahkan lebih indah dari dia."
"Bohong," ujar Neva masih cemberut tapi dengan wajah yang merona. Ia memukul dada Vano. "Kau hanya mencoba merayuku."
"Sungguh. Senyuman Monalisa tak secantik senyummu," ucap Vano dengan menatap sepasang mata Neva. Wajah Neva semakin bersemu. Bibirnya terangkat membentuk senyuman malu.
Vano kemudian memperlihatkan botol yang ada di tangannya. Minuman rasa strawberry.
"Lihat ini," ujarnya memperlihatkan minum berwarna merah cerah.
"Kenapa?"
"Air dalam botol ini awalnya berwarna putih, hanya saja ... ia tersipu melihat senyummu. Alhasil, ia berubah menjadi merah cerah." rayu Vano lagi menirukan rayuan Abu Nawas. Membuat Neva langsung tersenyum lebar dengan rona di wajahnya. Ia langsung memeluk Vano dan menyembunyikan wajahnya di dada Vano.
"Kau sungguh pandai merayu," ujarnya. "Ok, kita tidak kesana," pada akhirnya Neva membatalkan niatnya. Vano membalas pelukannya. Seorang laki-laki itu harus pandai merayu dan menyenangkan hati wanita. Bettul??
"Kapan-kapan kita kesini lagi. Dan aku janji akan membuatmu berdiri tepat di depan lukisan Monalisa," ujar Vano. Neva mengangguk. Kemudian mereka berkeliling museum melihat patung-patung dan peti mumi Mesir. Setelah itu ... mereka berkunjung ketempat yang kata orang adalah tempat paling romantis di dunia. Menara Eiffel. Mengunjungi menara Eiffel bukan hal baru bagi mereka, mereka berdua sudah berkali-kali berkunjung kesini tapi ini menjadi berbeda karena sebuah tujuan memadu kasih.
"Diam disini, biar kuambil fotomu," ujar Vano saat mereka sampai di lokasi menara Eiffel. Dia kemudian melangkah mundur dan membidik Neva dalam kamera di tangannya.
Dia mengambil gambar Neva dalam berbagai gaya.
Neva berlari kecil kearahnya dan meminta kameranya. Neva ingin melihat hasil jepretan Vano.
"Keren," ujarnya. "kau mengambil gambar dengan tepat. Antara objek, bangunan, jalan dan langit," puji Neva. Vano mengangkat tangannya dan meletakkannya di pundak Neva. Merangkul gadis itu dengan mesra.
"Bukan aku yang pandai mengambil gambar, foto itu indah karena kamu yang cantiiik," jawab Vano. Ia melepaskan rangkulannya dan mencubit kedua pipi Neva dengan gemas. "Muach," ia kemudian menunduk dan mencium bibir Neva singkat.
Wajah Neva menjadi memerah, antara malu dan bekas cubitan dari Vano. Dia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Vano. Neva mendongak menatap wajah suaminya.
"Gombal," ujarnya dengan rona dikedua pipinya.
Vano tersenyum dan kembali mencubit pipi Neva dengan gemas.
"Ummm, kau memang cantik, sayangkuu ...." ujarnya. "Ayo kita membuat foto bersama."
Neva mengangguk dan kemudian melepaskan satu pelukan tangannya. Ia mengarahkan kamera pada dirinya dan Vano. Ia menjinjit dan membuat ciuman di pipi Vano. Satu foto terbuat. Lalu kini Vano yang berganti mencium pipi Neva. Mereka membuat foto dengan banyak gaya romantis.
"Sayang, apa aku tampan?" tanyanya saat mereka berdua melihat hasil jepretannya.
Neva terkekeh dan menjinjit untuk berbisik.
"Tapi kau sangat tampan, suamiku." setelah mengucapkan itu ia langsung berlari menjauh dari Vano.
Vano membeku beberapa saat mendengar bisikan itu. Wajah tampannya bersemu merah.
"Hai, tunggu aku," ia berseru dan kemudian berlari mengejar istrinya. Dengan tawa bahagia mereka berkejaran diantara banyak orang. Dan ... Tertangkap. Vano melingkarkan kedua tangannya di pinggang Neva. Mengangkat gadis itu lalu memutarnya. Neva tertawa dengan rasa bahagia yang membanjiri hatinya. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Vano. Dan saat putaran itu selesai, dua bibir saling bertemu, terpaut indah dan mesra.
"Aku mencintaimu," ucap Vano setelah menyudahi ciumannya.
"Aku sangat mencintaimu," jawab Neva. Mata mereka bertemu, menghantarkan rasa pada seluruh panca indera. Saling menatap dengan bait-bait cinta yang tak terungkap lewat tutur kata. Cinta ini begitu indah. Mereka berciuman sekali lagi. Sungguh benar pepatah itu, saat orang tengah kasmaran maka dunia hanya milik berdua.
Setelah puas jalan-jalan mereka kembali ke hotel.
Mereka makan malam romantis disana. Duduk berhadapan di meja panjang. Neva terlihat cantik dalam balutan gaun karya designer ternama di negara I.
Sementara Vano terlihat elegan dalam balutan kemeja, jas dan celana bahan. Makanan khas Eropa tersaji disana. Dengan diiringi alunan indah dari gesekan biola, mereka menikmati sajian istimewa.
Setelah selesai makan, mereka kemudian berdansa. Saling berpelukan tanpa jarak. Menggerakkan kaki dengan seirama.
"Sayang, kau sangat cantik," puji Vano. Ia menatap lekat wajah cantik istrinya.
Neva tersenyum. Entah berapa kali Vano memujinya tapi tetap saja, itu membuat jantungnya berdebar. Kedua manik matanya membalas tatapan Vano dengan lembut.
"Terima kasih," jawab Neva. "Aku cantik untukmu."
Kini Vano yang tersenyum, "Harus," ujarnya. Kemudian alunan instrumen berganti. Sebuah nada yang membuat mereka saling diam tanpa kata. Hanya ada tatapan mata yang semakin dalam, dengan tangan yang saling mendekap satu sama lain.
Instrumen dari lagu Endless love_Ost The Myth adalah instrumen yang menemani saat Vano meminta gadis itu untuk tetap berada disisinya dan saat ia mencium Neva untuk yang pertama kali.
Tak ada kata, tidak juga rayuan bak pujangga. Namun bintang-bintang seolah menyapa dengan sinarnya. Degup jantung itu begitu dahsyat menggocang jiwa. Vano menunduk, merendahkan kepalanya lalu mencium bibir Neva dengan lembut. Tangannya semakin erat memeluk wanita miliknya.
Hanya ada nada-nada cinta saat dua bibir itu bertemu. Saling menyesap, menggelitik penuh candu. Lidah mereka bertemu, bersatu lalu tenggelam dan hanyut dalam gelora gairah yang mulai memijar.
Kemudian, ia membawa wanitanya ke kamar. Merebahkannya di ranjang lalu menikmati surga dalam penyatuan mereka.
________
Catatan Penulis π₯°π
Up bonus Abang dan dedek π₯³π₯³π₯³ Sttttt dilarang berisik lagi ada yang bulan madu π€
Ok. Sekian Up bonus dari Author π₯°π Semoga sedikit mengobati rasa rindu teman-teman ya. Terima kasih semuanya π₯°π Rindukanku ... Nantikanku di Sebenarnya Cinta season dua π₯³ππ₯° Ilupyu.
"Apa?? Bonus Up-nya kurang??"
Nanti kita sambung di SC 2 Yach .... Ok. Muach.
Sayaaang temen-temen semua. Lupe sejagad raya. Sampai ketemu di SC 2.