Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
KEADAAN KEVIN


Setelah memusnahkan Petir Hitam, sepertinya sudah tak ada ancaman lagi bagi Daniel dan keluarganya. Mengenai gang / kelompok pembunuh yang ingin mengancam Daniel, mereka menjadi takut, karena mendengar betapa kejamnya Daniel saat ia membunuh pemimpin dari Petir Hitam itu.


Berita Kematian dari pemimpin Petir Hitam itu sudah menyebar keseluruhan kelompok pembunuh bayaran yang berada di Asia. Ada yang senang dan ada juga yang menyayangkan kematian dari Eko.


Kevin juga sudah mulai membaik dan selalu saja Wulan juga mengajaknya untuk berperang, itu sudah menjadi kebiasaan bagi Daniel beserta sang Istri menyaksikan film perang antara kedua Adiknya yang saling cinta itu.


Meskipun begitu, namun Wulan tak mau jika ada seorangpun yang mengurus si capungnya itu. Seperti saat ini, Wulan tengah menyuapi Kevin makan, dan tentu saja di tambah dengan bumbu peperangan mereka.


"Buka mulutmu capung!, tanganku sudah pegal ini!, jangan sampe kakiku yang sampai ke mulutmu itu ya!" ancam Wulan menyodorkan sendok yang berisikan makanan untuk Kevin


"Hambar rasanya loh kucing kecil. Coba aja kamu tambah bumbu cinta di atasnya, pasti rasanya bakal enak" jawab Kevin menaik turunkan alisnya


"Gak usah banyak omong!, udah nah buka mulutmu. aaa" paksa Wulan menyodorkan sendoknya dan mau tak mau Kevin terpaksa menerimanya. Kevin mengunyah makanannya dan langsung menelannya dengan paksa.


"Kakak apa gk kekantor aja?" tanya Kevin setelah sukses menelan makanannya secara paksa


Leny bersandar pada sofa dan menyilangkan kedua tangannya lalu berkata "Oo jadi kamu ngusir Kakak ni?"


Leny memang sengaja menemani Wulan untuk menjaga Kevin. Entah kenapa semenjak usia kandungannya semakin membesar, membuat moodnya semakin aneh, dan mereka harus ekstra sabar menghadapi wanita yang tengah hamil tua itu.


"Bukan begitu Kak, aku takut nanti Suami kamu gak ada temennya disana" jawab Kevin mencoba menjelaskan


"Jika aku meninggalkan kalian berdua disini, nanti bisa-bisa rumah sakit milik Suamiku akan hancur karena kalian" ucap Leny


"Memangnya kami bakal berbuat apa Kak?" tanya Wulan


"Tentu saja kalian akan berperang, dan aku tau pikiran lelaki itu ( Kevin ), pasti dia berfikir akan melakukan hal yang ia inginkan terhadapmu" tebak Leny dengan tatapan tajam kearah Kevin


"Ah. A..apa yang Kakak bicarakan" tanya Kevin gugup sambil menggaruk tengkuk lehernya


"Tidak perlu di jelaskan pasti kamu sudah paham" jawab Leny dan berbaring di sofa empuknya


"Sudahlah aku mau istirahat, kalian jangan buat keributan, dan kamu ( Kevin ) jangan mencuri kesempatan di saat aku tengah tertidur!. Tapi jika kamu ingin melihat singa betina mengamuk, maka lakukan saja" ancam Leny lalu menutup matanya.


"Haduh, ampun banget ngadepin Ibu hamil itu" gumam Kevin


Wulan melihat Kevin yang tengah melamun, dia berfikir capungnya itu tengah melamunkan hal yang aneh-aneh, lalu Wulan langsung spontan menepuk jidat Kevin dan sukses membuat capungnya itu terkejut.


"Jangan aneh-aneh pikiranmu itu!" ucap Wulan geram


"Apa maksudmu kucing kecilku?, kamu pikir aku sedang membayangkan kalau aku menghayalkan hal-hal yang kotor gitu?" tanya Kevin menyelidik


"Iya karena memang itu isi kepalamu kan?!" tanya Wulan menuduh


"Astaga kucing kecilku, kamu tu yang berfikir kotor" ucap Kevin menggeleng tak percaya dengan isi pikiran dari kucing kecilnya itu.


"Ah sudahlah, kamu jangan curi-curi kesempatan. Lihat itu singa betina tengah tertidur, jangan bangunkan dia jika kamu tak ingin di amuknya" ucap Wulan mengibas-ngibaskan tangannya.


Lalu dengan sengaja Kevin mencolek dagu Wulan dan membuat Wulan melototkan matanya kearah capung nakalnya itu.


"Sudah kubilang jangan buat Kakakku mengamuk!" bisik Wulan penuh penekanan


"Hey!, bisakah kalian tidak berisik?!, aku lelah!, biarkan aku istirahat sebentar!" ucap Leny dengan nada sedikit keras namun matanya masih terpejam


Kevin dan Wulan hanya memandang Ibu hamil yang tengah terbaring di atas sofa dengan tatapan takut dan heran.


"Pasutri yang mengerihkan" bisik Kevin bergidik ngerih


"Makanya kamu jangan buat dia sampai mengamuk" bisik Wulan dan di jawab anggukan oleh Kevin.


