
"Maaf," dengan wajah yang memerah menahan malu, Neva menutup pintu tapi dengan cepat tangan Vano meraih pegangan pintu satunya. Refleks, Neva mengangkat wajahnya dan menatap Vano yang kini sudah bertelanjang dada. Wajah putihnya berubah menjadi sangat merah.
"Mau kemana?" tanya Vano.
"Keluar dulu," jawab Neva pelan menahan suaranya. Dadanya berdegup.
"Sini," Vano menarik pelan tangan Neva dan membawanya masuk. Kemudian ia mengunci pintu. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman saat ia melihat kedua tangan Neva menyatukan jari dengan grogi. Dia menunduk membuat kecupan manis di pipi merah Neva, wanita ini malu. Lalu dikecupnya bibir Neva. Vano mengulurkan tangannya, memisahkan kedua tangan Neva lalu mengenggam jemari kanannya. Neva membuka mulutnya meskipun tidak membalas ciuman Vano. Nafasnya sedikit berat saat Vano membawa kecupan pada lehernya. Neva memejamkan mata, kedua tangannya telah terikat dalam satu genggaman tangan kekar Vano. Kini, ia telah pasrah dalam kuasa suaminya. Bajunya telah terlepas hanya meninggalkan bagian dalam saja. Kemudian Vano membawanya lebih kedalam. Menyalakan shower dalam mode hangat.
Air turun bak rintik gerimis yang membasahi tubuh Neva. Butiran-butiran halusnya menetes dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wanita itu menunduk malu. Namun tak kuasa menahan gejolak yang ditimbulkan dari kecupan Vano barusan. Jujur, ia menginginkan lagi.
"Sayang, lihat aku," suara Vano terdengar lebih seksi dari biasanya. Wajah Neva semakin bersemu. Tanpa mengucapkan apapun, Neva membawa pandangannya pada Vano dengan patuh. Menatap mata laki-laki itu dengan sayu.
Vano mengulurkan satu tangannya untuk menyeka air yang melewati mata Neva, ia tak membiarkan apapun menghalangi pandangan mata Neva padanya. Kedua mata mereka saling menyapa penuh cinta lalu perlahan bibir mereka bersatu, terpaut dan berayun seirama hingga tanpa sadar mereka telah menjadi polos tanpa apapun.
Guyuran air hangat itu kini bagai hujan dengan alunan desah penuh cinta.
______
Neva duduk di sisi ranjang setelah mengganti baju dan mengeringkan rambutnya. Menatap Vano yang lebih dulu membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk mereka.
"Sini," Vano menggeser posisinya dan meraih tangan Neva.
"Diluar masih banyak saudara yang berkumpul dan berbincang, rasanya kurang sopan ji---"
"Stttt," Vano langsung memotong ucapan Neva, "apanya yang tidak sopan? Bukankah wajar jika pengantin baru menghabiskan waktunya di kamar."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Vano menarik halus tangan Neva. Membuat wanita itu berbaring di sebelahnya.
"Tidak begitu juga kali," sanggah Neva.
"Jelas begitu. Kamar adalah tempat terindah saat ini," tukas Vano. Neva menatap dengan senyum malu lalu mengambil kelopak mawar yang menutupi seluruh seprei kasurnya. Dia melempar pelan kelopak mawar dalam genggamannya ke wajah Vano. Dan Vano langsung membalasnya. Mereka saling melempar. Kemudian lemparan beralih ke atas, membuat kelopak mawar menghujani mereka. Dengan tawa mereka mengulanginya lagi dan lagi.
Tak lama, Vano berhenti tapi tidak dengan Neva wanita itu masih melempar kelopak-kelopak itu keatas.
Vano bangun dari tidurnya. Itu membuat tangan melempar Bungan dengan pelan. Ia ingin bertanya 'kenapa bangun' tapi belum sempat ia membuka mulutnya Vano lebih dulu menempatkan diri di atas tubuhnya.
"Kenapa?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Dan ia merasa bodoh dengan pertanyaan ini. Kenapa harus bertanya kenapa jika dalam hati ia sudah tahu apa yang diinginkan Vano. Lagi?!! batinnya. Namun tentu saja ia begitu pasrah akan kelembutan Vano saat membawanya terbang bersama.
Vano membersihkan kelopak mawar yang ada di wajah Neva dengan bibirnya, satu persatu dengan kecupan halus setelahnya. Matanya intens menatap kedalam mata wanitanya. Kemudian mencium bibirnya. Rasa strawberry, ini membuatnya rakus dan tak ingin melepasnya.
