
Ayu merasa bosan di dalam kamar karena pria tampannya sedang pergi bersama Daniel. Dion beralasan kepada Ayu kalau dia sedang ingin melihat-lihat beberapa cabang kantor milik Daniel agar para karyawannya juga mengenalinya.
Dion sengaja tidak memberi tau hal yang sebenarnya pada sang istri agar Ayu tidak merasa khawatir kalau ia dalam situasi bertempur.
"Kok aku tiba-tiba kepikiran pada suamiku ya?" gumam Ayu yang sedari tadi sibuk melihat foto-foto pernikahannya bersama Dion pada waktu dulu. Sedangkan Dion sedang bertarung bersama saudara-saudaranya.
"Semoga suami baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa padanya" timpalnya berfikir positif. Padahal sang suami sedang berjuang menghadapi para musuhnya yang di bantu dengan kekuatan dari obat terlarang.
Ayu yang merasa bosan karena sedari tadi ia hanya menggeser-geser layar ponselnya tanpa adanya notifikasi dari sang suami akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar, agar pikirannya tak tertuju pada sang suami saja.
Ayu berjalan menuju ke dapur hotel untuk menghilangkan rasa bosannya karena di tinggal sang suami pergi.
Setibanya ia di dapur, ia melihat-lihat para chef sedang sibuk dengan urusan dapur. Tak lupa juga para pekerja yang berada di dapur menyambut dan memberi hormat pada Ayu.
"Ada keperluan apa yang membuat nona muda datang ke tempat ini?" tanya kepala koki.
"Apa anda ingin meminta pada kami untuk memasak sesuatu yang spesial untuk anda dan keluarga?" tanyanya lagi.
"Tidak ada, aku hanya merasa sedikit bosan saja berada di dalam kamar terus" jawab Ayu tersenyum.
"Kalau tidak ada keperluan lagi, saya mohon izin untuk kembali nona" ucap kepala koki itu sedikit menunduk seakan memberi hormat dan di balas dengan anggukan oleh Ayu.
Ayu terus memperhatikan para chef yang tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, ia hanya tersenyum senang melihat para pekerja hotel milik sang Kakak ipar begitu bersemangat dalam mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Lalu sempat tersirat dalam pikirannya untuk memasakkan sesuatu yang spesial untuk sang suami ketika ia pulang dari kantor nanti. Ayu mendekati kepala koki dan menyampaikan apa yang ia ingin lakukan.
"Bolehkah saya ikut memasak di sini?" tanya Ayu.
"Ha?, u... untuk apa anda harus sampai repot-repot memasak?" kepala koki itu sedikit terkejut.
"Biarkan kami saja yang memasak untuk nona muda dan keluarga yang lainnya" timpalnya.
"Bukan begitu, aku hanya ingin memasakkan sesuatu yang spesial khusus untuk suamiku saja" jawab Ayu tersenyum manis.
"Selama kami berada di sini, dia sudah lama tidak merasakan hasil masakan dariku lagi, dan aku juga takut jika aku tidak mengasah kemampuanku dalam hal memasak, nanti kemampuan itu akan tumpul" timpalnya menjelaskan.
"Jika itu mau nona, maka silahkan saja" jawab sang kepala koki mempersilahkan Ayu untuk melakukan keinginannya.
Mendengar jawaban barusan, Ayu tersenyum bahagia dan langsung melakukan peperangan pada pisau serta bahan-bahan yang akan ia masak untuk sang suami siang nanti.
Di saat Ayu tengah memotong-motong bawang serta beberapa cabai, tiba-tiba hati dan pikiran tertuju pada Dion lagi.
Disaat itu pula Dion sedang berlari ke arah Wulan untuk melindungi sang Adik dari serangan musuh mereka.
"***KAK DION!!!" teriak wulan panik melihat sang Kakak yang tengkurap di atas tanah.
"Tuan muda Dion!" sambung Jasmine tak kalah paniknya dan langsung membantu Wulan mengangkat tubuh Dion***.
Di saat Wulan dan Jasmine bertindak memanggil nama suaminya, di saat itu pula jari Ayu teriris pisau karena ia termenung dengan masih terus memotong-motong bawang.
"Aw..." Ayu terkejut karena mata pisau telah membelah kulit pada jari telunjuknya dan para orang-orang yang berada di dapur juga ikut terkejut karena melihat telunjuk milik nona muda mereka yang terus mengeluarkan darah.
