
Ponsel Yuna kembali berdering. Tuan Suami you are my sunshine , Leo kembali meminta panggilan Vidio tetapi Yuna tidak mau mengangkatnya. Dia membiarkannya, wajahnya masih merah padam dengan jantung yang berdebar.
"Sayang, aku minta maaf," Leo mengirim pesan padanya. Namun, Yuna tidak membalasnya, dia hanya membacanya saja.
Leo melakukan panggilan vidio lagi tetapi Yuna tidak mengangkatnya. Bukan karena dia enggan tapi dia hanya iseng dan ingin memberi hukuman pada Tuan suami yang memiliki permintaan gila, menurut Yuna. Membuka baju di depan layar ponsel adalah hal yang tabu untuknya, meskipun itu ia lakukan di hadapan suaminya sendiri.
"Sayang, apa kau marah? Aku minta maaf," pesan baru masuk lagi di ponsel Yuna. Lagi... Yuna hanya membaca pesan itu dan tidak membalasnya.
Leo berkali-kali menghubunginya tetapi tidak ada satu pun yang dia angkat. Yuna tidak tahu bagaimana setresnya Leo dengan sifatnya ini, dia tidak tahu bagaimana cemasnya Leo dengan ke usilannya ini, dia tidak tahu bagaimana khawatirnya Leo dengan kelakuannya ini.
Niat Yuna hanya iseng padanya tetapi Leo menjadi cemas dan merasa bersalah setengah mati.
Leo kemudian membuat panggilan pada supir Albar. Selama Leo berada di luar negeri, supir Albar di tugaskan untuk tetap tetap berada di rumah dengan dua security.
"Siap Boss," jawabnya setelah panggilan Leo terhubung. Leo mengucapkan perintahnya. "Baik Boss," jawab Albar patuh dan segera melangkah untuk ke dalam. Dia mengetuk pintu dan Alea segera membuka pintu untuknya.
"Maaf Nona, apa Nyonya muda ada?" Tanya Albar dengan ramah dan sopan.
"Oh, Nyonya muda ada di atas," jawab Alea. Kemudian, dia melihat ponsel Albar yang memperlihatkan wajah cemas Leo.
Albar meminta Alea untuk mengecek keadaan Nyonya muda. Dia memberikan ponselnya pada Alea. Tangan Alea mengulur dan menerimanya. Dia membawa ponsel Albar di tangannya. Matanya memperhatikan wajah Leo yang terlihat begitu tampan di dalam layar ponsel. Seperti ada sesuatu yang menyentil jantungnya, Deg. Ya Tuhan ada apa dengan ku? Batinnya.
Setelah sampai di depan kamar Yuna, dia dengan pelan mengetuknya.
"Permisi, Yuna," Panggilannya.
"Ya," jawab Yuna cepat. Saat ini dia tengah memeluk guling dan menunggu pesan dan telpon dari Leo. Dia beranjak dari ranjang dan membuka pintu kamarnya.
Ketika pintu kamar itu terbuka dengan pelan dan memperlihatkan wajah Yuna, betapa Leo mulai bernafas dengan lega, dia ingin melompat ke situ dan memeluk Yuna. Alea memperlihatkan ponsel di tangannya.
"Hai, Tuan suami...." Yuna melambai padanya. Leo ingin mencubit dan menggelikitik-nya. Bisa-bisanya dia tersenyum dengan manis tanpa rasa bersalah setelah membuatnya hampir mati karena cemas.
"Ambil ponsel mu," perintahnya dengan wajah tegas dan galak.
"Baik," jawab Yuna patuh. Kemudian, Leo memutus panggilannya di ponsel Albar.
"Terima kasih, Alea," ucap Yuna dan kemudian menutup pintu kamarnya pelan. Dia kembali masuk.
Alea membelai ponsel milik Albar. Dia menyalin nomor ponsel Leo. Kemudian, dia segera mengembalikan ponsel pada pemiliknya.
"Terima kasih Nona, Alea," ucap Albar sopan setelah menerima ponselnya kembali.
"Eh, kau tahu namaku?" Ucap Alea. Albar mengangguk dan menggaruk bagian kepala belakangnya.
"Itu... Nyonya muda sering menyebut nama anda," jelasnya dengan senyum malu-malu.
"Oh, okey. Selamat malam Tuan...." ucapan Alea menggantung. Dia menatap Albar.
"Albar," ujar Albar menyebut namanya.
"Selamat malam Albar," ulang Alea.
Albar mengangguk, "Selamat malam Nona Alea," jawabnya. Alea tersenyum dan segera kembali masuk ke dalam. Dia duduk di sofa di ruang tengah. Ia membuka kontak Leo dan melihat foto profilnya, di kontak itu... bukan foto Leo yang terpasang tetapi foto Yuna yang tengah memegang bunga Juliet Rose.
