
Aqila semakin bingung dengan sosok pria tampan yang ada di depannya, mengapa lelaki itu membawanya ke Jepang?, apa yang akan dia lakukan pada wanita secantik Aqila?.
Elang kembali menggenggam erat tangan milik Aqila, dia tak mau wanita yang ia sayang akan terlepas dari genggamannya. Sedangkan Aqila merasa semakin tak karuan pada jantungnya, entah apa yang ia rasakan. Antara takut dan bahagia menjadi satu.
"Tunggu saja cantik, aku akan memperkenalkan kamu pada calon mertuamu" batin Elang tersenyum dan semakin erat menggenggam jemari sang pujaan hatinya
"Ahk...! mas sakit ih, jangan keras banget genggamnya" protes Aqila karena genggaman Elang semakin erat di tangannya
Elang berhenti dan berbalik badan lalu tersenyum manis pada si cantik kemudian berkata
"maafkan aku ya cantik, aku cuma takut kamu hilang di keramaian ini"
"Sudahlah cantik. Jangan berdebat terus, nanti kita bisa ketinggalan pesawat loh. Sekali lagi kamu komplain, aku gendong kamu" timpal Elang tersenyum nakal
"Ih maunya" ucap Aqila memukul lengan Elang dengan pelan
"Tapi apa alasannya kamu mengajakku ke Jepang?" timpal Aqila
"Hmm.. anggap saja sebagai perayaan untuk kesembuhan kamu" jawab Elang mengacak rambut Aqila
"Aih... sampai segitunya ya?" ucap Aqila yang sebenarnya sangat bahagia di perlakukan sangat spesial oleh Elang
"Yaudah ayo ah, nanti ketinggalan pesawat pula" ucap Elang lalu menggenggam tangan Aqila
Mereka langsung menuju ke dalam pesawat saat mendengar panggilan keberangkatan mereka berdua.
Di dalam pesawat Aqila hanya diam dan tidak bisa berkata-kata. Dalam hatinya sangat bahagia karena Elang sangat memperhatikan dia. pengorbanan dia tidak sia-sia, karena jika dia ingin bertemu dengan Elang, mau tidak mau dia harus jatuh sakit.
"Cantik... kok diam saja?" tanya Elang memulai obrolan
"Hm?, tidak apa kok" jawab Aqila tersenyum manis
Waktu perjalanan menuju Jepang memakan waktu sekitar 7 jam 20 menit. Waktu yang sangat lama untuk dua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu.
Walaupun tidak ada pernyataan cinta, namun mereka sama-sama tau isi hati masing-masing.
Karena tidak ada obrolan, membuat mata Aqila mengantuk, dan perjalanan masih butuh waktu sekitar 5 jam lebih.
Kepala Aqila terangguk-angguk sendiri karena terlalu berat menahan kantuknya. Sedangkan Elang menahan tawanya melihat wanita cantik di sebelahnya seperti burung pelatuk yang sedang mematuk-matuk kayu.
"Kamu mengantuk cantik?" tanya Elang menahan tawa
Aqila menatap Elang dengan mata yang sudah sayup karena sudah terlalu mengantuk. Sebelum Aqila menjawab, tangan Elang langsung menarik kepala Aqila dan masuk dalam pelukannya.
"Tidurlah, perjalanan kita masih sekitar 5 jam lagi" ucap Elang membelai lembut kepala Aqila
Aqila tidak berani menatap wajah Elang dengan jarak dekat, dia hanya mengangguk dan sekali lagi ia tertidur pulas dalam pelukan Elang.
Pelukan Elang begitu nyaman untuk wanita cantik itu, dia semakin larut dalam pelukan sang pangeran tampannya. Dengan lembut Elang membelai kepala wanita yang ia cintai itu dan membuat matanya merasakan kantuk juga perlahan ia memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya pada pucuk kepala Aqila.
Setelah tertidur selama 1 jam lebih, perlahan mata Aqila terbuka dan ia merasakan beban di atas kepalanya serta hawa nafas yang hangat.
Perlahan ia mendongak dan sorot matanya menatap sosok lelaki tampan tepat di depan matanya. Pandangan yang begitu sempurna menurut wanita cantik itu.
Dia mencoba memberanikan diri untuk menyentuh wajah tampan milik Elang, tangannya begitu gemetar saat menyentuh wajah lembut pangeran tampannya itu.
