
Daniel dan Leny nampak tertidur sangat pulas, mengingat perjalanan mereka juga cukup jauh dan sangat melelahkan tubuh. Daniel semakin erat memeluk Leny yang tengah tertidur pulas dalam pelukannya.
Pagi harinya Leny terbangun dari tidurnya dan stamina tubuhnya juga sudah pulih sepenuhnya.
Leny merenggangkan tubuhnya sambil melihat kearah suaminya yang masih tertidur pulas. Leny tersenyum melihat suami tampannya itu sedang terlelap.
Kemudian pandangannya beralih ke sang putra yang tak kalah tampan dari suaminya. Lalu ia bangkit dari ranjang menuju ke tempat tidur yang di tempati oleh Damin. Leny mencium pipi dan kening putranya dan langsung pergi ke kamar mandi.
Selang 45 menit Leny keluar dari kamar mandi dan ia melihat sang suami yang sudah terduduk di pinggir ranjang dengan wajah yang nampak kantuk. Tak lama kemudian Damin juga mulai membuka matanya.
"Nda"... panggil Damin.
"Iya sayang" jawab Leny tersenyum dan langsung menghampiri putranya.
"Anak Bunda udah bangun rupanya" ucap Leny sambil menggendong putranya.
Sedangkan Daniel masih terduduk termenung di pinggir ranjang sembari mengumpulkan nyawa karena ia juga baru terbangun.
"Ayah... Ayah mandi gih, sekalian mandikan Damin" ucap Leny.
"Huaaammmm.... Iya Honey" jawab Daniel sambil menguap.
Kemudian dengan perlahan Damin bangkit dari ranjang dan menggendong putranya untuk mandi bersama. Sedangkan Leny pamit kebawah untuk melihat-lihat para pekerja hotel miliknya.
Pada saat pintu lift terbuka, para karyawan-karyawati hotelnya langsung memberi hormat dan Leny hanya membalasnya dengan senyuman saja.
Kemudian ia keluar dari lift berjalan mendekati resepsionis hotelnya. Kedua resepsionis tersebut menyambut kedatangan Leny dengan penuh rasa hormat dan Leny juga membalasnya dengan senyuman manis.
"Selamat pagi nona" sapa salah satu resepsionis tersebut.
"Pagi juga" jawab Leny tersenyum.
"Bagaimana tidurnya nona?" tanya resepsionisnya.
"Begitu nyaman. Pak Haris memang hebat" jawab Leny.
"Hotel ini nampak mewah dan ramai pengunjung ya" ucap Leny sembari memandangi orang-orang yang sedang berlalu lalang.
"Ini semua berkat kerja keras dari pak Haris dan tuan muda yang pandai dalam bisnis nona" jawab salah satu dari resepsionisnya.
Ketika Leny dan kedua resepsionisnya tengah asik mengobrol serta bercanda, tiba-tiba datang seorang lelaki dan wanita mendekati meja resepsionis tersebut.
Kemudian wanita itu melihat Leny dan terus memandangi Leny yang tengah tertawa lepas dengan salah satu resepsionis hotel tersebut. Wanita tersebut terus menatap Leny tanpa berkedip sedikit pun, seakan-akan ia mengenali sosok Leny.
"Bukankah kamu itu Leny Wijaya?" tanya wanita tersebut yang ternyata ia juga seorang berwarga negara Indonesia.
"Hahaha, benar kan kau itu Leny Wijaya. Seorang artis terkenal di Indonesia yang kini sudah tak pernah terlihat lagi di stasiun TV manapun" timpal wanita tersebut mentertawakan Leny.
"Oh... Kau Zahra ya?" tanya Leny memastikan.
"Tolong jangan sebut namaku. Terasa sangat jijik ketika mendengarnya keluar dari mulutmu itu" ucap Zahra.
"Kau tidak pernah berubah ya. Sejak SMA kau selalu merendahkan ku, dan sekarang nampaknya sifat mu juga masih sama" ucap Leny.
"Sampai kapanpun aku akan tetap selalu membencimu Leny!" ucap Zahra sedikit emosi.
"Kau selalu saja berada satu tingkat dariku, dan aku tidak bisa menerima kalau ada orang yang mengalahkan ku" jawab Zahra.
"Tapi nampaknya saat ini aku sudah menang darimu" timpal wanita itu menyilang kan kedua tangannya sambil menatap Leny dari atas sampai bawah seakan meremehkannya.