___ Di lokasi syuting Raizel. Pukul 20:30
"Bisa nggak adegan ini di hilangin?" Tanya Raizel pada Mak Cuty. "Harus bisa, aku nggak mau adegan ini," lanjut Raizel dan melempar naskah ditangannya.
"Ini sudah skenario-nya, kau tidak bisa main ubah-ubah begitu saja. Feelnya mana jika adegan ini di hilangin?" ujar Mak Cuty. Raizel diam. Penata rias memberi efek darah pada pipinya dan ujung bibirnya. "Hei, bukankah itu keuntungan buat mu, kau bisa mencium seorang gadis. Dia cantik, terkenal dan imagenya baik," lanjut Mak Cuty. Kemudian, asisten nya berbisik pada Mak Cuty.
"Dia sedang jatuh cinta," itu bisiknya. Mak Cuty tersenyum dan menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Raizel.
"Riasan mu susah selesai, pergilah," ujar Mak Cuty pada penata rias.
"Baik," ucap penata rias kemudian segera pergi.
"Jadi kau sungguh jatuh cinta pada putri konglomerat itu?" tanya Mak Cuty dengan suara pelan. Dia takut ada yang menguping.
"Sepertinya," jawab Raizel.
"Dengarkan aku. Ini hanya akting. Bibir mu hanya tinggal menabrak dan cup cup sedikit dan selesai. Itu akting," Mak Cuty mencoba membujuknya.
"Dua menit lagi," seorang kru melongokkan kepalanya untuk memberi tahu jika syuting akan di mulai dua menit lagi.
"Okey," jawab Mak Cuty dengan mengacungkan jempolnya.
Mak Cuty keluar dan hanya tinggal Raizel bersama asistennya.
"Menurut mu, apa mereka sudah pacaran?" tanya Raizel pada asisten.
"Belum...." jawab asistennya. Padahal sejujurnya dia juga tidak tahu apakah Neva dan Tuan muda Vano sudah jadian atau belum. Dia hanya menenangkan Raizel yang seharian ini menekuk wajahnya.
"Serius?" Raizel menoleh ke arah asistennya.
"Pacaran atau tidak itu tidak penting. Yang penting mereka belum menikah," ujar asisten.
"Makan apa kau hari ini, tumben otak mu bener," Raizel tertawa.
"Sial...." umpat asisten padanya. Kemudian, Raizel mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Neva.
"Neva, jika ada adegan kiss dalam film ku. Bagaimana menurut mu?" isi pesannya.
"Hahaaa... bukankah itu yang kau inginkan cowok mesum," balas Neva.
"Kau tidak boleh cemburu ya...." balas Raizel.
"Apa? Aku Cemburu? Pada mu? Ngimpi...." balas Neva.
Adegan dalam syuting film.
Tangan Raizel mengusap pipi lawan mainnya dengan lembut, menatap kedalam matanya dan membayangkan bahwa dia benar-benar jatuh cinta pada gadis ini. Jatuh cinta hingga membuat dirinya tak ingin kehilangan. Wajahnya semakin mendekat, nafas mereka saling menyapa.
"Maaf aku tidak bisa," ucapnya dan langsung menarik tangannya dari pipi lawan mainnya. Tanpa kata, dia pergi begitu saja dan masuk ke dalam mobilnya. Sutradara terbelalak oleh ulah Raizel, padahal tinggal sedikit lagi. Sedangkan Mak Cuty menepuk keningnya.
"Jalan Bro," ucapnya pada Bro supir. Asisten berlari dan langsung melompat ke dalam mobil. Kemudian, bro supir melaju dengan cepat sebelum Mak Cuty menghampiri dan menyeret Raizel.
"Apa kau tahu alamat rumahnya?" Tanya Raizel pada asistennya.
"Tidak," jawab asistennya.
"Tanya si Mbah," perintah Raizel. Jaman sekarang, sedikit-dikit tanya si Mbah. Mbah yang tahu segala hal. Asistennya langsung mengeluarkan ponselnya dan langsung bertanya pada si Mbah.
Namun, dia tidak menemukan alamat rumah keluarga Nugraha, yang ada hanya alamat kantor pusat dan beberapa kantor cabang yang tersebar di Ibu Kota.
_Di sana.
Neva keluar dari sebuah Cafe. Dan menyatukan kedua tangannya kemudian mengulurkannya ke depan. Lelah... dia merenggangkan otot-ototnya. Sebentar lagi finis.
"Huaaacchh...." dia menutup mulut dengan tangan kanannya. Dan kemudian menyatukan tangannya lagi. Kali ini dia mengangkatnya ke atas. Rileks....
Seseorang memperhatikannya dari jarak yang tidak jauh. Dia tersenyum lebar melihat gadis itu menguap dan merenggangkan otot-ototnya. Dia melangkah mendekat dan berdiri di sampingnya.
"Uhum," dia berdehem dan membuat Neva langsung menoleh.
