
Tony menjadi semakin marah karena sudah di remehkan oleh sosok pria yang menurutnya tak sekuat dirinya yang sudah berani menyinggung kelompok yang ia pimpin di daerahnya itu.
"Sebenarnya aku tak sedikitpun tertarik pada kalian. Tapi jika kalian ingin aku melakukannya maka aku akan melayani kalian dengan sedikit lebih lembut" ucap Daniel dengan malasnya
"Cih!. Sudah paham akan kekalahan, sok-sokan memberikan peringanan untuk kami" jawab Tony meremehkan
"Kau sudah terpojokkan!. Jadi hilangkan sifat sombongmu itu" timpal salah satu dari Anak buah Tony
10 orang yang mengelilingi Daniel sudah melakukan penyerangan terhadap pria yang berada di tengah-tengah mereka, namun sayangnya Daniel tiba-tiba sudah tak berada di tempat itu, justru mereka hanya memukul atar rekan sendiri.
"Bagaimana rasa memukul teman sendri?" tanya seorang pria yang sudah berdiri di belakang mereka dengan santainya
Mata Tony sampai terbelak "Bagaimana mungkin?" gumamnya
"Selain bodoh!, ternyata kalian buta juga ya!" ucap Daniel menggelengkan kepalanya
"BAC0T KAU!" teriak salah satu dari mereka dan mulai menyerang Daniel kembali
Daniel berdecak malas dan langsung menangkap pukulan dari musuhnya lalu berkata "Apa kau ingin menari?"
Dengan santainya Daniel mendorong pria itu hingga terjatuh menimpah rekan-rekannya, sedangkan Tony semakin di buat terkejut olehnya.
Tiba-tiba Daniel sudah berada di depan mata Tony dan membuat Tony terkejut melihat seorang pria yang sudah berada di depan matanya itu.
Daniel tersenyum sinis dan berkata "Apa kau tau jurus dari ahli beladiri yang bernama Bruce Lee?"
Dan "BRUGH! " Daniel menggunakan jurus pukulan satu inci milik Bruce Lee.
Pukulan itu tepat mengenai dada milik Tony dan membuatnya terpental hingga 7 meter jauhnya.
Tony tersungkur ke lantai hingga sulit baginya untuk berdiri. Dadanya merasakan perih yang amat luar biasa. Saat Tony berusaha untuk bangkit, tiba-tiba ia memuntahkan darah dari rongga mulutnya dan membuat para Anak buahnya sampai terkejut melihatnya.
"Si..sial!. Apa yang kau lakukan padaku?!" tanya Tony memegangi dadanya menahan rasa sakit itu.
"Apa masih kurang?" tanya Daniel santai namun dengan tatapan yang menakutkan
Tampa menunggu jawaban dari pihak Tony, Daniel sudah mendekat lagi lalu memukul perut milik lelaki malang itu dan membuat Tony semakin terluka di bagian perutnya.
Darah kembali keluar dari mulutnya dan membuat orang-orang yang berada di situ merasa semakin takut dibuatnya.
"Uhuk uhuk uhuk" Tony sampai terbatuk-batuk dan sampai berlutut di hadapan Daniel.
"Apa kalian ingin merasakannya juga?" tanya Daniel tanpa menatap Anak buah dari Tony yang terkapar di belakang Daniel
"Kami dalam masalah!. Kami salah memilih musuh" gumam Anak buah Tony
Daniel menendang kepala Tony dan membuatnya terpental beberapa meter jauhnya sampai ia hampir tak sadarkan diri.
"Jangan mati dulu!" ucap Daniel dengan santainya
Daniel melangkahkan kakinya mendekati Tony yang sudah terbaring tak berdaya dengan luka dalam yang sangat serius lalu ia duduk di atas perut Tony yang sudah pasrah akan nyawanya itu.
Kemudian Daniel melayangkan sebuah pukulan yang amat sangat kuat, dengan pasrah Tony menutup matanya dan sudah siap untuk menerima hadiah dari pria berbahaya yang duduk di tubuhnya itu.
