
Ketika Aidil menatap kearah jam 2, dia melihat sosok wanita yang telah lama ia sukai. Wajahnya berubah menjadi sinis karena melihat ada sosok lelaki yang begitu dekat duduk di sebelah Leny.
"Siapa lelaki itu?!, berani sekali mendekati Leny" Aidil melangkah mendekati Leny dan yang lainnya
Ketika sampai dekat Leny, Aidil berniat ingin menggoda Leny. Namun dia melihat Leny terus memeluk pundak lelaki yang duduk di sampingnya dengan mesra, dan sesekali Leny mengelus pipi Daniel.
"Leny apa-apaan ini?!, siapa bajingan ini?!" Aidil membentak dan menunjuk Daniel
Leny menjawab dengan acuh
"Bukan urusanmu dia ini siapa, kamu tidak ada hak untuk mengaturku harus berdekatan dengan siapa"
Mata Aidil membuka lebar dan mengeratkan giginya. Dia seperti ingin memukul lelaki yang Leny pegang itu, dia menatap Daniel dengan jijik.
"Hey! miskin! siapa kamu? berani sekali kamu mendekati kekasihku?"
Daniel hanya tersenyum dan batinnya tertawa
"Haha. kekasihmu?! kita lihat saja nanti bagaimana kamu aku buat menyesal"
Aidil terus menatap Daniel, dia menarik kera baju Daniel dan memaksanya untuk berdiri
"Kalau tuan muda sedang bertanya! maka harus di jawab dasar miskin!"
Leny berdiri dan langsung menepis tangan Aidil
"Apa-apaan kamu ini!. sudah sayang ayo kita duduk"
Aidil semakin marah
"Apa sayang?!. Berani sekali kamu mengatakan seperti itu di depanku!, apa kamu tidak menghargai aku?!"
Leny tertawa dan berkata
"Haha. menghargai?! memangnya siapa kamu?!. Aku tidak memiliki ikatan apapun denganmu!"
Adil semakin geram, dia mengeratkan giginya dan menunjuk Daniel
"Kamu! kamu!.."
Belum selesai berbicara Leny langsung bertindak, dia langsung menampar Aidil
"Jaga sikapmu!, jangan buat malu diri kamu sendiri!"
Novi terkejut melihat emosi Leny. dia berbisik kepada Leny
"Mengapa kamu melakukan itu?, jangan berurusan dengannya, apalagi dengan orangtuanya"
"Leny ku sayang, kamu tega menyakitiku demi membela sampah seperti ini"
Leny menunjuk Aidil dan membentaknya
"Aku sudah katakan!, jangan pernah memanggil nama itu, aku mau muntah!"
Aidil menatap Daniel dan mengancamnya
"Tunggu sampai papaku sampai!, kau akan bersujud di kakiku"
Daniel tertawa dan meremehkan Aidil
"Haha. sudah tua masih bergantung kepada orangtuanya? gak malu apa masih mau merebut istriku"
Adil terkejut
"Apa istri?!, haha kamu jangan terlalu berharap!, aku yakin kamu hanya seorang supir. Jadi jangan terlalu tinggi untuk menghayal!"
Daniel melambaikan dan menjawab dengan acuh
"Ya baiklah-baiklah terserah apa katamu"
"Aku yang begitu kaya raya saja ditolak olehnya, apa lagi kamu yang hanya seorang yang kelihatannya sangat miskin"
Tak lama kemudian tiba-tiba datang sekelompok orang berpakaian hitam dan seorang lelaki tua memasuki mall, ternyata mereka adalah orangtuanya Aidil dan para pengawalnya
Pria tua itu mendekati mereka dan bertanya
"Apa ini?! siapa yang berani menggangu anakku?"
Aidil langsung memasang wajah melas dan menjawab
"Pa. Lihat lelaki miskin itu, dia telah membuat anakmu terluka"
Dimas Pratomo langsung menatap Daniel, tanpa berbicara apapun dia langsung menampar Daniel
"Berani sekali kamu berbuat seperti itu kepada putraku"
Leny dan Novi terkejut, mata mereka langsung melotot melihat Daniel di tampar. Ketika Novi ingin membela dan angkat bicara, tiba-tiba tangan Daniel menahannya
"Sudah, masalah kecil ini biar aku yang urus"
Novi mengurungkan niatnya dan kembali tenang. Dia hanya menyaksikan bagaimana caranya Daniel menyelesaikan masalah besar itu.
Dimas menunjuk dan mengarahkan tongkatnya ke kepala Daniel. dia memukul-mukul tongkatnya ke kepala Daniel
"Kamu hanya anak kemarin sore, jadi jangan sombong"
Leny menjadi sedih melihat suaminya diperlakukan dengan hina di depan orang banyak, dan tentu saja mereka menjadi tontonan para teman-teman kuliahnya
Aidil berbicara dengan sombongnya
"Haha ini akibat karena telah berurusan denganku. Ingat! aku adalah anak dari Dimas Pratomo!, Aidil Pratomo, CEO dari Erlangga elektronik!"
