
Leo melangkah menuju ruang tamu. Dan dia tersenyum saat melihat siapa yang datang.
"Hi, Leo," sapanya dengan senyum.
"Hi," jawab Leo. Kemudian mereka berpelukan dengan singkat.
"Im glad that you come," (Aku senang kau bisa datang) ucap Leo. Dia memang sengaja mengundang William ke rumah untuk menghabiskan malam pergantian tahun ini.
Kemudian Leo mengajak William untuk ikut bergabung bersama keluarganya di taman samping.
Papa dan Yuna terkejut saat mengetahui siapa yang datang. Mereka langsung tersenyum menatap seseorang yang berdiri di samping Leo.
"Dia William," ucap Leo memperkenalkan William pada keluarganya. "Dokter William," lanjutnya menegaskan siapa William. Mama langsung menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Beliau merasa tidak percaya jika dokter hebat ini berkunjung ke rumahnya.
"Selamat malam," sapa William dengan menggunakan bahasa negara I. Bahasa negara I tetapi dengan logat Eropanya, sehingga itu terdengar lucu.
"Selamat malam," jawab semuanya serempak.
"Senang bisa bertemu dengan kalian," ucap dokter William lagi dengan bahasa I.
"Waaah, dokter William hebat. Sudah bisa bahasa kita," ucap Yuna menggunakan bahasa Inggris. Dia memberikan satu jempolnya dan sebuah teluk tangan. Leo menatap Yuna.
"Terima kasih atas pujiannya, Nona cantik. Aku akan lebih bersemangat lagi untuk belajar. Demi kamu," jawab Willam sudah menggunakan bahasa Inggris. Dia hanya mengerti bahasa I beberapa kalimat saja.
Yuna tertawa lebar mendenger jawaban dokter William tetapi tidak dengan Leo. Dia ingin menendang William kembali pulang. Rasanya dia telah salah mengundang William untuk datang.
"Jangan mencari perhatian pada istriku, Willy," tegur Leo.
"Saat kau bilang begitu, itu semakin membuatku bersemangat untuk menggodanya," jawab William.
Leo mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi sebuah nomor yang dengan mudah ia dapatkan dari internet.
"Kirim 100 badut menyeramkan. Nanti akan ku kirim alamatnya," ucap Leo. Dan dia langsung mematikan ponselnya setelah berbicara. Skak.
William mendadak lemas mendenger itu.
"Ok, aku minta maaf. Aku tidak akan menggoda istrimu," ujar William dengan menyesal. Dia menatap Leo dengan sedih. Tanpa kata Leo memencet tombol pada ponselnya lagi.
"Batalkan," ucapnya. "Aku akan membayar kompensasi," lanjutnya. Klik. Selesai.
"Ok, kau menang. Kau paling tahu kelemahan ku," ujar William kalah. Ya, Leo memang tahu tentang phobia nya satu ini.
"Tamunya kenapa dibiarkan berdiri saja. Silahkan duduk dokter. Perkenalkan, saya Mama Leo," ujar Mama.
William membungkuk dengan sopan. "Salam kenal," jawab William. Dia kemudian duduk di seberang Yuna. Dan Leo duduk di samping Yuna.
Mama dengan semangat memperkenalkan nasi tumpeng buatannya pada dokter William. Makna dan filosofi dari nasi tumpeng khas negara I.
Dokter William mengangguk mengerti. Dia sangat antusias. Ternyata ada makna dari sebuah hidangan berbentuk kerucut ini, batinnya.
"Apa ada makanan khas negara kita yang kau sukai, dokter?" kali ini Dimas yang bertanya.
William berpikir sejenak sebelum memberikan jawaban. "Rendang," jawabnya. Ya, makanan khas satu ini memang sudah mendunia. Cita rasa yang lezat mampu menggoyangkan lidah. "Hmm, ada satu lagi," katanya.
"Apa itu," tanya Dimas.
William melirik Leo sebentar lalu mengalihkan pandangannya pada Yuna, "Yuna," jawab William. Dan sebuah sendok langsung melayang ke arahnya. Beruntung, William memiliki gerak cepat. Dia berhasil menghindar dari lemparan sendok itu. Ini ... seperti dulu ketika Karel memuji Yuna.
Mama, Papa, Nora dan Dimas bukan ikut kesal karena jawaban William tetapi malah tertawa terbahak-bahak.
