Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
CANDAAN PENUH CINTA


Daniel meregangkan tubuhnya setelah usai melakukan olahraga siang ini, dan ia pun berjalan menuju ke dalam sekolah lagi. Sesampainya ia di depan gerbang, ia di sambut oleh Joe dengan senyuman bangganya terhadap sang kapten yang begitu hebat dan terus menjadi motivasinya dalam hidup.


"Kau memang hebat seperti biasanya kapten, bahkan lebih hebat dari masa lalu" ucap Joe tersenyum sambil menepuk pundak Daniel.


"A..a..apakah anda tidak terluka Daniel Sensei?" tanya Haruka dengan gugupnya.


"Seperti yang kamu lihat" jawab Daniel tersenyum sambil melebarkan kedua tangannya seakan menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.


"Tapi tangan anda apa tidak apa-apa?" tanya Miu


"Kami tadi mendengar dengan sangat jelas saat ada sebuah benturan, dan setelah kami membuka mata, ternyata anda mampu meninju benda keras itu hingga patah" sambungnya.


"Lihat, baik-baik saja kan?" jawab Daniel sambil memperlihatkan tangannya yang hanya merah saja.


"Syukurlah" ucap mereka semua merasa lega karena Daniel tidak terluka sedikitpun.


"Yaudah, ayo kita masuk. Aku harus kembali mengajar" ucap Daniel masuk ke dalam menuju ke kelasnya.


"Kamu begitu beruntung Leny-san, kamu memiliki suami yang tampan dan begitu hebat" batin Haruka termenung.


"Ayo masuk Haruka Sensei, kenapa malah bengong" ajak Joe dan membuat Haruka langsung tersadar dari lamunannya.


"E..e..eh, i..iya Sensei" jawab Haruka terbata-bata.


Daniel berjalan dengan santai menuju ke kelasnya di ikuti Joe dan guru-guru yang menyaksikan kehebatannya di luar tadi. Sepanjang perjalanan menuju ke tempat ia mengajar, Daniel di sambut dengan sorak kan yang sangat mengagumi dirinya sampai membuat satu sekolah menjadi heboh akan kehebatan guru baru tersebut.


"Daniel Sensei!" teriak para siswi histeris yang melihat ia berjalan.


"Anda sangat hebat" sambung yang lainnya bersorak.


"Lihat, Daniel Sensei kembali dan dia tidak terluka sedikitpun" ucap salah satu muridnya yang berada di dalam kelas miliknya.


"Bahkan Daniel Sensei bisa mengalahkan para murid-murid berandalan itu sambil menelpon" sambung yang lainnya.


Langkah demi langkah saat menuju ke kelas, tak sedikitpun suara sorakan itu berhenti memuji kehebatan Daniel, dan Daniel hanya tersenyum membalas teriakan dari para siswa-siswi yang memanggil namanya.


Setibanya Daniel di depan kelasnya, ia masing tetap mendengar para murid dan guru-guru wanita yang terus membicarakan tentang kehebatan dirinya, dan pada saat ia masuk kedalam kelas, ia juga di sambut sangat meriah oleh murid-muridnya yang sudah menunggu ia di dalam kelas.


"Selamat datang kembali Sensei, terima kasih atas kerja kerasnya" sambut para muridnya memberi hormat dengan membungkuk setelah ia masuk ke dalam sedangkan Gunpei masih memapah Hiroto yang masih tak sadarkan diri.


"Sudah-sudah, kembali ke tempat kalian masing-masing" ucap Daniel memerintah.


"Baik Sensei" jawab para muridnya.


"Gunpei, apa Hiroto masih tertidur?" tanya Daniel yang melihat Hiroto masih memejamkan matanya dalam pelukan Gunpei.


"Sepertinya begitu Sensei" jawab Gunpei.


"Dasar bocah ini, malah nyaman tertidur" ucap Daniel menggelengkan kepalanya.


Kemudian mata Daniel tertuju pada sebuah botol yang berisikan air mineral di atas mejanya. Ia tersenyum sambil mengambil botol tersebut lalu ia berjalan menuju ke tempat Hiroto yang masih terlelap, dan ia meneteskan air ke wajah Hiroto beberapa kali sampai ia terbangun dari tidurnya.


"Bangun!. Di sekolah tempatnya belajar, bukan untuk tidur!" ucap Daniel sambil terus meneteskan air itu ke wajah muridnya tersebut.


Setelah beberapa tetesan air yang di siram oleh Daniel, secara perlahan membuat kelopak mata Hiroto bergerak dan terbuka. Setelah ia tersadar, ia langsung terkejut saat melihat Daniel berjongkok sambil tersenyum di depannya.


"Mana mereka?, kenapa aku tiba-tiba berbaring di tempat ini?" ucap Hiroto bertanya-tanya dan langsung berdiri.


"Mereka sudah pergi, sebaiknya kau kembali ke tempat duduk mu dan jangan pernah berfikir untuk mencari mereka lagi" jawab Daniel sambil menoyor jidat Hiroto.


"Berisik!" ucap Hiroto sambil berjalan menuju ke mejanya dan Daniel hanya tersenyum saja.


Setelah semua masalah selesai, Daniel mulai kembali mengajar murid-murid nakal tersebut dengan suasana mood gembira dari seluruh muridnya yang berada di dalam kelas itu kecuali Hiroto.


