
Zahra sangat bingung dan begitu terkejut melihat suaminya yang tiba-tiba bersujud di kaki Daniel. Sedangkan kedua resepsionis itu tersenyum meremehkan melihat sepasang suami istri yang sombong itu langsung terkena karma.
"Hahaha, rasain tu. Tadi sombongnya minta ampun, sekarang kalah malu kalian kan" batin salah satu resepsionis itu.
"Bos kami di lawan" batin rekannya tersenyum meledek.
"Tu...tuan.. ampun tuan, ampuni saya" ucap pria itu yang terus bersujud di kaki Daniel.
"Suamiku, ada apa?. Kenapa kamu seperti ini?, kenapa kamu tiba-tiba memohon pada lelaki miskin ini?" tanya Zahra kebingungan.
"Sebaiknya kau diam saja, dan jangan memperkeruh suasana" tegur suaminya dengan nada sedikit tinggi.
"Dasar istri bodoh!. Kau sudah salah merendahkan orang!" timpalnya penuh emosi.
"Apa yang kamu bicarakan suamiku?, memangnya siapa pria itu?" tanya Zahra semakin bingung.
"Dia itu tuan muda Daniel Syahputra, ia adalah pemimpin Dark Shadow yang sebenarnya" jawab sang suami tegas penuh penekanan.
"Apa?!" Zahra terkejut dan terduduk lemas di samping suaminya yang masih bersujud.
"Ternyata aku memang tidak pernah bisa menang dari Leny" timpalnya dengan nada lemas.
"Tolong tuan muda ampuni saya dan istri saya yang bodoh ini tuan" ucap pria itu masih memohon.
"Tadi kalian berlagak seperti orang yang punya segalanya dan merendahkan nona muda kami" ucap salah satu dari resepsionis itu menyindir.
"Iya, bahkan sampai mengaku-ngaku sebagai pemimpin Dark Shadow juga" sambung rekannya.
"Hah?!. Kalian merendahkan istriku?, dan mengaku sebagai pemimpin Dark Shadow?!" tanya Daniel sedikit emosi.
"Ampun tuan, maafkan saya, saya khilaf" jawab pria itu masih memohon.
"Zahra, Zahra. Setiap kau ingin merendahkan ku, kau pasti langsung mendapatkan karmanya kan?" ucap Leny bertanya, sedangkan Zahra hanya terdiam karena sudah kalah malu termakan ucapannya sendiri.
"Tapi kenapa kamu masih saja melakukan hal yang selalu membuatmu malu sendiri?" timpal Leny.
"Iya Leny, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal" jawab Zahra dengan wajah memelas.
"Tolong tuan muda, tolong lepaskan kami. Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi" ucap suaminya Zahra.
"Semua keputusan ada di tangan istriku, aku akan menuruti apa yang di inginkan istriku untuk nasib kalian kedepannya. Karena yang mencari masalah dengannya itu kalian" jawab Daniel dengan nada dingin.
"Nona muda, tolong maafkan kami. Kami khilaf, kami tidak tau kalau anda ini adalah istri dari tuan muda" ucap pria itu memelas.
"Sepertinya kalian berdua memang menggunakan sebuah jabatan untuk merendahkan orang lain ya?" ucap Leny bertanya.
"Namun, sialnya kalian malah kalah dengan kata-kata kalian sendiri" timpal Leny menggeleng.
"Leny, kita ini teman sekelas. Apa kamu tega menghukum kami?" tanya Zahra memohon ampun.
"Giliran udah kalah malu baru ngaku-ngaku teman. Tadi pas masih merasa di atas langit anda tidak memandang nona muda kami teman anda" sindir resepsionis itu.
"Sudah, kalian berdua jangan terpancing emosi. Biar aku yang memberikan pelajaran untuk teman sekelas ku ini" ucap Leny dengan lembut.
"Iya, terima kasih kalian sudah peduli padaku" ucap Leny tersenyum.
"Tapi ini masalah di antara kami berdua selama bertahun-tahun. Gak seru rasanya kalau ada yang ikut campur" timpalnya menatap ke arah Zahra sambil menyilang kan kedua tangannya.
"Baik nona. Kami harap, nona membalas perbuatan yang sudah wanita itu lakukan ke pada nona" ucap resepsionis itu tersenyum.
Kemudian Leny melangkah ke depan suaminya Zahra dan berdiri bersilang dada di hadapan pria itu yang masih terus bersujud.