Dan sungguh itu terjadi lagi. Dengan paduan lembut nan bergairah. Inilah Sebenarnya Cinta, menemukan pelabuhan terindah setelah melewati badai yang seolah tak ingin berhenti.
Β
\@\
Β
Keesokan harinya di kota K. Gerimis masih saja menyapa dari semalam.
Adel dengan ceria membawa anak ayam warna kuning beserta kandang mungil warna senada. Baby Arai yang tengah bermain bersama Yuna di ruang tengah seketika mengalihkan pandangan pada Adel. Dia diam memperhatikan anak ayam di tangan Adel.
"Uuu mmm," bibirnya seksi mengerucut.
Adel duduk di sampingnya dan mengeluarkan anak ayam itu kemudian memberikannya pada Baby Arai.
"Ooo, ay ... mmm," baby Arai sedikit menjauh. Dia ragu untuk menyentuh anak ayam itu.
"Halloo Baby tampan," suara Adel menjadi kecil. Tangannya mendekatkan ayam kecil pada Baby Arai.
"Ummm ayymm," baby Arai menatap Adel sebentar sebelum akhirnya ia memperhatikan ayam kecil itu lagi. Yuna menuntun tangan Baby Arai untuk menyentuh ayam kecil itu. Baby Arai patuh mengikutinya. Pertama, ia merasa geli tapi sebenarnya penasaran. Yuna menuntun tangan anaknya lagi, lagi dan lagi hingga Baby Arai berani untuk menyentuh sendiri.
Awalnya, ayam kecil itu aman dan diam seperti hewan yang penurut dan jinak namun saat baby Arai mendekatkan wajahnya, ayam kecil itu tiba-tiba bereaksi dan mematuk pipi Baby Arai.
Diam sebentar sebelum akhirnya Baby Arai menangis karena merasa sakit pada pipinya. Tepat saat itu juga, Leo tengah menuruni tangga, dia berlari cepat dan langsung mengambil anaknya, bahkan lebih cepat daripada Yuna yang dekat dengan Baby Arai.
"Are you okey, Baby," tanyanya khawatir. Ia mengusap halus pipi Baby Arai yang memerah. Yuna segera berdiri dan mencoba ikut menenangkan anaknya. Sementara Adel langsung membawa ayam kecil itu keluar rumah.
"Uuhhh, sayang. Mana yang dipatok ayam?" tanya Yuna. Leo langsung menatapnya dengan tajam. Dia bahkan menjauhkan baby Arai.
"Apa kau tidak tahu mana yang aman dan tidak aman untuk anakmu?" tanya Leo kesal dengan Yuna. Bagaimana bisa, Baby Arai dipatok ayam sementara ada Mommynya yang sangat dekat dengannya. "Tidak bisakah kau memilih mainan yang lebih aman daripada seekor anak ayam."
"Aku minta maaf. Aku lalai," Yuna mengakui kesalahannya. Dia tidak mungkin bilang jika Adel yang membawa ayam itu. Leo bisa lebih marah dari ini.
Leo mengalihkan pandangannya dari Yuna dan kembali fokus pada Baby Arai. Dia melangkah menaiki tangga dan segera masuk ke dalam kamar. Sambil menggendong Baby Arai yang masih menangis, ia mengambil kotak obat dan kemudian duduk di sofa.
"Cup sayang, diam dulu, okey. Daddy akan mengobatimu," katanya halus penuh perhatian. Dia sangat khawatir dalam hatinya. Dia membuat Baby Arai duduk sendiri di sofa lalu dengan telaten membersihkan pipi Baby Arai lalu mengolesinya dengan krim luka.
"Okey, selesai," ucapnya. Dia mencium kening anaknya lalu mengambil Baby Arai dan memangkunya. Kekhawatirannya sedikit berkurang karena Baby Arai sudah berhenti menangis.
Pelan, Yuna masuk ke kamar dengan membawa botol susu.
"Sayang aku minta maaf," ucapnya pada Leo. Dia berjalan pelan dan duduk di samping Leo. Baby Arai langsung bersemangat melihat apa yang Yuna bawa.
"Uuu mmm, mam amm mm," celotehnya.
Yuna tersenyum, "Kau mau ini?" Yuna memberikan susu milik Baby Arai. Putra kecilnya itu langsung menyambut dengan antusias. Kedua tangannya menerima botol susu dan langsung membawa ke mulutnya. Dengan pelan, ia menyandarkan kepalanya di dada Daddy. Mencari posisi yang nyaman untuk menghabiskan sebotol susu.
