Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 275_Lantai Empat 3


"Aku mencintaimu," ucapnya setelah melepaskan bibir Yuna. Kemudian, ia beranjak dan melangkah untuk ke kamar mandi. Ia menutupnya dan langsung menangis di sana. Menangis dengan rasa sakit dihatinya. Ia tidak tega melihat istrinya begitu kesakitan. Ia jongkok dan menutup wajahnya. Dadanya terasa sangat sesak dan ia menangis.


Dia sangat menderita melihat Yuna yang begitu kesakitan. Dia seperti tertusuk oleh milyaran pisau lalu mencabik-cabik hatinya tanpa ampun. Dadanya terasa sangat sesak, dia menangis dan rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya.


"Tuhan, ku mohon jangan sakiti dia," bisiknya dalam hati. "Hukum aku saja, jika itu bisa menghilangkan rasa sakitnya," dia sesenggukan dengan kecemasan yang hampir meledak dalam dirinya.


Leo berdiri dan segera menyeka air matanya. Ia tidak ingin meninggalkan Yuna terlalu lama. Meskipun dia tidak tega melihat Yuna kesakitan tetapi dia harus tetap kuat untuk menemaninya. Dia harus bisa menyimpan air mata itu. Air mata hanya akan melemahkan Yuna. Dia membasuh wajahnya yang saat ini begitu pucat dan sangat muram.


Pelan, dia membuka pintu kamar mandi dan kembali melangkah menuju Yuna. Dengan senyum ia duduk di bangku disamping ranjang Yuna dan kembali menggenggam tangannya. Ia mencium tangan itu. Menciumnya dengan rasa hormat dalam dirinya. Betapa seorang wanita begitu tangguh dan hebat.


"Sayang," Yuna memanggilnya dengan suara tercekat.


"Hmm," jawab Leo. Ia menatap Yuna dan matanya kembali terasa panas. Namun dia bisa menahannya. "Kenapa?" Tanyanya perhatian.


"Aku ingin minum," jawab Yuna. Leo mengangguk dan segera mengambil sirup manis untuknya. Yuna menyedot minumannya sedikit. Wajahnya pucat.


"Semangat," ucap Leo dengan senyum yang ia paksakan. Ia merayu matanya untuk tidak menitikkan air mata di hadapan Yuna.


Yuna mengangguk, "Bisakah kau ceritakan sebuah dongeng untuk ku?" ucap Yuna pelan. Kini Leo yang mengangguk. Ia mengusap rambut Yuna penuh kasih kemudian ia meletakkan kepalanya di samping kepala Yuna. Mulutnya terbuka dan mulai bercerita. Dongeng tentang cinta abadi, dongeng tentang cinta yang bahagia untuk selamanya. Tak lama, tangan Yuna mulai menggenggam tangannya dengan sangat kuat. Kontraksi itu datang lagi.


"Uughhh," Yuna memekik lagi. Dia mengigit bibirnya untuk menahan rasa sakit yang luar biasa. Tangannya semakin menggenggam tangan Leo dengan erat. "Sayang, ini sangat menyakitkan," ucapnya dengan terbata. Suaranya bahkan hampir tidak keluar. Leo menahan nafasnya dalam rasa yang begitu menyakitinya. Dia sungguh tidak tega melihat Yuna seperti ini. Yuna yang hampir sepuluh menit sekali ditikam penderitaan. Ia ingin memukul dadanya sendiri dengan bertubi. Batinnya tersiksa melihat wanita yang sangat dia cintai begitu kesakitan seperti sekarang ini.


Ia mencium kening Yuna dengan kasih. Dia sangat menyesal dulu pernah begitu menyakiti istrinya, wanita yang saat ini berjuang dengan seluruh jiwa dan raganya, wanita yang mempertaruhkan nyawanya untuk kehadiran buah hati mereka.


"Sayang, kau pasti kuat," ucap Leo. Dia mencoba terus dan terus menyemangati Yuna.


Pukul tiga sore, Yuna baru memasuki pembukaan tujuh. Ia mulai lelah, sangat lelah. Ia menoleh dan menatap Leo. Tangannya terangkat dengan sangat pelan dan lemah. Ia menyentuh wajah Leo dengan senyum cantik di bibirnya. Ia tahu Leo begitu cemas dan khawatir padanya. Ia tahu Leo juga begitu menderita dengan ini.


"Sayang, kau belum makan apapun dari semalam," ucap Yuna dengan suara yang sangat pelan. Nafasnya terasa sangat berat. Leo mengenggam tangan Yuna yang berada di pipinya. Ia menggeleng.