"Kau sebaiknya angkat kepalamu, dan bangun. Jangan bersujud di kaki suamiku. Suamiku itu bukan tuhan yang harus kau sembah. Kalau kau ingin bersujud, sebaiknya kau bersujud di atas sajadah, bukan di kaki sesama manusia" tegur Leny dengan nada dingin dan membuat pria itu perlahan bangun, namun masih menatap ke bawah karena takut akan melihat wajah Daniel.
"Dan kau Zahra!. Kau mencoba merendahkan ku dengan kekayaan harta yang kau miliki, bahkan kau menyombongkan jabatan yang di miliki oleh suamimu itu. Namun sayangnya kau salah orang, kau malah merendahkan seorang istri dari pemimpin Dark Shadow itu sendiri yang dimana malah di akui oleh suamimu itu" timpal Leny.
"Aku paling tidak suka ada orang yang membawa-bawa nama Dark Shadow hanya untuk kepentingan pribadinya sendiri, menyalahgunakan nama itu untuk menekan seseorang, bahkan sampai mengaku sebagai pemimpinnya" sela Daniel menyambung.
"Keluargaku susah payah menjaga nama baik Dark Shadow, menjaga agar nama itu tidak jelek di mata orang-orang. Dark Shadow itu di buat oleh kakekku untuk membantu orang-orang, bukan untuk menekan atau menakut-nakuti orang lain" timpal Daniel.
"Tapi malah ada orang yang kurang ajar berani-beraninya menggunakan nama itu untuk melakukan hal buruk" ucapannya lagi menatap dingin ke arah Zahra dan suaminya.
Tanpa di sadari Daniel malah mengeluarkan auranya. Aura yang di keluarkan oleh Daniel sangat kuat dan begitu berat, sehingga mereka yang merasakannya sangat takut dan tak bisa melawan.
"Kenapa hawa di sini menjadi gelap dan sangat menyeramkan ya?" batin Zahra bertanya.
"A....a.. apa jangan-jangan hawa yang berat ini berasal dari suaminya Leny itu?" timpalnya menatap ke arah Daniel yang juga menatap mereka dengan tatapan dinginnya.
"Habislah aku, tuan muda sudah mengeluarkan auranya. Walaupun ini hanya secuil, tapi ini juga sangat menakutkan" batin suaminya Zahra semakin ketakutan.
Tak lama kemudian Wulan dan Kevin datang menghampiri mereka. Mereka merasakan kalau aura sang kakak yang begitu panas dan gelap, membuat mereka berdua menjadi penasaran kenapa tiba-tiba kakak mereka mengeluarkan kekuatannya.
"Ada apa ini kak?, kenapa kakak mengeluarkan hawa yang sangat berat ini?" tanya Kevin.
Daniel melihat ke arah asal suara tersebut, kemudian ia langsung tersadar dari amarahnya yang tiba-tiba sampai bisa mengeluarkan aura seperti itu. Lalu secara perlahan ia mengatur emosinya lagi agar auranya tidak keluar dengan sendirinya dan orang-orang tidak ketakutan lagi.
"Apa kau kenal dengan pria itu?" tanya Daniel dengan nada dingin sambil menunjuk ke arah suaminya Zahra.
Kevin memicingkan mata saat menatap seorang pria yang sedari tadi hanya tertunduk ketakutan.
"Memangnya ada apa kak?" tanya Kevin.
"Apa dia membuat masalah?" timpalnya.
"Dia mengaku-ngaku sebagai pemimpin Dark Shadow, dan wanita itu yang merupakan istrinya sudah merendahkan istriku" jawab Daniel menatap dingin ke arah mereka berdua.
"Hah?, kurang ajar!. Berani-beraninya kalian berdua menghina kakakku!" ucap Wulan emosi karena tak terima mendengar kalau Leny di rendahkan orang lain.
"Berani-beraninya juga sampai membawa nama Dark Shadow" timpalnya sambil membunyikan otot-otot jarinya seakan-akan ingin memukul orang yang telah merendahkan kakaknya.
"Sudahlah dek, jangan emosi, tahan emosi kalian. Kakak tidak apa-apa kok" tegur Leny sambil tersenyum menenangkan Wulan.
"Kalau kau tidak tau sejarah Dark Shadow, jangan memakai nama itu untuk melakukan penekanan terhadap orang lain" tegur Kevin dan langsung menendang suaminya Zahra sampai membuatnya terduduk menahan kesaksian pada bagian perut.
"Itu sedikit pelajaran untuk kalian yang sudah berani merendahkan kakakku dan merusak nama baik Dark Shadow" ucap Kevin dengan tatapan dingin.