Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
SEMAKIN TAK TERKENDALI


William terus menyerang Daniel tanpa henti, ia semakin tak terkendali. Akan tetapi dari semua serangan yang di berikan oleh William, tak ada satupun yang berhasil mengenai Daniel dan bahkan Daniel bisa dengan mudah menyerang balik.


Dion dan yang lainnya juga masih bisa membuat para bawahannya William mundur meskipun mereka sudah mengkonsumsi obat terlarang itu. Akan tetapi tak membuat semangat Dion mundur untuk menghabisi semua musuh yang ada di depan matanya.


William dan para bawahannya semakin geram karena meskipun mereka sudah mengkonsumsi obat tersebut, akan tetapi Daniel serta teman-temannya masih bisa lebih unggul bahkan tidak ada rasa takut sedikitpun.


William semakin emosi dan mengeluarkan semua obat yang ada di dalam sakunya begitu juga para bawahannya.


"HAHAHA, KALI INI KAU AKAN KALAH Akai Raion" tawa William semakin menggila.


Saat William ingin menenggak beberapa obat terlarang itu, Daniel berusaha menahannya namun William tak memperdulikan peringatan yang Daniel katakan.


"Hey kau jangan gila!. Kau bisa mati jika memakan benda haram itu secara berlebihan!" ucap Daniel menegur.


"Setidaknya jika aku mati, kau juga akan ikut mati bersamaku. Jadi dendam ku selama ini terbalaskan ketika kita mati bersama" jawab William tersenyum meremehkan dan langsung menelan beberapa pil terlarang itu.


"Bersiaplah untuk mati" timpalnya tertawa penuh rasa percaya diri dan langsung menyerang Daniel lagi.


Daniel hanya berdecak kesal karena William tidak mendengarkan perkataannya tadi. Daniel juga mulai sedikit lebih serius menghadapi manusia yang sudah berubah seperti zombie.


"Kau pikir, kau bisa mengalahkan ku meskipun kau menelan ribuan butir benda itu?!" tanya Daniel sembari terus menghindari serangan yang di berikan oleh William.


"ARRKKHHHHH!" teriak William kesal dan semakin tak bisa mengendalikan dirinya saat menyerang Daniel.


Para bawahannya William juga melakukan hal yang sama. Setelah mereka menelan beberapa pil terlarang itu. Reaksi pada tubuh mereka semakin tak bisa di kendalikan, kepercayaan diri semakin tinggi dan merasa paling kuat.


"Tidak ada cara lain menghentikan sampah-sampah bodoh ini kecuali dengan membunuhnya" batin Daniel dan masih terus menghindar.


"Awalnya kami tak ingin membunuh kalian, namun kalian sudah kehilangan akal. Jika terus di biarkan, maka tubuh kalian juga akan mati dan saling menyerang satu sama lain" timpalnya.


Di tempat lain, tepatnya di mana Dion dan yang lainnya sedang bersusah payah menghadapi musuh-musuh mereka karena semakin di hajar, maka semakin gila pula para grup Valkery tersebut.


"Kali ini sepertinya lebih sulit dari yang waktu itu" ucap Kevin sembari terus menghajar musuh-musuh yang terus berdatangan menyerang dirinya.


"Kau benar, ini semua karena efek dari pil haram itu" jawab Fauzi yang sedikit kewalahan menghadapi musuh-musuh yang menyerang.


"Sudah, jangan terlalu banyak mengeluh. Kita kalahkan saja mereka, kita buktikan pada mereka siapa itu Dark Shadow, agar tak ada lagi orang-orang bodoh yang berani menentang kita" sela Rian memotong.


Daniel yang sedang fokus menghadapi William seorang diri tiba-tiba di kejutkan dengan kedatangan salah satu anak buahnya William yang datang dan menghantamkan sebuah pemukul baseball ke arah Daniel.


Namun dengan refleks yang Daniel miliki, ia bisa menghindar dari serangan tersebut walaupun benda keras itu hampir menghantam kepalanya.


"Satu belum beres, malah datang lagi beberapa orang gila" ucap Daniel sambil membersihkan bajunya dari debu-debu yang menempel.


Beberapa bawahan William yang menggenggam pemukul baseball itu berlari menuju ke tempat Daniel berdiri. Bukanya merasa takut maupun bergetar, Daniel justru malah diam dan menunggu para anak buahnya William tiba menyerang dirinya.


Saat mereka mengayunkan senjata yang berada di tangan ke arah Daniel, secara tiba-tiba para pemimpin kelompok yang ikut membantu Daniel datang dan langsung menghajar anak buahnya William agar mereka jauh dari tempat sang tuan muda berada.


"Butuh waktu 100 tahun untuk kalian bisa menyentuh tuan muda kami" ucap Yosuke setelah ia berhasil menendang perut salah satu dari bawahannya William hingga terpental beberapa meter.


"Cih!. Benar-benar obat yang merepotkan" ucap Mizaki karena melihat pria yang di tendang oleh Yosuke masih bisa langsung bangkit meskipun tendangan yang di berikan oleh Yosuke lumayan sangat keras.


