Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 35. First Kiss


Ketiga gadis itu masih saja asik ngobrol sambil bercanda dengan Hendra hingga tak menghiraukan apapun di sekitar mereka sampai akhirnya . .


" Ikut aku !" Suara tegas Ilham mengagetkan mereka.


" Eh . . ? Tiara juga nggak kalah kagetnya saat tangannya ditarik agak kasar. Dengan terpaksa iapun ikut berdiri dan mengikuti arah langkah tangan yang menariknya.


" Ra !" teriak Hesti.


" Udah biarin aja, Tiara nggak akan kenapa-kenapa kok ". ujar Hendra menahan langkah Hesti yang berniat mengejar mereka.


Dia sudah kenal baik sifat sahabatnya itu. Dan juga tahu hubungan Tiara dengannya. Sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Tinggallah mereka bertiga melanjutkan obrolan yang tadi sempat terganggu.


Tiara sendiri bingung dengan tingkah Ilham. Tangannya terus saja dipegang sampai ke ruang OSIS yang kebetulan lagi kosong.


Ilham cepat menarik gadis itu masuk dan segera mengunci pintu dari dalam.


Tiara jadi panik melihatnya.


" Kak ! kenapa dikunci ?" tanyanya bingung.


Namun Ilham tak mempedulikan ucapannya.


Ilham segera mendekati gadis itu yang mendadak takut dan dengan pelan melangkah mundur. Namun terhenti karena terhalang dinding.


" Kak, mau ngapain ?" Tiara semakin gugup dibuatnya.


Sebenarnya Ilham tak bermaksud buruk kepadanya. Ia hanya kesal karena diabaikan oleh gadis itu.


Tiara sudah tak bisa kemana-mana lagi. Ilham semakin mendekat dan perlahan memajukan wajahnya di depan wajah Tiara yang sudah mulai berkeringat dingin.


Dengan cepat Ilham mengecup bibirnya sekilas membuat gadis itu menutup matanya.


Ditatapnya wajah Tiara yang sedang memejamkan mata.


Diam-diam ia menahan tawanya agar tak pecah saat itu.


" Aku nggak suka diabaikan. Ingat itu ". kalimat itu mendesis di telinganya Tiara. Terpaan napas beraroma mentol membuat bulu kuduk gadis itu mengambang.


Dengan perlahan Tiara membuka matanya.


Susah payah meraih kesadarannya kembali. Kemudian bergegas ke pintu dan keluar dari ruangan itu.


What ? ini ciuman pertamaku ?


Batin Tiara sambil memegangi bibirnya. Pipinya jadi merona mengingat apa yang barusan terjadi.


Ilham hanya tersenyum memandangi kepergian gadis itu.


Bel berbunyi.


Tanda waktu istirahat telah berakhir.


Tiara langsung menuju ke kelasnya. Duduk termangu dengan rasa yang sama, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Antara kaget, malu, kesal, dan suka bercampur aduk di benaknya.


" Ra, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Hesti yang mendadak muncul di belakangnya.


" Eh ng nggak apa-apa Hes . . " Tiara jadi gelagapan dibuatnya.


" Kenapa pipi kamu jadi merona gitu ?" tanya Hesti dengan tatapan yang penuh selidik.


" Hah ? masak sih ? ah mungkin karena lagi panas banget kali ya, makanya jadi merah begitu ".


Tiara susah payah mencari jawaban yang masuk akal agar tak ditanyai lagi oleh sahabatnya karena dia terlalu malu untuk menceritakan kejadian itu.


Dhilla juga sudah masuk ke dalam kelas.


Bergegas di dekatinya kedua sahabatnya itu.


" Ra, tadi kak Ilham marah ya ?"


" Hem . . .dia kesal banget karena tadi pagi gue cuekin, trus pas istirahat malah asik becanda dengan kak Hendra di kantin ".


" Oo gitu. Kirain ada masalah apa. Tapi kamu nggak diapa-apain kan, ng . . maksudnya nggak nyakitin kamu kan ?


" Iya nggak apa-apa kok ". jawab Tiara sambil memainkan bolpoin di tangannya sekedar mengalihkan ingatannya yang mulai mengingat kembali kejadian di ruang OSIS tadi.


" Syukurlah kalo nggak apa-apa".


Akhirnya Tiara bisa bernapas dengan lega.


\*\*\*\*\*