
"Ternyata anda masih berani kembali ke sini lagi ya Daniel Sensei?" tanya Hiroto bersandar sambil bersilang dada.
"Aku pikir anda sudah menyerah dan takut untuk menjadi guru kami lagi" timpalnya tersenyum pahit.
Daniel tersenyum lalu ia berjalan mendekati Hiroto yang tengah duduk di kursi bagian tengah. Kemudian Daniel menyilang kan kedua tangannya sambil berkata.
"Tentu saja aku akan kembali" ucap Daniel sedikit menunduk.
"Karena ada murid-murid bodoh yang sangat membutuhkan bimbingan dariku" timpalnya sambil menoyor jidat Hiroto dengan jari telunjuknya.
"Tcih!. Dasar sombong" decak Hiroto kemudian ia tersenyum senang.
Rekan sekelas Hiroto ikut merasa senang ketika melihat pemimpin kelas mereka yang nampaknya sudah mulai menerima guru tampan mereka itu.
Setelah bercanda dengan Hiroto, Daniel kembali lagi menuju ke mejanya. Namun pada saat ia baru beranjak beberapa langkah dari mejanya Hiroto, tiba-tiba ia di panggil oleh Hiroto dan muridnya itu langsung ingin meninju wajah Daniel ketika Daniel hendak berbalik badan. Namun tinjuan yang di berikan oleh Hiroto dapat di tangkap oleh Daniel dengan sangat mudahnya.
"Ternyata anda benar-benar hebat Sensei, aku suka" ucap Hiroto tersenyum.
"Belum waktunya untukmu mampu melukaiku" jawab Daniel ikut tersenyum.
"Kembali ke mejamu. Kita akan mulai pelajaran pagi ini" timpal Daniel mendorong tangan Hiroto, dan Hiroto hanya bisa tersenyum sambil duduk di kursinya.
Para murid-murid yang lain hanya bisa tercengang melihat kejadian barusan. Mereka semua tau selama ini tidak ada satupun guru yang mampu menahan pukulan yang barusan di berikan oleh Hiroto. Akan tetapi baru Daniel yang bisa menangkis serangan itu dengan sangat mudahnya.
Pagi itu Daniel langsung melakukan tugasnya sebagai seorang guru. Menurut mereka, Daniel adalah sosok seorang guru yang begitu cerdas dan bisa membuat mereka memahami dengan apa yang sedang di ajarkan oleh Daniel. Bahkan Hiroto sampai penasaran dengan apa yang di ajarkan oleh Daniel.
"Aku senang melihat Hiroto-kun sudah mau kembali belajar lagi. Selama ini ia tidak pernah mau mengikuti pelajaran yang di berikan oleh para guru-guru yang masuk. Namun, ia sangat antusias belajar ketika Daniel Sensei yang mengajar kami" batin Gunpei tersenyum.
Bel istirahat berbunyi, para murid-murid berhamburan keluar untuk meningkatkan waktu istirahat mereka. Akan tetapi para muridnya Daniel justru hanya berdiam di dalam kelas, dan enggan keluar.
"Ini sudah waktunya istirahat, kenapa kalian malah berdiam di tempat ini?" tanya Daniel bingung.
"Jika kami ke kantin, pasti murid-murid kelas lainnya akan membuat keributan pada kami. Bahkan ada salah satu pengajar yang menjadi provokator untuk menindas kami" jawab Ahim.
"Ha?, dia mengajar pelajaran apa?" tanya Daniel penasaran.
"Penjaskes" jawab Saki.
"Nama?" tanya Daniel lagi.
"Takaoka" jawab Hiroto sambil memukul mejanya dengan geram.
"Jika saja Joe Sensei mengizinkan ku untuk menghabisi guru itu. Sudah dari dulu dia ku habisi" timpal Hiroto geram.
"Hiroto-kun memang begitu membenci Takaoka Sensei" sambung Gunpei menjawab.
"Ada masalah apa dengan mereka berdua?" tanya Daniel.
"Sebenarnya Hiroto-kun tidak pernah memiliki masalah pada Takaoka Sensei. Namun Takaoka Sensei selalu mencari gara-gara padanya. Dia selalu memancing emosi Hiroto-kun agar mereka berdua bisa berkelahi" timpalnya menjelaskan.
Daniel hanya mengangguk saja sambil terus mendengarkan apa yang di sampaikan oleh Gunpei. Daniel harus membuat para muridnya di terima oleh murid-murid yang lain. Dia berfikir kalau akar masalahnya harus di selesaikan.
"Apa kalian tidak memberi tau pada Joe Sensei?" tanya Daniel kembali.
"Siang nanti Takaoka Sensei akan mengajar di kelas kami. Setiap ia mengajar kami, tidak ada sedikitpun kelembutan. Jika ia tidak suka, maka ia akan memukulnya, tidak peduli mau wanita atau pria" jawab Ahim sedih.