Wajar saja Zahra menatap remeh Leny. Pakaian yang di gunakan Leny juga seperti pakaian biasa, tak menggunakan sepatu mahal, hanya menggunakan sendal jepit biasa, dan berdandan seadanya.
"Setelah lama hilang dari dunia entertainment, ternyata kau bersembunyi di sini ya?. Apa kau menjadi salah satu karyawan di hotel ini?, atau kau menjadi simpanan salah satu om-om yang menginap di hotel ini?" tanya Zahra dengan nada semakin merendahkan Leny.
Mendengar hinaan dari Zahra, kedua resepsionis Leny terlihat tak terima dan sangat emosi. Namun, pada saat kedua resepsionis itu ingin bersuara, Leny menahannya dengan memberikan kode melalui matanya, dan kedua resepsionis tersebut hanya diam menuruti Leny.
"Lihat ini suamiku, dia adalah seorang pria yang kaya raya. Ya, dia adalah pemimpin Dark Shadow, tentu saja kekayaannya sangat berlimpah" ucap Zahra menyombongkan suaminya.
"Dark Shadow?, hahaha ada yang berani-beraninya mengakui jabatan yang di miliki suamiku" batin Leny.
"Kau pasti tak tau Dark Shadow itu apa, jika ku jelaskan padamu, tentu saja kau tidak akan mengerti" ucap Zahra semakin menindas Leny.
"Terserah kau saja lah" batin Leny.
"Kenapa kau diam saja?, apa kau tidak bisa berkutik saat melihat wanita cantik kaya raya sepertiku sedang berdiri di depanku?" tanya Zahra dengan sombongnya.
Kedua resepsionis itu semakin emosi melihat nona muda mereka yang semakin terus di rendahkan. Mereka ingin sekali menyobek mulut wanita lancang yang sudah berani merendahkan nona muda mereka itu.
"Maaf, tuan dan nyonya. Tujuan kalian ke sini sebenarnya ingin menyewa kamar, atau hanya ingin menghina orang lain?" tegur salah satu resepsionis hotel itu yang sudah tak tahan dengan hinaan dari Zahra.
"Memangnya kenapa?, apa hak kamu berkata seperti itu?. Kalian itu hanya kacung di hotel ini, jadi jangan berlagak hebat di depanku" tegur Zahra memarahi kedua resepsionis tersebut.
"Hahaha. Jangankan kalian berdua, hotel ini juga bisa aku beli jika aku mau!" ucap suami dari Zahra.
"Benarkah?, jika kau mampu, maka lakukan saja" ucap seorang pria dengan nada menantang.
Pria yang tengah menggendong seorang lelaki itu baru saja keluar dari lift dan mendengar suara kalau yang dengan sombongnya ingin membeli hotel tersebut.
Kemudian pria itu langsung mendekati Leny dan menyerahkan bayi laki-laki tersebut ke pelukan Leny.
Zahra memicingkan matanya menatap seorang pria yang sedang berdiri di samping Leny. Dengan tatapan yang seakan tak suka, Zahra juga malah menghina pria itu yang merupakan suaminya Leny.
"Apa kau suami dari wanita miskin itu?" tanya Zahra sambil menunjuk ke arah Leny.
"Ya. Aku suaminya" jawab Daniel dengan nada dingin.
"Pantas saja, kelihatan dari penampilannya yang sama-sama miskin" ucap Zahra yang juga meremehkan Daniel.
Namun raut wajah suaminya Zahra langsung berubah ketakutan saat melihat kedatangan Daniel. Ia merasa berkeringat dingin saat merasakan hawa gelap yang terdapat pada diri Daniel.
Lalu Daniel menatap ke arah suaminya Zahra sambil tersenyum sinis, dan membuat pria itu semakin ketakutan. Pria itu hanya menunduk saja tak berani menatap ke arah Daniel.
"Daripada anda mengurusi aku dan istriku, lebih baik anda urus itu suami anda. Nampaknya dia sedang tidak enak badan" ucap Daniel sambil menunjuk ke arah suaminya Zahra menggunakan dagunya.
Mendengar itu, Zahra langsung menatap ke arah suaminya yang sedari tadi diam dan terus melihat ke arah bawah seakan tak berani menatap ke Daniel.
"Sayang... Hey, kamu kenapa sayang?" tanya Zahra khawatir.
Namun reaksi suaminya membuat mereka semua yang melihatnya terkejut kecuali dengan Leny yang nampak santai. Suami dari Zahra langsung bersujud di kaki Daniel dan terus memohon ampun. Sedangkan Zahra sangat kebingungan melihat tingkah suaminya yang tiba-tiba seperti itu.