Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MURID BARU


"Loh kemana tu anak?" sang guru bertanya-tanya.


"Ah maaf sensei!. Tali sepatu saya terlepas" ucap seorang pria dari luar kelas.


"Wah dari suaranya, sepertinya pria ini tampan" bisik salah satu siswi


"Iya ni, Aku harap si dia bisa selevel kita" jawab temannya tertawa


Seluruh siswi yang berada di dalam kelas sudah sangat semangat untuk melihat dan menyambut teman kelas baru mereka. Apalagi murid baru itu seorang pria.


Namun tidak dengan sang bunga sekolah yang bernama Silvia. Karena seperti biasa dia tak pernah peduli dengan apapun dan selalu bersikap acuh dengan apa yang ada di sekitarnya.


"Eh, eh. Lihat deh tu si bunga sekolah, nampaknya dia gk peduli gitu" bisik salah satu siswi


"Iya dia kan memang seperti itu, banyak siswa yang tampan di sekolah kita yang sudah ia tolak" jawab temannya.


Seorang lelaki masuk kedalam kelas dan sudah berdiri di depan mereka semua, lalu sang sensei meminta pria itu untuk memperkenalkan dirinya di hadapan teman-temannya yang baru.


"Wah tampan banget, bakal semangat ni aku belajarnya" bisik para siswi.


Namun berbeda dengan reaksi para siswa di dalam kelas itu. Pasti mereka akan merasa tersaingi oleh sosok pria tampan yang berdiri di depan mereka semua.


"Halo teman-teman!." ucap pria itu menyapa teman kelas barunya.


"Halo ganteng!" ucap para siswi dengan semangat namun tidak dengan siswi yang bernama Silvia.


"Perkenalkan nama saya Daniel Syahputra!. Senang bertemu dengan kalian semua, dan mohon bantuannya" ucap Daniel memberi salam dengan gaya Jepang


Silvia yang sibuk memainkan bolpoinnya merasa penasaran dengan sosok teman barunya itu. Saat ia menoleh kearah suara tersebut, tiba-tiba bolpoin yang ia pegang langsung jatuh kelantai karena terkejut melihat seorang lelaki tampan yang berdiri di depannya.


Mata si bunga sekolah itu tak berkedip sedikit pun melihat pria yang bernama Daniel itu. Ada rasa yang aneh di dalam jantungnya saat menatap senyuman manis dari pria itu.


"Nah Daniel!, silahkan duduk di sebelah Silvia ya" ucap sang guru menunjuk ke arah Silvia.


"Baik!. Terimakasih sensei" jawab Daniel memberi hormat ala budaya Jepang


Para siswi terus saja memandangi sosok pria tampan yang berjalan mendekati Silvia dan membuat sang bunga sekolah menjadi semakin berdebar melihat pria tampan itu semakin mendekat.


"Halo!. Saya Daniel, senang bertemu dengan kamu" sapa Daniel tersenyum manis dan sukses membuat Silvia menjadi salah tingkah


Kini Daniel sudah duduk di bangkunya namun seluruh siswi masih saja memandanginya yang tengah fokus duduk dan memperhatikan sang guru yang tengah menerangkan sebuah pelajaran untuk mereka.


Silvia yang berada di samping Daniel juga menatapnya tanpa berkedip dan tak memperdulikan sang guru yang tengah sibuk menjelaskan mata pelajaran mereka.


Siswi yang menyadari keanehan pada sang bunga sekolah pun merasa kalau si bunga sekolah itu sedang memikirkan sesuatu untuk mendekati teman baru mereka dan membuat para siswi merasa akan kalah telak jika bersaing dengan Silvia.


"Baru kali ini aku melihat Silvia memandangi seorang pria dengan tatapan yang begitu intens" ucap salah satu siswa yang merasa kesal dengan sosok Daniel karena berhasil mencuri perhatian dari sang bunga sekolah itu.


"Iya, kau benar. Apa hebatnya si pria itu?!, jelas-jelas aku yang lebih tampan" jawab temanya ikut merasa geram


"Silvia!. Sebagai juara umum, bisakah kamu mengerjakan soal yang ada di papan tulis ini?" ucap sang guru bertanya.


Silvia yang tengah asyik menikmati pemandangan indah yang berada di sampingnya langsung terkejut karena mendengar sang guru menyebutkan namanya.


"Ha?. I..iya se.. sensei" jawab Silvia salah tingkah dan langsung berdiri.


Ketika Silvia mengerjakan soal yang di tuliskan oleh sang guru di papan tulis, semua orang yang berada di dalam kelas itu memperhatikan dirinya tak terkecuali dengan Daniel yang fokus memperhatikan dirinya juga dan membuat seorang bunga sekolah itu merasa gugup dan salah tingkah.


tiba-tiba spidol yang berada di genggamannya terjatuh karena terlalu gugup ketika Daniel yang terus memperhatikan dirinya dengan fokus.


"Eh. M..maaf sensei" ucap Silvia gugup mengambil spidol yang terjatuh di lantai, namun matanya tertuju pada Daniel.