"Astaga, Kakak...." Neva terkejut dan langsung merapikan baju dan rambutnya. "Uhum," dia terbatuk. Astaga apakah tadi dia melihat ku? Memalukan. Batinnya.
Vano mengulurkan tangannya dan memberi Neva minuman kaleng yang dia beli. Dengan malu, Neva menerimanya.
"Terima kasih, Kakak," ucapnya pelan. Kemudian, mereka berdua duduk di bangku di pinggir jalan.
"Sepertinya kau sangat lelah," ucap Vano.
"Huum," jawab Neva mengangguk. Tapi kemudian, dia memalingkan wajahnya dan memejamkan matanya rapat. 'Sepertinya dia melihat ku tadi.'
Vano mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.
"Ini untuk mu," dia memberikannya pada Neva. Neva menoleh ke arahnya dan melihat sesuatu di tangan Vano. Jepit rambut berwarna perak, jepitan rambut keluaran merek kelas dunia. Neva mengigit bibirnya dengan haru. Ini sungguh manis... sanggupkah dia melupakannya. Harus, harus sanggup. Tidak lama lagi mereka akan jauh dan tidak akan sering bertemu seperti saat ini.
Neva tidak mengambilnya dari tangan Vano tetapi dia lebih mendekatkan wajahnya. Vano tersenyum dan mengangkat tangannya untuk memakaikan jepit rambut itu pada rambut Neva.
"Bagus," ucap Vano setelah selesai memakaikan jepit rambut pada Neva, "Kau, cantik," lanjutnya.
Neva tersenyum malu dan wajahnya memerah karena pujian itu.
"Hmmm, terima kasih, Kak Vano," ucapnya.
Setelah berbincang beberapa saat, Vano mengantar Neva pulang. Neva duduk di bangku depan.
Jalanan malam Ibu Kota masih saja ramai dan padat. Lampu merah menyala selama 90 detik. Lagu romantis mengalun dari Audio yang di putar menemani dua insan yang berdebar. Dan tepat ketika mobil yang di tumpangi Neva berhenti, satu mobil sekelas mobil artis papan atas Hollywood juga berhenti.
Awalnya, si pemilik mobil sekelas mobil artis papan atas itu tidak menyadari keberadaan seorang gadis yang diincarnya. Namun mata asisten dan Bro supir sangat jeli.
"Boss," ucap mereka kompak. Si Boss yang memejamkan matanya langsung membuka mata.
"Apa?" Tanyanya.
"Tuhh," ucap asisten dan Bro supir kompak lagi. Raizel membawa pandangannya mengikuti petunjuk asisten dan Bro supir.
"Neva," dia langsung memekik senang. Namun, wajahnya jadi suram ketika melihat seseorang yang berada di samping Neva. "Mereka pacaran?" Tanya Raizel pada angin, entahlah... dia hanya menggumam. Kemudian, dia mengeluarkan ponselnya dan memencet sebuah nama, Si cantik celana dalam merah. Nama kontak yang anti mainstream. Jika Neva tahu ini, ponsel milik Raizel pasti akan hancur sehancur-hancurnya.
Neva mengambil ponsel dari dalam tas miliknya. 'Raizel artis gila dan mesum' Neva segera menekan tombol merah. Berdering lagi, dan ia tolak lagi hingga lima kali. Hingga pada akhirnya Neva menonaktifkan ponselnya.
"Sial," Raizel mengumpat kesal. 90 detik berlalu dan mobil milik Vano mulai jalan. "Ikutin...." perintahnya pada Bro supir.
"Siap, laksanakan," Bro supir ikut semangat. Dia suka nih kejar-kejaran.
"Tenang..., tenaaaang," asisten menepuk pundak Raizel.
"Tenang- tenang, kepala mu," Raizel memukul bagian belakang kepala asistennya.
"Paling tidak, malam ini kau akan mendapatkan alamat rumahnya," ucap asisten dengan suara misterius. Raizel langsung menoleh kearahnya dan mengusap kepala asistennya.
"Otak cerdas, maafkan aku," ucapnya penuh penyesalan. "Bro, jangan sampai kehilangan jejak," Raizel memperingatkan Bro supir.
"Tenang...."
____
Catatan penulis
Hallo kawan... Likenya jangan ketinggalan.
Apalagi tambah koment. Pasti Thor bahagia...π₯°
Oh iya... Ada salam dari Bang Lee nih. Dia sedih katanya karena merasa tidak begitu diinginkan kemunculannya. Doi mo ngumpet dulu di luar negeri kalau begitu ya...π£π
Huuuaachhh....π΄ Selamat membaca. luv luv π
"Kita toss dulu bro...," Raizel meminta Toss pada Vano. Dan Vano langsung menyambut tossnya.
"Akhirnya pamor kita naik. Hahaa...,"
Mama Thor datang dan jewer mereka berdua.