Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MENJAGA DARI JAUH


Setelah selesai sarapan, Daniel pergi menuju teras rumah lagi, istri dan adiknya sedang membereskan meja makan dan mencuci bekas sarapan mereka.


Daniel sedang menunggu kedua sahabat Leny datang kerumahnya, benar saja tak lama kemudian Novi dan Nurul datang kerumahnya. Daniel senang jika sahabat sang istri datang, dia bisa meminta Novi dan Nurul untuk menjaga sang istri agar tidak diganggu oleh Silvia lagi.


"Ada apa kamu meminta kami kemari?" tanya Novi


Daniel menghela nafasnya


"Aku ingin meminta bantuan kalian"


Nurul mengerutkan keningnya.


"Bantuan?, seorang Daniel yang sangat hebat ingin meminta bantuan?" tanya Novi tertawa


"Dengarkan dulu dasar murid durhaka" jawab Daniel kesal


"Haha baiklah guru" timpal Novi


"Ini tentang keselamatan Leny" ucap Daniel


Nurul yang dari tadi hanya diam akhirnya angkat bicara


"Ada apa dengan Leny?"


Daniel menatap kedua wanita cantik itu seperti tatapan memohon


"Kemarin, ada seorang wanita datang ke kantorku dan membuat keributan. Wanita itu adalah Silvia, teman sekolahku ketika di Jepang. Dia wanita gila, dia sangat menginginkan aku menjadi bagian dari hidupku, aku tidak pernah menyukai dirinya"


"Saat dia tau kalau aku sudah menikah, kupikir dia akan menyerah, ternyata dia semakin menjadi-jadi. Dia akan mengancam ku kalau tidak akan menyerah meski aku sudah memiliki istri. Wanita ini berbahaya, aku takut Leny di terornya" timpal Daniel


"Jadi kamu meminta kami untuk menjaga Leny?" tanya Novi


Daniel mengangguk


"Kalian berdua itu sahabat dekatnya. Aku tidak mungkin bisa terus ada dekatnya, lagian kamu kan seorang polisi, jadi pasti bisa lebih mengerti masalah ini"


"Ditambah Leny yang sedang mengandung, moodnya sering berubah-ubah. Semenjak usia kandungannya semakin besar, dia menjadi begitu posesif terhadapku" timpal Daniel


Nurul sedikit tertawa mendengarnya


"Wajar dia seperti itu, karena itu bawaan bayi kamu"


"Itu juga akibat kenakalan kamu padanya" timpal Novi


Daniel mengerutkan keningnya


"Kenakalanku?"


"Kalau kamu gak nakal, tidak mungkin dia akan mengandung anakmu" jawab Nurul


"Haha" mereka tertawa


Tiba-tiba Leny dan Wulan keluar dan melihat asal suara itu berasal. Dia sedikit terkejut melihat kedua sahabatnya sedang berbicara dengan sang suami


"Ih kalian kok gak ngabari sih?" ucap Leny langsung memeluk Novi dan Nurul


"Iya kami rindu pada kamu dan calon keponakan kami" jawab Nurul


Leny mengajak mereka masuk kedalam, sedangkan Daniel duduk di teras membiarkan para wanita bergosip didalam rumahnya. Wulan menemani Daniel duduk disebelahnya.


"Kamu kok gak ikut dek?" tanya Daniel


Wulan menggelengkan kepalanya


"Aku bingung harus ngomong apa jika aku bergabung, kan aku tidak suka bergosip"


"Haha dasar" ucap Daniel mengacak rambut Wulan


"Kakak kenapa? kok akhir-akhir ini terlihat seperti memikirkan sesuatu?" tanya Wulan


Daniel tersenyum dan menghela nafasnya


"Ini tentang kakakmu dek"


Wulan menatap Daniel dengan serius


"Kenapa dengan kak Leny kak?"


"Silvia datang kemarin ke kantor dan bertemu dengan kakakmu, dia membuat keributan disana"


Wulan mengepalkan tangannya dan kesal


"Lagi-lagi wanita sakit jiwa itu!, kenapa sih gak berhenti-henti mengejar kakak?, dasar tidak tau malu"


"Yaudah aku juga akan menjaga kak Leny dari wanita sinting itu" timpal Wulan


Daniel tersenyum dan mengelus kepala Leny


"Makasih ya dek, kamu sangat menyayangi istriku"


ketiga wanita cantik itu tengah asyik mengobrol di dalam sampai lupa waktu dan Leny sampai lupa keberadaan sang suami. Biasanya jika Leny sendirian atau hanya berdua dengan Wulan, pasti dia selalu mencari keberadaan suaminya itu dan selalu minta dimanja oleh Daniel.


