
Daniel mencium kening Leny dan berkata
"Iya istriku. Aku sudah berjanji kepada kalian, maka aku harus menepatinya"
Leny terus memeluk Daniel dengan manja dan meminta di gendong oleh Daniel. Dengan senang hati Daniel menggendong Leny, dan dengan mesra mereka masuk kedalam rumah
Wulan menyambut kepulangan Daniel dengan wajah penuh semangat
"Akhirnya yang ditunggu-tunggu pulang juga"
Daniel tersenyum dan berkata
"Sudah kakak bilang kakak akan berkumpul bersama kalian"
Wulan melambaikan tangannya dan berkata dengan acuh
"Ya ya baiklah-baiklah"
Daniel menatap Leny dengan manja dan berkata
"Sayang, aku lapar sekali"
Leny mencium dan menggandeng tangan Daniel
"Ayo suamiku"
Wulan memasang wajah cemberut dan berkata
"Aku tidak di ajak?"
Daniel tersenyum dan merangkul Wulan. Mereka bertiga langsung menuju ke meja makan
Kemudian Daniel menceritakan apa yang ia alami di kantor polisi tadi. Tiba-tiba Leny meneteskan air matanya karena kisah dari Daniel tadi, Wulan mengelus punggung Leny untuk memberikan efek tenang.
Leny berkata
"Besok aku ingin bertemu dengan mereka sayang"
Daniel mengangguk dan tersenyum. Wulan juga ingin ikut dengan mereka, karena dia juga merasa bersalah karena telah membunuh mereka.
Keesokan harinya mereka bertiga berangkat ke kantor polisi untuk menanyakan alamat rumah mereka, setelah mendapatkan alamatnya Daniel dan yang lain langsung berangkat menuju ke rumah wanita itu. Di sepanjang perjalanan banyak orang-orang yang mengagumi mobil mewah yang Daniel gunakan.
Mereka masuk kedalam lorong yang sedikit sempit, dan orang-orang yang berada di dalam lorong itu terus memperhatikan mobil yang Daniel kenakan, karena tidak pernah ada mobil semewah itu mau memasuki lorong sempit milik mereka.
Daniel berhenti di depan rumah yang sedikit mewah dan melihat alamatnya, ternyata rumah itu adalah rumah salah satu korban yang meninggal karena amukan Daniel dua hari yang lalu.
Semenjak kematian anaknya, wanita tua itu sering berada di dalam rumah dan jarang bertemu dengan tetangga di sekitar rumahnya.
Daniel mengajak Leny dan Wulan kerumah itu. Daniel mengetuk pintu rumah mereka, ketika pintu itu di buka, wanita tua itu terkejut melihat kedatangan Daniel.
"Eh nak, mengapa kemari?, kamu tau alamat rumah bibi dari mana?"
Daniel tersenyum dan menjawab
"Dari inspektur Yuddy bi"
Wanita tua itu memandangi Leny dan Wulan dan bertanya
"Siapa kedua wanita ini nak?"
Daniel menjawab
"Oh ini istri dan adikku bi"
Wanita tua itu mengangguk dan mengajak mereka untuk masuk kedalam rumahnya. Wanita tua itu memanggil menantunya yang sedang ada di dapur
"Intan, kesini sebentar sayang. Ada yang sedang berkunjung"
Tak lama kemudian menantunya keluar dari dapur dan bertanya kepada mertuanya
"Ada apa ibu?, aku sedang memasak di dapur"
Wanita tua itu menjawab
"Lihat siapa yang datang"
ketika melihat Daniel dia sangat terkejut
"Eh kakak yang kemarin ya?"
Daniel tersenyum dan menjawab
"Hehe. iya"
Lalu wanita itu melihat ke arah Leny dan Wulan
"Siapa kedua wanita ini kak?"
Daniel menjawab
"Mereka adik dan istriku"
Leny melihat wanita itu dengan perut yang sedikit membesar, dengan perkiraan usia kandungannya sudah menginjak 7 bulan. kemudian Leny berdiri dan langsung memeluk wanita itu tanpa berkata apa-apa.
"Kak, maafkan perbuatan suamiku ya, aku tau ini sangat sulit untuk kakak jalankan"
Wanita itu mengenal identitas dari Leny dan berkata
"Kamu Leny Wijaya kan?, ternyata kamu istri dari kakak itu?"
"Iya kak, aku dan Daniel adalah suami istri, aku juga sedang mengandung sama seperti kamu"
Wanita itu tersenyum dan berkata
"Selamat ya, di jaga kandungannya"
"Iya kak"
Wulan bertanya kepada wanita itu
"Usia kandungan kakak berapa bulan?"
