Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MEMBAWA ALVIN


Keempat orang yang tadinya ingin menindas Leny dan adik-adiknya kini seketika berubah menjadi seperti ayam sakit yang tak bisa apa-apa di hadapan Fauzi yang sedari tadi menatap mereka berempat.


"Sudahlah lupakan saja" tegur Leny


"Apa kita sudah bisa bertemu Alvin?" timpalnya bertanya dan di anggukan oleh Fauzi


"Baiklah tuan dan nona, biarkan kami yang mengantar kalian ke ruangan dokter Alvin" ucap salah satu resepsionis itu ( berbahasa Jepang )


Leny yang memang tidak memahami percakapan mereka hanya mengikuti sang adik dari belakang. Ia berfikir kalau mereka sudah mengizinkan Leny dan adik-adiknya untuk bertemu dengan Alvin si pria bertangan ajaib itu.


Tibalah mereka semua di depan ruangan yang bertuliskan Doctor Alvin yang tertera di atas pintu ruangan tersebut. Dengan sopan seorang suster itu mengetuk pintu ruangan milik sang dokter. Setelah di perbolehkan untuk masuk, barulah suster itu berani untuk membawa Leny dan ketiga adiknya masuk kedalam ruangan.


"Halo saudaraku, apa kabar?" sapa Kevin


Alvin yang tadinya tengah begitu serius memeriksa berkas-berkas yang berada di atas mejanya langsung terhenti saat mendengar suara yang sangat ia kenali itu.


Dengan cepat Alvin mengangkat kepalanya dan menatap beberapa orang yang berada di depannya. Matanya sampai terbelak saat melihat kedatangan para sahabatnya yang sudah ia anggap sebagai keluarga sendiri berdiri di depannya.


"Kevin?!, Fauzi?!, Wulan?!" ucap Alvin sedikit terkejut


"Halo kak" sapa Wulan tersenyum


"Wah, aku sangat merindukan kalian" ucap Alvin yang langsung menghampiri mereka bertiga kemudian ia juga langsung memeluk Fauzi dan Kevin


"Ehkem-ehkem" tegur Leny yang sedari tadi merasa tak di anggap


Mereka bertiga langsung melepaskan pelukan rindunya dan langsung menatap kearah Leny dengan senyuman kikuk karena merasa bersalah.


"Oh iya. Siapa wanita yang bersama kamu Wulan?" tanya Alvin yang merasa penasaran dengan sosok wanita cantik yang berada didepannya


"Aku Leny" ucap Leny tersenyum memperkenalkan dirinya


"Dia ini kakak iparku, istrinya kak Daniel" sambung Wulan sembari menggandeng tangan Leny


"Apa?!, jadi dia adalah nona muda?" tanya Alvin yang sangat terkejut mendengar perkataan dari Wulan barusan


"Ah, kamu tidak usah berlebihan seperti itu" ucap Leny yang merasa sedikit risih mendengar nama nona muda untuknya


"Suami nona sudah sangat berjasa dalam hidup saya nona" ucap Alvin


"Yang berjasa kan suamiku, bukan diriku" bantah Leny tersenyum


"Apa tidak ada tempat duduk untuk kami?" tanya Fauzi menyela


"Oh, maaf hehe" ucap Alvin salah tingkah dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Ayo kita duduk dan mengobrol" timpalnya sembari menuntun mereka menuju ke sebuah sofa yang berada di ruangannya


"Oh iya. Apa yang membuat kalian sampai repot-repot datang jauh ke sini?" tanya Alvin setelah mereka sudah duduk di atas sofa


Seketika raut wajah mereka langsung berubah menjadi murung dan sampai membuat Alvin bertanya-tanya saat melihat ekspresi dari wajah mereka berempat.