Handle pintu di buka, dan masuklah Ayu kedalam untuk memeriksa keadaan Kevin. Namun dia dibuat sedikit terkejut melihat calon Kakak Iparnya itu yang tengah terbaring di atas sofa.


"Astaga ni anak" ucap Ayu menggelengkan kepalanya


"Biarkan saja Kak, nanti dia mengamuk loh" ucap Wulan sedikit berbisik.


"Baiklah-baiklah. Kevin bagaimana keadaanmu?" tanya Ayu memastikan keadaan Kevin.


"Yang seperti Kakak lihat, aku sudah mulai membaik kok" jawab Kevin menunjukkan senyuman manisnya


"PELETAKKK" ( Wulan menyentil kening Kevin )


"Ahrk!" Kevin mengadu sakit


"Gak usah lebay!. Yang sakit itu perutmu, bukan keningmu!. Oh iya salahmu itu karena sudah tersenyum pada calon Kakak Iparku!, itu dilarang!" jawab Wulan tegas dan menyilangkan kedua tangannya.


"Eleh, bilang aja cemburu" goda Kevin menaik turunkan alisnya


"Mau kuhajar lagi?!" ancam Wulan, sedangkan Ayu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah pasangan aneh yang berada di depannya itu.


Leny terduduk dan langsung menatap mereka dengan mata yang berapi-api "Sudah kubilang! jangan buat ribut!, kalian mengganggu istirahatku!" nada bicaranya geram dan di tekankan.


"Kenapa kamu tidak tidur di ruanganku saja Kakak Ipar?. Di ruanganku ada tempat tidurnya juga" ucap Ayu memberi saran


"Itu lagi! mulut siapa yang berbunyi hah?!, arrrrhhkkkk! berisik!!!" ucap Leny mengacak rambutnya seakan frustasi


"Sabar" ucap mereka bertiga. Dan Leny kembali membaringkan tubuhnya.


"Selain kejam, ternyata dia juga aneh ya" bisik Ayu menahan tawanya.


"Ya mau bagaimana lagi, memang seperti itu kelakuannya" jawab Wulan pasrah dan menaikkan kedua bahunya.


"Sebaiknya kamu beritahu Suaminya aja" ucap Kevin memberi saran pada Wulan


"Kamu pikir Kak Daniel bisa menjinakkannya?. Justru malah Kakakku yang takut padanya" jawab Wulan menatap Kevin serius.


"Lelaki terkuat di Asia ternyata takut pada Kakak Iparku" ucap Kevin tersenyum tak menyangka.


"Siapa yang takut?" tanya seorang lelaki yang berada di depan pintu


Lelaki itu masuk dan bertanya "Bagaimana keadaanmu?"


"Baik Kak, mungkin besok sudah boleh pulang" jawab Kevin, dan pria itu hanya mengangguk.


"Halo Kevin. Maaf ya aku baru bisa menjenguk" ucap seorang wanita


"Hehe. Gapapa kok Kak. Lagian juga Kakak kan tengah mengandung" ucap Kevin tersenyum


"Bagaimana keadaan kandunganmu Win?" tanya Ayu.


"Syukur Alhamdulillah baik-baik saja Kak" jawab Windy mengelus perutnya yang kini usia kandungannya sudah menginjak 3 bulan lebih


"Kak tolong pawangi wanita yang tengah tertidur itu" ucap Wulan menunjuk ke arah Leny dengan dagunya


"Kamu mau Kakak kena terkam?" tanya Daniel ketakutan melihat sang Istri yang tengah tertidur pulas


"Hahaha. Ternyata lelaki kuat seperti kamu takut Istri ya?" ejek Riski menepuk pundak Daniel


"Ehkem-ehkem" tegur Windy dan membuat Riski takut.


"Sama aja!" ucap Daniel memukul kepala Riski


"Hehehe" tawa Riski sambil menggaruk kepalanya.


"Haduh!!! semakin berisik aja sih!" protes Leny terduduk dengan mata yang masih terpejam


Windy duduk di samping Leny lalu menjewer telinga dari sahabatnya itu, dan sukses membuat Leny mengadu kesakitan.


"Ah.. aduh Mah ampun Mah" ucap Leny kesakitan


"Jangan berisik ya, ini rumah sakit sayang!" ucap Windy geram dan membuat mereka semua tertawa.


"Wah ternyata sudah ada pawangnya" ucap Ayu tertawa


Leny membuka matanya dan ia melihat sang Suami sedang berdiri di depannya dengan senyum tampannya. Kemudian Leny langsung berlari kepelukan sang Suami lalu mengadukan apa yang ia alami.


"Suamiku, Istrimu ini sudah di sakiti" rengek Leny dengan manja


Daniel tersenyum dan membelai kepala Leny lalu berkata "Coba kamu lihat dulu siapa yang menjewer kamu tadi"


Leny menoleh dan ia melihat sahabatnya tengah tersenyum dan menaikan tangannya dengan kedua jarinya yang membentuk huruf "V"


"Windy!" ucap Leny geram dan hanya di balas Windy dengan senyuman tanpa rasa bersalahnya.