Bel sekolah pun berbunyi dan waktu pun menunjukkan bahwa mereka harus pulang ke rumah. Para murid berhamburan keluar dari gedung bertingkat tersebut. Murid-murid Daniel juga pada berhamburan keluar kelas agar mereka bisa cepat-cepat pulang ke rumah agar bisa mengistirahatkan tubuh mereka setelah lelah berada di sekolah tersebut.


Daniel juga sudah bersiap-siap kembali ke hotel untuk menemui istri dan putranya yang sudah sangat ia rindukan setelah setengah hari berpisah. Walaupun tadi Leny sudah sempat datang, namun rasa rindunya Daniel pada mereka tak bisa di hindari lagi.


Saat Daniel menuju ke tempat parkir mobilnya, ia melihat Haruka yang sedang berdiri di depan gerbang seperti sedang menunggu sesuatu karena matanya terus menatap ke arah jalan dengan kepala yang terus melihat ke kanan dan ke kiri. Tak lama kemudian ia juga melihat mobil milik Joe yang berhenti tepat di sebelah Haruka berdiri. Daniel hanya tersenyum melihat mereka dari kejauhan.


Sesampainya Daniel di hotelnya, dia langsung menuju ke dalam dan para penjaga serta pekerja hotel miliknya langsung memberikan hormat serta menyambut kepulangan bos besar mereka dengan semangat.


"Selamat datang tuan muda" ucap sang kepala hotel miliknya dan di balas Daniel dengan senyuman saja lalu ia langsung bergegas menuju ke kamarnya dimana ada istri dan sang putra yang sudah menunggu dirinya.


Ketika Daniel sudah berada di depan pintu kamarnya, ia tak langsung masuk dalam karena ia takut mengejutkan istri dan anaknya yang sedang berada di dalam kamar itu. Ia malah melakukan sebuah candaan pada sang istri dari luar pintu kamar.


"Permisi" ucap Daniel sambil mengetuk pintu kamarnya.


Leny yang sangat mengenali suara tersebut hanya tersenyum dan mengikuti candaan dari sang suami.


"Iya, siapa ya?" tanya Leny sedikit berteriak sambil tersenyum-senyum.


"Dari kurir paket" jawab Daniel tersenyum.


"Ha?, paket?. Perasaan saya tidak pernah memesan paket deh?" tanya Leny terkekeh.


"Iya, ini paket spesial yang sudah di pesankan oleh seorang pria untuk wanita tercantik di dunia" jawab Daniel tersenyum.


"Waduh, sepertinya masnya salah alamat deh. soalnya saya sudah memiliki suami dan putra yang sangat tampan persis seperti Ayahnya" jawab Leny tertawa kecil.


"Buruan dong buka, masih banyak paket yang harus saya antar kan" ucap Daniel.


"Ih, masnya kok maksa sih?, nanti saya bilangin sama suami saya loh" ucap Leny mengancam.


"Saya sudah meminta izin sama suaminya mbak kok" jawab Daniel mengejek.


"Kata suaminya mbak, kalau istrinya nakal di gigit aja hidungnya" timpal Daniel.


"OOO gitu ya?" tanya Leny.


"Kalau begitu, bilang sama suami saya kalau dia gak bakal saya kasih jatah selama seminggu" timpal Leny tak mau kalah.


"Ih, jangan dong. Kasian suaminya nanti mbak gak dapat asupan gizi" ucap Daniel merengek.


"Salah sendiri, siapa suruh pulang telat" jawab Leny mengejek.


"Udah dong mbak, buka pintunya" ucap Daniel memohon.


"Gak mau" jawab Leny menjulurkan lidahnya.


"Saya hitung dari satu sampai seratus ni. Kalau Mbak gak mau buka pintunya, saya akan jual ni pintu" ucap Daniel mengancam.


"Kelamaan dong mas" jawab Leny terkekeh.


"Yaudah-yaudah, sampai tiga aja deh. Saya juga bakal capek kalau menghitung sebanyak itu" ucap Daniel.


"Satu..." ucap Daniel mulai menghitung.


"Dua..." jawab Leny menyambung dan membuat Daniel terkekeh.


"Ti..." pada saat Daniel ingin mengatakan kata tiga, tiba-tiba pintu terbuka.


"Ga.." ucap Daniel dan langsung menggendong Leny masuk ke dalam kamar dan Leny berpura-pura memberontak dalam gendongannya Daniel.


"Ih lepasin mas, apa-apaan masnya ini kok tiba-tiba main angkat aja" ucap Leny melawan dengan memukul pundak belakang Daniel dengan sangat lembut.


"Tadi saya dapat pesan dari suaminya mbaknya untuk menghukum mbaknya di atas ranjang" jawab Daniel terus berjalan menuju ranjangnya.


"Sebagai kurir yang profesional, maka akan saya lakukan pekerjaan ini" timpal Daniel sambil membaringkan tubuh Leny di atas ranjang.


Pada saat Daniel ingin menyerang sang istri, tiba-tiba Leny menahannya dan membuat Daniel mengerutkan keningnya.


"Kunci dulu pintunya mas!" ucap Leny menunjuk ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka.


"Main nyosor saja. Mentang-mentang ganteng dan wajahnya mirip anak saya" timpal Leny mengejek.


"Astaghfirullah, saya lupa" jawab Daniel menepuk jidatnya dan langsung berjalan menuju ke pintu untuk menguncinya agar tidak ada yang menganggu peperangan mereka.