Wajah wanita itu langsung menjadi sedih, dia mengelus perutnya dan menjawab
"Usianya sudah menginjak 7 bulan. Dan setelah lahir dia akan langsung menjadi anak yang hidup tanpa sosok seorang ayah"
Leny menyambung pembicaraan mereka
"Maaf ya kak, jika suami aku tidak berbuat itu, pasti kakak masih berkumpul dengan suami kakak"
Dia hanya tersenyum dan menyebutkan namanya
"Panggil saja Intan, namaku intan"
Leny menjawab
"Kak intan. Sekali lagi maafkan suamiku ya"
Intan memeluk Leny dan menjawab
"Itu bukan salah suami kamu, itu salah dia karena bekerja dengan sebuah kelompok pembunuh"
Leny tidak bisa membendung air matanya lagi. Dia langsung menangis dalam pelukan Intan
"Justru suami kamu tidak bersalah, justru kami Ingin mengucapkan terimakasih karena telah menghukum suamiku itu. Jika tidak maka kami akan terus memakan uang haram darinya"
mereka terus mengobrol hingga Leny dan Intan menjadi sedikit lebih dekat. Wanita tua itu juga membalaskan kematian anaknya itu
Leny berkata kepada Intan, jika dia ingin membiayai lahiran dan mengurusi biaya sekolahnya. Tapi semua di tolak oleh intan, karena dia tidak mau membuat orang susah.
Dengan sedikit memaksa dan mau tak mau Intan harus menerima pemberian dari Leny. Mereka terus mengobrol dan lama kelamaan hubungan mereka menjadi semakin dekat.
Hari sudah larut, Leny dan keluarga pamit untuk pulang kerumahnya. Di sepanjang jalan, Leny terus tersenyum-senyum sendiri dan sesekali berbicara kepada bayinya.
"Ada apa istriku? kamu terlihat sangat bahagia"
Leny menjawab
"Ah. Tidak apa suamiku, aku hanya ingin di masa depan kelak, anak kita akan berteman baik dengan anak Intan"
Daniel tersenyum dan menjawab
"Iya amin sayang"
Sesampainya di rumah, Wulan ingin segera masuk ke kamarnya. Dia izin kepada Daniel dan Leny, lalu dia langsung menuju kearah kamar untuk istirahat.
Di ruang keluarga hanya ada Daniel dan Leny. Daniel menggoda Leny agar mereka melakukan hubungan suami-istri, karena sudah seminggu Daniel tidak mendapatkan nafkah batin dari Leny.
Dengan senyuman malu-malu, Leny langsung duduk di pangkuan Daniel dan mereka menuju kearah kamar. Mereka melakukan itu sampai habis tiga ronde, dan tertidur pulas tanpa menggunakan busana apapun.
Hari ini adalah hari dimana Leny akan berkumpul bersama teman-teman kuliahnya. Perasaan aneh muncul di benaknya, dia tak mau jika bertemu dengan Aidil, namun dia juga sangat merindukan Novi dan lainnya.
Tapi dia melihat Daniel yang sedang merapikan rambut dan pakaiannya, dan Leny tersenyum. dia berbicara dalam hati
"Untuk apa aku merasa takut, aku kan bersama suamiku"
Daniel melihat istrinya tersenyum dalam lamunan, dia mengejutkan Leny dan mengajaknya untuk segera pergi menuju tempat dimana di janjikan oleh teman-temannya.
Setelah berpamitan kepada Wulan, Leny dan Daniel segera berangkat ke sebuah mall mewah di daerah Jakarta Selatan, tempat yang sudah di boking oleh teman kuliahnya.
"Sayang, aku mohon kepada kamu, jangan mengaku sebagai supir atau pengawal lagi di hadapan teman-temannku. Aku ingin kamu mengaku saja kalau kita adalah suami istri"
Daniel mengangguk dan menjawab
"Iya istriku, aku akan diam saja di sana, biarkan kamu yang memperkenalkanku kepada teman-teman kamu"
Leny menjawab dengan tegas
"Tentu saja, aku akan sangat bangga saat memperkenalkan suamiku yang hebat ini"
Daniel tertawa mendengar ucapan istrinya itu, setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai pada tujuan. Daniel dan Leny memasuki pintu mall dengan begitu mesra, dan Leny melihat sosok wanita cantik sedang berdiri sedikit jauh dengannya, dia langsung memanggil wanita itu
"Novi!"
Novi menoleh ke arah suara itu berasal, dan matanya langsung melotot melihat Leny. Dia langsung berjalan menuju Leny dan mereka saling berpelukan
"Sudah lama kita tidak bertemu Nov, bagaimana kabarmu?"
Novi menjawab
"Baik Len, bagaimana denganmu?. Lalu siapa pria tampan yang sedang kamu gandeng ini?
Dengan bangga Leny menjawab
"Oh. Perkenalkan ini Daniel suamiku"