"Apa?!. Mengapa bisa? apa yang terjadi nona?" tanya Alvin yang sangat terkejut


"Dia menggunakan tenaga dalam yang sudah melewati batas, dan saat ini semua syaraf pada tubuhnya hampir rusak" timpal Kevin menjelaskan


"Apa yang dia lakukan sampai ia melewati batas pada tubuhnya?" tanya Alvin yang sudah sangat khawatir


"Waktu itu aku sedang di culik oleh orang-orang yang berasal dari kelompok Petir Hitam. Karena pemimpin mereka sebelumnya yang merupakan kakak dari pemimpin mereka yang baru telah habis di tangan suamiku, jadi mereka mengancam suamiku dengan menculik aku" jawab Leny menjelaskan


Alvin hanya mengangguk sembari menyimak penjelasan dari Leny.


"Kemudian suamiku beserta adik-adiknya datang untuk menyelamatkanku, dan dari situ juga aku tau alasan kenapa suamiku yang dengan sadis membunuh pemimpin mereka sebelumnya" sambung Leny lagi


"Pemimpin mereka sebelumnya telah membunuh kedua orangtua kandung suamiku, dan gara-gara perbuatan si tua bangka itu suamiku harus menderita ketika ia kecil" timpalnya lagi


Perlahan air mata Leny menetes membasahi kedua pipinya sembari menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada konflik antara suaminya dengan Petir Hitam pada saat itu.


"Pemimpin mereka juga memberi tahu diriku kalau suamiku itu adalah pria nomor satu di Asia dan sangat di takuti oleh orang-orang yang berada di kelompok gelap" ucap Leny


"Jadi kakak.." ucapan Wulan langsung terpotong oleh Leny karena Leny tau apa yang akan di katakan oleh sang adik


"Dia pemimpin assassin Dark Shadow kan?" tanya Leny dan di anggukan oleh Wulan dengan sangat ragu


"Setelah aku di selamatkan, suamiku dengan sadisnya juga ia membantai pemimpin Petir Hitam yang baru beserta anak buahnya itu" timpalnya lagi melanjutkan penjelasannya yang sempat di potong oleh Wulan


Kemudian Leny menjelaskan semua kejadian yang mereka alami ketika mereka berada di dalam hutan dan sampai mereka juga berurusan dengan Johan di tengah hutan.


Emosi Alvin juga sampai ikut naik setelah mendengar penjelasan dari Leny. Kemudian Alvin berdiri dan membelakangi mereka sembari ia mengepalkan kedua tangannya.


"Kita sudah tidak ada waktu lagi. Aku akan ke Indonesia dan segera menyembuhkan tuan muda. Aku berjanji aku akan bisa menyembuhkan tuan muda" ucap Alvin dengan suara dinginnya


Leny juga langsung berdiri dan raut wajah sedihnya langsung berubah menjadi senang karena Alvin mau merawat suaminya yang kondisinya semakin lama semakin memburuk.


"Ayo!. Kita tidak boleh membuang waktu lagi, suamiku harus segera di tolong" ucap Leny dengan semangat


Kemudian Alvin mengeluarkan ponselnya kemudian segera menghubungi orang-orangnya. Ia mengatakan akan pergi ke Indonesia dan ia juga berpesan akan mengosongkan jadwalnya di Jepang.


Sebelum sang tuan muda belum sembuh total, maka ia tidak akan kembali ke Jepang. Ia tak mau ada yang berani menggangu dirinya saat ia mengobati Daniel, karena itu juga sudah menjadi salah satu balasan dari kebaikan Daniel pada dirinya dulu.


"Ayo, kita segera pergi. Aku harus segera mengobati tuan muda" ajak Alvin yang sudah siap sedia untuk bertempur


Tanpa membuang waktu, mereka berlima langsung pergi dari rumah sakit tempat dimana Alvin bertugas dan langsung pergi menuju ke bandara.


Saat ini perasaan Leny sudah sedikit lebih tenang karena ia sudah berhasil membawa Alvin menuju ke Indonesia untuk menolong suaminya yang sudah lama menunggu kepulangan mereka berlima.


"Ayah, Damin, sebentar lagi Bunda pulang, dan bunda juga sudah berhasil membawa Alvin ke Indonesia" gumamnya tersenyum bahagia


Wulan yang menyadari akan kebahagiaan yang menyelimuti sang kakak pun ikut tersenyum melihatnya, dan ia juga langsung menggandeng lengan Leny.