Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
KAMAR VVIP


Souji sangat bahagia karena Alvin sudah menyembuhkan putranya, dan ia berjanji akan mendidik putranya menjadi lebih baik ketika dia siuman nanti. Souji juga akan berjanji pada Daniel kalau dia tidak akan membiarkan putranya melakukan hal bodoh itu lagi karena dia tak mau melihat putranya mengalami hal yang sama lagi.


Alvin memerintahkan kepada para perawat agar memindahkan putranya Souji ke kamar rawat saja karena anaknya Souji sudah berhasil di selamatkan dari masa kritisnya, dan Daniel meminta para perawat itu memindahkan ke kamar rawat yang VVIP agar kesembuhan untuk anak tersebut bisa lebih cepat lagi.


"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada tuan muda atas kebaikan yang anda berikan pada saya dan putra saya. Entah bagaimana caranya saya bisa membalas semua kebaikan dari anda tuan" ucap Souji terharu.


"Sudahlah, jangan terlalu kau pikirkan Souji. Dengan kau yang terus berada di pihak ku saja aku sudah merasa itu semua sudah cukup untuk membalas semua yang telah ku berikan padamu" jawab Daniel tersenyum sambil memegang pundak Souji.


"Saya berjanji saya akan setia seumur hidup pada anda dan Dark Shadow, bahkan nyawa saya akan saya pertaruhan jika anda menginginkannya" ucap Souji.


"Aku senang kau berada di dalam Dark Shadow, kesetiaan mu tidak perlu di ragukan lagi" ucap Daniel membalas.


"Sebaiknya kita segera pergi ke kamar putramu yang baru" sela Alvin memotong.


Melihat suaminya yang tengah asik mengobrol dengan para lelaki itu, membuat rasa penasaran pada diri Leny timbul. Ia melangkah mendekati sang suami yang sedang asyik bercanda dengan Alvin dan Dion.


"Bagaimana Ayah?, apa Alvin sudah berhasil menyelamatkan anak itu?" tanya Leny setelah berada di samping Daniel di susul oleh para wanita lainnya yang sudah berada di samping pasangan mereka masing-masing.


"Tentu saja berhasil Honey. Jika Alvin gagal menolong putranya Souji, Ayah tidak akan segan-segan membuang dokter ini ke laut" jawab Daniel tersenyum sambil menepuk bahu Alvin.


"Syukurlah" ucap Ayu menyambung.


"Wah, ternyata ada Adik ipar ku di sini" ucap Daniel terkekeh.


"Dasar kau, Kakak ipar durhaka. Masa tidak sadar dengan kehadiran aku di sini" jawab Ayu cemberut.


"Hahaha, maafkan aku Adik ipar. Kupikir Adikku akan datang dengan membawa wanita lain" ucap Daniel tertawa.


"Kak!. Tolong ya, jangan membuat peperangan di rumah tangga aku dan istriku" tegur Dion kesal.


"Hahaha" Daniel tertawa karena melihat wajah dari saudara kembarnya itu yang sedang kesal.


"Apa wajahku akan seperti ini juga jika sedang kesal?" tanya Daniel masih dengan tawanya.


"Ayah, udah dong, jangan di goda terus" tegur Leny sambil mencubit lengan sang suami.


"Tolong kasih hukuman dong pada Kakakku ini Kak" pinta Dion mengadu pada Leny.


"Iya, kamu tenang saja. Akan aku beri hukuman padanya setelah di kamar hotel nanti" jawab Leny menatap kejam ke arah Daniel.


"Kalau sudah ada kata kamar, bukan hukuman namanya" sambung Chelsea dan mereka semua tertawa.


Souji hanya bisa tersenyum melihat keharmonisan dari keluarga yang di miliki oleh Daniel. Meskipun ia tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan, akan tetapi ia yakin kalau tuan mudanya sedang berbahagia.


"Anda sangat beruntung tuan muda. Selain memiliki kekuasan di negara ini, anda juga memiliki keluarga yang sangat kompak. Tidak denganku yang hanya punya memiliki seorang putra" batin Souji tersenyum sambil memandangi kebahagiaan dari keluarga Daniel.


"Hey!, kenapa kau termenung?!. Sudah, ayo kita pergi ke kamar putramu" tegur Alvin mengajak Souji pergi menuju ke tempat dimana kamar putranya berada.


