
Pagi ini Leny di sibukkan karena perannya sebagai Istri juga seorang Ibu untuk putra kecilnya yang menurutnya sama sekali tidak merepotkannya karena Damin tak seperti bayi pada umumnya yang begitu rewel dan membuat kedua orang tua mereka merasa pusing mengurusnya.
Namun berbeda dengan bayi raksasanya yang bernama Daniel, justru Ayah dari Damin malah lebih manja dari sang Anak, membuat Leny menjadi gemas menghadapi Suami bayi gedenya itu.
Semenjak kehadiran Baby Damin, Daniel jadi lebih sering di rumah dan jarang pergi ke kantor. Semua pekerjaannya ia serahkan pada Riski dan Kevin.
Hari ini Daniel terpaksa harus pergi ke kantor meninggalkan putra kecil dan Istri cantiknya di rumah karena ia harus menghadiri meeting yang sangat penting.
"Haduh!, kenapa harus sekarang sih!" gerutu Daniel merasa kesal
Dengan cepat Daniel melajukan mobilnya berharap segera sampai di kantornya agar masalah meeting bisa di selesaikan dengan cepat dan ia bisa berkumpul dengan keluarga kecilnya kembali.
Setelah sampai di kantor, dengan buru-buru Daniel langsung masuk menuju ke ruangan meeting, bahkan ia mengabaikan sapaan para karyawan terhadapnya. Membuat para karyawan merasa bingung dengan perubahan sikap dari CEO mereka yang biasa selalu murah senyum.
Saat sampai di depan lift khusus petinggi perusahaan, Daniel berpapasan dengan wakilnya, siapa lagi kalau bukan Riski sang sahabat yang sudah menjadi seperti seorang saudara baginya.
"Buru-buru banget ni bos?!" ucap Riski menggoda Daniel
"Iya aku harus segera menyelesaikan ini!" jawab Daniel dengan wajah masam
"Mau kemana sih?!, udah hampir 1 Minggu kamu gak hadir" ucap Riski memprotes
Daniel tertawa dan menepuk-nepuk pundak dari sahabatnya itu lalu ia berkata "Haha, maaf-maaf saudaraku. Aku masih ingin menghabiskan waktu bersama putra imutku itu"
"Iya deh yang udah jadi Ayah" sindir Riski memutar bola matanya jengah
"Eleh!, sebentar lagi kau juga akan segera di panggil dengan sebutan itu" ejek Daniel menyenggol lengan dari sahabat somplaknya itu
Pada saat yang bersamaan pintu lift terbuka, dan kedua pria koplak itu masuk kedalam lift. Didalam lift mereka berdua hanya membicarakan hal yang sama sekali tak penting untuk di bahas. Tapi memang begitulah kedua saudara koplak itu jika sudah bertemu, pasti ada saja yang di bicarakan meskipun itu tak penting sama sekali.
"Gimana kabar si tampan junior itu?" tanya Riski
"Ya begitulah, dia semakin hari semakin menggemaskan. Aku tak bisa jauh dari putraku" jawab Daniel tersenyum mengingat keimutan dari putra pertamanya
"Aku juga merindukan keponakanku itu" ucap Riski
"Ya main dong, pasti Istriku juga sangat senang jika bertemu dengan sahabatnya itu" ucap Daniel menepuk punggung dari sahabatnya itu memberikan saran
"Aku tak tega membawa Windy keluar dari rumah mengingat usia kandungan yang sudah menginjak usia 6 bulan" jawab Riski merasa khawatir
Daniel menoyor kepala Riski dan berkata "Eh gila!, kau pikir rumahku dan rumahmu itu berbeda planet hah?!"
Riski memiting leher dari sahabatnya itu dan menjawab "Kalau begitu kalian saja yang kerumahku!"
"Oke-oke kami yang akan kesana" protes Daniel dan langsung mendorong Riski membuat pitingan di lehernya terlepas.