Namun di luar dugaan, ternyata Daniel tak memukul wajah milik Tony yang menurutnya sangat menjijikan itu, melainkan tinjuan milik Daniel hanya mengenai lantai di sebelah kepala Tony dan kemudian lantai keramik itu mengalami keretakan.
"Jika terkena pukulan itu, mungkin aku sudah tak bernyawa" gumam Tony dengan tubuh yang bergetar hebat.
Daniel berdiri lalu menghampiri para Anak buah Tony dan membuat mereka menjadi ketakutan setengah mati melihat sosok pria yang sudah semakin mendekat kearah mereka semua.
Namun Daniel hanya duduk di kursi milik Tony tadi dan hanya menatap orang-orang yang sudah tak berdaya itu.
Daniel memutar kursinya dan membelakangi mereka semua lalu menikmati hujan dari balik jendela yang berada di hadapannya.
"Apa Istriku sudah bangun?" gumam Daniel menatap rintikan hujan yang lumayan deras membasahi gedung tua itu.
___________________________
Di kediaman rumah mewah milik Nek Ani.
Leny menepuk-nepuk kasur yang berada di sampingnya, dengan mata yang masih terpejam ia merasakan kalau tak ada keberadaan sang Suami di sampingnya.
Dengan perlahan wanita yang tengah hamil tua itu membuka matanya, dan benar saja, ternyata Suami nakalnya sudah tak berada di sampingnya lagi.
"Kemana Suamiku?" ucap Leny dengan khawatir
Leny terduduk lesuh di ranjang lalu melihat di luar jendela kamarnya, dan ia melihat sebuah tetesan air yang amat deras sedang turun mengeroyok bumi.
"Kemana lagi perginya dia?!" tanya Leny dengan geram
"Dasar Suami nakal!" timpal Leny tersenyum
_____________________________
Seorang pria tua tengah berada dalam mobil dan melewati jalan raya yang sudah basah karena rintikan hujan yang membasahi kota Bandung pada saat ini.
Setelah ia mendapatkan sebuah pesan dari Tony, ia langsung bergegas menuju markas mereka yang berada di kota itu.
"Untung saja aku sedang berada di Bandung dan ingin pergi mengunjungi Tony" ucap pria tua itu mengemudikan mobil Alphardnya.
"Tapi ada apa dengannya?, mengapa dia terlihat seperti terburu-buru?" tanya pria tua itu
__________________________
Daniel bersandar pada kursi kebanggaan milik Tony dan menikmati sebatang rokok favoritnya sembari menunggu kedatangan bos besar dari Rembulan Hijau.
Sedangkan Tony dan para anak buahnya sudah terduduk lemah tak berdaya di atas sofa yang memang tersedia di dalam gedung tua itu.
"Apa sudah kalian hubungi dia?" tanya Daniel masih membelakangi pria-pria yang sudah terluka itu.
"Su..sudah tuan" jawab Tony ketakutan
"Apa katanya?" tanya Daniel membuang uap rokoknya ke langit-langit gedung tua itu.
"Da..dalam perjalanan" jawab Tony lagi.
"Bagus!" ucap Daniel
Selang beberapa jam tiba-tiba pintu gedung tua itu terbuka dan terlihatlah sosok pria yang sudah tak muda lagi memasuki gedung tua yang sudah menjadi markas Rembulan Hijau yang berada di Bandung.
Mata pria tua itu terkejut melihat para Anak buahnya sudah tak berdaya terduduk lemah di atas sofa.
"Ada apa ini?! kenapa kalian pada terluka?!. Terutama kau Tony?!, apa yang terjadi?!" ribuan pertanyaan terlontar dari mulut pria tua itu.
"Be.. begini tu..tuan Alif.." ucapan Tony terpotong karena Daniel sudah memutar kursinya dan menghadap kearah mereka semua.
"Ah.. ternya kau pak tua!" ucap Daniel santai dengan kedua kaki sudah berada di atas meja
Si pria tua yang bernama Alif itu terkejut melihat sosok pria yang duduk santai di depan matanya dan berkata "TUAN MUDA?!"
"Apa? tuan Alif memanggilnya tuan muda?" gumam Tony tak percaya