Leo mengusap-usap lengan Baby Arai. Perlahan, mata Baby Arai mulai terpejam. Kedua tangannya mulai lemah untuk tetap memegang botol susu. Daddy segera sigap untuk membantunya memegang botol hingga isinya habis. Kecapan demi kecapan hingga botol itu kosong.
Baby Arai sudah tertidur dalam pangkuan Leo. Kemudian, Leo menidurkannya di atas ranjang.
"Sayang," Yuna ikut naik ke atas ranjang. Dia mencoba merayu Tuan suami. "Aku minta maaf," ujarnya meminta maaf lagi.
Tidak ada jawaban. Leo menepuk-nepuk pantat Baby Arai agar semakin tidur lelap.
Yuna memutar otaknya untuk membuat Leo tidak diam. Jika Tuan suami sampai mendiamkannya, itu berarti moodnya sangat buruk. Dan itu berarti, dia tengah marah.
Menjelaskan untuk jangan khawatir? Tentu saja bukan ide yang bagus. Yuna tahu bagaimana karakter Leo. Leo memiliki kekhawatiran yang mungkin melebihi tinggi gunung Himalaya. Itu bukan posesif, itu karena laki-laki ini memiliki cinta luar biasa dalam hati dan jiwanya. Dia hanya ingin orang-orang yang dia cintai baik-baik saja. Jika harus terjadi sesuatu, maka biar dia yang menggantikannya. Begitu do'anya setiap hari. Dia yang akan menanggung rasa sakit anak dan istrinya. Namun, tentu saja takdir tidak bisa dititipkan seperti do'anya. Takdir tetaplah berjalan pada jalannya.
Yuna menerobos masuk dari celah tangan Leo. Ia memposisikan dirinya di tengah, diantara Baby tampan dan Tuan Tampan. Aaahhh rasanya dunia sangat berpihak padanya.
"Kanda," suara manja Yuna memanggil Leo dengan sebutan yang lain. TEPAT. Leo langsung menatap Yuna karena heran dengan panggilannya.
Yuna menahan senyum, matanya menatap Leo dengan sedih. Si Nyonya memiliki banyak trik untuk membuat mood Tuan suami kembali membaik.
"Kanda Prabu," ucap Yuna lagi dengan manja. Kedua tangannya sudah melingkar di leher Leo.
Leo diam membiarkan Yuna. Dia menunggu godaan Nyonya lagi.
Jari telunjuk Yuna menyentuh bibir Leo. Menepuk-nepuknya dengan halus.
"Ini bibirmu untuk kucium."
Yuna langsung mencium bibir Leo setelah mengucapkan itu. Mengecup dan menari sebentar disana.
Leo masih diam, dia tidak membalas ciuman. Dia masih menunggu Nyonya menggoda.
Kini, tangan Yuna turun kedadanya, membuat usapan halus diluar kemeja. Dengan senyum cantik ia menatap suaminya penuh kelembutan. Mulutnya terbuka untuk mengatakan sesuatu.
"Paduka, mohon maafkan hamba karena lalai."
"Tadi Kanda, sekarang Paduka, nanti apalagi," komentarnya dengan meninggalkan cubitan halus di pucuk hidung Yuna.
Yuna tersenyum lebar dan bersorak dalam hati karena si Tuan tampan tidak lagi marah. Ya, tentu saja, Leo tidak pernah bisa benar-benar marah padanya.
Yuna merapatkan pelukannya dan membuat kecupan di dada Leo.
"Aku akan lebih hati-hati memilih mainan untuk Baby imut," ucapnya. Leo mengangguk, tangannya mengusap rambut Yuna kemudian menunduk dan mencium kening Yuna.
***@****
Pada sore harinya setelah gerimis tak lagi menyapa, mereka berkunjung ke sebuah pemakaman.
Leo menggendong Baby Arai tapi kemudian ia menurunkannya untuk menapak sendiri di atas bumi. Dengan mengucap do'a dalam hati, ia menuntun dan melatih berjalan putranya dengan tangannya sendiri.
Pelan dan teratur kaki kecil itu menapak dan membawa langkahnya mengikuti arahan Sang Daddy. Sementara Yuna sudah ada di depan, melambai agar putranya semangat untuk segera sampai padanya.
Dengan tawa kecil Baby Arai bersemangat membawa langkahnya menuju Yuna dan tak lama ia telah sampai. Yuna mengulurkan tangannya untuk menyambut Baby Arai.
