Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
INTEROGASI


Setelah memasukan sampah kedalam mobil mereka, kini Daniel dan Dion langsung menuju ke markas milik Daniel.


Waktu masih menunjukkan pukul 11. Masih ada waktu bagi Dion untuk mengajak Ayu makan pikir Dion. Benar saja, di saat Dion sedang memikirkan sang pujaan hatinya, tiba-tiba dia mendapat sebuah pesan dari wanita tersebut.


"✉️ Apakah kamu ada waktu siang nanti?✉️"


"✉️Ada kok✉️"


"✉️Temani aku makan siang ya✉️"


"✉️Siap tuan putri ✉️"


Senyuman terpancar dari wajah Dion setelah mendapat pesan dari wanita sang pujaan hatinya itu.


"Gak usah senyum-senyum begitu, geli aku liatnya" ejek Daniel


"Haha, tapi kenapa Dokter cantik itu justru klepek-klepek?" jawab Dion ikut mengejek dan hanya di balas dengan dengkusan saja oleh sang kakak


"Kak, sepertinya aku tidak bisa ikut ke markas" ucap Dion


"Kenapa? mau kencan?" goda Daniel


"Hehehe, ya begitu lah" jawab Dion cengengesan sedangkan Daniel hanya menggeleng saja


"Yaudah nanti aku antar ke rumah sakit dimana tempat Dokter cantikmu berada" ucap Daniel fokus menyetir


"Wah kakakku memang pengertian" jawab Dion memeluk lengan Daniel


"Hey-hey, jangan gini dong woy!. Geli aku tau!, Aku masih normal" ucap Daniel merasa jijik


"Pltakkk..." ( Daniel menjitak Dion karena terus memeluk lengannya dengan manja )


"Awwww!. Sakit kak, liat aja nanti aku adukan ke Ibu dan Dokter cantikku" Ancam Dion dan Daniel hanya memutar bola matanya jengah


Daniel memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah sakit, diamana Ayu Bekerja. Dion begitu semangat karena akan bertemu dengan Dokter cantiknya itu.


"Kak, aku bau gak?" tanya Dion menciumi badannya


"Alah lebay kali kau!, udah buruan sana, aku harus menggali informasi dari sandera itu. Sebelum dia mati" ucap Daniel ketus


"Itu kau tengok, Dokter cantikmu udah nungguin di depan mobilnya. Gak baik membuat orang menunggu" timpal Daniel


"Iya-iya bawel" jawab Dion ketus dan keluar dari mobil


"Jaga adikku ya calon adik ipar!. Kalau dia nakal, tarik aja telinganya" ucap Daniel sedikit berteriak


"Kak!" Dion menatap Daniel seperti ingin membunuhnya


"Hahahaha" Ayu dan Daniel tertawa


Setelah mengantarkan Dion, Daniel langsung menuju markasnya. Tempat dimana mereka mengintrogasi dan menyiksa orang-orang yang berbuat kejahatan.


30 menit kemudian Daniel sudah tiba di sebuah tempat yang senyap dan di depanya ada sebuah rumah besar, namun di anggap sebagai kuburan bagi tawanan yang sudah di bawa Daniel ke dalam.


Daniel membuka jok mobil bagian belakang, dan melihat sampah yang telah terikat tangan dan kakinya, sedangkan wajahnya sudah di tutupi dengan kain hitam.


"Ku harap kau masih bernapas" ucap Daniel datar dan mengangkat orang tersebut seperti mengkat karung beras.


Daniel segera menuju ke dalam markasnya. Saat ia menendang pintu, ternyata sudah ada Rian dan Fauzi yang telah menunggu kehadiran sang pemimpin Dark Shadow tersebut.


"Akhirnya kakak datang juga" ucap Fauzi bersemangat karena melihat Daniel membawa mainan baru


Daniel melempar barang di pundaknya ke arah Fauzi, dengan senang hati dia menyambut barang yang di lemparkan sang kakak.


"Ini masih bernyawa kan kak?" tanya Fauzi dan Daniel hanya mengangkat kedua bahunya. Pertanda dia juga tidak tau kalau mainan mereka masih bernyawa atau tidak.


"Sepertinya dia masih bernafas" timpal Rian


"Yaudah bawa ke tempatnya. Jangan lupa ikat tangan dan kakinya, setelah itu buka penutup wajahnya" ucap Daniel datar


Fauzi langsung melaksanakan perintah dari pemimpin Dark Shadow tersebut. Dengan semangat dia mengikat tangan dan kaki mainan mereka, dan setelah terikat, barulah penutup wajahnya di buka.


"Ah jijik sekali aku dengan mainan yang ini kak" ucap Fauzi menatap jijik melihat wajah korban yang telah di siksa Dion


"Lebay!" ucap Rian memukul kepala Fauzi


"Sakit kak!" jawab Fauzi kesal.


_______________________________


"Bagaimana? sudah dapat info dimana Jonny berada?" tanya sang bos


"Maaf bos, saya masih terus mencarinya" jawab anak buah dari bos tersebut


"DASAR BODOH!, CEPAT CARI!. JANGAN SAMPAI DIA MEMBOCORKAN SEMUANYA" ucap sang bos membentak


"Ba..baik bos" jawab anak buahnya ketakutan


"Bocah ini memang sudah bosan hidup dengan tenang, dia sudah berani menantangku" gumam sang bos itu


"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan bersujud mohon ampun" timpal sang bos tertawa jahat


______________________________


"Ahk!, membosankan!, woy! bangun" Fauzi geram dan memukul perut lelaki yang terikat itu, namun lelaki itu tetap tak sadar.