"Baru kali ini, ada yang terang-terangan seperti ini," kata Dimas dengan masih tertawa.
Yuna mengulurkan tangannya untuk mengenggam tangan Leo di bawah meja. Sebenarnya, dia tidak suka ada orang yang bilang suka dengannya. Meskipun itu hanya bercanda.
"Jadi dokter William masih lajang?" tanya Mama.
"Iya," jawab William. "Tante mau mencarikan jodoh buat saya?"
"Hmmm, gadis seperti apa yang kau inginkan dokter?" tanya Mama.
"Seperti----"
"Ondel-ondel," sahut Leo segera dan tawa langsung pecah. William yang tidak tahu apa itu ondel-ondel hanya nyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ondel-ondel?" tanyanya. "Apa dia wanita cantik?"
"Ya, sangat cantik," jawab Leo. "Cantik dan seksi."
"Wooh, aku suka wanita seksi," ucap Willy.
Mereka kembali tertawa mendengar itu.
"Tapi dari tawa kalian, sepertinya ondel-ondel tidak se seksi yang ku bayangkan," kata William memperhatikan mereka satu persatu.
"Dia wanita paling cantik yang ada di negara kita," sambung Dimas yang juga ingin usil. William mengangguk.
"Salam Willy buat dia, Tante," ucap William serius.
"Pasti, pasti," jawab Mama. Kemudian, mereka mulai menyantap hidangan. Mama dengan membaca do'a memotong bagian atas tumpeng. Tumpeng paling atas, beliau berikan kepada suaminya. Kemudian, Kak Dimas, Leo, dokter William, Nora dan Yuna.
"Hummm dari aromanya sudah sangat lezat," ucap William.
"Cita rasanya akan semakin lezat jika kau memakannya dengan ini," kata Leo. Dia menunjuk lauk lalapan berbentuk oval dan berwarna hijau.
"Apa ini? Apa ini sejenis kacang polong? Tapi kenapa besar sekali untuk ukuran kacang," kata William. Semuanya diam memperhatikan William dan Leo. Sebenarnya, dalam hati Tuan besar dan Nyonya besar sangat bahagia. Selain keadaan Leo yang sudah membaik, Leo juga lebih welcome dengan orang lain. Dia tidak lagi dingin dan kaku dalam bersikap. Leo bahkan sekarang memiliki sifat jahil.
"Ini keistimewaan kacang di negara kita. Kau harus mencobanya," jawab Leo.
"Kacang petai," jawab Leo. William mengangguk. "Ini di kirim khusus dari sana," lanjut Leo. William mengangguk lagi. Kemudian, dia mengambil beberapa biji dan meletakkannya di atas nasi tumpeng miliknya. Dia menyendok satu.
"Langsung dua, agar cita rasanya lebih mantap," ucap Leo. William menambah satu petai pada sendoknya. Pelan, sendok itu masuk ke dalam mulutnya. Dan pada kunyahan kedua, wajah William berubah menjadi merah kebiruan. Tangannya segera mengambil tissue dan mengeluarkan semua yang ada di dalam mulutnya. Leo tertawa puas melihat itu. Lalu disusul tawa dari semuanya. Mereka semua tertawa terbahak-bahak hingga sakit perut.
"Kau sangat iseng Tuan suami," ucap Yuna.
"Biarlah," jawab Leo. Sebenarnya, Leo sendiri tidak doyan dengan makanan satu itu. Mungkin bagi sebagian orang, petai adalah lalapan lezat termasuk Nyonya besar Nugraha menyukai lalapan satu itu tapi bagi lidah Leo itu sangat tidak enak. Dan dia sangat benci saat nafasnya bau.
"Kau menipu ku, Leo. Makanan apa ini? Kenapa rasanya sangat aneh," ucap William yang juga belum terbiasa dengan makanan itu.
Leo tidak menjawabnya, dia memberi jus jeruk pada William untuk sedikit menetralkan rasa dalam mulutnya.
"Makanan ini sangat lezat bagi yang doyan," jelas Mama.
_____________________
Sementara itu di sebuah restoran di lantai enam. Vano dan Neva baru saja menyelesaikan makan malam bersama.
"Pagi tadi aku berbincang dengan Leo," ucap Vano.
"Sungguh?"
"Ya. Dia menanyakan rencana pernikahan kita."
"Lalu?"