"Aku tidak ingin makan apapun," jawab Leo. Pelan, ia menempelkan keningnya di kening Yuna. "Apa kau ingat pernah menempelkan permen karet di celanaku?" Tanyanya pelan. Ia ingin membuat cerita lucu untuk menghibur Yuna. "Kau membuktikan kutukan mu, lalu aku menggelitik mu tanpa ampun," ucap Leo. Yuna mengangguk, bibirnya terangkat dan tersenyum tapi kemudian air matanya menetes. Leo segera menyeka.


"Kau kuat dan tangguh. Semangat sayang," ucap Leo. Yuna memejamkan matanya, ia sangat lelah. Namun hanya selang sepuluh menit, kontraksi itu datang lagi.


Yuna mulai berteriak dengan kencang karena rasa sakit yang ia rasakan melebihi apapun. Seluruh tulangnya seolah remuk. Ia menangis. Leo merasa sangat frustasi ia ingin teriak. Namun ia hanya mampu menggumam dalam hati.


"Jangan sakiti dia. Tuhan, jadikan aku penggantinya, biarkan aku yang menanggungnya. Jangan biarkan ia kesakitan dengan ini," ia menangis dalam hati.


Yuna menangis dalam rasa sakit yang luar biasa. Dia menjerit dan rasanya sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit ini. Leo menggenggam jemarinya.


"Kau bisa, semangat," ucap Leo. Ia mengusap pipi Yuna. Leo dengan perhatian mengusap keringat Yuna yang bercucuran. Ia mengusap rambut Yuna dengan lembut. Tangan lemah Yuna mulai mencengkeram tangan Leo lagi, ia mengambil nafasnya dengan dalam lalu mengejan dengan sangat kuat.


Musim semi dengan tunas-tunas bunga yang tumbuh indah bersama dengan lelehan embun yang sejuk. Tangis bayi lucu menggema di seluruh penjuru ruangan di lantai empat. Suara tangisnya menyapa dunia untuk yang pertama kalinya. Pukul 16.25 Selamat datang pada dunia dengan penuh kasih.


Tangis Yuna pecah dalam dekapan Leo. Ia menangis sejadi-jadinya. Begitu juga dengan Leo, ia tidak lagi menahan air matanya, ia menangis dengan rasa lega dan kebahagiaan yang membuncah dalam hatinya.


Tangan Yuna terangkat dan membalas pelukan suaminya. Mereka berdua menangis dalam rasa haru, lega, dan kebahagiaan yang luar biasa.


"Selamat, sayang. Kau luar biasa, kau hebat," ucap Leo mencium keningnya. Kemudian, ia membawa pandangannya pada bayi mungil yang berada dalam dekapan dokter. Matanya dipenuhi kelembutan melihat malaikat kecilnya. Seolah pancaran bulan yang teduh menyinari hatinya.


"Selamat Tuan muda, bayi laki-laki anda lahir dengan selamat dan sempurna," ucap dokter dengan senyum dan ikut bahagia. Tangis bayi mungil ini masih sangat kencang. Dokter kemudian meletakkannya di atas tubuh Yuna. Sentuhan pertama seorang ibu dan anak. Tangis Yuna tidak terbendung, ia mengingat bagaimana ia tidak pernah bisa merasakan dekapan hangat seorang ibu selama ini. Tangannya terangkat dan mengusap bayinya dengan lembut dan hati-hati. Pun dengan Leo, ia mengulurkan tangannya dan menyentuh buah hatinya. Ia menunduk dan membiarkan air matanya terus mengalir. Ucapan syukur tak terhingga ia panjatkan pada Tuhan.


Tangis imut itu perlahan mengecil dan diam, ia telah menemukan minuman paling bergizi di dunia ini, ASI. Mulut kecil mengecap dengan perlahan. Yuna menangis tetapi tersenyum. Ia sangat bahagia.


Setelah Leo mampu menguasai segala emosi yang bercampur di hatinya, dengan pelan ia mendekatkan wajahnya ke telinga malaikat kecilnya. Membisikkan doa disana, memanjatkan syukur kepada Tuhan disana. Sebuah doa tulus dari seorang Ayah untuk putranya.


Selamat datang sayang, Baby Leo J Nugraha dan Yuna Ibriza. Arai Al Rehan Nugraha do'a tercurah untuk mu. Arai AR Nugraha. Cinta kami untuk mu.


____


Catatan Penulis πŸ₯°


Huuf, Aaa Thor jadi baper 😭


Selamat Tuan muda Leo dan Nyonya muda Yuna πŸ₯°πŸ₯°


Baby lahir dengan sehat dan selamat. Baby dan ibunya sehat.


Jan lupa saweraaaaann... 😘😘😘 vote vote Yess... ilupyu. πŸ₯°πŸ™


Terima kasih sahabat Sebenarnya Cinta πŸ’– Jangan lupa like koment dan vote, padamu. 😍


Kamis, 21 Mei 2020.


Ramadhan, 28, 1441 H.