
Dinda mendongak menatap Leny, ia berdiri dan langsung memeluk Leny, Dinda perlahan-lahan membaik, dan tubuhnya sudah mulai normal kembali
"*A*ku takut sekali, sepertinya tempat ini angker" jawab Dinda memeluk Leny
"*A*h tidak mungkin, itu hanya halusinasi kamu saja" timpal Leny menahan tawa
"*T*adi aku merasa seperti ada yang sedang mengawasi ku, dan lampu itu tadi mati hidup mati hidup terus" jelas Dinda menerangkan
"*S*udah-sudah. Ayo kita keluar dari sini, kamu sudah basah kuyup begini, nanti masuk angin loh" ajak Leny merangkul Dinda
"*M*elihatmu seperti ini aku merasa kasihan, namun ini juga sebagai bayaran atas perilaku kamu padaku tadi" (*batin Leny*)
Leny mengajak Dinda menuju ruang ganti, dan menyuruhnya untuk mengganti pakaian yang ia kenakan karena sudah basah kuyup
"Sebaiknya kamu mengganti pakaian kamu itu, aku akan mengambilkan teh hangat untukmu" ucap Leny melangkah keluar
Melihat sikap Leny terhadapnya, membuat Dinda merasa bersalah karena hampir membuatnya celaka tadi, tapi itu karena ambisinya untuk merebut Daniel
"Maafkan aku sudah membuatmu hampir celaka" (*batin Dinda*)
Leny kembali dan membawakan segelas teh hangat untuk Dinda, meski Dinda punya niat buruk kepada Leny, namun Dinda masih satu projek dengannya, jadi dia tidak mau rekannya sampai kenapa-kenapa
"Ini minum, agar kamu sedikit lebih tenang, jangan terlalu di pikiran masalah di toilet" ucap Leny menyerahkan segelas teh
"Te.. terimakasih kasih" jawab Dinda
Tiba-tiba mereka mendengar suara ribut-ribut di luar, dan membuat Leny dan Dinda menjadi penasaran. mereka berdua langsung menuju asal suara rusuh itu. Dan sesampainya mereka di sana, ternyata ada beberapa preman setempat ingin meminta uang keamanan kepada tim film mereka
"Kalian melakukan aktivitas di wilayah kami tanpa memberi uang tempat?!" tanya preman itu
"Kami sudah meminta izin kepada kepala daerah setempat, dan mereka mengizinkannya tanpa meminta sepeser pun" jawab sutradara
"Namun ini daerah kami!, sudah sewajarnya kalian memberikan uang tempat!" bentak preman itu
Para staf produksi tidak ada yang berani melawan, dan menjawab para preman itu, lebih baik memberikan sedikit uang agar mereka tidak menggangu lagi
"Cepat! serahkan!" bentak preman itu
Pada saat mereka ingin memberikan apa yang mereka minta, namun Leny menahan dan menentang para preman itu
"Jangan berikan!, jika di berikan mereka akan terus memeras kita" tegas Leny
"Hey-hey kau berani melawan ya!" preman itu menunjuk Leny
"Kalian hanya seorang pengangguran yang cuma bisa memeras orang yang lemah, jangan kalian pikir kami mau memberikan sepeserpun kepada kalian" bentak Leny
Para preman itu semakin emosi karena mendengar perkataan yang keluar dari mulut Leny tadi.Salah satu dari mereka mendekati Leny dengan pandangan bejat, dan dia ingin menikmati tubuh indah Leny
Daniel yang dari tadi melihat keributan, menjadi marah karena ada yang mau berbuat macam-macam kepada istrinya. ketika preman itu mau menyentuh Leny, Daniel dengan tiba-tiba menangkap tangannya lalu langsung mematahkan jari-jarinya
Preman itu menjerit kesakitan dan memegangi tangannya yang terluka., para temannya langsung mendekati rekannya yang terluka
"Ada apa?, kenapa denganmu?" tanya temanya
"Di..Dia telah mematahkan tanganku" preman itu menunjuk Daniel dan menahan rasa sakit
"Berani sekali kau berbuat onar di wilayah kami!" bentak pemimpin mereka
"Ha! apa? membuat onar?!" tanya Daniel mendekatkan telinganya
"Jelas-jelas kalian yang membuat ulah, malah kalian menuduh kami" timpal Leny menyilang kan tangannya
"Ini wilayah kami, sudah sewajarnya kami meminta hak kami!" bentak preman itu
"Sudah sebaiknya kalian serahkan saja apa yang kami mau, jangan membuat kesabaran kami habis" timpal mereka
"Kalau tidak, biarkan kami menikmati parah wanita cantik itu" ucap salah satu preman itu tertawa jahat
"Berani kau sentuh istriku, walau sehelai rambutnya tersentuh!, ku ratakan kalian!" ejek Daniel merangkul Leny
"Haha, kau berani melawan kami?!" remeh preman itu
Tidak ada yang berani melawan mereka terkecuali Daniel dan Leny, bahkan para pengawal mereka di buat tidak berkutik oleh para preman itu
"Kalian sebagai pihak keamanan, mengapa tidak ada yang berani bertindak?!" tanya Leny membentak
"Haha mereka tidak ada apa-apanya, hanya pamer seragam saja" ejek preman itu
Para penjaga keamanan telah di kalahkan oleh para preman itu, wajar saja mereka hanya 5 orang, sedangkan para preman lebih dari 10 orang
"Sia-sia kami membayar kalian, jika tidak berguna!" bentak Leny
Para penjaga keamanan itu hanya menunduk saja dan menelan amarah Leny, Daniel mencoba menenangkan istrinya, karena ada bayi mereka di dalam rahimnya, jadi Daniel tidak mau Leny dan bayinya sampai kenapa-kenapa
"Sayang sudah tenangkan dirimu, ingat ada junior di perut kamu" bisik Daniel
Leny perlahan-lahan meredam amarahnya, dan menenangkan pikirannya agar bayi yang ia kandung tidak kenapa-kenapa
"Sudahlah jangan banyak bicara, sebaiknya berikan uang tempat ini!" bentak mereka semakin menjadi-jadi
"Hey-hey!, kalian terlalu berisik!, jangan membuat keributan deh!, jika kalian ingin tetap bernafas" ejek Daniel
"Omongan mu dari tadi semakin sombong ya!, sebaiknya kau saja yang kami habiskan terlebih dahulu" bentak pemimpin mereka
Lalu pemimpin mereka memberikan sebuah isyarat, dan para anak buahnya paham, lalu mereka langsung berbaris dan menatap Daniel
"Jangan menyesal jika sudah terjadi sesuatu terhadapmu!" ejek preman itu tertawa