
Kedatangan Kevin ke rumah Daniel sebenarnya memang di suruh oleh Daniel karena mereka akan membahas tentang Daniel yang ingin membantu Joe untuk menjadi guru di sebuah sekolah yang di miliki oleh Joe di Jepang.
Setelah selesai makan malam bersama, Daniel langsung mengatakan maksud ia menyuruh Kevin datang ke rumah. Karena Kevin juga sedikit bingung kenapa kakaknya itu menyuruhnya harus cepat-cepat datang ke rumah.
"Ada apa kak?, kenapa kau menyuruhku tiba-tiba ke rumah?" tanya Kevin sedikit bingung.
"Ini tentang Joe" jawab Daniel sambil menyalakan sebatang rokoknya.
"Joe?, memangnya ada apa dengannya?, apa dia berbuat ulah lagi?" tanya Kevin semakin bingung.
"Bukan. Siang tadi ketika aku dan kakakmu sedang berbelanja di sebuah mall, secara tidak sengaja aku bertemu dengannya di mall tersebut, dan aku menanyakan padanya alasan dia datang ke Indonesia" jawab Daniel menjelaskan.
"Kemungkinan, dia ingin bertemu denganmu" ucap Kevin menerka.
"Sok tau kau capung" sambung Wulan tiba-tiba sambil meletakkan dua gelas kopi di atas meja tempat Kevin dan Daniel sedang mengobrol.
"Memangnya kau tau maksud dan tujuan dia kemari kucing kecil?" tanya Kevin.
"Tanyakan saja pada kakak kita" jawab Wulan.
"Kedatangan Joe ke sini, dia ingin mencari seseorang yang ingin ia pekerjaan menjadi guru di sebuah sekolah yang ia dirikan di Jepang sana" sambung Daniel menjawab.
"Wah, keren banget si Joe itu. Tak di sangka-sangka dia benar-benar berubah menjadi lebih baik dan mau membantu anak-anak di sana untuk bersekolah" ucap Kevin kagum.
"Eh, tunggu-tunggu. Lalu, apa hubungannya dengan kau menyuruhku datang ke rumah kak?" tanya Kevin baru sadar.
"Memang tujuan Joe itu sangat mulia dengan mendirikan sebuah sekolah agar anak-anak yang berada di sana bisa bersekolah. Namun, ada satu masalah yang terjadi di salah satu kelasnya" jawab Daniel menjelaskan.
"Bermasalah?, apa masalahnya?" tanya Kevin penasaran.
"Ada sebuah kelas dengan murid-murid yang terdengar sangat berandalan di sekolah itu. Bahkan banyak wali kelas untuk kelas itu tak sanggup dan akhirnya memutuskan untuk resign" jawab Daniel.
"Jadi kau ingin menjadi salah satu pengajar di sana?" tanya Kevin memastikan, dan di anggukan oleh Daniel.
"Lalu apa urusannya kau menyuruhku ke sini?" tanya Kevin lagi.
"Kau harus ikut, dan membantuku di sana" jawab Daniel memerintah.
"Kalau kakak sudah berkata seperti itu, maka aku harus menurutinya" ucap Kevin pasrah.
Di tengah-tengah asyiknya mengobrol, tiba-tiba ada beberapa orang datang ke rumah Daniel dengan membawa map di tangan mereka. Orang-orang yang berada di dalam rumah sedikit bingung dengan datangnya beberapa orang tersebut, kecuali dengan Daniel yang seakan sudah paham maksud kedatangan dari orang-orang tersebut.
"Ada apa ini?, kok tiba-tiba ada beberapa orang datang ke rumah?" tanya Leny sambil meminum kopi milik Daniel.
"O.. Akhirnya kalian datang juga ya" ucap Daniel menyambut mereka dengan senyuman.
"Apa Ayah yang menyuruh mereka datang?" tanya Leny pemasaran, dan di anggukan oleh Daniel.
"Memangnya ada apa Ayah?" tanya Leny penasaran.
"Ayah berniat ingin membangun 100 panti asuhan, 100 pesantren, dan juga 100 masjid Honey" jawab Daniel menjelaskan.
"Hah?, Ayah yakin?" tanya Leny terkejut.
"Iya Honey, memangnya gak boleh?" tanya Daniel.
"Bukan begitu Ayah. Justru Bunda senang kalau Ayah ingin melakukan hal seperti itu" Jawab leny.
"Tapi kenapa Ayah tidak mengatakannya pada Bunda dari awal?" timpal Leny bertanya.
"Syukur Alhamdulillah kalau ada seseorang pemuda yang sukses, ingin beramal seperti ini" ucap salah satu pria yang menggunakan sebuah peci hitam di atas kepalanya.