"Momm uuu," celoteh mulut imut yang sekarang sudah ada di pangkuan Yuna. Kemudian, Yuna dan Leo mengajarinya untuk menabur bunga di atas pusara. Baby Arai dengan patuh mengikuti Daddy dan Mommynya. Setelah memanjatkan do'a, Yuna bercerita pada putranya jika yang mereka kunjungi saat ini adalah seseorang yang begitu mulia.
"Nenek, ini aku ... si tampan Arai putra Daddy Leo dan Mommy Yuna," Yuna mewakili suara baby Arai. Tangan kanannya mengusap papan nama Sang Ibunda.
"Sayang," kini Yuna berbicara dengan anaknya. Ia mengusap rambut Baby Arai dengan kasih. "Sayangi Nenek seperti engkau menyayangi Oma. Nenek memang tidak terlihat oleh mata kita tapi nenek selalu ada di dalam hati kita. Jangan pernah lupa untuk mengirimkan do'a sayang kita padanya," ujar Yuna terbata. Sekelebat ia membayangkan bagaimana bahagia sang ibunda saat menimang cucu darinya.
Leo merangkul pundak Yuna dengan lembut, ia meninggalkan kecupan kasih di rambut Yuna.
Kemudian, setelah dari pemakaman Leo membawa mobilnya ke sebuah tempat. Hotel.
"Kenapa kita kesini?" tanya Yuna saat Leo menghentikan mobilnya di depan lobi utama hotel. "Apa kau berniat menginap disini? Apa kamar kita dirumah ayah tidak senyaman kamar kita di Ibu Kota?" lanjutnya bertanya.
"Aku hanya ingin kesini," jawab Leo singkat. Ia kemudian mengambil alih baby Arai dari pangkuan Yuna dan menggendongnya. Pelan, pintu mobil terbuka. Seseorang dengan sopan membukakan pintu untuk mereka. Yuna sedikit terkejut saat tahu siapa yang membuka pintu untuknya.
"Dion?" katanya dengan alis yang berkerut.
"Siap Nyonya muda," jawab Dion dengan senyum tapi kemudian dia segera merapatkan bibir saat melihat Big Boss menatapnya tajam. Dia tidak boleh caper dengan Nyonya muda di depan Big Boss.
"Selamat sore, Boss," ucapnya pada Leo.
Leo mengangguk sebagai tanggapan, "Kau sudah menyiapkan semuanya?" tanyanya pada Dion.
"Sudah Boss," jawab Dion dengan tegas tetapi sopan.
Melihat ada ada asisten Dion disini, Yuna mengangguk mengerti. Mungkin Leo ada meeting saat ini, batinnya. Kemudian, mereka melangkah masuk ke dalam.
"Selamat datang Tuan muda dan Nyonya muda," sapa security yang berjejer di depan pintu utama. Leo menjawabnya dengan anggukan. Sementara Yuna menjawabnya dengan senyum bingung. Dia semakin bingung ketika asisten Dion membukakan pintu untuknya dan langsung di sambut dengan seseorang yang membawa kalung bunga di tangannya, bahkan barisan pegawai yang menyambut mereka.
"Selamat datang Nyonya muda," ucapnya dengan senyum setelah membungkukkan badan memberi salam. Yuna tersenyum menatapnya. Kemudian seseorang orang itu mengalungkan bunga di leher Yuna.
"Terima kasih," ucap Yuna dengan masih bingung. Tangan Yuna meraih tangan Leo dan ia segera menoleh ke arah Tuan suami. Dia kembali terkejut saat menyadari jika Baby Arai sudah bersama dengan perawatnya. Yuna menatap Leo. Kejutan apalagi ini? Batinnya.
"Sayang, berhenti membuatku terharu dengan kejutan-kejutan luar biasamu," ucap Yuna. "Ada apa ini?"
Leo tersenyum dan mengusap telapak tangan istrinya, "Nanti kau akan tahu," jawabnya. Yuna mengangguk dan tidak mengajukan pertanyaan lagi. Ia ingin segera mengetahui kejutan apa yang Leo persiapan kali ini. Kemudian, asisten Dion membawa mereka ke sebuah ruangan. Disana sudah ada beberapa orang yang menunggu.
Setelah saling menyapa dengan sopan, kini asisten Dion memberikan sebuah berkas di hadapan Yuna. Yuna menoleh ke arah Leo.
"Apa ini?" tanyanya.
"Ini milikmu," jawab Leo.