"G..gak papa kok sensei" jawab Silvia merasa kikuk


"Apa kamu bisa menjawabnya?" tanya sang guru sekali lagi, namun tak di jawab oleh Silvia karena tatapan matanya selalu terfokus pada sosok pria yang berada di depannya.


Daniel yang merasa sedang di perhatikan oleh Silvia pun hanya tersenyum dan membuat spidol yang berada di tangannya terjatuh kembali karena terpesona melihat senyuman dari pria tampan itu.


"Silvia?, Silvia?, Silviana Haruka!" tegur sang guru dan membuat sang pemilik nama langsung terkejut


"Kamu kenapa?, sepertinya kamu sedang sakit!" tanya sang guru merasa khawatir lagi


"Eng.. enggak kok sensei" jawab Silvia salah tingkah dan membuat para teman kelasnya merasa heran dengan sikap dari sang bunga sekolah yang tiba-tiba berubah.


"Baiklah!. Jika kamu tidak bisa menjawabnya, sensei akan melempar soal ini pada teman kamu!" ucap sang guru dan memandangi seluruh siswa-siswinya yang sudah menunduk karena mereka tak sepintar sang juara umum.


"Bagaimana kita bisa menjawabnya?!, sedangkan Silvia yang seorang juara umum saja tak dapat menjawabnya" bisik salah satu siswi


"Aku rasa Silvia bisa menjawabnya, namun dia pasti gugup karena Daniel terus memperhatikan dirinya" jawab temannya


"Iya ya, baru pertama kali aku melihat sang bunga sekolah bisa gugup karena tatapan dari lawan jenisnya" timpal temannya.


"Wajar saja!. Daniel pasti akan menjadi pusat perhatian sekolah kita!. Tu lihat! Yui sensei saja sampai menatap Daniel tanpa berkedip juga" bisik temannya.


"Wah parah ni guys!. Sepertinya saingan kita bukan sesama siswi aja!, bahkan Yui sensei juga seperti ada rasa pada muridnya" ucap temannya merasa kecewa


"Walaupun Yui sensei itu single, tapi kan gak pantes kalo jatuh cinta pada murid sendiri" bisik siswi lainnya.


"Apa kamu bisa menjawabnya Daniel?" tanya Yui sensei dan membuat seluruh muridnya menatap kearah Daniel yang tengah fokus menatap soal yang tertulis di papan


"Akan saya coba sensei" jawab Daniel berdiri dan langsung melangkahkan kakinya menuju ke depan


Silvia yang masih berdiri didepannya menjadi gugup karena pria tampan itu semakin mendekati dirinya. Silvia memejamkan matanya dan ia rela jika Daniel akan menciumnya di depan teman-teman kelasnya, sedangkan Daniel hanya mengerutkan keningnya melihat tingkah teman wanitanya yang tiba-tiba memejamkan matanya.


Tangan Daniel menyentuh tangan Silvia yang mulai dingin karena gugupnya yang semakin hebat, lalu Daniel berkata "Maaf bisakah saya meminjam spidolnya?"


Silvia membuka matanya dan menjawab "Eh!. I..iya ini"


Setelah memberikan spidolnya, Silvia langsung menggeser posisi berdirinya kesamping dan fokus menatap Daniel yang tengah serius mengerjakan soal yang tertulis di depannya.


Orang-orang yang berada di dalam kelas pun tengah fokus menatap Daniel yang mengerjakan soal itu dengan cepat tanpa berpikir sedikitpun. Yui sensei yang memperhatikan murid barunya itu juga merasa kagum melihat kepintaran dan ketampanan dari Wajah Daniel.


Daniel meletakkan spidolnya dan berkata "Sudah sensei!. semoga jawaban dari saya tidak salah"


Mereka semua memperhatikan papan tulis putih yang berada di depan mereka dimana tulisan rapih dan cantik milik Daniel tertera di situ. Bahkan Yui sensei sampai terpesona melihat tulisan Daniel yang begitu rapih dan sangat mudah di baca semua mata yang memandangnya.


"Iyapz! jawabannya benar, dan ada points tambahan untuk kamu!. Sebagai seorang lelaki ternyata tulisan kamu begitu rapih dan begitu indah untuk di pandang" ucap Yui sensei memuji


"Yaudah kalian berdua boleh duduk!" timpal sang sensei


"Terimakasih sensei" jawab Daniel sedangkan Silvia hanya terdiam dan mengikuti langkah Daniel yang berada di depannya.


"Daniel, ternyata kamu sangat pintar ya" ucap teman wanitanya


"Iya, selain tampan ternyata kamu sangat cerdas" timpal temannya yang lain


"Hey!. Sudah belajar yang bener!. Jangan menggangu teman baru kita" tegur Silvia tak terima karena ada yang berani mencuri perhatian dari pria incarannya.


"Sial!, lelaki itu menang banyak!" gumam salah seorang siswa dan di dengar temannya.


Temannya menepuk pundak siswa yang kesal itu lalu menenangkannya "Sabar!, jangan gegabah".