"Kapan dia akan mengajar?" tanya Daniel.
"Setelah istirahat ini" jawab Ahim.
"Oke. Akan aku urus dia" jawab Daniel tersenyum sinis.
"Tapi, dia itu adalah orang yang berasal dari militer. Dia begitu keras dalam mengajar, suka mengajar dengan kekerasan, semakin kami menderita, semakin ia bahagia" ucap Saki memperingati.
"Kalian tidak perlu khawatir lagi, tidak usah memikirkan hal-hal yang hanya membuat kalian menjadi stress" jawab Daniel menasehati.
"Sekarang aku ini wali kelas kalian, aku juga sebagai orang tua kalian jika di sekolah ini. Tidak akan kubiarkan satu orangpun menyakiti anak-anak ku!" timpal Daniel.
"Apa Sensei ingin mencoba bertarung dengannya?" tanya Gunpei khawatir.
"Tidak, aku akan mengobrol dengannya saja. Aku akan mencoba berdiskusi agar bisa mengajar kalian dengan tidak menggunakan kekerasan lagi" jawab Daniel menjelaskan.
"Itu semua percuma Sensei. Dia pasti tidak akan mendengarkannya, bahkan dia akan lebih kejam lagi nantinya" ucap Gunpei merasa takut.
"Jika dia seperti itu, maka akan aku buang dia ke tempat sampah, dan akan aku pastikan dia tidak akan berani lagi menunjukkan wajahnya lagi di hadapan kalian" jawab Daniel tersenyum agar para murid-muridnya merasa lebih tenang.
"Tidak usah kalian pikirkan lagi, sebaiknya kalian nikmati saja waktu istirahat kalian. Masalah si Takaoka itu, biar aku yang mengurusnya" ucap Daniel sambil membuka handle pintu kelasnya lalu ia pergi menuju ke ruangan guru meninggalkan pada muridnya yang masih terlihat gelisah, terkecuali Hiroto yang nampak memasang wajah geram.
Setelah bel istirahat selesai, murid-murid yang sedang menikmati waktu istirahatnya pun sudah kembali ke kelas masing-masing. Sedangkan Hiroto dan teman-temannya hanya terduduk gelisah menanti Takaoka Sensei masuk untuk mengajar mereka semua.
Tak lama kemudian pintu kelas terbuka, namun cara pintu itu terbuka dengan tendangan sampai membuat mereka yang berada di dalam kelas itu terkejut karena suara pintu yang begitu keras menghantam dinding.
"Halo, sampah-sampah tidak berguna!" sapa Takaoka Sensei dengan senyuman psikopatnya.
"Cepat ganti baju kalian, dan segera ke lapangan!" timpalnya memerintah sambil menggebrak meja sampai membuat mereka semua terkejut. Akan tetapi Hiroto hanya berdecak malas hingga membuat Takaoka merasa kesal dengan ekspresi wajah yang di perlihatkan oleh Hiroto.
"Hey bodoh!. Apa kau tidak dengar apa yang aku katakan tadi?!, apa kau ingin ku cambuk agar kau mau mengikuti perintah dariku?" tanya Takaoka mengancam Hiroto.
Belum sempat Takaoka mendekat, dengan cepat Gunpei langsung menghampiri Hiroto dan membawa paksa pergi menuju ke ruang ganti untuk mengganti pakaian olahraga mereka.
Takaoka sudah standby berdiri di tengah lapangan. Akan tepat Hiroto dan teman-temannya belum juga datang hingga membuat guru kejam itu merasa kesal dengan murid-muridnya Daniel.
5 menit kemudian rombongan Saki datang mendekati Takaoka yang sudah memandang wajah yang mengerikan dan mereka yang melihatnya merasa sangat ketakutan.
"Lama sekali?!. Dasar sampah!" ucap Takaoka geram, dan mereka semua hanya diam saja. Namun tidak dengan Hiroto yang memasang wajah malas seakan tak ada rasa takut sedikitpun pada sosok guru kejam yang ada di depannya.
"Ada apa dengan wajahmu itu hah?!, apa kau ingin menantang ku?" tanya Takaoka geram menatap Hiroto.
"Aku diam saja, tapi bukan berarti aku takut pada anda. Aku hanya menghargai ucapan yang di sampaikan oleh Joe Sensei" jawab Hiroto malas.
"Sudah sebaiknya anda mulai saja pelajaran siang ini" timpal Hiroto santai dan semakin membuat Takaoka merasa emosi.
"Kau!" ucap Takaoka mengepalkan tangannya dan hendak memukul Hiroto. Namun pergelangan tangan milik Takaoka seperti ada yang menahannya dan otomatis niat Takaoka yang menjadi gagal.