
Daniel terkejut melihat kedatangan Ayah dan Ibunya yang tiba-tiba berada di hotelnya. Karena kedua orang tuanya tidak memberi kabar kalau mereka berdua akan pergi ke Jepang menyusul putranya yang sudah membawa cucu kesayangan mereka hingga mereka harus berpisah dengan bayi tampan itu sampai waktu yang cukup lama.
"Ayah dan Ibu kok gak memberi kabar kalau ingin ke sini?" tanya Daniel.
"Jika kami memberi tau, bukan surprise dong namanya" jawab sang Ayah yaitu Leo.
"Kan Daniel bisa menjemput kalian di bandara" ucap Daniel.
Rani yang sedang asyik bermain dengan sang cucu langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Daniel. Setelah ia berdiri di depan pria tampan bertubuh atletis itu. Tangan lembutnya langsung menarik telinga sang putranya.
"Tega kamu ya memisahkan Ibu dengan cucu kesayangannya Ibu" ucap Rani menjewer telinga Daniel dengan nada geramnya.
"Berpisah dengan Damin selama sehari saja, serasa seperti setahun tau!" timpalnya yang masih terus menarik telinga putranya itu dan mereka yang melihat itu hanya bisa tertawa bahkan Damin seperti ikut tertawa melihat Ayahnya di perlakukan seperti itu oleh sang nenek.
"Aduh Bu, ampun Bu" rengek Daniel sambil memegangi tangan Ibunya yang tengah berada di daun telinganya.
"Tu lihat tu. Bahkan cucuku saja senang melihat Ayahnya di hukum oleh neneknya" ucap Rani mengejek.
"Jadi Ibu kesini cuma karena merindukan Damin saja?" tanya Dion dengan wajah memelas.
Rani melepaskan tangannya dari telinga Daniel kemudian ia menjawab "Apa kalian berdua cemburu dengan putra dan keponakannya sendiri?". Reni menyilang kan kedua tangannya.
"Lagian kalian juga sudah memiliki pasangan masing-masing" timpalnya menggeleng.
"Aku pikir Papa dan Mama juga akan ikut" ucap Leny dengan wajah cemberutnya.
Rani langsung ikut sedih melihat wajah menantunya itu. Kemudian ia berjalan mendekati Leny lalu memeluknya agar menghilangkan sedikit rasa sedih sang menantu.
"Sudahlah sayang, jangan sedih begini. Kan ada Ibu di sini, Ibu juga orang tamu" ucap Rani sambil mengelus pundak Leny dalam pelukannya.
Daniel mendekati Leny lalu mengelus kepala sang istri. Dia tau kalau wanita yang sangat ia cintai itu sangat merindukan sosok kedua orangtuanya yang berada jauh di negara tempat mereka lahir.
"Maaf ya Honey. Gara-gara Ayah ada urusan di sini, Bunda harus berpisah tadi Papa dan Mama" ucap Daniel ikut sedih sambil terus membelai kepala istrinya.
"Gapapa kok suamiku. Kan Ayah suaminya Bunda, jadi memang sudah menjadi kewajiban seorang istri yang harus patuh dan menuruti suaminya" jawab Leny tersenyum.
Daniel ikut tersenyum dan mengelus pipi Leny yang tengah menatap dirinya dengan senyuman manis yang terlukis di wajah cantiknya. Daniel merasa sangat beruntung memiliki istri seperti Leny yang begitu berbakti padanya walau kadang-kadang sangat menyeramkan jika sang istri tengah marah. Namun tidak mengurangi rasa cintanya pada wanita yang sudah menjadi Ibu dari anaknya.
"Lalu bagaimana dengan urusan kamu nak?, apa sudah beres?" tanya Leo mencairkan suasana.
"Hampir beres Ayah. Mungkin setelah murid-murid Daniel lulus, kami akan kembali ke Indonesia" jawab Daniel tersenyum.
"Apa tidak ada masalah yang lain?" tanya Rani.
"Beberapa hari yang lalu ada sedikit kendala di salah satu cabang kantor milik Daniel Bu. Tapi tenang saja, semua sudah di bereskan oleh menantu kesayangan Ibu ini" jawab Daniel tersenyum sambil mengelus kepala Leny dan Leny ikut tersenyum menatap Daniel.
"Kenapa harus menantuku yang membereskannya?. Jika terjadi sesuatu dengannya bagaimana?!" tanya Rani khawatir.
"Tidak kok Bu. Buktinya Leny baik-baik saja kok" jawab Leny tersenyum.