"Saudara gila kau ya!. Kau mau membunuhku?!" ucap Daniel memegangi tengkuk lehernya yang sedikit kebas karena ulah dari sahabatnya yang koplak itu
"Eleh lebay kau!. Ya kali seorang pemimpin assassin yang di takuti di Asia bisa mati semudah itu karena pitingan dariku" jawab Riski menyiyir
"Hahaha" tawa Daniel dan langsung membalas pitingan Riski
Daniel terus memiting leher dari sahabatnya itu dan ia juga sampai menjitak kepala Riski, sedangkan sang korban hanya tertawa dan berusaha melepaskan pitingan dari Daniel. Sampai pintu lift terbuka pun Daniel masih enggan untuk melepaskan pitingannya itu.
"Astaga Kakak-kakakku!" tegur Kevin menyilangkan kedua tangannya sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku dari Daniel dan Riski
Daniel menghentikan aktivitasnya lalu menatap sang Adik yang sudah menatap mereka dengan tatapan anehnya, kemudian Daniel langsung melepaskan pitingannya dari sahabatnya itu.
"Ckckck. Ada apa dengan kalian ini?!, yang satu sudah mempunyai Anak, dan yang satu akan segera punya Anak, namun tingkah kalian seperti Anak-anak!" ucap Kevin berdecak heran
"Jika Kakak ipar mengetahui ini, pasti mereka akan malu melihat tingkah dari para Suaminya ini" timpalnya
Sedangkan yang di berikan nasehat malah tak mendengarkannya, justru kedua pria koplak itu malah mengeroyok Kevin sehingga membuat para karyawan yang melihatnya sampai menahan tawanya.
Mey yang melihat Kevin di keroyok oleh kedua atasannya itu merasa kasian, dengan cepat Mey langsung melerai kegaduhan dari ketiga lelaki tampan itu.
"Aduh tuan Daniel dan tuan Riski kok begitu sih?" protes Mey melihat Kevin yang sudah ngos-ngosan karena di tertawa akibat di gelitikin oleh kedua pria koplak itu
"Hahaha, dia yang mulai duluan" jawab Daniel merasa tak terima
"Apa pula? hosh..hosh.. kalian yang tiba-tiba menyerangku!" jawab Kevin membela diri
"Oo kamu masih belum puas ya ha?!" tantang Daniel dengan senyuman sinisnya
Kevin mengangkat kedua tangan dan berkata "Su..sudah Kak, hosh...hosh.. Ampun, aku gak kuat"
Mey hanya menggeleng saja melihat tingkah dari ketiga pria itu.
"Oh iya, tuan Daniel sebentar lagi tuan ada meeting dengan client dari Korea Selatan" ucap Mey memecahkan kegaduhan
"Iya Mey aku tau, makanya itu aku terpaksa harus datang dan harus meninggalkan putraku di rumah" jawab Daniel menyebikkan bibirnya
"Hehehe. Selamat ya tuan atas kelahiran bayinya, maaf ni belum bisa memberikan hadiah. Maklum belum gajian, hehehe" ucap Mey
"Wah kamu menyindir ni ya?" tanya Daniel berpura-pura tak terima
"Eh tidak tuan, kan memang belum tanggalnya hehe" jawab Mey cengengesan
Daniel menggelengkan kepalanya lalu ia tersenyum dan berkata "Makasih ya Mey, kamu gak perlu repot-repot memberikan hadiah untuk anakku"
"Kalau begitu, boleh tidak saya menjenguk anak tuan?" tanya Mey penuh harap
"Iya boleh aja dong" jawab Daniel tersenyum ramah
"Hehe, terimakasih tuan" ucap Mey tersenyum
"Oh iya, Kevin jam berapa kita akan meeting?" tanya Daniel
"Sebentar lagi Kak" jawab Kevin melihat arloji di pergelangan tangannya
"Kalau begitu lebih baik kita langsung ke ruangan meeting saja" ucap Daniel menyarankan dan langsung di iyakan oleh mereka bertiga
"Baiklah, aku dan Mey akan menyiapkan bahan-bahan untuk meeting, kalian berdua pergi saja dulu" ucap Kevin dan langsung di anggukan oleh Riski dan Daniel