"Ini tuan semua permintaan tuan sudah kami siapkan" timpalnya sambil menyerahkan sebuah map pada Daniel.
"Terima kasih pak" jawab Daniel tersenyum.
"Saya akan meminta perwakilan dari setiap daerah bertanggung jawab untuk meminta tanda tangan persetujuan warga sekitar, agar pembangunan ini bisa segera cepat di laksanakan" ucap Daniel.
"Setelah ini semua sudah selesai di bangun, saya juga ingin membangun beberapa sekolah gratis untuk anak-anak yang kurang mampu untuk menikmati rasa bersekolah. Karena mereka akan menjadi masa depan negara kita kelak" timpal Daniel.
"Baik tuan, kami akan melakukan sesuai keinginan anda" jawab orang-orang yang sudah di berikan sebuah amanah oleh Daniel.
Leny hanya tersenyum melihat kemuliaan hati dari suaminya itu. Ia merasa bahagia kalau harta yang begitu banyak miliknya di gunakan untuk hal yang sangat berguna, apa lagi untuk tempat beribadah orang-orang yang seagama dengannya.
"Bagaimana?, apa Bunda setuju dengan niat Ayah?" tanya Daniel memastikan.
"Tentu saja Bunda setuju suamiku. Apa lagi ini untuk menolong umat manusia yang tidak berkecukupan" jawab Leny tersenyum bahagia.
"Apa perlu kita menggunakan pengaman kak?, agar para preman setempat tidak menggangu proses pembangunan ini?" tanya Kevin meminta saran.
"Kalau masalah itu, kau yang akan mengurusnya" jawab Daniel.
"Baiklah kak, aku akan meminta orang-orang kita untuk bersiap agar segera kita kirim ke tempat daerah dimana bangunan akan di kerjakan" ucap Kevin semangat.
"Sungguh mulia orang yang memiliki harta berlimpah seperti anda tuan muda. Jarang-jarang ada orang yang ingin melakukan hal kebaikan seperti ini. Mereka hanya terus memikirkan dunia, tanpa mereka sadari kalau semua itu hanya titipan dari sang pencipta saja" ucap salah satu dari panitia yang sudah Daniel tunjuk.
"Aku hanya tak mau kekayaan yang ku miliki akan menjadi kekosongan di akhirat kelak. Aku ingin menyelamatkan keluargaku dari dunia yang hanya sementara ini. Jika kami terus mengikuti perbuatan zaman terus, itu tidak ada habisnya" jawab Daniel menjelaskan.
"Kira-kira, berapa jumlah anggaran yang di butuhkan untuk semua tempat yang akan kita bangun itu?" tanya Daniel.
"Ini pasti akan memakan biaya yang sangat besar tuan" jawab salah satu pria itu.
"Apa perlu kita meminta bantuan dari warga sekitar untuk pembangunan ini?, toh ini juga bakal untuk mereka juga" timpal rekannya memberi saran.
"Tidak perlu pak. Insyaallah aku masih sanggup untuk menanggung semua biayanya tanpa meminta bantuan dari warga sekitar" jawab Daniel tersenyum.
"Sebaiknya kalian hitung saja dulu berapa anggaran yang akan kita keluarkan untuk semua tempat itu, dan aku minta gunakan bahan yang paling terbaik untuk bangunan ini, jangan sampai cepat roboh atau rusak" timpal Daniel memerintah.
"Baiklah tuan muda. Semua yang anda perintahkan akan kami lakukan" jawab salah satu dari mereka.
"Oh iya. Kita jangan sampai menggunakan pekerja dari tempat lain ya. Kalau bisa kita memperkejakan warga sekitar yang akan kita bangun tempatnya" ucap Daniel memberitahu.
"Itung-itung kita membantu perekonomian keluarga mereka" sambung Leny berbicara.
"Siap nona muda. Kami akan mencatat semua perkataan nona dan tuan muda" jawab para panitia tersebut.
"Oiya, nama untuk masjid, pesantren, dan panti asuhannya sudah Anda siapkan tuan?" tanya dari ketua panitia tersebut.
"Sudah kok. Aku sudah memiliki nama untuk pembangunan kita" jawab Daniel tersenyum.
"Apa namanya Ayah?" tanya Leny penasaran.
Al-amanah" jawab Daniel tersenyum.
"Masya Allah, nama yang bagus tuan muda" ucap salah satu dari pria itu.
"Hehe, terima kasih pak" jawab Daniel dan orang-orang yang berada di dalam rumah itu tersenyum.