"Sungguh ciptaan Tuhan yang sempurna" gumam Aqila sambil menyentuh pipi lembut milik Elang
Elang sepertinya merasakan ada sebuah sentuhan lembut pada wajahnya, perlahan ia mencoba membuka matanya dan melihat wanita cantiknya tengah asyik membelai wajahnya, tercipta senyuman manis pada wajah Elang. Aqila yang menyadari bahwa sang pangeran tampannya sudah bangun langsung menyelesaikan aktivitasnya tadi dan langsung membuatnya salah tingkah.
"Aduh ketauan, gimana nih?" gumam Aqila
"Kenapa cantik?" goda Elang mencolek dagu Aqila
Aqila hanya menggeleng saja dan tetap tidak berani menatap wajah Elang.
"Aku di sini loh cantik, bukan di bawah" goda Elang mencubit pipi Aqila
Wajahnya memerah seperti tomat matang, dia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sedangkan Elang tertawa kecil dan semakin gemas dengan si cantiknya itu.
Sudah 7 jam lebih mereka berada dalam pesawat dan tentu saja Elang tak hentinya menggoda wanita cantiknya itu dan membuat Aqila semakin berdebar senang mendapatkan perlakuan seperti itu.
Tibalah saatnya pesawat yang mereka tunjukkan untuk mendarat. Akhirnya mereka sudah sampai di bandara nasional Narita.
Para penumpang berhamburan keluar untuk segera mendatangi sanak keluarga mereka yang sudah menunggu mereka di dalam bandara itu.
Pada saat Aqila ingin melangkah, tiba-tiba tangannya di tahan oleh Elang dan langsung mendapatkan ciuman hangat pada keningnya.
Deg...
"Duh jantungku, ayo berdetak dengan normal, jangan seperti ini, nanti dia bisa dengar loh" batin Aqila
Elang melepaskan ciumannya dan tersenyum menatap Aqila yang sudah memerah karena malu atau senang. Lalu iya menggandeng tangan Aqila dengan lembut dan menuju keluar dari pesawat itu.
Aqila terus terbayang memikirkan hal yang di lakukan oleh Elang di dalam pesawat tadi. Tidak ada rasa marah atau jijik di hatinya, justru membuatnya semakin mencintai pangeran tampannya itu.
Elang membawa Aqila menuju sebuah mobil mewah yang sudah menunggu mereka dari tadi. Mobil yang menjemput Elang dan Aqila adalah mobil terbaru dan termahal pada zamannya, bahkan Aqila tidak bisa untuk membeli mobil tersebut.
"Mewah sekali, ternyata pangeranku ini sangat kaya" batin Aqila
"Konbanwa sensei (selamat sore tuan)" ucap supir pribadi Elang dan membukakan pintu untuk mereka
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan, tak ada obrolan di dalam mobil hanya ada kecanggungan saja di situ.
Aqila terus saja memikirkan hal yang tadi dan dia terus saja mengusap keningnya yang bekas Elang cium tadi.
Mereka pun tiba di sebuah rumah yang sangat mewah dan sebuah pintu pagar yang sangat besar tentu saja rumah itu milik keluarga besar Elang.
Pintu gerbang terbuka, mata Aqila melihat sekeliling rumah mewah itu, dia sangat kagum dengan pemandangan indah pada rumah itu.
Saat Elang dan Aqila memasuki rumah, puluhan orang yang menggunakan jas hitam dan juga kacamata hitam membungkukkan badannya menyambut kedatangan tuan muda mereka.
Aqila sangat kebingungan, siapa sebenarnya pangerannya itu?, mengapa dia begitu di hormati?, hanya itu yang ada dalam pikirannya saat itu.
Pintu utama di bukakan oleh pelayan. Saat mereka masuk kedalam, ternyata sudah ada sosok pria dan wanita paruh baya yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Anakku" ucap wanita paruh baya itu memeluk erat Elang
"Akhirnya kau pulang juga nak" ucap pria paruh baya itu menepuk pundak Elang lalu mereka berpelukan untuk melepaskan rindu
Tak lama kemudian Leo muncul dan langsung memeluk sang kakak.
"Akhirnya kau mau juga pulang kak" ucap Leo masih memeluk Elang
"Ehkem-ehkem" tegur wanita cantik yang berada di samping Leo dan tidak lain ia adalah Rani yang pada saat itu adalah masih berstatus kekasih Leo
"Eh, calon adik ipar" ucap Elang mengelus kepala Rani
"Kakak lama sekali" ucap Rani memeluk Elang...