"Souji, di sana ada tempat tidur untukmu. Istirahatlah, ini sudah malam. Kami harus kembali ke hotel, dan Adikku juga baru sampai ke sini, jadi kami semua harus istirahat" ucap Daniel.


"Baik tuan. Sekali lagi saya ucapkan banyak-banyak terima kasih atas kebaikan dari tuan dan keluarga anda" jawab Souji membungkukkan badannya.


"Tidak masalah" jawab Daniel tersenyum sambil menepuk pundak Souji.


"Oh iya. Dan satu lagi, jika putramu sudah membaik atau siuman. Tolong jangan lupa kau kabarin aku" timpal Daniel memerintah.


"Siap tuan muda!. Saya akan segera memberi kabar pada anda jika putra saya sudah membuka matanya" jawab Souji tegas.


"Baiklah. Kalau begitu, kami semua pamit pulang" ucap Daniel tersenyum sambil menepuk bahu Souji.


Daniel dan lainnya langsung pergi menuju ke hotel untuk bisa mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah seharian lelah berada di rumah sakit itu. Waktu juga sudah menunjukkan pukul 04.45 waktu Jepang. Damin juga sudah tertidur pulas dalam gendongannya Ayu, karena Ayu meminta agar dia yang menggendong bayi tampan itu.


"Ayah tidak menyangka kalau kita bisa pulang sampai subuh begini Honey" ucap Daniel setelah ia dan sang istri sudah berada di dalam mobil milik Daniel. Sedangkan yang lainnya juga menggunakan mobil yang berbeda, jadi hanya ada Daniel dan Leny yang berada di dalamnya.


"Iya Ayah" jawab Leny sambil menguap karena kelelahan berada di rumah sakit seharian.


"Ayah jangan terlalu mengebut ya, Ayah juga pasti lelah. Jadi jangan terlalu cepat mengemudikan mobilnya" timpal Leny.


"Iya istriku" jawab Daniel tersenyum sambil mengelus kepala Leny.


"Kalau Bunda mengantuk, sebaiknya Bunda tidur saja. Nanti kalau sudah sampai hotel, Ayah gendong ke kamar" timpal Daniel masih terus mengelus kepala Leny.


"Enggak suamiku. Bunda bakal menemani Ayah menyetir hingga sampai ke hotel" jawab Leny menggelengkan kepalanya.


"Ini bukan malam lagi Honey, tapi sudah hampir pagi. Sebaiknya Bunda istirahat saja" ucap Daniel membujuk.


"Pokoknya Bunda mau menemani Ayah sampai hotel!" jawab Leny sedikit kesal.


"Baiklah-baiklah istriku, Ayah tidak akan membuat Bunda kesal lagi" ucap Daniel tersenyum sambil mencubit hidung sang istri, sedangkan Leny hanya cemberut dan membuat Daniel menjadi gemas melihat wajah manis dari sang istri.


Setelah beberapa menit, akhirnya Daniel dan yang lainnya sudah sampai di hotel milik Daniel. Sesampainya mereka di depan lobi hotel, Ayu yang sedang menggendong Damin langsung menghentikan mereka karena ia takut akan biaya penginapan yang begitu malah jika bermalam di tempat yang menurutnya sangat mewah itu.


"Tunggu dulu!" ucap Ayu dan membuat mereka semua berhenti.


"Ada apa sayang?" tanya Dion penasaran.


"Kakak ipar!. Kenapa kita ke hotel ini?. Tempat ini begitu mewah, pasti biayanya sangat malam jika kita menginap di sini" tanya Ayu pada Daniel.


"Hahaha, untuk apa kamu memusingkan masalah biaya Adik ipar ku?. Hotel ini milikku, jadi tak perlu memikirkan masalah biaya" jawab Daniel tertawa.


"Hah?!" Dion, Ayu, dan Chelsea terkejut mendengar jawaban Daniel barusan. Berbeda dengan mereka yang sudah tau sosok Daniel yang sebenarnya.


"Udah!, Ayo masuk. Kita harus istirahat, karena besok aku mau melihat keadaan anak itu" ajak Daniel menggandeng tangan Leny menuju ke dalam hotel.