"Nona muda kenapa?" tanya kepala koki yang begitu panik melihat jari Ayu yang sudah mengeluarkan darah.
"Tidak apa-apa, aku melamun tadi" jawab Ayu dengan mimik wajah yang tengah menahan rasa perih.
"Baik" jawab salah satu dari mereka dan langsung buru-buru mengambil kotak tersebut dari dalam lemari.
"Aku tidak apa-apa, kalian tidak perlu khawatir" ucap Ayu tersenyum.
Di sela-sela suasana panik yang berada di dalam dapur karena Ayu yang mengalami luka ringan, Leny masuk menuju dapur untuk mengecek para karyawannya yang tengah bekerja karena itu memang sudah menjadi kebiasaan selama ia berada di hotel miliknya.
Setibanya Leny di dapur, terkejut karena melihat Ayu yang sedang berada di dalam kerumunan dengan wajah seakan menahan rasa sakit.
"Kenapa ini?, ada apa ramai-ramai?. Apa yang terjadi?" tanya Leny khawatir.
"Astaga, kamu kenapa?" timpal Leny panik karena melihat tangan Ayu yang masih mengeluarkan darah.
"Hehehe, tidak apa-apa Kakak ipar, ini hanya luka kecil" jawab Ayu tersenyum.
"Cepat ambilkan obat!" perintah Leny dengan wajah penuh rasa khawatir.
"Se...sedang di ambil kok nona" jawab kepala koki ketakutan melihat wajah Leny.
"Kamu kenapa bisa sampai terluka seperti ini?, apa yang kamu lakukan?" tanya Leny dengan penuh rasa khawatir.
"Aku sedang ingin memasak untuk suamiku, tapi emang dasarnya aku yang bodoh karena melamun ketika sedang mengiris bawang, dan hal hasil ya gini deh" jawab Ayu tersenyum cengengesan.
"Dasar kamu ini, bikin khawatir saja" ucap Leny menggeleng.
"Hehehe, Kakak ipar tenang saja. Apa kamu lupa kalau aku ini seorang dokter?, jadi luka kecil ini tidak berarti apa-apa bagiku" sela Ayu tersenyum.
Setelah orang yang di perintahkan oleh kepala koki itu kembali dan sudah membawa kotak P3K, Ayu langsung mengambil kotak obat tersebut lalu mengobati dirinya sendiri. Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya kembali seusai jarinya yang terluka tadi sudah di berikan betadine dan di balut plester.
KEMBALI KE PEPERANGAN ANTARA DARK SHADOW MELAWAN GRUP VALKERY...
Semua orang terdiam terpaku melihat aura yang keluar dari dalam tubuh Daniel termasuk juga William yang tercengang karena merasakan betapa beratnya aura yang di keluarkan oleh Daniel.
Kedua sosok hewan yang berada di atas kepala Daniel terus menerus mengaung hingga membuat mereka semua merasa sangat ketakutan melihat bayangan tersebut.
"A..apa anda me.. melihatnya?" tanya Takaoka ketakutan.
"Tentu saja, itu sangat begitu jelas terlihat" jawab Mizaki tersenyum kagum karena bisa merasakan hal yang sudah lama ia tidak rasakan lagi selama ini.
"Sudah lama kita tidak merasakan tekanan yang hebat ini dari tuan muda" sela Yosuke tersenyum melihat Daniel masih berlutut di hadapan tubuh Dion yang sudah pingsan.
"Aku rasa ini lebih berat dari beberapa tahun yang lalu" ucap Mizaki.
"Kau benar" jawab Yosuke tersenyum.
"Kenapa dengan orang itu?. Dia sedari tadi hanya diam, tapi entah kenapa kami semua takut untuk menyerangnya, meskipun dia dalam keadaan lemah seperti itu" batin William bertanya-tanya.
Setelah terlalu lama terdiam, akhirnya Daniel berdiri dan membuat mereka semua semakin ketakutan. Daniel menggenggam erat pedangnya yang di beri nama Ryu Ken itu dan memutar tubuhnya.
Para bawahannya William mundur beberapa langkah saat Daniel memutar tubuhnya. Dengan tatapan dingin Daniel melangkah menuju ke arah musuh-musuhnya berada.
Langkah yang santai namun begitu menakutkan bagi para musuhnya. Daniel terus bergumam "Musnahkan ******musuh****** lindungi keluarga" Daniel terus berkata seperti itu sembari terus melangkah ke depan dan membuat para bawahannya William semakin ketakutan melihat Daniel yang terus berjalan ke arah mereka.