Dimas juga berkata dengan sombong
"Sudahlah anakku jangan seperti itu, jangan buat dia terkena serangan jantung. Jika terjadi maka dia tak mampu untuk mengobatinya"
"Sudahlah kamu tinggalkan saja lelaki sampah ini, menikahlah denganku"
Leny mendorong Aidil
"Jangan bermimpi!, aku tidak pernah menyukai seorang pria yang bersembunyi di bawah ketiak orangtuanya"
Mata Dimas langsung terbuka lebar, dia menatap kearah Leny dan menghinanya
"Kamu wanita tidak tahu diri!, masih bagus anakku ingin menikahimu!, jangankan kamu! harga diri kedua orangtua kalian bisa aku beli dengan mudah"
Daniel yang tadinya diam saja, akhirnya angkat bicara karena mendengar omongan orang sombong itu
"Pak tua, jangan marah-marah. Ingat usia anda sudah tidak muda lagi, jangan biarkan kolestrol anda sampai menyerang anda. Oh iya satu lagi!, aku mau kalian berdua meminta maaf kepada istriku dan menarik kata-kata kalian semua"
Adil tertawa dan meremehkan Daniel
"Haha. Meminta maaf?, jangan bermimpi dong aduh. Dasar miskin!"
Dimas juga berkata
"Untuk apa aku meminta maaf?! masih untung aku mau bermurah hati tidak menghukum kalian. Dan kalian masih ingin aku meminta maaf?! haha jangan konyol bocah!"
Daniel berkata lembut namun mengancam
"Pak tua tolong ya, jangan sampai aku membuat kalian semua menyesal"
"Mengapa aku harus menyesal? sebelum kamu lahir, aku sudah menginjakkan kaki di sini dan menguasai semuanya"
Daniel menggelengkan kepalanya dan dia mengeluarkan ponselnya, lalu dia bertanya
"Pak tua apa tadi nama perusahaan kalian?"
Dengan sombong Diman berkata dengan tegas
"Erlangga elektronik"
Daniel tersenyum dan menjawab
"Baiklah jika kalian tetap tidak ingin meminta maaf kepada istriku, jangan menyesal"
Leny yang sakit hati mendengar perkataan Dimas, dia hanya terdiam dan perlahan air matanya menetes. Novi melihat Leny dan memeluknya
"Sudah tidak apa-apa, aku akan membela kalian jika terjadi sesuatu"
Batin Novi berkata
"Daniel bagaimana kamu menyelesaikan masalah yang membesar ini?, ini semua karena anak papi itu!"
Daniel menelepon Fauzi, dan berkata dengan tegas
"Aku ingin tau informasi tentang Erlangga elektronik, jika sudah dapat, musnahkan!"
Dimas dan Aidil melotot dan seketika menjadi tawa
"Haha. Ingin memusnahkan perusahaan ku?, khayalan kamu terlalu tinggi nak"
Tiba-tiba ponsel milik Dimas berdering dan dia mendapatkan kabar buruk tentang perusahaan miliknya. Banyak client yang memutuskan untuk berhenti bekerja sama dengannya, dan banyak toko-toko besar di Jakarta yang tak ingin mengambil elektronik miliknya. Dia menutup ponselnya, tangannya gemetaran, dan dia langsung bersujud kepada Daniel.
Aidil menarik Dimas dan menyuruhnya bangkit
"Pa. Ada apa? mengapa papa harus bersujud di hadapan sampah ini?!"
Dimas menatap Aidil dengan kejam dan langsung menamparnya, lalu dia memberikan ponselnya kepada Aidil. Mata Aidil melotot seperti ingin keluar melihat pesan tentang hancurnya perusahaan milik ayahnya yang sudah puluhan tahun berdiri.
"Pa! ini bohong kan?, ini tidak mungkin!"
Dimas masih bersujud dan terus memohon ampun kepada Daniel
"Tuan muda maafkan si tua busuk ini, maafkan saya maaf, maaf, maaf"
Daniel tersenyum sombong dan memasukkan tangannya ke dalam sakunya
"Hmp!. Tadi anda berkata sombong, sekarang menjadi seperti tikus yang menjijikkan!"
Leny dan Novi sangat bingung mengapa salah satu orang yang terkaya di Jakarta sangat tidak berdaya dan memohon ampun kepada Daniel. Novi semakin yakin kalau Daniel bukan warga biasa.
Daniel berjongkok dan mengancam
"Pergi dari sini!, bawa anak manja itu jauh-jauh dari pandanganku!"
Lalu Daniel berdiri dan melangkah ke arah Aidil
"Jangan pernah membuatku harus berbuat keji!, lihat papa yang kamu banggakan sudah tak memiliki apa-apa lagi sekarang!, pergi kalian semua!"
Aidil membantu Dimas berdiri dan langsung buru-buru pergi menjauhi Daniel, ketika Aidil dan yang lainnya sudah sampai d pintu keluar, tiba-tiba Daniel berbicara
Daniel melambaikan tangannya dengan senyuman hina
"Selamat berjuang ya tuan!, semoga menjadi lebih baik"
Dimas menatap Daniel, dan wajahnya semakin takut melihat senyuman Daniel. Dia langsung buru-buru keluar dan menyeret Aidil. Leny dan Novi yang sedang berada di dekat Daniel dibuat bingung dengan semua itu.
"Sayang apa yang kamu lakukan? mengapa pak tua yang tadinya sombong tiba-tiba menjadi ketakutan dan langsung bersujud di kakimu?"
Daniel tertawa dan menjawab
"Haha. Tidak ada istriku, hanya memberikan efek jera saja, agar sifat sombong milik mereka hilang"
Novi memotong pembicaraan mereka dan berkata
"Sepertinya kamu memang cocok untuk membantuku untuk menyelesaikan masalah ini. Boby yang seorang buronan negara saja bisa dengan mudahnya kamu tangkap"