"Lalu dia bilang. Dia sudah pulih dan akan segera kembali ke negara I. Jadi kita bisa menentukan tanggal dan hari yang kita inginkan. Kau mau kita menikah tanggal berapa?"
"Aku tidak tahu. Bagaimana jika kita membicarakan tentang ini dengan keluarga besar. Tanggal dua Januari Papa dan Kak Dimas juga ikut kembali ke tanah air. Mama dan Kak Yuna yang masih disini untuk menemani Kak Lee hingga benar-benar pulih," jawab Neva yang dijawab anggukan kepala oleh Vano. Ya, dia juga setuju jika tanggal pernikahan ditentukan oleh para sesepuh.
Vano berdiri setelah melihat jam di tangannya. Dia mengulurkan tangannya. "Sepertinya sebentar lagi ada kembang api," ucapnya. Neva menyambut uluran tangan Vano.
Mereka berdiri menghadap ke luar jendela kaca. Vano melingkarkan kedua tangannya di perut Neva. Memeluk gadis itu dari belakang.
Neva mengangkat tangannya untuk di letakkan di lengan Vano. Mereka berdua menunggu moment pergantian tahun.
LIMA
EMPAT
TIGA
DUA
Kembang api itu menyambut dan mengakhiri tahun dengan warna-warna indahnya. Semoga tidak ada kesedihan di tahun ini. Semoga semuanya indah seperti warna kembang api malam ini.
"Selamat tahun baru, sayang," ucap Neva. Dia sedikit menoleh ke arah Vano dan mencium pipinya. "Apa yang kau inginkan di tahun baru ini?"
"Status baru," jawab Vano. Neva tersenyum dengan lebar. "Nyonya De Vano," ucap Vano dengan senyum dan mencium pipi Neva.
Kembang api berkerlip indah menyapa langit. Vano melepaskan pelukannya dan mengambil sesuatu dari dalam saku jas yang ia kenakan.
"Bisa tolong tutup matamu sebentar?"
"Kenapa?"
"Tutup saja,"
"Au ... aku jadi Ge Er. Apa kau akan memberiku kejutan seperti yang di TV, tv itu?" Neva dengan patuh segera menutup matanya.
Pelan, Vano memakaikan sesuatu di leher Neva. Sebuah kalung liontin Ruby. Batu permata Ruby dengan warna merah merona dengan kilau yang sempurna. Ruby seringkali diasosiasikan dengan kedamaian, kekuatan, serta cinta.
Neva tersenyum saat sesuatu menempel di lehernya. Dalam matanya yang terpejam, ia mengangkat tangannya untuk menyentuh sesuatu itu. Ia meraba pelan liontin itu. Dari sentuhan tangannya ia bisa tahu jika bentuk dari liontin ini adalah dua hati yang bersatu.
"Sekarang kau boleh membuka matamu," ucap Vano setelah menyatukan kedua sisi kalung.
Neva membuka matanya perlahan dan tersenyum. Dia menunduk memperhatikan kalung yang ia pakai. Hatinya menjadi sangat terharu.
"Semoga kau suka," ucap Vano. Neva mengangguk pasti. Dia langsung membalik badan dan menatap Vano.
"Suka. Sangat suka," jawab Neva. Vano tersenyum membalas tatapan Neva. Dia mengusap rambut Neva pelan.
"Liontin itu dari batu mulia Ruby. Ruby yang memiliki simbol tentang kedamaian dan cinta. Aku berharap kita berdamai dengan semua yang pernah terjadi. Tentang masa lalu ku, Leo, Yuna dan kamu. Masa lalu biarlah menjadi pelajaran untuk kita melangkah ke masa depan. Semoga tidak ada lagi masalah yang sama," ucap Vano. Tangannya masih berada di kepala Neva. Mengusap rambut Neva dengan lembut.
Neva mengangguk. Dalam hati ia berjanji untuk membuat Vano tidak lagi kecewa padanya.
"Neva ...."
"Ya."
"I love you."
Dan dua bibir itu bertemu. Menyampaikan cinta dari hati. Kedua tangan saling memeluk dengan romantis.
_______________________
Catatan Penulis π₯°π
Sun jempol ya kawan tersayang π₯° Like komen Vote. Yg punya poin banyaaakkk boleh doong di vote vote Abang Leo, Vano n Williamnya. Tengkyu ππ
Luv luv.
Bersambung ....