"Ambilkan jeruk nipis" ucap Daniel santai


"Untuk apa kak?" tanya Fauzi belum sadar maksud dari Daniel


"Udah ambilkan saja, jangan banyak tanya" timpal Rian


"Hais!!!, iya-iya" jawab Fauzi kesal


Fauzi kembali dengan membawa benda yang Daniel perintahkan tadi, dan langsung menyerahkan kepada Daniel.


Daniel mengambil pisaunya dan membelah menjadi dua bagian lalu ia memeras jeruk nipis tersebut pada luka pria itu.


Pria itu merintih kesakitan karena lukanya terkena air asam dari buah jeruk nipis tersebut, dan dengan sekejap ia langsung membuka matanya.


"Haha, akhirnya bangun juga" ucap Fauzi senang seperti memenangkan sebuah lotre


"Bagaimana langsung kita mulai?" tanya Fauzi dengan senyuman penuh arti


"Di..mana aku?" tanya pemuda itu lirih dengan tubuh penuh luka


"Anggap saja ini neraka, atau juga bisa menjadi surga buatmu" jawab Fauzi santai


"Si..siapa kalian?!, apa mau kalian?!" tanya pria itu panik


"Malaikat" jawab Rian dengan tatapan membunuh


"A..apa maksudnya ini?. Mengapa aku terikat begini?!" pria itu semakin panik


"BRUKKKHH" (Daniel memukul wajah pria itu)


"Siapa?!" tanya Daniel menjambak rambut pria itu


"A..apa yang tuan maksud?, s..saya tidak paham?" tanya pria itu pura-pura tidak paham


"BRUKKKHH" (Daniel memukul dada pria itu sampai tersungkur dari kursinya dan membuat 3 tulang rusuknya patah)


"UHUK, UHUK, UHUK, ARHKK, HU HU HA HA H H H" (pria itu semakin tak berdaya dan sampai muntah darah)


Dengan sigap Rian dan Fauzi mengangkat kursi si pria itu dan mendudukkannya kembali.


"Sekali lagi aku tanya!, siapa yang mengendalikan kau!" tanya Daniel semakin geram


Pria itu bukanya menjawab, dia malah meludahi wajah Daniel dengan darah yang ada di mulutnya.


"DASAR BINATANG!!" ucap Daniel mengamuk


"BRUAKKKKHHH" (Dengan keras Daniel memukul mulut pria tersebut, sehingga membuat beberapa giginya terlepas dari gusinya itu)


"Bawa Gaon kemari" ucap Daniel datar


Rian menyenggol lengan Fauzi dengan sikutnya, Fauzi hanya mendengkus kesal karena sedari tadi hanya dia saja yang menjadi pesuruh mereka.


"Buruan" bisik Rian geram


"Huh!, iya!" jawab Fauzi kesal melangkah kebelakang


Beberapa menit kemudian Fauzi datang dan membawa Gaon yang berada di sampingnya. Saat melihat Gaon, pria itu semakin takut dan sepertinya ia mengompol di celananya.


"Cih, bisa pula mengompol" ejek Rian jijik


Wajar pria itu ketakutan sampai mengompol saat melihat Gaon datang. Gaon adalah seekor singa dewasa, ia adalah hewan peliharaan Daniel sendiri. Gaon adalah singa yang sangat kejam dan beringas, sama persis dengan tuannya itu, namun akan sangat manja jika bersama dengan tuannya.


Gaon berlari menghampiri Daniel dan bergeliat manja pada sang tuan, membuat Daniel semakin gemas dengan hewan peliharaannya itu.


"Apa kabar kawan?, kau baik" saja kan?" tanya Daniel mengelus dagu peliharaannya


"Apa kau lapar?, itu aku membawa makanan yang segar untukmu" ucap Daniel menunjuk pria yang telah terikat itu


Gaon yang seperti mengerti apa yang tuannya bicara tadi, dengan spontan ia menatap arah jari Daniel dan langsung mengraung seakan ingin langsung menerkam mangsanya.


"Sabar kawan" ucap Daniel membelai-belai kepala Gaon


"Ba..baik, baik, aku akan memberitahunya tuan, tolong jauhkan singa itu" ucap pria itu ketakutan


"JAWAB!" bentak Rian


"A..aku dari kelompok Petir Hitam. Dan...dan a..aku di utus oleh Eko Purnomo Suryono, pemimpin petir hitam" jawab pria itu semakin ketakutan


Mata Daniel langsung melotot mendengar jawaban dari pria itu. Dia semakin emosi dan mengepalkan kedua tangannya, ingin rasanya dia langsung melacak keberadaan si Eko itu.


"Dimana markas kalian" tanya Daniel datar namun dengan tatapan ingin membunuh


"Ma...markas kami sering berpindah tu.. tuan, dan sekarang me..mereka berada di daerah pedalaman Jakarta timur" jawab pria itu


"Oke. Gaon!, makan dia!" perintah Daniel tegas dan dengan senang Gaon langsung berlari menerkam mangsanya itu dengan ganas.


"Tu..tuan tolong ja..jangan. Arkkkkkk" teriak pria itu dan langsung di cabik-cabik oleh Gaon sampai hancur tak tersisa..