"Kalian makan siang di sini ya, jangan menolak!, ini perintah!" ucap Leny tegas


"Iya-iya bumil siap" jawab Novi memberi hormat


"Haha" mereka bertiga tertawa


"Gimana keadaan keponakan kita?" tanya Nurul


Leny tersenyum dan mengelus perutnya


"Sehat kok, terkadang perutku seperti kedutan gitu, seperti ada pergerakan"


Daniel dan Wulan masuk kedalam, dan melihat ketiga wanita cantik itu tengah asyik bergosip.


"Wah wah yang sedang asyik, sampai lupa sama yang disini" ucap Daniel


"Hehe, sini dek" ajak Leny kepada Wulan


Wulan duduk disebelah Leny dan bertanya pada Novi


"Nov, gimana? masih sering latihan?"


"tidak sih, justru aku kesini untuk minta kalian melatihku lagi" jawab Novi


Wulan tertawa dan berkata


"Haha bisa di atur"


Mereka terus mengobrol sampai tiba waktu makan siang, dan mereka semua pergi ke meja makan untuk makan bersama. Setelah selesai makan siang, sorenya Novi dan Nurul pamit pulang dan Leny mengantarkan mereka sampai pintu depan.


Saat masuk kedalam rumah, Leny melihat sosok lelaki tampan tengah sibuk dengan ponselnya, Leny tersenyum dan langsung mendekati lelaki tampan yang tidak lain ialah suaminya. Dia langsung duduk dipangkuan Daniel dan bersikap manja kepada sang suami.


"Sayang..." ucap Leny dengan nada manja"


"Hmm?" jawab singkat Daniel yang masih fokus pada layar ponselnya


"Iiih!, sayang, sayang, sayang, sayang, sayang," ucap Leny memainkan wajah Daniel


Daniel menatap Leny dan tersenyum


"Ada apa istriku?"


"Mau peluk" jawab Leny dengan nada manja sambil membuka kedua tangannya agar di peluk Daniel


Daniel tersenyum dan mencium kening Leny lalu langsung memeluknya. Daniel mengelus-elus kepala bekalang Leny dan sesekali mencium ujung kepala Leny.


"I love you" bisik Leny


"I Love you to my wife" jawab Daniel menarik hidung Leny.


Keesokan harinya...


Daniel bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Setelah selesai sarapan dia pamit kepada istri dan adiknya. Setelah mencium kening Wulan dan juga Leny, Daniel langsung pergi kedepan untuk segera berangkat ke kantor.


Tiba-tiba Leny memanggilnya dan berkata ingin ikut dengannya kekantor, dia takut sang suami berbuat macam-macam di belakangnya. Sifat posesif Leny semakin hari semakin besar terhadap Daniel.


Mau tidak mau Daniel membawa Leny ke kantornya lagi untuk kedua kalinya.


Didalam mobil Leny tak pernah melepaskan pegangan dari tangan sang suami. Sesampainya mereka di kantor, Ada dua pasang mata yang mengawasi pasangan Syaputra itu dari jarak yang sedikit jauh.


Daniel dan Leny masuk menuju kantor mereka. Seperti biasa, kedatangan Daniel disambut hangat dengan penuh senyuman oleh para karyawannya, dan tak lupa juga Daniel membalas senyuman mereka.


"Selamat pagi nyonya, anda cantik sekali hari ini" ucap karyawan wanita Daniel memuji


Namun Leny membalas sapaan mereka dengan senyuman dan semakin mempererat genggaman tangannya dengan Daniel, dan mereka berdua langsung menuju ke ruangan Daniel.


"Eh eh, akhir-akhir kenapa istri tuan Daniel kok sering ikut kekantor ya?" tanya karyawan wanita kepada temannya


"Mungkin karena kejadian 2 hari yang lalu, jadi nyonya menjaga ketat tuan Daniel" jawab temannya.


Siang harinya Daniel mengajak Leny untuk makan siang disebuah restoran mewah. Karena Leny mengidam ingin makan nasi kuning, jadi Daniel mencari restoran yang ada menu nasi kuning didalamnya.


Ada 1 mobil yang terus mengikuti pergerakan Daniel dan sang istri dari jarak beberapa meter di belakang. Sampainya Daniel di restoran itu, mobil itu juga berhenti dan orang yang mengikuti Daniel ikut masuk setelah Daniel dan Leny masuk.


Saat di meja makan dan tengah memilih menu, dua pasangan mata itu tetap mengawasi Daniel dan Leny dari jarak yang sedikit jauh di samping mereka.


Saat mereka mengintip Daniel dan Leny dari balik kertas menu, tiba-tiba Leny melirik mereka karena menurut Leny mereka mencurigakan. Saat akan menutupi wajah mereka namun sayangnya kepala mereka bertabrakan dan mengakibatkan bunyi yang sedikit keras


"Aduh, bodoh sekali" bisik pada temannya


"Kamu itu, menunduk tidak bilang-bilang" jawab teman satunya


"Hehe maaf, Leny tiba-tiba memperhatikan kita"