"Ekhem-ekhem" tegur Ayu yang duduk di sebelah Rani, ia sedari tadi hanya mendengarkan percakapan mereka.
Rani tersenyum dan langsung memeluk Ayu lalu ia menjawab "Enggak dong. Kamu juga menantu kesayangan Ibu".
"Terus Wulan?" potong Wulan dengan wajah cemberutnya.
"Kalau kamu kan putri Ibu satu-satunya sayang" jawab Rani dan menarik wulan agar ia juga bisa memeluknya.
"Udah dong ah. Masa kalah sama Damin yang dari tadi hanya diam saja" timpal Rani membelai kepala Ayu dan Wulan.
"Bagaimana bawahan yang lainnya?. Apa ada yang mencoba berkhianat lagi pada Dark.." Saat Leo ingin meneruskan ucapannya, sontak Rani langsung memotongnya karena ada Ayu dan Chelsea yang belum tau tentang Dark Shadow.
"Ayah..." tegur Rani dengan nada lembut sambil matanya memberi kode dengan menatap Ayu.
Ayu hanya celingak-celinguk melihat ke arah Rani dan juga ke arah Leo secara bergantian dengan ekspresi wajah yang menggambarkan seperti kebingungan.
"Dark? Dark apa?" tanya Ayu penasaran.
"Apa ada yang kalian rahasiakan dari aku?" tanya Ayu memojokkan mereka.
"Tidak ada sayang" sela tersenyum Dion menjawab sambil mengelus pundak sang istri.
"Maksud Ayah kamu itu dari bawahan perusahaan Daniel yang lainnya gitu" jawab Rani menegaskan.
"Kan beberapa hari yang lalu salah satu cabang dari perusahaan Kakak ipar kamu sedang mengalami masalah. Jadi Ayah mertua kamu merasa khawatir kalau ada lagi bawahan yang berkhianat sayang" timpalnya menjelaskan.
"Apa yang di jelaskan oleh Ibu itu benar Ayah?" tanya Ayu memastikan.
"Tentu saja menantuku" jawab Leo tersenyum.
"Sudah deh Sayang. Untuk apa di pikirin perusahaan milik Kakak ipar kamu yang terlalu banyak itu?, hanya membuat pusing saja. Lebih baik kita makan saja, aku sudah lapar" potong Dion mengganti topik pembicaraan agar Ayu tidak terus menekan sang Ayah demi jawaban yang jujur.
"Hanya makan saja yang ada di pikiran kamu itu" tegur Daniel sambil melemparkan sebuah bungkus tisu yang berada di atas meja restoran miliknya.
"Aku makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan" jawab Dion mengejek dan mereka semua hanya bisa tertawa melihat tingkah dari pria kembar tersebut.
"Melihat kalian berdua, mengingatkan Ayah pada Papa kalian. Dulu kami juga sering ribut seperti yang kalian lakukan barusan. Tapi, sekarang Kak Elang dan mbak Anita sudah tenang di alam sana" ucap Leo dengan raut wajah sedihnya.
"Sudah Ayah, jangan di pikirkan terus. Jika Ayah seperti ini, pasti Papa dan Mama akan sedih melihatnya dari surga sana" tegur Daniel tersenyum pahit.
"Iya, maafin Ayah ya karena sudah membuat kalian sedih" jawab Leo tersenyum.
"Melihat wajah Ayah yang menyeramkan itu jadi lucu kalau sedang sedih begitu. Seperti Doraemon ketika melihat seekor tikus" sambung Dion mencairkan suasana lagi dan berhasil membuat mereka semua tertawa.
"Sembarangan kamu ya, meledek Ayah kamu seperti itu. Mau Ibu kutuk jadi tutup pulpen?!" tegur Rani seakan tidak terima karena sang suami di ledekin oleh putranya sendiri.
"Ampun Bu ampun. Aku tidak mau menjadi anak durhaka" jawab Dion sambil memeluk Rani. Sedangkan mereka semua hanya tertawa melihat Dion yang tak bisa berkutik di hadapan Rani.
Setelah lama bercanda, akhirnya makanan yang mereka pesan sudah sampai di atas meja dan para pelayan langsung menyiapkan semua masakan populer yang ada di hotel mewah itu di atas meja termasuk masakan yang Leny ajarkan beberapa hari yang lalu. Karena banyak tamu hotel yang begitu menyukai Ayam bumbu kalasan khas racikan dari tangan pemilik hotel tersebut.