"Jangan bercanda," ucapnya. Namun sebenarnya dia tahu jika Leo tidak pernah bercanda dalam hal ini.
Leo mengangguk dengan senyum kecil, "Ya, ini milikmu."
Yuna menatap Leo dengan intens lalu membawa pandangannya pada berkas yang baru saja ia terima. Tertera namanya disitu. Jadi, ia adalah pemilik hotel ini sekarang? Yuna membawa pandangannya lagi pada Leo.
"Sayang," ucapnya tercekat. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia hanya menatap Leo, sebuah tatapan halus yang mewakili ribuan kalimat. Leo tersenyum dan meraih tangan Yuna lalu membawa tangan itu pada pada bibirnya. Hanya itu. Ia juga tidak mengucapkan sepatah katapun.
Asisten Dion sudah terbiasa dengan adegan manis ini jadi dia malah dengan sengaja tidak membiarkan pandangan beralih. Sementara beberapa orang yang lain menunduk dengan senyum. Sisi manis dan lembut Tuan muda yang tidak mereka ketahui.
"Tanda tangan," ujar Leo pada akhirnya. Yuna mengangguk.
Selesai. Yuna mulai detik ini adalah pemilik sah hotel ini.
Mereka mulai meninggalkan ruangan selain Leo dan Yuna. Diluar sana, Asisten Dion bersorak dalam hati. Ia bisa menebak jika Sang Boss akan memberinya bonus yang luar biasa setelah ini.
Leo membawa Yuna ke sebuah kamar di lantai dua puluh lima. Alunan musik romantis langsung menyapa saat sepasang kaki mereka masuk kedalam. Yuna menoleh ke arah Leo dan memeluknya. Mereka saling berpelukan tanpa kata, hanya degup jantung yang mewakili. Hingga perlahan pelukan itu berubah menjadi sebuah gerakan halus seirama dengan alunan musik romantis.
"Apa kau ingat ruangan ini?" bisik Leo lembut di telinga Yuna. Bibirnya meninggalkan kecupan setelah mengatakan itu.
Yuna mengangguk, "Ya. Tidak akan pernah terlupa sampai kapanpun," jawabnya.
Leo tersenyum. Dengan masih bergerak lambat seirama ia bertanya, "Tempat apa ini?" setelah menanyakan itu ia meninggalkan kecupan lagi di telinga Yuna.
"Tempat kau membawaku saat aku marah dulu," jawab Yuna.
Leo mengangguk, "Lalu?" dia meninggalkan kecupan lagi di telinga Yuna.
"Tempat saat aku memintamu meninggalkanku," jawab Yuna. Terlintas penyesalan dalam hatinya, saat ini ia sungguh tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Leo. Jemarinya mengenggam erat pinggang dan tangan Leo tanpa ia sadari. Dia menginginkan laki-laki ini dalam hidup dan matinya.
"Lalu?" Leo meninggalkan kecupan lagi di telinga Yuna.
"Tempat saat aku menampar wajahmu," Yuna menahan senyumnya saat mengatakan ini. Tapi kemudian ia merasa menyesal karena menampar wajah yang ia kagumi. "Sayang apa itu sakit?" tanyanya. Dia merenggangkan pelukan dan menatap Leo. Tangannya terulur dan mengusap pipi Leo dengan lembut penuh kasih.
Leo menggeleng, "Tidak," jawabnya. Ia menunduk membalas tatapan mata Yuna. "Saat itu aku seolah mati rasa. Aku hanya merasakan sakit dalam hatiku, merasakan ketakutan dalam otakku. Aku takut kau tidak kembali padaku."
Yuna terdiam sejenak. Tangannya perlahan turun dari pipi Leo dan melingkarkannya lagi di pinggang. Menempelkan kepalanya di dada Leo, memeluk suaminya dengan erat.
"Tempat ini juga tempat dimana aku menerimamu kembali," ujar Yuna tanpa ditanya 'lalu' oleh Leo. Leo mengangguk dan membuat kecupan di rambut Yuna. Bibirnya bahkan masih terus betah disana. Ia mengucap syukur dan terima kasih dalam hati. Inilah Sebenarnya Cinta, membawa jalannya kembali.
Β
\\@\\
Β
Ciluuuukkkk Baaaa ....
Rindukanku ... Nantikanku ... yaaaaa ππ
_____________
Catatan Penulis π₯°π
Up kali ini adalah hadiah untuk temen-temen semua di hari ultah Nanas kemarin ππ₯°
Ilupyu π.