"Anda tidak apa-apa tuan muda?" tanya Takaoka merasa khawatir.


"Tidak Takaoka Sensei, aku baik-baik saja" jawab Daniel.


"Berani sekali kalian mengeroyok tuan muda!" ucap Takaoka geram dan langsung menghajar salah satu dari anggota Valkery secara membabi buta seakan ia juga ikut menelan obat terlarang itu.


Takaoka terus memukuli pria yang berada di bawahnya tanpa henti sampai ia kelelahan. Akan tetapi pria yang baru saja di hajar oleh Takaoka masih bisa bangkit bahkan seakan tak merasakannya apa-apa justru ia malah tertawa seperti orang yang sudah tak memiliki akal sehat.


Kedua bola mata Takaoka langsung terbelak karena melihat pria yang baru saja ia hajar itu tidak merasakan sakit sedikitpun pada tubuhnya, bahkan pria itu menantang Takaoka untuk menghadapinya.


Peperangan semakin memanas, meskipun Wiliam dan para bawahannya sudah menelan obat terlarang itu dengan jumlah yang banyak, akan tetapi Daniel serta teman-temannya masih bisa menghadapi musuh-musuhnya tanpa ada yang tumbang.


Dua wanita cantik yang merupakan petinggi dari Dark Shadow itu juga merasa kewalahan menghadapi beberapa pria yang terus menghampiri mereka. Meskipun kedua wanita cantik itu terus melakukan penyerangan, orang-orang yang mendapatkan serangan tersebut bisa langsung bangkit seakan tubuh mereka tidak mengalami luka.


Pada saat salah satu anggota Valkery itu mengayunkan pemukul baseball dari titik buta nya Wulan yang merupakan bagian belakangnya, secara tiba-tiba Dion datang dan menjadi tameng untuk Wulan dan hal hasil punggung belakang Dion terkena pukulan yang sangat keras dengan suara yang begitu keras.


"KAK DION!!!" teriak wulan panik melihat sang Kakak yang tengkurap di atas tanah.


"Tuan muda Dion!" sambung Jasmine tak kalah paniknya dan langsung membantu Wulan mengangkat tubuh Dion.


Daniel yang mendengar Wulan yang berteriak menyebut nama sang Adik, ia langsung menoleh dan ia melihat Dion yang sudah tergeletak di atas tanah dengan mata sayu seperti ingin kehilangan kesadaran.


Melihat sang Adik yang terluka, Daniel langsung berlari menghampiri Dion yang berada di atas tanah dengan posisi kepala berada di pangkuan Wulan.


"Ada apa dengannya?, apa yang terjadi?" tanya Daniel khawatir setelah tiba di tempat Dion terluka.


"A...aku ba...baik-baik saja Kak" jawab Dion tersenyum sambil menahan rasa sakit.


"Ini semua salahku Kak, hiks...hiks... jika saja aku tidak lengah, mungkin Kak Dion tidak akan seperti ini" sela Wulan yang sudah menitihkan air matanya.


"Ka...kamu tidak bersalah Adikku, se... sebagai seorang Kakak, sudah me...menjadi kewajibannya untuk me... melindungi Adiknya" jawab Dion tersenyum sambil mengelus pipi sang Adik dan menghapus air mata pada pipinya.


"Kak, ma...maaf. A...aku sudah mengecewakanmu, to...tolong jangan salahkan Adik kita ya, li... lindungi dia" timpal Dion semakin melemah.


"Jangan terlalu banyak bicara, jangan buang-buang tenaga mu itu. Tanpa kamu minta, aku akan melindunginya" jawab Daniel berjongkok dengan tatapan sedih menatap sang Adik yang sudah mulai menutup matanya.


Dion menatap Wulan dan ia tersenyum, lalu ia berkata "Ma..maafkan Kakak ya" lirih Dion lemas sembari mengelus pipinya Wulan, namun semakin melemah hingga tak lama kemudian Dion tak sadarkan diri dan tangannya yang tadinya menyentuh pipi sang Adik terjatuh ke atas tanah.


"KAK DION!!!!" teriak Wulan histeris dengan air mata yang terus berlinang.


Rian, Fauzi, Kevin, berteriak penuh emosi dan menghajar seluruh bawahannya William dengan seluruh aura yang mereka miliki.


Jasmine yang sedari tadi hanya menangis, ikut berteriak dan langsung mengeluarkan senjata yang merupakan dua buah pistol lalu menebakki para anak buahnya William.


Sedangkan Daniel hanya terdiam dan termenung menatap sang Adik yang tengah terluka parah itu namun dengan wajah yang tersenyum.


Tiba-tiba area tempat pertempuran itu menjadi terasa sangat berat, dan aura gelap muncul dari tubuh Daniel. Aura gelap itu begitu terasa sangat berat hingga seluruh orang yang berada di sana bisa melihat dua sosok bayangan hewan besar berwarna hitam dari atas kepala Daniel yang masih berlutut termenung menatap Dion. Sosok hewan itu adalah seekor singa dan juga serigala yang tengah mengaung.